(dikutip dari milis tetangga):

--- On Mon, 6/21/10, Noval <[email protected]> wrote:

Ini blog sudah bertahun-tahun mengkritisi PKS dan selalu rame, serta
selalu bikin pendukung PKS hanya bisa marah2 tanpa mampu mengimbangi
dengan argumen yang sepadan. Sekarang blog tsb ditutup permanen. Simak
alasan sang pemilik blog, yang cukup menarik, menurut saya.



Wassalam,



Noval



http://www.pkswatch.blogspot.com/



PKS Watch



Catatan seorang simpatisan kepada gerakan dakwah Ikhwan, atas dasar
cinta pada dakwah yang lurus dan istiqomah di jalan Allah dan manhaj
dari para nabi.

Selamat Tinggal PKS dan PKSWatch



Selamat Tinggal PKS dan PKSWatch



Sesungguhnya segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala, kita
memujiNya, minta tolong padaNya, mohon ampun padaNya dan bertaubat
hanya padaNya. Shalawat dan salam untuk qudwah kita Muhammad Rasulullah
shallalLahu 'alaihi wassalam, beserta keluarganya, para sahabatnya dan
orang-orang yang setia kepadanya hingga hari kiamat.



26 Oktober 2005, ketika saya memulai blog PKSWatch untuk pertama
kalinya, didasari dengan sebuah rasa keprihatinan atas sepak terjang
gerakan dakwah yang saya cintai, yang saya lihat mulai keluar dari rel
dan celakanya tidak banyak disadari oleh para penghuninya. Ada total 83
tulisan dan ribuan komentar dari para pembaca, hingga saya memutuskan
untuk membekukannya pada tangga 25 Desember 2006, ketika hit blog
sedang tinggi-tingginya.



Ketika saya mulai pertama kali, saya menggunakan nada tulisan yang
keras terutama pada 2-3 bulan pertama, dengan maksud untuk menyentak
pemikiran, tapi saya salah karena yang terjadi malah sikap antipati
yang berlebihan meskipun setelah berjalan beberapa bulan nada tulisan
sudah jauh berubah. Namun demikian beberapa tulisan yang keras tersebut
tetap ada sehingga pembaca yang baru mengikuti cenderung untuk bersikap
antipatif pula. Selain itu kebijakan sensor komentar juga sangat
liberal, sehingga suasana diskusi terkadang sangat panas. Atas beberapa
pertimbangan, saya memutuskan untuk membekukan blog itu terlebih dahulu.



Dalam perjalanannya, periode di atas itu saya sebut blog PKSWatch versi 1.



Pertengahan 2007, beberapa ikhwah kader di Jakarta menghubungi saya,
menasehati dan meminta saya untuk mengaktifkan lagi blog PKSWatch
sebagai sarana kontrol kepada jama'ah. Akhirnya tanggal 12 November
2007, saya mulai kembali blog PKSWatch (versi 2). Dengan tulisan yang
lebih kuat pada referensi ilmiah, dalam perjalanannya ada 77 tulisan
dengan total ribuan komentar pembaca hingga tanggal 9 Juni 2009.
Sebagian tulisan tersebut dibuat oleh asatidz yang juga prihatin
terhadap PKS, ada tulisan mereka yang memang sudah tersedia di ranah
publik, ada pula tulisan yang memang baru dimuat di blog PKSWatch.



Kemudian sempat vakum karena saya sempat merasa amat "mual" melihat
polah politik PKS pada waktu itu, terutama menjelang pemilu presiden
2009. Sampai kemudian saya mulai lagi pada tanggal 17 Desember 2009.
Kali ini hanya ada tiga tulisan hingga saya membuat tulisan ini. Mood
saya untuk menulis tidak seperti dulu lagi, mungkin karena sudah malas
melihat PKS semakin jauh dari yang saya bayangkan, dari rel yang
semestinya PKS berada di atasnya.



Padahal sangat banyak data dan informasi masuk kepada saya, sebagian
lengkap dengan bukti-bukti, yang bisa saya gunakan untuk membuat
tulisan, tapi saya sudah seperti kehilangan minat kepada PKS. Dulu,
saya membuat blog ini karena saya yakin bahwa PKS bisa tetap dijaga
agar tetap berada di atas relnya.



Banyak ikhwah yang mengakui bahwa mereka tersadarkan oleh keberadaan
blog ini, tapi juga banyak yang jengkel dan tidak setuju dengan blog
ini, lalu meminta saya untuk menghentikan blog ini. Kepada mereka, saya
menjawab bahwa saya akan menghentikan blog ini kalau ada satu dari dua
kondisi sudah tercapai, yaitu:

- Pertama, PKS kembali lurus minimal seperti di masa awal-awal pendirian PK, 
atau

- Kedua, PKS sudah rusak parah, atau sudah bukan menjadi partai Islam lagi.



Karena saya tidak memiliki kepentingan ekonomi apapun dari blog ini.
Motivasi saya murni karena mencintai sebuah jama'ah dakwah, yang cukup
berjasa dalam memberikan pemahaman Islam kepada saya. Ketika saya
melihat PKS sudah mulai keluar rel, saya coba ingatkan sebisa saya,
secara publik tanpa membongkar hal-hal rahasia, semacam melakukan
debunking terhadap PKS.



Dulu ada yang bertanya, mengapa saya tidak membuat juga PDIPWatch,
GolkarWatch, dan seterusnya, mengapa hanya PKS? Jawaban saya, karena
PKS berbeda. PKS (dulu) adalah sebuah jama'ah dakwah, bukan hanya
partai politik. Saya kritisi, karena saya sayang pada jama'ah
dakwahnya, bukan karena ke-parpol-annya. Yang lain saya sama sekali
tidak berminat, karena sama saja, partai yang berorientasi kekuasaan
dan materi. PKS, sempat sangat saya khawatirkan akan menjadi seperti
itu juga, karena itulah saya mencoba menjaga sebisa saya.



Tapi hari ini, baru saja munas PKS berakhir. Sejak dari pemilihan
tempat di hotel super mewah, sudah jelas PKS mengumumkan untuk
perubahan citra, dan kemudian semakin dikukuhkan dengan berbagai
manuver yang telanjang diperlihatkan kepada masyarakat.



Sekjen PKS Anis Matta mengatakan bahwa mereka ingin keluar dari
tema-tema sempit, dalam rangka mengubah citra Islamis, dengan jargon
"PKS Untuk Semua". Ini bukan pertama kalinya diungkap oleh Anis Matta,
PKSOnline tanggal 23 Januari 2009 juga mencatat pernyataan semacam ini
dari Anis Matta, bahwa era politik aliran sudah berakhir. Lalu
diperkuat lagi dengan pernyataan wakil Sekjen Zulkiflimansyah pada
tanggal 30 Januari 2009, bahwa syariat Islam itu sudah agenda masa lalu.



Jadi misi-misi dakwah seperti pemurnian akidah tauhid, penegakan nilai
syari'ah, adalah hal-hal yang sudah tidak relevan lagi buat PKS dan
dianggap sebagai tema yang sempit. Nastaghfirullah, padahal tidaklah
Allah Ta'ala mengutus para nabi dan rasul kecuali untuk tugas-tugas
ini, tapi ternyata itu ditegaskan sebagai hal yang tidak relevan lagi
oleh PKS.



Lalu dalam munas 2010 hal ini lebih ditegaskan lagi, sampai kepada
masalah teknis seperti pengurus dari daerah hingga pusat yang tidak
perlu berikrar syahadat lagi sehingga bisa diduduki oleh kalangan non
muslim. Jelas ini sudah menyimpang sangat jauh.



Tujuannya sudah jelas, ingin mengubah diri menjadi partai "aliran
tengah", terbuka dan nasionalis. Hal ini dalam koridor hukum di
Indonesia sah-sah saja. Tapi saya jadi merasa tertipu, karena dulu saya
mendukung dan mencintai PKS karena adanya tujuan penegakan nilai-nilai
Islam di Indonesia melalui koridor konstitusional, meskipun dengan cara
yang lambat karena harus dibarengi dengan dakwah kepada masyarakat,
bahwa masyarakat yang memilih PKS memang karena mereka menyadari
pentingnya sebuah wasilah dakwah di ranah politik.



Ternyata sebagian oknum pimpinan tidak sabar dengan lambatnya
pencapaian ini, lalu dakwah dikuantifikasi menjadi perolehan
angka-angka kursi. Padahal dalam hadits sudah dijelaskan, bahwa di hari
kiamat nanti ada nabi yang datang dengan banyak pengikut, ada yang nabi
yang datang dengan sedikit pengikut, ada pula nabi yang datang tanpa
pengikut. Kalahkah mereka? Tentu saja tidak, karena tugas dakwah adalah
tugas mulia, di mana manusia hanya dibebankan untuk menyampaikan secara
hikmah dengan koridor dakwah yang sudah digariskan di dalam Islam,
sementara hasilnya itu urusan Allah semata.



Karena tidak sabar ingin menjadi besar, maka citra partai harus diubah
"ke tengah", agar tidak lagi terkesan sebagai partai Islam. Lalu kalau
sekarang menjadi partai tengah atau nasionalis atau terbuka, lantas apa
bedanya dengan PDIP, PD atau Golkar? Sudah sama saja. Toh mayoritas di
partai-partai itu juga umat Islam, saudara seakidah juga. Toh juga ada
ustadz dan kyai di partai-partai itu. Kalau untuk Indonesia yang lebih
baik, maka semua partai juga memiliki slogan itu. Kalau alasannya
nasionalis religius, maka partai-partai lainpun begitu juga. Dengan
demikian, jelaslah sudah.



Ya, dengan begini lebih jelas dan enak. PKS adalah partai terbuka,
sementara saya mengkritisi PKS karena mencintainya sebagai gerakan
dakwah. Setelah menjadi partai terbuka dan meninggalkan tujuan-tujuan
dakwah, maka hilangnya "illat" atau alasan saya untuk mengkritisi PKS
lagi.



Dari dua point yang saya jelaskan sebelumnya, bahwa saya akan
menghentikan blog ini kalau PKS kembali lurus atau sudah rusak parah,
maka point kedua sudah terjadi. Inilah sebabnya saya buat tulisan ini,
ini sebabnya saya kemudian memutuskan untuk menutup blog ini secara
permanen, bukan dalam rangka pembekuan sementara.



Untuk ikhwah yang merasa mendapatkan ilmu dan manfaat dari blog ini,
saya katakan bahwa kalau itu memang ilmu yang benar, maka itu datangnya
semata dari Allah Ta'ala. Kalau salah, maka itu datang dari kelemahan
saya. Semoga Allah mengampuni saya dan kita semua.



Untuk ikhwah (dan pengurus PKS) yang merasa jengkel dengan keberadaan
blog ini, setulusnya saya mohon maaf. Tidak ada sedikitpun niat saya
kecuali untuk menjaga jama'ah tetap berada pada rel dakwah, dan hari
ini sudah ditegaskan bahwa PKS bukan lagi partai dakwah. Jadi kalaupun
harus dakwah, tidak ada alasan lagi buat saya untuk memperhatikan PKS
secara khusus seperti selama ini.



Untuk ikhwah yang selama ini sudah mengenal saya secara langsung, maka
hubungan ukhuwah kita tidak akan putus kecuali Allah menghendaki
demikian. Untuk yang belum mengenal saya secara langsung, mudah-mudahan
suatu saat Allah mempertemukan kita. Tidak ada niat saya untuk
bersembunyi secara pengecut, tapi semata karena saya orang yang lemah,
yang mudah terganggu keikhalasan hatinya kalau diri ini terpublikasi
secara luas.



Kepada para asatidz dan ikhwah yang selama ini sudah menjaga saya,
menasehati saya, mengkritisi saya kalau saya keliru, semoga Allah
Ta'ala membalas Anda semua dengan kebaikan.



Kepada semua ikhwah, jangan patah arang, jangan putus asa untuk
berdakwah, anggaplah perilaku PKS saat ini sebuah ujian bagi sebuah
gerakan dakwah. Sebuah ujian yang sudah ratusan mungkin ribuan kali
ditimpakan kepada sebuah kaum, ada yang selamat tapi lebih banyak yang
gugur, karena ujian dalam bentuk kenikmatan duniawi (seperti yang
menimpa PKS sekarang) memang lebih berat daripada ujian berupa
kesulitan. Dakwah tetap harus jalan dengan atau tanpa PKS. Masih banyak
wasilah dakwah yang lain.



Sedikit curhat, saya sempat sedih seminggu belakangan ini, perasaan
saya seperti kehilangan, mirip waktu almarhum bapak saya wafat
(meskipun tidak sesedih itu). Ya, sedih karena kehilangan wasilah
dakwah yang saya cintai dan saya harapkan selama ini. Lalu sudah
menjadi qadarullah, beberapa hari yang lalu, saya menghadiri sebuah
halaqoh yang diisi oleh ustadz Abdullah Gymnastiar. Paparan beliau
mengenai dakwah, tauhid dan keikhlasan hati sungguh menyentuh, membuat
saya menangis (tentunya setengah mati saya tahan karena malu terlihat
yang lain). Intinya, saya bisa melihat kesalahan terbesar saya selama
ini, bahwa saya berharap pada PKS. Ini sudah salah. Saya hanya boleh
berharap kepada Allah Ta'ala semata. Hanya Allah yang tidak akan
mengecewakan kita.



Kini, alhamdulillah, saya mulai bisa melepaskan PKS dari hati saya,
dari pikiran saya, dan saya malah merasa plong. Selamat tinggal PKS.
Pembicaraan dan pikiran mengenai PKS sudah sama sekali tidak menarik
minat saya lagi, sudah sama seperti ketika membicarakan partai-partai
politik yang lain. Dengan hati yang yakin, mantap dan ringan, dengan
menyebut asma Allah Ta'ala, saya menyatakan menutup blog ini.



Singapura, 7 Rajab 1431 Hijriyah, 21 Juni 2010, 00:30.

DOS

Tidak ada entri.

Tidak ada entri.

Beranda

Langgan: Entri (Atom)

        

Watermark template oleh Josh Peterson. Didukung oleh Blogger.




 



  






      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke