http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=section&layout=blog&id=15&Itemid=131


      Berita Dangkal Ancam Karakter Koran Lokal        
      Oleh : Vinsensius Sitepu



      "Investigasi sebagai sebuah pekerjaan yang menyenangkan orang susah dan 
menyusahkan orang senang". (Finley Peter Dunne, Wartawan AS)

      Terlalu lama kita menantikan hadirnya berita-berita mendalam di koran 
lokal mengenai mengapa harga jeruk Karo selalu menurun tajam. Pembaca koran 
lokal barangkali telah jenuh membaca berita-berita pendek tentang derita buruh 
kebun sawit yang lama-kelamaan mengesankan kedangkalan informasi. Ini adalah 
kelemahan koran lokal yang telah berlangsung lama dan harus segera dilakukan 
perbaikan. Ketika itu hadir, kualitas koran lokal akan meningkat, sekaligus 
memerankan sebagai medium pesan yang lebih berkarakter. Sangat berat dilakukan, 
ketika gaji wartawan tidak kunjung memadai di tengah tuntutan wartawan haruslah 
profesional.

      Ketika televisi lebih cepat menyampaikan pesan audio-visual dan media 
daring (online media) secepat kilat menyajikan warta singkat seketika, maka 
koran memiliki kesempatan menghadirkan berita yang lebih mendalam kepada 
pembaca. Koran nasional yang mapan memiliki kemampuan tersebut, bahkan lebih 
rutin dan terjadwal. Ini tidak terjadi di koran lokal yang sepatutnya 
mengabarkan isu lokal secara lebih terperinci. Alasan dalam hal ini adalah 
masyarakat membutuhkan berita yang bersifat analisis, konkret, terang, dan 
jelas, tidak sekadar straight news yang membosankan itu. 

      Koran lokal boleh berbangga dengan berita-berita straight news-nya. 
Harapan publik terkabulkan dengan berita-berita yang aktual dan dapat diyakini 
kebenarannya. Kebutuhan dan kepuasan (gratification) pembaca dirasakan sudah 
terpenuhi. Tetapi, di saat yang sama secara sadar ataupun tak sadar, media 
seperti ini seolah-olah mengonstruksi berita-berita hangat yang hadir setiap 
hari sebagai sesuatu yang sudah sangat bagus dan berkualitas. Tetapi, benarkah 
demikian? Dalam sudut pandang penulis, koran lokal harus berada di tingkat 
lebih tinggi dengan menyajikan berita-berita panjang sebagai wujud follow-up 
dari berita-berita pendek yang pernah hadir.

      Kedepankan Berita Mendalam

      Berita mendalam adalah penanda meningkatnya kemampuan awak redaksi dalam 
menggali dan mengolah peristiwa secara jelas kepada pembaca. Ini pula adalah 
tantangan di tengah kecepatan dan kedangkalan informasi di internet dan 
televisi. Kalau kita menyebut ini adalah persaingan, maka harus ada nilai lebih 
yang dilakukan koran, yaitu berita mendalam. Tanpa itu, koran lokal selalu 
dipandang sebelah mata, karena isinya tidak jauh berbeda dengan koran lain, 
televisi, dan internet. 

      Berita panjang dan mendalam (indepth news) adalah satu syarat untuk 
mencitrakan koran lokal yang lebih berkualitas. Berita seperti ini sejatinya 
menunjukkan kemampuan dan kejeniusan pengelola koran. Di saat yang sama berita 
mendalam, misalnya mengenai derita buruh perkebunan sawit, akan memberikan 
ruang yang luas kepada pembaca untuk merenungkan peristiwa tersebut. 

      Berita-berita seputar derita buruh sawit bukan sekadar peristiwa aktual 
mengenai mereka yang terpaksa mencuri sepeda motor supaya dapur terus mengebul. 
Berita mendalam tentang peristiwa itu harus digali atas pertanyaan mengapa itu 
bisa terjadi. Asumsi paling ekstrem barangkali adalah karena upah buruh kebun 
sawit yang teramat kecil membuat ia nekat mencuri. Belum lagi kalau dipaparkan 
anak-anak buruh yang beranjak remaja yang tidak bisa bersekolah, karena 
ketiadaaan biaya. Isu ini sesungguhnya masalah masyarakat luas yang sistemik, 
karena menyangkut kewajiban negara menyejahterakan rakyatnya. Di mana peran 
koran lokal dalam hal ini?

      Menurut Stanley dalam kata pengantarnya di buku Laporan Investigasi untuk 
Media Cetak dan Siaran karya William C. Gaines, laporan mendalam berupaya untuk 
membongkar sebuah kasus yang ditutup-tutupi atau permasalahan lain yang 
menyangkut kepentingan umum yang tidak transparan.

      Stanley juga mengungkapkan bahwa usaha seperti ini sangatlah tidak mudah. 
Jelas Stanley ini memerlukan perencanaan yang sangat matang, terutama 
menyangkut pertimbangan biaya, waktu, mekanisme kerja, tenaga, dan masalah 
logistik lainnya. Peliputan model ini umumnya melibatkan sebuah tim yang antara 
lain terdiri atas sejumlah wartawan senior. Mereka terdiri dari para wartawan 
yang ulet, tekun, memiliki akses ke berbagai kalangan, memiliki keterampilan 
jurnalistik yang tinggi (wawancara, observasi, perburuan dokumen, dan 
lain-lain), serta wawasan yang baik.

      Ini Ancaman, Bung!

      Membangun wacana baru tentang perkembangan media lokal seperti ini 
sejatinya adalah persoalan mudah, sebab ada 1001 masalah. Yang sulit pastinya 
adalah, pengelola media enggan mendengar gaung wacana tersebut dan mengubahnya 
menjadi entitas tindakan jelas. Mereka terkesan arogan, menolak bahwa kami 
sudah melakukan yang terbaik. Tapi sebaik apakah? Kalau hanya sebaik straight 
news, kualitas koran lokal tentu saja selalu stagnan. 

      Sekaligus saya menyebut ini sebagai ancaman, karena kualitas tidak 
bertambah. Yang ada hanyalah rutinitas terhadap aktualitas peristiwa. Tidak ada 
kedalaman berarti dangkal. Dangkal berarti tidak berkualitas. Tidakkah 
disadari, bahwa dengan berita mendalam akan menarik pembaca lebih banyak dan 
otomatis pemasang iklan yang mengantre panjang?

      Saya menilai sikap pengelola koran lokal selama ini adalah memelihara 
yang sudah dianggap hebat dan membanggakan. Pasti ada niat untuk pengembangan 
dan eksplorasi kreatifitas, tetapi yang menghadang barangkali ketidakmampuan 
sumber daya awak redaksinya. Satu jawaban atas itu adalah menghadirkan 
pelatihan secara rutin dan mendalam seraya menekankan pentingnya berita 
mendalam untuk kebutuhan publik. Tanpa latihan dan uji coba, tidak mungkin 
peringkat koran lokal naik dan lebih membanggakan.

      Ada satu lagi yang menjadi kendala ketika muncul konflik kepentingan 
antara pemilik suratkabar dengan elit ekonomi dan politik. Bukan tidak mungkin 
ada kesepakatan di luar ruang redaksi bahwa berita miring mengenai elit politik 
dikesampingkan, walaupun jurnalis tahu itu penting untuk publik. 

      Ujung-ujungnya masyarakat faham ketika itu tidak hadir, barangkali 
wartawan sendiri sudah kena suap. Mengapa? Karena gajinya sangat rendah, tidak 
dihargai sebagai pekerjaan intelektual. Di sisi lain si pengelola koran 
berkilah kualitas wartawan tidak pernah lebih baik. Biasa-biasa saja. Tetapi, 
tidaklah ia pernah berpikir bahwa pengelola koran harus melatih wartawannya 
untuk menghasilkan berita yang bagus bagi masyarakat?

      Ini terkait pula dengan buku yang diterbitkan Dewan Pers Februari lalu. 
Mengenai yang satu ini juga cukup aneh. Ketika wartawan dituntut untuk menjadi 
profesional dengan meningkatkan kompetensinya, belum tentu pemilik modal mau 
menaikkan gajinya. Masalahnya dua hal ini mungkinkah bisa berjalan paralel? 
Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Dewan Pers, dan lembaga profesi wartawan 
lainnya harus lebih bekerja keras "melobi" bahwa hasil peningkatan 
profesionalitas wartawan harus serta merta meningkatkan gaji wartawan. Tanpa 
itu harapan untuk masa depan kiranya sangat mustahil, apalagi untuk melakukan 
peliputan mendalam.

      Pada akhirnya koran memang harus dikembangkan menjadi lebih baik, tanpa 
itu karakter media massa kita menjadi biasa-biasa saja. Menjadi luar biasa 
memang tidak mudah, tetapi sebagai upaya bertahan dan mengubah karakter banyak 
cara yang bisa ditempuh.

      Saya pikir jika artikel ini sebagai sebuah harapan, pastinya mewakili 
keinginan pembaca yang lain. Pembaca menantikan kehebatan akan eksplorasi 
optimal awak redaksi koran lokal. Pembaca menunggu koran lokal menghidangkan 
berita mendalam dan penting. Harus ada sesuatu yang baru dan berbeda.***

      Penulis adalah alumnus Universitas Sumatera Utara, mahasiswa magister 
komunikasi massa Universiti Sains Malaysia.
     


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke