Refleksi : Kalau yang sekarang menjabat presiden NKRI  serta konco-konconya 
mensponsor Laskar Jihad ke Sulawesi Tengah dan Maluku,maka berita ini bukan 
berita baru.

http://nasional.kompas.com/read/2010/06/25/21553236/Tamparan.Keras..Paham.Radikal.Masuk.TNI

YULI DITEMBAK
Tamparan Keras, Paham Radikal Masuk TNI
Jumat, 25 Juni 2010 | 21:55 WIB

 
DHONI SETIAWAN
Peti jenazah terduga teroris yang tewas dalam penyergapan Detasemen Khusus 88 
Antiteror di Dusun Cungkrungan, Blangwetan Klaten Utara, Jawa Tengah tiba di RS 
Polri Sukanto, Jakarta Timur, Kamis (24/6/2010). Selain menembak mati Yuli 
Karsono, Densus 88 juga meringkus dua orang lagi saat penyergapan pada Rabu 
(23/6/2010) itu. 

JAKARTA, KOMPAS.com - Walau belum bisa disebut tersistematis, masuknya paham 
radikal dari kelompok Jamaah Islamiyah (JI) ke tubuh aparat kepolisian dan 
militer, belakangan terhadap prajurit Tentara Nasional Indonesia Angkatan 
Darat, dinilai merupakan tamparan keras bagi institusi pertahanan dan keamanan 
di Tanah Air.


""Saya sih sebetulnya masih melihat beberapa kejadian macam tadi sebatas 
anomali. 
-- Bambang Widjojanto""

Hal itu disampaikan dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas 
Indonesia (FISIP UI) Andi Widjojanto, Jumat (25/6/2010), saat diubungi Kompas, 
menyusul tertembak matinya terduga teroris Yuli Karsono, pecatan anggota TNI AD 
yang bertugas di Pusat Pendidikan Perhubungan, Cimahi, Jawa Barat. 

Seperti diwartakan, Yuli, terakhir berpangkat Prajurit Kepala (Praka), dipecat 
dari ketentaraan karena terlibat Jemaah Islamiyah dan bahkan sempat dipenjara 
di tahanan militer selama dua tahun (2002-2004) setelah kasusnya diusut oleh 
Polisi Militer. 

"Saya sih sebetulnya masih melihat beberapa kejadian macam tadi sebatas 
anomali. Belum sampai menjadi semacam pola besar, kelompok teroris memang 
secara ingin merekrut anggota polisi atau TNI. Namun tetap kejadian seperti 
Yuli menjadi tamparan keras bagi institusi TNI karena bagaimana bisa 
indoktrinasi mereka yang kuat bobol oleh paham-paham radikal," ujar Andi. 

Padahal selain didoktrin kuat untuk tetap loyal pada Pancasila, Negara Kesatuan 
RI, dan Undang-undang Dasar 1945, prajurit TNI juga didoktrin untuk senantiasa 
patuh pada yang namanya Sumpah Prajurit TNI dan Sapta Marga. Selain itu dalam 
struktur TNI juga ada bagian khusus menangani pembinaan mental prajurit TNI. 

Dalam catatan Kompas, keterlibatan oknum atau mantan aparat juga pernah terjadi 
sebelumnya ketika diketahui dua bintara polisi ditahan karena menjual sejumlah 
senjata disposal, salah satunya jenis AK-47, dan 8.000 butir peluru kepada 
anggota kelompok teroris Aceh. 

"Masalah ini bisa menjadi serius ketika kita melihatnya begini, bagaimana bisa 
seorang prajurit TNI yang ketika itu masih aktif, sama sekali tidak memiliki 
benteng mental ideologi untuk menangkal proses radikalisasi. Kejadian itu harus 
menjadi peringatan (warning) serius," tambah Andi

TERKAIT:
  a.. Yuli Gabung Teroris di Dalam Penjara 
  b.. Mayat Teroris Klaten Tiba di RS Polri 
  c.. Rumah Yuli Harsono di Purworejo Kosong 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke