Dalam hal peningkatan investasi di Indonesia, Chris tidak segan-segan
mengetuk hati pemerintah untuk memberikan dukungan nyata. Karena itu, tidak
berlebihan bila rekannya, Rachmat Gobel --Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia
Bidang Industri, Teknologi, dan Kelautan-- menjulukinya sebagai pejuang
investasi.

Ketua Bidang Regulasi GAPMMI; Franky Sibarani, melihat Chris figur dengan
pandangan optimistis dengan jangkauan jauh ke depan. Indonesia harus terus
bisa menarik banyak investasi. Untuk itu, Chris adalah tokohnya.  Dalam tiga
periode kepemimpinannya di Kadin, Chris berhasil  secara signifikan
mengerjakan semua tugas yang diserahkan kepadanya.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofyan Wanandi berani
mengatakan kinerja Chris di Kadin impresif. Kepemimpinannya supel dan mampu
merangkul banyak orang. Catatan dan kinerjanya sesuai dengan bidang yang
ditangani. 
“Dia itu ngemong kalau memimpin.” 


Selanjutnya, Business Review menggambarkan sosok calon Ketua Umum KADIN;
Chris Kanter, sebagai berikut:
 


http://www.businessreview.co.id/profile-bumn-640.html

PROFILE BUMN 
Chris Kanter, Kegigihan Sang Pejuang Investasi 
Posted : 24 Jun 2010 | By : Sigit 

(Businessreview) - Kegigihan Chris Kanter--Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia
Bidang Investasi, Perhubungan, Informatika, dan Telekomunikasi--dalam
menarik investasi untuk masuk ke Indonesia, patut dipuji.

Sosok pemilik PT Unggul Cipta Trans ini selalu tampil di garda terdepan
dalam rangka mempromosikan Indonesia sebagai salah satu negara tujuan
investasi potensial.
Melalui tangan dinginnya, seluruh kegiatan Kadin Indonesia yang mengundang
investor asing untuk datang melihat potensi-potensi bisnis di Indonesia,
selalu berjalan optimal.

Dalam hal peningkatan investasi di Indonesia, Chris tidak segan-segan
mengetuk hati pemerintah untuk memberikan dukungan nyata. Karena itu, tidak
berlebihan bila rekannya, Rachmat Gobel--Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia
Bidang Industri, Teknologi, dan Kelautan--menjulukinya sebagai pejuang
investasi.

Menurut Chris, dukungan nyata pemerintah sangat penting karena akan menjadi
stimulus bagi dunia usaha untuk menginvestasikan modalnya.
Selain itu, pihak terkait lainnya seperti perbankan dan jasa lainnya
seharusnya tidak perlu enggan memberikan bantuan fasilitasi kredit dan
lainnya.

Dia lantas menuturkan bahwa keengganan perbankan mengucurkan kredit
investasi bagi sektor riil, itu terkait dengan ketidakjelasan bentuk
dukungan pemerintah. Dan, kelambanan birokrasi menjadi penghambat
implementasi keputusan pemerintah yang sebenarnya mulai berpihak pada sektor
riil.

Keputusan di tingkat kabinet bisa sangat jelas, tapi birokrasi luar biasa
pelan untuk menyiapkan ketentuan pelaksanaan dan mengimplementasikannya.
Dari 100 hal yang diputuskan, misalnya, mungkin hanya sekitar 30 persen yang
dilaksanakan," ujar Chris.


25 tahun mengabdi
“Penting bagi kita menyiapkan Sumber Daya Manusia berkualitas dalam segala
hal.” Demikian kesan Chris Kanter setelah membaca buku From Zero to Hero
karya Iftida Yazar. Chris tersentuh atas imbauan sang penulis agar tidak
sombong dan selalu beranggapan di atas langit masih ada langit. Sikap itulah
yang  seharusnya jadi filosofi hidup bagi siapa pun, termasuk bagi
pengusaha.
 
Sejak lama, Chris senantiasa menekankan pentingnya sumber daya manusia
andal. Peningkatan kualitas SDM  menurut pengalam empiris menunjukkan
kemajuan suatu bangsa daripada mengandalkan kekayaan sumber daya alam,
panjang-pendeknya sejarah atau ukuran wilayah Negara. Chris fasih
mengomunikasikan hal itu, tentu saja berdasar jejak panjangnya sebagai
pengusaha nasional, selain sebagai organisatoris ulung.

Sudah lebih dari seperempat abad Chris Kanter mengabdikan hidupnya untuk
Kadin Indonesia. Selama 15 tahun di antaranya, dilalui pria kelahiran
Manado, 25 April 1952 ini, sebagai  Wakil Ketua Umum dalam tiga periode masa
bakti.
Rentang waktu perjalanan panjang itu, lebih dari cukup bagi Presiden
Direktur PT KN Stigma Trans Jakarta ini untuk mengetahui seluk beluk Kadin.
Dengan pengalaman itu, bisalah dikatakan, Chris Kanter paling paham tentang
organisasi para pengusaha itu, dibanding siapa pun.

Itu  jelas modal sosial yang demikian lengkap, untuk berkompetisi dalam
memperebutkan kursi Ketua Umum Kadin Indonesia, Agustus mendatang. Ditambah
pengalaman luasnya dalam memperjuangkan investasi asing bagi kalangan dunia
bisnis, termasuk pelaku usaha kecil dan menengah (UKM), nilai plus bagi
Chris Kanter terus bertambah.

Sebagai pengurus inti Kadin, Chris Kanter senantiasa tampil sebagai sosok
pekerja keras, tidak saja bagi organisasinya, tetapi secara keseluruhan bagi
perekonomian Indonesia. Alumnus Fakultas Teknik Mesin Universitas Trisakti
ini, aktif mendorong investasi di Tanah Air. Ayah tiga anak ini mengajak
investor asing menanamkan modalnya di Indonesia, seraya membuka lapangan
kerja untuk memperkecil daftar pengangguran, yang kini menjadi masalah
krusial kita.

Kegigihannya menjadikan Indonesia sebagai ladang investasi terkemuka di
dunia tak pernah surut. Sewaktu Indonesia diterpa gelombang krisis maupun
aksi terorisme, Chris berdiri di garda depan bersama Kadin dan pemerintah.
Ia berupaya menenangkan pelaku pasar. Hasilnya pemodal asing masih menaruh
kepercayaan tinggi dalam berinvestasi di Indonesia. 
Wajar jika Rachmat Gobel, rekannya menjulukinya sebagai Pejuang Investasi.
 
Bagusnya, mantan Ketua Umum GAFEKSI (Gabungan Forwarder dan Ekspedisi
Indonesia)  ini tak segan mengkritisi pemerintah agar konsisten membuat
kebijakan mendukung investasi. Jelang Pemilu 2009, Chris mengingatkan
pemerintah agar jangan salah membuat keputusan. Kebijakan pemerintah harus 
jelas dan terbuka, sehingga menguntungkan bagi banyak pihak.  (Kadin
Indonesia.or.id.21/01/09). 

Untuk mendorong pertumbuhan investasi dalam negeri, Chris terus menerus
mengingatkan pemerintah untuk memberikan dukungan nyata. Di antaranya,
mereformasi bidang perpajakan dan bea cukai, selain mewujudkan sinkronisasi
kebijakan dan implementasi, serta pembenahan di bidang ketenagakerjaan dan
infrastruktur. 

Chris mendukung  target investasi modal dalam negeri  hingga 10 kali lipat
pada 2014 dari pencapaian 2009.  Bahkan seharusnya 2014 target mencapai
US$20 miliar hingga US$30 miliar. Untuk meningkatkan investasi, pemerintah
harus menyelesaikan banyak pekerjaan rumah, seperti revisi berbagai
peraturan. Termasuk aturan soal pembebasan lahan untuk kepentingan publik. 
(Koran Tempo, 2 Januari 2010)

Khusus soal pembebasan lahan,  terkait dengan infrastruktur yang juga
menjadi konsen Chris Kanter, harus mendapat perhatian serius. Saat  jadi
Ketua Komite Pelaksana Indonesia Infratsructure Conference and Exhibition
(IICE) 2006 , Chris Kanter sudah mengingatkan hal itu. Menurut dia, kalau
antusiasme para investor tidak diikuti dengan kecepatan pemerintah dalam
menyiapkan 101 proyek lainnya, percuma dan bakal membuat mereka kecewa. 

Untuk  bidang infrastruktur ini, Chris  melihat  masalah pembebasan tanah
masih tunduk pada kekuatan massa, bukan hukum yang berlaku. Inilah yang
berpotensi mengganggu iklim investasi. Karena itu harus ditangani secara
cepat.
Bagaimanapun iklim investasi perlu terus didorong. Bukan hanya menggaet
investor asing, melainkan juga pengusaha lokal. Sayang, implementasi di
lapangan, tidak sepenuhnya benar.  "Banyak policy yang sudah bagus, tetapi
saat diimplementasikan justru hancur."

Krisis ekonomi global 2007 menjadi perhatian Chris karena membawa dampak
bagi arus Penanaman Modal Asing Langsung  (PMAL) ke negara berkembang,
termasuk Indonesia.  Arus investasi menurun pada 2009 dan diharapkan
berangsur pulih pada 2010-2014. 
Komisaris PT. Indosat Tbk ini  melihat agar dapat bersaing dalam menarik
PMAL, Negara dituntut berbenah diri, memperkokoh pasar domestik, serta
menciptakan iklim kondusif  bagi investasi dan menghadirkan infrastruktur
untuk mengurangi biaya produksi tetap  (fixed cost).

Chris memperkirakan kawasan Asia pulih  lebih cepat dari kawasan lain.
Indonesia dinilai bakal memproleh manfaat positif dengan pemulihan ekonomi
itu. Di mata pemodal asing, Indonesia tetap menarik, antara lain karena
jumlah penduduknya besar, tersedianya angkatan kerja dengan produktifitas
yang masih dapat ditingkatkan. Selain itu, tersedia cukup bahan baku,
stabilitas politik dan ruang bagi penerapan mekanisme pasar semakin luas.
Biaya yang tak terkait langsung dengan kegiatan ekonomi makin kecil.

Hanya saja, Chris melihat masalah tenaga kerja bisa mengganjal laju
investasi, karena Undang-Undang Ketenagakerjaan tidak kondusif dan
berubah-ubah. Selama ini banyak cost keluar untuk buruh.  Para pengusaha
dihadapkan pada masalah UU No. 13/2003, karena itu Chris berpendapat hal itu
harus dihilangkan atau diperbaiki.
Ia menunjuk ketentuan tentang pesangon yang memberatkan pengusaha. Hal itu
tidak ada di luar negeri. Tak heran kalau banyak perusahaan besar yang
menghindari ketentuan pesangon dengan menggunakan pekerja outsourcing,
(www.kompas.com, 14 Januari 2010).
 
Chris Kanter memang termasuk tokoh yang vokal menyuarakan revisi UU No. 13
Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan untuk masuknya investor baru dalam era
Free Trade Area. Jika berbagai hambatan dibenahi, termasuk sektor
ketenagakerjaan, bekas Kepala Badan Pengurus Pusat HIPMI ini, menggaransi
sektor usaha Indonesia lebih tangguh bersaing terhadap industri luar negeri.

Jadi, tak perlu gentar  dengan diberlakukannya perjanjian kebijakan
perdagangan bebas atau Asean-China  free trade agreement (ACFTA), awal
Januari lalu. ACFTA justeru dinilai  bisa memberikan konstribusi positif 
bagi investasi. Investor China memandang Indonesia, Negara tujuan penanaman
modal potensial. China juga menganggap Indonesia lebih stabil menghadapi
krisis. Stabilitas politik Indonesia  jauh lebih menarik dibanding Malaysia.
Proses demokrasi RI lebih matang dibanding Negeri serumpun itu.
Chris juga konsen terhadap perjuangan  DNI (Daftar Negatif Investasi) 2010. 
Januari 2010 Pemerintah melalui Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)
telah melakukan kajian akhir usulan revisi daftar negatif investasi (DNI).
Hasilnya perubahan pada sektor pendidikan, telekomunikasi, logistik (jasa
kurir), industri kreatif, dan kesehatan. 
 
Chris Kanter mencatat isu krusial pada sektor pendidikan dan kesehatan.
Pasalnya pada dua bidang itu kebutuhan tinggi, tapi suplainya kurang. Kalau
revisi DNI bisa direalisasikan, itu sebuah langkah besar. Selama ini,
menurut dia, ada pembatasan investasi asing yang begitu besar, khususnya di
sektor pendidikan dan kesehatan. Akibatnya, pelayanan publik di kedua sektor
itu menjadi mahal. 

"Sekarang banyak orang sudah berobat ke luar negeri. Karena di sini
standarnya dinilai tidak memuaskan," kata Ketua Dewan Gubernur Swiss-German
University.  (Media Indonesia, 20 Januari 2010)


Mandiri dan Profesional
Dari track record panjang yang ditorehkannya selama ini, Chris Kanter jelas
mampu membawa Kadin sebagai organisasi  mandiri dan profesional. Mandiri
dalam hal ini tidak bergantung pada pemerintah apalagi berafiliasi pada
partai politik tertentu. Ini penting, agar Kadin bisa bersikap pada setiap
kebijakan yang membawa implikasi pada perekonomian bangsa dan kemaslahatan
rakyat.
  
Pandangan ini  mengesankan Ketua Bidang Regulasi GAPMMI, Franky Sibarani. 
Pihaknya melihat Chris figur dengan pandangan optimistis  dengan jangkauan
jauh ke depan. Indonesia harus terus bisa menarik banyak investasi. Untuk
itu, Chris adalah tokohnya. Dalam tiga periode kepemimpinannya di Kadin,
Chris berhasil  secara signifikan mengerjakan semua tugas yang diserahkan
kepadanya.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofyan Wanandi berani
mengatakan kinerja Chris di Kadin impresif. Kepemimpinannya supel dan mampu
merangkul banyak orang. Catatan dan kinerjanya sesuai dengan bidang yang
ditangani. 
“Dia itu ngemong kalau memimpin.” 

Dengan indikasi itu sosok Chris dinilai cocok memimpin Kadin di masa
mendatang. Chris memiliki kepedulian kepada  UKM, salah satu anggota
potensial organisasi pengusaha itu. Itu antara lain ditunjukkannya ketika
menjadi anggota Tim Eksternal Pemantau Pelaksanaan Kebijakan Percepatan
Pengembangan Sektor Riil dan Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah di
Kementerian Koordinator Perekonomian sejak 2007. (Sigit)  


Kirim email ke