RENUNGAN VII. DAUR ULANG SEJARAH
Share
SriwidadaPutuGedheWijaya
Saturday, June 26, 2010 at
2:11pm
PENGANTAR
Ada sebagian orang berpendapat bahwa mempelajari sejarah adalah omong kosong.
"History is bunk". Sedangkan Bung Karno menandaskan "Jangan
sekali – kali meninggalkan sejarah" atau yang sering disebut dengan
"JASMERAH". Bahkan beliau tandaskan bahwa : “Karena dari mempelajari
sejarah orang bisa menemukan hukum, hukum yang menguasai kehidupan manusia.
Salah satu hukum itu ialah bahwa : "Tidak ada satu bangsa yang besar dan
malmur zonder kerja. Terbukti dalam sejarah segala zaman, bahwa kebesaran
bangsa & kemakmuran tidak pernah jatuh gratis dari langit. Kebesaran bangsa
& kemakmuran selalu 'kristalisasi' keringat. Ini adalah hokum, yang kita
temukan dari mempelajari sejarah. Bangsa Indonesia, tariklah moral dati hukum
ini " !
Lao Tse, orang suci Cina, menyatakan :”Dengan memahami masa lalu, engkau akan
menguasai masa depan” (Nasr.1984).
Memang benar bahwa dengan mempelajari dan melihat masa lalu, kita dapat
menjalani masa kini dan hasil saat ini dapat menetukan untuk hari esok,
walaupun dalam kasanah kearifan budaya local dikenal dengan adanya "Cakra
– manggilingan".
Apakah esok akan menjadi kemarin ?. Tidak ! Karena besok adalah kepanjangan
hari ini, akan tetapi tanpa mempelajari kemarin dan hari ini maka esok akn sia
–sia saja seperti kemarin!
Teramat sayang bahwa bangsa ini ingkar atas wasiat tersebut sehingga sejarah
Indonesia ini tidak menunjukkan suatu kesinambungan. Satu masa dihapus dan
digantikan secara total dengan suatu yang baru. Naifnya yang baru hanya dibuat
untuk membedakannya dengan yang lama. Maka tidaklah keliru bila Soebadio
Sastrosatomo dalam salah satu bukunya yang brjudul "Era Baru Pemimpin
Baru. Soebadio menolak rekayasa rezim Orde Baru" menyatakan bahwa
"Seolah – olah sejarah Indonesia itu baru ada semenjak lahirnya rezim Oede
Baru".
Seiring peringatan seabad Kebangkitan Nasional, satu dasawarsa kebangkrutan
nasional & rezim Reformasi/ Transisional serta 63 tahun Kemerdekaan Negara
Proklamasi Kesatuan Republik Indonesia, kiranya mutlak bagi seluruh unsur
bangsa berkenan merenungkan peri kehidupan berbangsa & bernegara yang
secara hakekat, secara tersirat sejatinya telah bubar dan bangsa ini amat
terpuruk dengan stigma sebagai “bangsa babu, bangsa Indon – bangsa trouble
maker, bangsa kuli – kulinya bangsa - bangsa” yang jauh hari sebenarnya telah
diperingatkan oleh Bung Karno sebagaimana pidatonya pada 17 Agustus 1963 dengan
judul "Genta Suara Revolusi Republik Indonesia" atau GESURI. Bung
Karno menyatakan bahwa : “Barang kali kita makin lama makin jauh ‘opdrft’,
makin lama – makin klejar – klejer, makin lama makin tanpa arah, bahkan makin
lama makin masuk lagi ke dalam lumpurnya muara ‘explotation de l’homme’ en ‘
explotation de l’homme par nation’. Dan sejarah akan menulis : disana, antara
benua Asia & benua Australia, antara lautan Teduh & lautan Indonesia,
adalah hidup satu bangsa yang mula – mula mencoba untuk hidup kembali sebagai
bangsa, tetapi akhirnya kembali menjadi ‘een natie van koelies, en een kolies
onder de naties”.
Bahkan bangsa & Negara ini menempati rangking pertama disusul oleh Thailand
di Asia dalah hal korupsi! Quvadis.
Bung Karno sebagai anak sejarah, putra kandung revolusi, ikon pemimpin dunia,
putra terbaik Bunda Pertiwi yang memiliki segudang stigma antara lain sebagai :
Sang Proklamator, Bapak Bangsa, Founding Father, arsitek, seniman/pelukis,
budayawan, pengarang, orator, politikus, negarawan, filosuf, futurolog dan lain
sebagainya. Sebagai anak bangsa Bung Karno juga menyandang stigma miring yang
dilekatkan oleh sebagian masyarakat yang kontra padanya dengan sebutan :
diktator, gila hormat dan jabatan, kolaborator, cengeng dan donjuan serta tokoh
coup detaat atas kekuasaannya sendiri. Benarkah ?
Pro dan kontra adalah suatu kenisbian, sungguhpun demikian kita telah diwarisi
begitu banyak filosofi kearifan buadaya local seperti “Becik ketitik ala
ketara” dan sesanti “Sura dira jayanikanangrat swuh brastha tekap ing ulah
dharmastuti atau Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti” yang maknanya :
”Bahwa betapapun sura (sakti) dan besar kekuasaannya, akan tetapi kalau untuk
tujuan yang tidak benar, tidak adil dan angkara murka (adharma), pasti akan
sirna oleh budi pekerti luhur dan rahayu serta sikap kasih dan damai”.
Seiring keadaan berbangsa dan bernegara dimana Pemerintah ingin merajut kembali
kenangan, semangat dan jiwa nasionalisme seiring seabad peringatan kebangkitan
nasional di tengah – tengah keterpurukan serta runtuhnya konstruiksi Negara
Proklamasi yang berdasarkan PANCASILA yang telah diganti dengan esensi PIAGAM
JAKARTA
yang telah dilembagakan sekurangnya oleh 6 propinsi, 38 kabupaten & 12 kota
serta menyusul di ujung timur, Papua tak mau kalah segera memberlakukan perda
syareat “Kota Injili”.
Disintegrasi bangsa telah meletup dan masyarakat tanpa asa sehingga mereka
berduyun – duyun mencari harta karun – harta warisan Bung Karno secara membabi
buta, sedangkan yang dimaksud adalah menggali dan menghayati warisan ajaran
(idiologi ) Bung Karno. Antara lain tentang : PANCASILA, MARHAENISME, JASMERAH,
TRISAKTI (Berdaulat di bidang politik; Berdikari di bidang ekonomi dan
Berkepribadian di bidang kebudayaan) dan lain – lain semata – mata guna
membangun dunia baru dengan tanpa adanya penghisapan antar manusia sekaligus
antar bangsa.
Kelemahan Bung Karno sebagai manusia biasa tentu ada namun amatlah tak
beradabnya bila anak bangsa yang diperjuangkannya justru sama sekali tidak
menghargainya bahkan tega menfitnah dan menjebloskannya ke penjara.
Soebadio Sastrosatomo tokoh PSI yang pernah dijebloskan dalam penjara yang
menjelang tutup usia begitu produktif menulis buku, ia begitu cinta &
hormat serta mengakui berbagai kebenaran dan kelebihan iterhadap diri Bung
Karno sehingga salah satu bukunya diberi judul “Soekarno adalah Indonesia –
Indonesia adalah Soekarno”.
Apa yang diutarakan tersebut benar adanya, Bung Karno ibarat telah bersenyawa –
telah menyatu dengan Bunda Pertiwi sehingga kerinduan dan rintihan Nusantara
tak sedetikpun beliau lupakan. Bagaimana Ibu Periwi dan susuannya (rakyat) yang
rindu kemerdekaan telah beliau nyatakan pada 1933, “Bila perang Pasific meletus
maka Indonesia akan merdeka”, sebaliknya sakitnya Ibu Pertiwi juga telah
diucapkan pada 1963 sebagaimana tertulis di atas. Marilah Jangan lupakan
JASMERAH !
BAGIAN I
DAUR ULANG SEJARAH
ANTARA MAJAPAHIT DENGAN NKRI
Guna melengkapi kajian – renungan dan penghayatan atas sejarah untuk merenda
hari esok yang lebih baik nampaknya kita dituntut untuk membaca dan mengkaji
suara alam (min aayaatillah), terlepas dari kesahihan suatu sejarah yang
mendahuluinya. Karena semua kejadian ini secara spiritual tidaklah ada kamus
kebetulan, karena semua itu terjadi atas karsa dan kuasa – NYA!
Apapun pro kontra isi dari sajian ini jangan sampai memupus amanat BUNG KARNO
'JASMERAH" bahkan kita justru terbangkitkan untuk lebih inten menguak
serpihan kebenaran!@
Bung Karno menyatakan bahwa : “Revolusi adalah perjuangan” Firman TUHAN inilah
gitaku :”TUHAN tidak merubah nasib sesuatu bangsa sebelum bangsa ityu merubah
nasibnya sendiri” QS : Ar Ra’d ayat 11. Ref pidato 17 Agustus 19633 : Gesuri.
Benarkah ada daur ulang sejarah ? Yang pasti siklus kehidupan di bumi ini
mengikuti hukum alam atau alur kehidupan : lahir, tumbuh, berkembang (matang)
setelah itu mati. Siklus sejarah kekuasaan raja – raja beserta imperium yang
dibanggakannya di dunia ini tak terkecuali Indonesia pun tak dapat lepas dari
hukum alam ini.
Maka di sinilah terjadi proses daur ulang (cakra manggilingan) sejarah kerajaan
dengan ragam dialektika, dinamika dan romantika pergantian kekuasaannya.
Nampaknya fragmentasi sejarah kerajaan terdapat tiga babak yakni (1). Zaman
Kelahiran. (2). Zaman Kejayaan dan (4). Zaman Kegelapan.
Oleh sebab itulah NKRI, Negara Proklamasi yang berdasarkan PANCASILA sebagai
kebangkitan Majapahit I seharusnya kita pertahankan dan kita berdayakan agar
tujuan mendirikan negara yakni Sila V, keadilan social bagi seluruh rakyat
Indonesia yang merupakan amanat penderitaan rakyat sebagaimana tertuang,
tersurat dan tersirat dalam Preambule atau Pembukaan UUD 1945 itu. Begitu
idial. dan universal yang nyaris sempurna dengan adanya paduan dari nilai hidup
& peri kehidupan yakni filosofi dan religi serta iptek telah tersurat dan
tersirat di dalam Preambule UUD 1945 yang petunjuk dan pelaksanaannya tertuang
di dalam batang tubuh UUD 1945 yang memang sengaja dikemas secara simple dan
sederhana oleh founding fathers.
Keruntuhan kerajaan Nasional Sriwijaya dan Singhasari serta Majapahit hendaknya
jangan lagi terulang pada NKRI ini.
A. UNSUR KEKUASAAN
1. Era R. Wijaya (1293 – 1309) & Jaya Negara (1308 – 1328) Identik Dengan
Era Presiden I, Dr. Ir. Soekarno (1945 – 1967).
Majapahit yang didirikan oleh R. Wijaya, canggah dari Ken Arok dengan Ken
Dedes, putra Dyah Lembu Tal. Oleh sebagian sejarawan dinyatakan berpusat di
bekas kerajaan Mahibit sebagai kota air semacam Venice, Italia yang dulu
ditaklukkan oleh Singhasari, dan sebagian berpendapat sebagai hasil babat
alas/hutan "Tarik", dengan Trowulan sebagai ibukotanya yang didirikan
pada 1293. Karena kehebatan R. Wijaya , pasukan Tartar sangat memperhitungkannya
dimana untuk menyerang Singhasari yang (ternyata telah dikuasai oleh
Jayakatwang) , brigade Kau Hsing, Brigade Ike Messe yang jalan darat sementara
brigade Shihpe jalan laut menuju RV Sedayu harus minta nasehat Tuan Pijaya yang
dimaksud Wijaya .
Paska R. Wijaya diteruskan oleh Putranya yang Indo, Jawa – Melayu, Prabhu Jaya
Negara atau Kologemet . Di masa – masa kedua rezim tersebut, kerajaan
dirongrong oleh pembrontakan seperti Ranggalawe, Juru Demung, Gajah Biru, Sora,
Nambi dan Rangkuti. Dimana Prabhu Jaya Negara wafat akibat pembunuhan oleh
tabib Tanca.
Bandingkan dengan rezim Bung Karno, selain rongrongan oleh tentara Sekutu yang
tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherland Indies Civil Administration)
yang diboncengi oleh NICA (Netherland Indies Civil Administration) sehingga
meletuslah pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, juga di tempat – tempat
lain. Timbul kelicikan oleh Belanda seperti terjadinya Agresi Militer I pada 27
Juli 1947 sehingga tercetuslah Perjanjian Renvil pada 8 Desember 1947 yang
kemudian masih muncul pemberontakan oleh anak – anak bangsanya sendiri seperti
: PKI Muso, yang mendeklarasikan "Negara Republik Soviet Indonesia",
pada 18 September 1947,menyusul kemudian Agresi Militer II Belanda pada 19
Desember 1948, yang membawa KMB pada 23 Agustus 1949, yang membuat Indonesia
menjadi RIS yang terdiri dari 16 negara bagian. Yang tidak sesuai dengan
kehendak rakyat. Oleh sebab itu RIS dan RI (sebagai negara bagian dari RIS)
sepakat untuk membentuk Negara Kesatuan, pada 17 Agustus 1950 RIS menjelma
menjadi NKRI. Dan berturut – turut pemberontakan pecah dimana Karto Suwiryo
mendeklarasikan berdirinya NII, pada 7 Agustus 1949, Darul Islam oleh Daud
Beureuh, di Aceh dan Kahar Muzakar,di Sulawesi Selatan serta, PRRI, APRA, RMS,
Permesta (Piagam Perjuangan Semesta Alam, oleh Letkol Sumual pada 2 Maret 1957
di Sulawesi), Westerling, Dewan Banteng, Andi Azis, yang terakhir G30SPKI.
Amerika Serikat ikut membidani aksi – aksi tersebut. Juga adanya upaya
pembunuhan berkali – kali secara langsung terhadap diri Bung Karno namun selalu
gagal
Maka rezim R. Wijaya dan Jaya Negara (selama 35 tahun) adalah identik dengan
rezim Bung Karno (24 tahun). Sungguhpun sebagai Negara yang baru merdeka
Angkatan lautnya telah mampu menggetarkan Australia dan negara – negara lain.
Armada Angkatan Perang baik laut, udara dan darat tercanggih di Asia yang
menjadi kekaguman negara – negara sahabat utamanya yang tergabung dalam
Konferensi Asia – Afrika. Bahkan Indonesia pernah memiliki pesawan pembon
tercanggih di dunia yakni type TU – 16 saat merebut Irian Barat.
Dan Indonesia sekaligus mampu menjadi pemimpin dunia, Konferensi Asia Afrika,
Ganefo, Conefo adalah bukti nyata. Dan ruh, jiwa dan semangat Preambule UUD
1945 mampu memerdekakan puluhan negara di kawasan tersebut. Bung Karno adalah
Proklamator, Founding Fathers, Bapak Bangsa! Secara gen, bila istri R. Wijaya
dari Swarnabhumi/Jambi, yakni Dara Petak dan Dara Jingga sedangkan Bung Karno
juga mempersunting Ibu Fatmawati dari Bengkulu, Sumatera.
Lebih jauh bila dianalogikan bahwa Gajah Mada adalah identik pula dengan Bung
Karno yang sama – sama sebagai pemersatu bangsa. Bila Gajah Mada dengan
berpuasa mutih selama puluhan tahun sedangkan Bung Karno rela namanya hancur
& dipenjarakan nyaris sepanjang hayatnya, tidak saja oleh Belanda namun
juga oleh anak bangsanya sendiri asalkan persatuan bangsa itu masih tetap
terpelihara & tak ada pertumpahan darah.
Gajah Mada demi sumpah Palapanya harus rela menjadi lilin yang menerangi namun
sekaligus menghancurkan dirinya sendiri karena peristiwa Bubat dimana
junjungannya batal mempersunting Dyah Pitaloka atau Citraresmi putri
Prabhuwangi dari Pajajaran. Gajah Mada dianggap bersalah karena dianggap telah
mengambil domain sang raja! Sebaliknya Bung Karno karena sumpah Pemuda dan
Proklamasi, beliaupun tak hendak membubarkan PKI karena dasar PKI dari Marxisme
- Leninisme dengan PANCASILA, Bung Karno pun dihujat dan disalahkan karena
menurutnya benar salah yang memutuskan adalah pengadilan!
Namuin sejarah ternyata selamanya dikodratkan “bengkok” oleh ego pembuat
sejarah itu sendiri yang menganggap kekuasaan adalah segala – galanya, bukannya
merupakan jalan sebagai pengabdian “respublika” demi memenuhi tuntutan amanat
penderitaan rakyat tapi demi ambisi dan ego kesrakahan anak - anak bangsanya
sendiri.
Dan ke tiga patriot Majapahit yakni R. Wijaya, founding father Majapahit, Jaya
Negara, sebagai raja yang dicitrakan oleh para sejarawan demikian buruk. Bila
benar begitu kenyataannya mengapa ia selalu dapat memadamkan pergolakan/
pemberontakan. Dengan fakta tersebut ia adalah raja yang baik &
konsepsional, setidaknya logistic & strategi perang melawan pemberontak
sepanjang pemerintahannya adalah cermin baiknya tata kelola berkerajaan. Memang
semuanya tak terlepas dari peran Sang Bekel dan kemudian didudukkan sebagai
Kepala bayangkara (Kapolri) dan mencapai pimpinan puncak sebagai Mahapatih
yakni Gajah Mada sebagai pemersatu seluruh Nusantara. Ini pun nampkanya mirip
dan luluh ke diri Bung Karno yang amat gandrung terhadap persatuan dan kesatuan
bangsanya. Dharma eva hota – hanti !
Bisa jadi bangsa ini harus menyadari atas kekeliruannya dan para pimpinan
apapun namanya, kadereisasi dan regenerasi adalah mutlak adnya sehingga setiap
ada suksesi akan berjalan mulus, tidak berdarah - darah dan berkesinambungan//
Nah para kadang apa yang mampu kita petik dari kisah sejarah tersebut ?
Nyumanggaaken ngarsapanjenegan sami//Pemulung
[Non-text portions of this message have been removed]