Pondok Pesantren Bihaaru Bahri ‘Asali Fadlaailir Rahmah, Turen, Malang –
Jawa Timur



[image: bibaafadlrah.jpg]



[image: bibaafadlrah 1.jpg]





Nama Pondok Pesantren (Ponpes) Salafiyah yang terletak di Jalan KH. Wahid
Hasyim Gang Anggur No.10, RT 07 / RW 06 Desa Sananrejo, Kecamatan Turen,
Kabupaten Malang ini adalah, *Bihaaru Bahri* *‘Asali Fadlaailir Rahmah *(*Bi
Ba’a Fadlrah*). Artinya yaitu, *Segarane, Segara, Madune, Fadhole Rohmat*.
Rintisan Ponpes *Bi Ba’a Fadlrah* ini dimulai pada 1963 oleh Romo Kyai Haji
Ahmad Bahru Mafdlaluddin Shaleh Al-Mahbub Rahmat Alam, atau yang akrab
disapa Romo Kyai Ahmad.



Sedang ijin Kecamatan dan Kepolisian setempat dilakukan tahun 1963.
Sementara ijin resmi pendirian pondok dilakukan pada tahun 2002. Adapun
Rekomendasi dari Departemen Agama Kabupaten Malang dikeluarkan di Malang
yang ditandatangani oleh Kepala Departemen Agama, Kabupaten Malang, dengan
Nomor: D/Mm.16/Pontren/153/2002. Sedang Nomor Statistik Pontren NSPP :
512350712153. Adapun prinsip pondok adalah setia pada Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI). Taat dan patuh kepada peraturan dan perundangan
yang berlaku. Menghargai dan menyayangi sesama manusia. Sedang haluan
pondok, yaitu *Islam Ahlus Sunnah wal Jama’ah.*



Pada tahun 1978, mulai ada  santri yang menetap. Pada tahun 1978 itulah,
proses pembangunan pondok mulai dilakukan. Tapi sifatnya kecil-kecil, apa
adanya, hingga tahun 1992. Setelah itu, proses pembangunan sempat berhenti.
Bangun lagi sekitar tahun 1998 akhir dan awal tahun 1999 yang ditandai
dengan adanya aktivitas ngecor dan pembuatan jalan serta pos



Menurut Pak Kisyanto, salah seorang panitia Ponpes *Bi Ba’a Fadlrah *yang
akrab disapa Pak Kis, pada tahun 1978, sebetulnya kegiatan pembangunan
pondok sudah dimulai. ”Tapi masih bersifat apa adanya. Karena untuk menjaga
agar hati tidak *toma’,” *kata Pak Kis ketika ditemui di ruang Oval
(29/7/08)*.***

* *

*Dana Pembangunan***



Lebih jauh Pak Kis mengatakan, dalam hal pendanaan, beliau punya prinsip
tidak minta-minta, tidak *toma’ *(tidak mengharap-harap pemberian orang) dan
tidak pinjam.



Mencegah agar tidak *toma’,* lanjutnya, maka pada tahun 1978, Romo Kyai
sudah mulai membangun pondok dengan material apa adanya. Contohnya, waktu
itu adanya baru batu merah saja, maka batu merah itulah yang dipasang dengan
luluh (*adonan*) dari tanah liat (lumpur/ledok).



”Kemudian, ada orang yang datang, kok hatinya bisa merasakan enak, tenteram
dan aman. Setelah itu, ada lagi yang datang, juga merasakan hal yang sama.
Mereka berpikir, sayang rasanya jika pondok seperti ini kok cuma dari batu
merah dan luluh. Mereka kemudian berprakarsa untuk mengganti luluh dari
lumpur dengan pasir dan gamping, tanpa semen. Maka *dikerowokilah *(diganti)
sebagian demi sebagian luluh tanah liat tadi dengan luluh pasir dan gamping.
Begitulah seterusnya, sampai kemudian dibangun seperti sekarang ini,” ujar
Pak Kis. Setelah itu, proses pembangunan pondok berhenti. ”*Mpun, kulo
mboten mbangun,” *ujar Romo Kyai, seperti dikutip oleh Pak Kisyanto.



Ketika Romo Kyai punya niat untuk berhenti membangun pondok, maka serta
merta proses pembangunan pondok pun jadi terhenti.  Bahkan, uang seribu
rupiah pun, beliau tidak punya untuk jatah bangunan. Namun, ketika beliau
punya niat mau naik haji sekeluarga dan punya keinginan untuk membangun
musholla, keadaan menjadi berubah. Apalagi setelah beliau melaksanakan haji
bersama keluarga berkali-kali, Allah menghadiahi beliau pondok seperti
sekarang ini. Jadi, menurut *dhawuh *beliau, pondok ini adalah pondok
hadiah.



Contoh, dalam proses perolehan tanah sekitar pondok. Orang yang memiliki
tanah sendiri yang ingin sekali tanahnya dibeli oleh pondok. Mereka
menawarkan berkali-kali. Bahkan rela menunggu sampai pondok mau membelinya.
”Prinsip dana pembangunan pondok, jika uang untuk semen, ya digunakan untuk
semen. Jika untuk beras, ya beras. Jadi tenang, tidak *nggrangsang. *Tidak
pinjam uang yang ada di dalam lingkungan pondok. Misalnya, jika butuh bata,
ya tidak pinjam uang untuk semen,” ungkap Pak Kis.

Yang jelas, tegas Pak Kis, sumber dana pembangunan  pondok, utamanya berasal
dari Romo Kyai sendiri. Selain itu, juga ada dari para jama’ah yang memang
menginginkan bangun pondok ini.



“Beliau sendiri tidak punya keinginan untuk membangun pondok ini. Beliau *
mernahke* atau mengarahkan keinginan para jama’ah sesuai dengan kebutuhan
rohaninya. Ada yang mohon petunjuk kepada beliau terkait dengan harta yang
dimilikinya. Ada yang menyampaikan permasalahan. Baik yang bersifat pribadi,
keluarga dan masalah-masalah lainnya. Semuanya itu atas kemauan mereka
sendiri, bukan dari keinginan beliau,” tukas Pak Kis.



Karena itu, pondok tidak menerima jariyah dari siapa pun. “Pasalnya, yang
namanya jariyah itu, sebesar atau sekecil apapun, harus dimusyawarahkan
terlebih dahulu peruntukkannya kepada yang mengamanahkannya. Hal ini akan
menyulitkan bagi orang  yang datang ke pondok untuk mengharapkan barakah
beliau. Sebab, barakah tersebut akan sangat tergantung dari keridhaan si
pemilik. Jika pondok ini dibangun dari amal jariyah, maka keridhaan
tersebut, tergantung pada semua pemberi jariyah. Tentunya akan sangat
menyulitkan. Lain halnya jika dana tersebut berasal dari beliau sendiri,
maka urusannya jadi lebih mudah,” tandas Pak Kis.



Tapi, jika ada yang mau infaq, timpal Pak Kis, bisa diterima. Namun, jika
ada orang yang berkeinginan untuk pasrah sepenuhnya kepada  beliau, maka
beliau akan menempatkannya sesuai pada fungsinya. Artinya, beliau akan
menempatkan harta yang diamanahkan itu dengan mengacu dari hasil *istikharah
*Romo Kyai.



*Tujuan Didirikannya Pondok ***



Sementara itu, menyinggung soal tujuan didirikannya pondok, Pak Kis
mengatakan, adalah untuk pembenahan akhlak secara menyeluruh, sebagai sarana
pembersihan hati dan menciptakan perdamaian dunia. “Kalau hatinya sudah
bersih dan damai, maka orang akan lebih cinta kepada Allah SWT, yang
ditandai dengan perilaku kasih sayang terhadap sesama makhluk. Dan hal itu
terbukti. Ketika ditanyakan kepada kebanyakan pengunjung yang datang,
jawaban yang mereka berikan adalah, hati mereka merasa damai, bahagia,
tenang, tenteram dan bisa merasakan hilangnya penyakit-penyakit hati.
Bahkan, banyak yang mengaku, bahwa mereka belum pernah merasakan perasaan
yang seperti ini sebelumnya. Selain itu, tidak sedikit orang yang mengaku,
setelah datang ke pondok, penyakit jasmaninya menjadi sembuh,” ungkap Pak
Kis.



Menjawab pertanyaan, Pak Kis mengatakan, hingga sekarang, pemerintah
mendukung dan memberikan tanggapan positif terhadap keberadaan pondok. Yang
jelas, dalam konsep pembangunan di pondok ini, Romo Kyai selalu
memperhatikan semua unsur kehidupan yang ada di dalam pondok.



*Konsep Pembangunan ***



Sementara itu, menurut Pak Kis, konsep pembangunan pondok ini dilakukan atas
dasar fungsi, yang termasuk di dalamnya adalah: kuat, cepat, tepat, hemat
dan indah. Yaitu, kuat dalam konstruksi, cepat dalam arti segera
dilaksanakan, dan tepat waktu dalam penyelesaian, tepat dalam ukuran dan
takaran, tepat dalam teknis dan sasaran, efektif dan efisien dalam pemakaian
bahan serta bersih, rapi dan indah. Jika dibangun atas dasar fungsi
tersebut, maka otomatis variable yang lain sudah termasuk di dalamnya. Untuk
fungsi itulah, makanya bangunan di pondok ini, tidak ada yang sama antara
satu tempat dengan tempat lainnya.



“Karena masing-masing fungsi memang tidaklah sama. Jadi, konsep pembangunan
pondok ini, sesungguhnya berjalan atas kehendak Allah. Sedang yang menjadi
arsiteknya adalah Romo Kyai. Jadi, Romo Kyai tidak pernah meniru atau
mencontoh konsep pembangunan di tempat lain untuk dipakai di sini. Karena
memang fungsinya tidak sama,” kata Pak Kis.



”Contohnya,” imbuh Pak Kis, ”yang terbaru disampaikan adalah mengenai pos
depan. Yang punya masalah diselesaikan melalui pembangunan pos depan. Ketika
pos tersebut diberi satu ornamen bintang, kemudian ditanyakan kepada yang
bersangkutan. Ketika dijawab, misalnya, masalahnya sudah berkurang tapi
belum *plong. *Lantas ditambah dengan satu ornamen bintang lagi, kemudian
ditambah ornamen lain lagi sampai yang bersangkutan bisa merasakan
benar-benar *plong. *Bahkan sampai pada warnanya sekalipun, semua juga tidak
tahu akhirnya jadi seperti itu.”



Karena itu, lanjutnya, bagi yang mempunyai masalah dan mengeluarkan dananya,
termasuk bagi yang mengerjakan hingga yang memandang sekalipun, bisa
merasakan dan mengambil fungsinya. Jadi, yang mendanai bisa merasakan
bahagia dan terselesaikan masalahnya. Demikian juga bagi yang mengerjakan
dan yang menikmati hasilnya.



Menjawab pertanyaan, Pak Kis menjelaskan, pihaknya tidak tahu bagaimana
akhir dari proses pembangunan pondok ini.  “Semua tidak ada yang tahu,
kecuali Romo Kyai sendiri.  Yang jelas, kalau kondisi keuangan seperti
sekarang ini, taraf pembangunan pondok baru mencapai sekitar 20 persen.
Tapi, kalau masyarakat dunia menghendaki dan kondisi keuangan sudah mencapai
triliyunan, maka kondisinya belum mencapai seperempatnya,” katanya.



Contoh, kata Pak Kis, di sebelah musholla itu ada kubah. Padahal, ketika
tahun 1992 lalu, bangunan itu merupakan bangunan paling besar dan megah.
Namun, sekarang, kubah tersebut malah jadi tiang saja. “Romo Kyai sendiri
pernah bilang, jika memang ada dana trilyunan, maka semua ruangan yang
sekarang ini, hanya akan menjadi tiang saja nantinya,” ujar Pak Kis.



*Tidak Meniru ***



Dan yang terpenting, lanjutnya, beliau berprinsip mengutamakan fungsi,
kemudian bagus/indahnya. Kalau fungsi pasti bagus/indah, sedangkan bagus dan
indah, belum tentu fungsi.



Terkait dengan maraknya penilaian negatif dari masyarakat yang berkembang
selama ini, pihak pondok tetap berusaha meluruskannya. “Bagi beliau sendiri,
adanya isu negatif itu justru dijadikan sebagai bahan koreksi ke dalam
(intropeksi diri). Apakah pondok kurang bersih, atau karena lainnya? Beliau
tidak pernah menyalahkan sikap orang lain kepada pondok,” tandas Pak Kis.
Yang jelas, prinsipnya, Romo Kyai tidak pernah menyalahkan siapapun. Semua
dikembalikan kepada diri sendiri.



INFORMASI TENTANG PONDOK



1.

Nama Pondok

*Bihaaru Bahri ‘Asali Fadhlaailir Rahmah* (Lautannya, Lautan, Madunya,
Fadhalnya Rahmat; *Segarane, Segara, Madune,  Fadhole Rohmat* ) disingkat (
*Bi Ba’a Fadlrah* )

2.

Letak Pondok

*+* 25 Km dari Kota Malang ke arah selatan. Dapat dicapai dari Malang
melalui Bululawang; dari Blitar melalui Kepanjen dan Gondanglegi, serta dari
Lumajang melalui Dampit

3.

Status Pondok

Merupakan pondok milik pribadi, tetapi pemanfaatannya untuk ummat

4.

Nama Pemilik, Pendiri dan Pengasuh Pondok

Nama :
KH. Ahmad Bahru Mafdlaluddin Shaleh Al Mahbub Rahmat Alam, sering disebut
dengan Romo Kyai Ahmad

Tempat/Tgl. Lahir :
Lahir di Malang pada 14 September 1943 atau bertepatan pada 14 Ramadhan 1362
Hijriah. Berasal dari Desa Sananrejo, Turen, Malang

Latar Belakang Pendidikan :

Pendidikan Islam diperoleh langsung dari Kyai Sholeh, ayah Beliau sendiri

Alumni Pendidikan Guru Agama (PGA), Turen, Malang

Alumni Pondok Pesantren *Bahrul ’Ulūm *Sidorangu, Krian, Sidoarjo, Jawa
Timur dibawah asuhan langsung (almarhum) *Hadhratu as-Syaikh al-Mukarram *Kyai
Haji Sahlan Thālib ra (1961 – 1963)

5.

Nama Ibu Nyai

Hj. Luluk Rifqah binti H. Romli

6.

Keluarga

Beliau mempunyai 1 orang putra dan 4 orang putri

7.

Perkembangan Pondok

Rintisan dimulai pada tahun 1963. Ijin Kecamatan dan Kepolisian setempat
tahun 1963. Ijin resmi sebagai pondok pada tahun 2002. Pembangunan fisik
dimulai sejak tahun 1978 yang ditandai dengan adanya santri menetap sampai
dengan tahun 1992. Tapi sifatnya kecil-kecil, apa adanya. Setelah itu,
proses pembangunan sempat berhenti. Bangun lagi sekitar 1998 akhir dan awal
tahun 1999 sampai saat ini

8.

Perizinan

Ijin di Kecamatan dan Kepolisian setempat pada  tahun 1963

Rekomendasi dari Departemen Agama Kabupaten Malang dengan Nomor:
D/Mm.16/Pontren/153/2002. Adapun Nomor Statistik Pondok Pesantren (NSPP) :
512350712153. Surat rekomendasi tersebut di keluarkan di Malang pada tahun
2002 yang ditandatangani Kepala Depag Kabupaten Malang

Pada tahun 2002 menjadi Yayasan dengan Akte Pendirian Yayasan nomor: 20
tanggal 22-01- 2003

9.

Organisasi

Dibawah pembinaan Departemen Agama Kabupaten Malang. Anggota RMI Kab Malang

10.

Tujuan

Meningkatkan Iman

Membersihkan Hati

Membangun Akhlakul Karimah

11.

Pedoman

Qur'an

Hadis

Ijmak

Qiyas

12.

Haluan

Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah

13.

Prinsip

Beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT

Menjalankan aqidah Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah

Setia pada Negara Kesatuan Republik Indonesia

Taat dan patuh kepada peraturan dan perundangan yang berlaku

Menghargai dan menyayangi sesama manusia

14.

Kitab Kajian

Hikam

Minahus Saniyah

Nashaa-ihul ‘Ibad

Jawaahirul Bukhari

Tafsir Jalalain dan lain-lain

15.

Pendanaan

Dana utamanya berasal dari Romo Kyai Ahmad; sebagian berasal dari jamaah

Prinsip dalam hal pendanaan: tidak minta-minta, tidak *toma’* dan tidak
pinjam/hutang

16.

Luas Area

Luas area sampai Agustus 2008 kurang lebih 4 hektar. Pembelian tanah dari
masyarakat sekitar pondok yang berkeinginan untuk menjual tanahnya kepada
pondok. Transaksi yang telah terjadi dilaksanakan hanya kalau tersedia dana
dan memang bermanfaat

17.

Proses Pembangunan Fisik

Pembangunan fisik pondok dimaksudkan untuk menyediakan sarana/media/alat
untuk membersihkan hati agar timbul rasa cinta dan kedekatan kepada Allah.
Dengan rasa cinta dan dekat kepada Allah diharapkan akan timbul rasa sayang
kepada sesama umat dan makhluk, yang selanjutnya akan membentuk akhlak yang
karimah

Pembangunan Fisik Pondok :

Luas seluruh gedung pondok yang telah dibangun sampai sekarang belum pernah
dihitung secara pasti. Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) telah diajukan, namun
karena proses pembangunan mengalir sesuai dengan kebutuhan jamaah dan santri

18.

Sarana

Lampu terpasang + : 300.000 W

Daya terpasang : 25.000 W

Air 13 sumur

19.

Kegiatan

Keagamaan : PHBI, Kajian Kitab, Pengajian Umum, Diniyah, Istighosah, Tahlil
bersama, Pembacaan Dibba’

Sosial : Bazaar, Terbang Jidor Tradisional, Hadrah ISHARI, Drumband, Terbang
Jidor Kontemporer, Karnaval

Kemanusiaan : Pernikahan Bersama, Khitanan Massal



Sumber: http://www.ponpesbibaafadlrah.or.id/


-- 
"...menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama..."


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke