KH. Abdul Hamid, Pasuruan – Jawa Timur


[image: abdul hamid.png]



Orang mengenal Kiai Hamid karena beliau dikenal sebagai seorang wali. Dan
orang mengatakan wali – biasanya – hanya karena keanehan seseorang. Tidak
banyak yang tahu tentang sejatinya beliau. Nah ! Dalam rangka memperingati
haulnya pada bulan Mei ini kami turunkan sekelumit tentang beliau.



Seperti halnya orang mengenal Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani sebagai sultanul
auliya’, tidak banyak yang tahu bahwa sebetulnya Syekh Abdul Qodir adalah
menguasai 12 disiplin ilmu. Beliau mengajar ilmu qiraah, tafsir, hadits,
nahwu, sharaf, ushul fiqh, fiqh dll. Beliau sendiri berfatwa menurut madzhab
Syafi’I dan Hanbali. Juga Sahabat Umar bin Khattab, orang hanya mengenal
sebagai Khalifah kedua dan Panglima perang. Padahal beliau juga wali besar.
Beliau pernah mengomando pasukan muslimin yang berada di luar negeri cukup
dari mimbar Masjid di Madinah dan pernah menyurati dan mengancam sungai Nil
di Mesir yang banyak tingkah minta tumbal manusia, hingga nurut sampai
sekarang.



KH. Abdul hamid Lahir pada tahun 1333 H, di Desa Sumber Girang, Lasem,
Rembang, Jawa Tengah.Wafat 25 Desember 1985.



Pendidikan: Pesantren Talangsari, ]ember;



Pesantren Kasingan, Rembang, Jateng; Pesantren Termas, Pacitan, Jatim.
Pengabdian: pengasuh Pesantren Salafiyah, Pasuruan ANGIN bergerak perlahan.
Hening. Jam menunjuk pukul 01.00 lebih. Warga Pesantren Salafiyah, Pasuruan,
dan sekitarnya lelap tidur nyenyak.



Krosak! Tiba-tiba suara daun terlanggar batu menyeruak keheningan. Sejurus
kemudian terdengar lagi suara itu yang kedua dan ketiga kali. “Faisal, hari
sudah malam. Waktunya tidur,” terdengar teguran halus dari arah belakang
pelempar batu itu. Faisal (bukan nama sebenarnya), santri Salafiyah yang
terkenal badung itu tidak menyahut. Ia yakin, itu suara anak santri lain
yang ingin menggodanya, dengan meniru suara Kiai Hamid.



Faisal memungut batu lagi dan melempar pohon mangga di depan rumah pengasuh
pesantrennya itu. “Faisal, hari sudah malam, waktunya tidur,” terdengar
suara lembut lagi dari arah belakang anak yang suka melucu itu. Begitu
lembut, selembut semilir angin tengah malam. “Sudahlah, kau tak usah usil.
Aku tahu siapa kau,” sergah Faisal sambil melempar lagi. Lagi-lagi
lemparannya luput. Ia semakin tidak sabaran melihat buah mangga yang ranum
itu.



“Faisal, hari sudah malam. Ayo tidur, tidur.” Suara itu masih halus, tanpa
emosi. “Kurang ajar,” umpat Faisal. Kesabarannya sudah habis. Ini
keterlaluan, pikirnya. Dengan geram, ia menghampiri arah datangnya suara
tersebut. Entah apa yang ingin dilakukannya terhadap orang yang dianggapnya
meniru seperti Kiai Hamid itu. Ia tidak dapat segera mengenali, siapa santri
yang berlagak seperti Kiai Hamid di depan rumah kiai yang sangat disegani
itu. Maklum, semua lampu di teras rumah itu sudah dipadamkan sejak pukul
21.00. Mendadak mukanya pucat ketika jarak dengan orang tersebut tinggal 1-2
meter.



Tubuhnya bergetar demi mengetahui orang yang telah diumpatinya tadi benar
benar Kiai Hamid. Faisal pun menunduk segan. “Sudah malam, ya. Sekarang
waktunya tidur,” ujar Kiai, Hamid, masih tetap lembut, namun penuh wibawa.
“Inggih (iya),” jawab Faisal pendek, sambil ngeloyor pergi ke kamarnya.
Faisal bukan satu-satunya santri yang suka mencuri mangga milik kiai.



Cerita seperti itu sudah menjadi semacam model khas kenakalan santri di
pesantren. Faisal juga bukan satu-satunya anak santri Salafiyah yang
merasakan kesabaran Kiai Hamid. Kesabarannya memang diakui tidak hanya oleh
para santri, tapi juga oleh keluarga dan masyarakat serta umat islam yang
pernah mengenalnya. Sangat jarang ia marah, baik kepada santri maupun kepada
anak dan istrinya. Kesabaran Kiai Hamid di hari tua, khususnya setelah
menikah, sebenarnya kontras dengan sifat kerasnya di masa muda.



“Kiai Hamid dulu sangat keras,” kata Kiai Hasan Abdillah. Kiai Hamid lahir
di Sumber Girang, sebuah desa di Lasem, Rembang, Jawa Tengah, pada tahun
1333 H. Ia adalah anak ketiga dari tujuh belas bersaudara, lima di antaranya
saudara seibu. Kini, di antara ke 12 saudara kandungnya, tinggal dua orang
yang masih hidup, yaitu Kiai Abdur Rahim, Lasem, dan Halimah. Sedang dari
lima saudara seibunya, tiga orang masih hidup, yaitu Marhamah, Maimanah dan
Nashriyah, ketiganya di Pasuruan.



Hamid dibesarkan di tengah keluarga santri. Ayahnya, Kiai umar, adaiah
seorang ulama di Lasem, dan ibunya adalah anak Kiai Shiddiq, juga ulama di
Lasem dan meninggal di Jember, Jawa Timur.



Kiai Shiddiq adalah ayah KH. Machfudz Shiddiq, tokoh NU, dan KH. Ahmad
Shiddiq, mantan Ro’is Am NU. Keluarga Hamid memang memiliki keterikatan yang
sangat kuat dengan dunia pesantren. Sebagaimana saudara-saudaranya yang
lain, Hamid sejak kecil dipersiapkan untuk menjadi kiai. Anak keempat itu
mula-mula belajar membaca al-Quran dari ayahnya. Pada umur sembilan tahun,
ayahnya mulai mengajarinya ilmu fiqh dasar.



Tiga tahun kemudian, cucu kesayangan itu mulai pisah dari orangtua, untuk
menimba ilmu di pesantren kakeknya, KH. Shiddiq, di Talangsari, Jember, Jawa
Timur. Konon, demikian penuturan Kiai Hasan Abdillah, Kiai Hamid sangat
disayang baik oleh ayah maupun kakeknya. Semasih kecil, sudah tampak
tanda-tanda bahwa ia bakal menjadi wali dan ulama besar.



“Pada usia enam tahun, ia sudah bertemu dengan Rasulullah,” katanya. Dalam
kepercayaan yang berkembang di kalangan warga NU, khususnya kaum sufi,
Rasulullah walau telah wafat sekali waktu menemui orang-orang tertentu,
khususnya para wali. Bukan dalam mimpi saja, tapi secara nyata.



Pertemuan dengan Rasul menjadi semacam legitimasi bagi kewalian seseorang.
Kiai Hamid mulai mengaji fiqh dari ayahnya dan para ulama di Lasem. Pada
usia 12 tahun, ia mulai berkelana. Mula-mula ia belajar di pesantren
kakeknya, KH. Shiddiq, di Talangsari, Jember. Tiga tahun kemudian ia diajak
kakeknya untuk pergi haji yang pertama kali bersama keluarga, paman-paman
serta bibi-bibinya. Tak lama kemudian dia pindah ke pesantren di Kasingan,
Rembang. Di desa itu dan desa-desa sekitarnya, ia belajar fiqh, hadits,
tafsir dan lain lain. Pada usia 18 tahun, ia pindah lagi ke Termas, Pacitan,
Jawa Timur.

Konon, seperti dituturkan anak bungsunya yang kini menggantikannya sebagai
pengasuh Pesantren Salafiyah, H. Idris, “Pesantren itu sudah cukup maju
untuk ukuran zamannya, dengan administrasi yang cukup rapi. Pesantren yang
diasuh Kiai Dimyathi itu telah melahirkan banyak ulama terkemuka, antara
lain KH Ali Ma’shum, mantan Ro’is Am NU.” Menurut Idris, inilah pesantren
yang telah banyak berperan dalam pembentukan bobot keilmuan Hamid. Di sini
ia juga belajar berbagai ilmu keislaman. Sepulang dari pesantren itu, ia
tinggal di Pasuruan, bersama orangtuanya. Di sini pun semangat keilmuannya
tak pernah Padam. Dengan tekun, setiap hari ia mengikuti pengajian Habib
Ja’far, ulama besar di Pasuruan saat itu, tentang ilmu tasawwuf.



Menjadi Blantik


Hamid menikah pada usia 22 tahun dengan sepupunya sendiri, Nyai H. Nafisah,
putri KH Ahmad Qusyairi. Pasangan ini dikarunia enam anak, satu di antaranya
putri. Kini tinggal tiga orang yang masih hidup, yaitu H. Nu’man, H. Nasikh
dan H. Idris.



Hamid menjalani masa-masa awal kehidupan berkeluarganya tidak dengan mudah.
Selama beberapa tahun ia harus hidup bersama mertuanya di rumah yang jauh
dari mewah. Untuk menghidupi keluarganya, tiap hari ia mengayuh sepeda
sejauh 30 km pulang pergi, sebagai blantik (broker) sepeda. Sebab, kata
ldris, pasar sepeda waktu itu ada di desa Porong, Pasuruan, 30 km ke arah
barat Kotamadya Pasuruan.



Kesabarannya bersama juga diuji. Hasan Abdillah menuturkan, Nafisah yang
dikawinkan orangtuanya selama dua tahun tidak patut (tidak mau akur). Namun
ia menghadapinya dengan tabah. Kematian bayi pertama, Anas, telah mengantar
mendung di rumah keluarga muda itu.



Terutama bagi sang istri Nafisah yang begitu gundah, sehingga Hamid merasa
perlu mengajak istrinya itu ke Bali, sebagai pelipur lara. Sekali lagi
Nafisah dirundung kesusahan yang amat sangat setelah bayinya yang kedua,
Zainab, meninggal dunia pula, padahal umurnya baru beberapa bulan. Lagi-lagi
kiai yang bijak itu membawanya bertamasya ke tempat lain. KH. Hasan
Abdillah, adik istri Kiai Hamid, menuturkan, seperti layaknya keluarga, Kiai
Hamid pernah tidak disapa oleh istrinya selama empat tahun.



Tapi, tak pernah sekalipun terdengar keluhan darinya. Bahkan sedemikian rupa
ia dapat menutupinya sehingga tak ada orang lain yang mengetanuinya. “Uwong
tuo kapan ndak digudo karo anak Utowo keluarga, ndak endang munggah derajate
(Orangtua kalau tidak pernah mendapat cobaan dari anak atau keluarga, ia
tidak lekas naik derajatnya)”, katanya suatu kali mengenai ulah seorang
anaknya yang agak merepotkan.



Kesabaran beliau juga diterapkan dalam mendidik anak-anaknya. Menut Idris,
tidak pernah mendapat marah, apalagi pukulan dari ayahnya. Menurut ldris,
ayahnya lebih banyak memberikan pendidikan lewat keteladanan. Nasihat sangat
jarang diberikan. Akan tetapi, untuk hal-hal yang sangat prinsip, shalat
misalnya, Hamid sangat tegas.



Merupakan keharusan bagi anak-anaknya untuk bangun pada saat fajar
menyingsing, guna menunaikan shalat subuh, meski seringkali orang lain yang
disuruh membangunkan mereka, Hamid juga memberi pengajaran membaca al-Quran
dan fiqih pada anak-anaknya di masa kecil. Namun, begitu mereka menginjak
remaja, Hamid lebih suka menyerahkan anak-anaknya ke pesantren lain.



Bukan hanya kepada anak-anak, tapi juga istrinya, Hamid memberi pengajaran.
Waktunya tidak pasti. Kitab yang diajarkan pun tidak pasti. Bahkan, ia
mengajar tidak secara berurutan dari bab satu ke bab berikutnya. Pendeknya,
ia seperti asal comot kitab, lalu dibuka, dan diajarkan pada istrinya. Dan
lebih banyak, kata Idris, yang diajarkan adalah kitab-kitab mengenai akhlak,
seperti Bidayah al-Hidayah karya Imam Ghazali, “Tampaknya yang lebih
ditekankan adalah amalan, dan bukan ilmunya itu sendiri,” jelasnya.



Amalan dari kitab itu pula yang ditekankan Kiai Hamid di Pesantren
salafiyah. Kalau pesantren-pesantren tertentu dikenal dengan spesialisasinya
dalam bidang-bidang ilmu tertentu – misainya alat (gramatika bahasa Arab)
atau fiqh, maka salafiyah menonjol sebagai suatu lembaga untuk mencetak
perilaku seorang santri yang baik.



Di sini, Kiai Hamid mewajibkan para santrinya shalat berjamaah lima waktu.
Sementara jadwal kegiatan pesantren lebih banyak diisi dengan kegiatan wirid
yang hampir memenuhi jam aktif. Semuanya harus diikuti oleh seluruh santri.
Kiai Hamid sendiri, tidak banyak mengajar, kecuali kepada santri-santri
tertentu yang dipilihnya sendiri. Selain itu, khususnya di masa-masa akhir
kehidupannya, ia hanya mengajar seminggu sekali, untuk umum.



Mushalla pesantren dan pelatarannya setiap Ahad selalu penuh oleh pengunjung
untuk mengikuti pengajian selepas salat subuh ini. Mereka tidak hanya datang
dari Pasuruan, tapi juga kota-kota Malang, Jember, bahkan Banyuwangi,
termasuk Walikota Malang waktu itu. Yang diajarkan adalah kitab Bidayah
al-Hidayah karya al-Ghazali. Konon, dalam setiap pengajian, ia hanya membaca
beberapa baris dari kitab itu.



Selebihnya adalah cerita-cerita tentang ulama-ulama masa lalu sebagai
teladan. Tak jarang, air matanya mengucur deras ketika bercerita. Disuguhi
Kulit Roti Kiai Hamid memang sosok ulama sufi, pengagum imam Al-Ghazali
dengan kitab-kitabnya lhya ‘Ulum ad-Din dan Bidayah al-Hidayah. Tapi, corak
kesufian Kiai Hamid bukanlah yang menolak dunia sama sekali. Ia, konon,
memang selalu menolak diberi mobil Mercedez, tapi ia mau menumpanginya.
Bangunan rumah dan perabotan-perabotannya cukup baik, meski tidak terkesan
mewah.



Ia suka berpakaian dan bersorban yang serba putih. Cara berpakaian maupun
penampilannya selalu terlihat rapi, tidak kedodoran. Pilihan pakaian yang
dipakai juga tidak bisa dibilang berkualitas rendah. “Berpakaianlah yang
rapi dan baik. Biar saja kamu di sangka orang kaya. Siapa tahu anggapan itu
merupakan doa bagimu,” katanya suatu kali kepada seorang santrinya. Namun,
Kiai Hamid bukanlah orang yang suka mengumbar nafsu. Justru, kata idris, ia
selalu berusaha melawan nafsu.



Hasan Abdillah bercerita, suatu kali Hamid berniat untuk mengekang nafsunya
dengan tidak makan nasi (tirakat). Tetapi, istrinya tidak tahu itu.
Kepadanya lalu disuguhkan roti. Untuk menyenangkannya, Hamid memakan roti
itu, tapi tidak semuanya, melainkan kulitnya saja. “O, rupanya dia suka
kulit roti,” pikir istrinya. Esoknya ia membeli roti dalam jumlah yang cukup
besar, lalu menyuguhkan kepada suaminya kulitnya saja. Kiai Hamid tertawa.
“Aku bukan penggemar kulit roti. Kalau aku memakannya kemarin, itu karena
aku bertirakat,” ujarnya.



Konon, berkali-kali Kiai Hamid ditawari mobil Mercedez oleh H. Abdul Hamid,
orang kaya di Malang. Tapi, ia selalu menolaknya dengan halus. Dan untuk
tidak membuatnya kecewa, Hamid mengatakan, ia akan menghubunginya
sewaktu-waktu membutuhkan mobil itu. Kiai Hamid memang selalu berusaha untuk
tidak mengecewakan orang lain, suatu sikap yang terbentuk dari ajaran
idkhalus surur (menyenangkan orang lain) seperti dianjurkan Nabi.



Misalnya, jika bertamu dan sedang berpuasa sunnah, ia selalu dapat
menyembunyikannya kepada tuan rumah, sehingga ia tidak merasa kecewa. Selain
itu, ia selalu mendatangi undangan, di manapun dan oleh siapapun.



Selain terbentuk oleh ajaran idkhalus surur, sikap sosial Kiai Hamid
terbentuk oleh suatu ajaran (yang dipahami secara sederhana) mengenai
kepedulian sosial islam terhadap kaum dlu’afa yang diwujudkan dalam bentuk
pemberian sedekah. Memang karikaturis – meminjam istilah Abdurrahman Wahid
tentang sifatnya.



Tapi, Kiai Hamid memang bukan seorang ahli ekonomi yang berpikir secara
lebih makro. Walau begitu, kita dapat memperkirakan, sikap sosial Kiai Hamid
bukan hanya sekadar refleksi dari motivasi keagamaan yang “egoistis”, dalam
arti hanya untuk mendapat pahala, dan kemudian merasa lepas dari kewajiban.
Kita mungkin dapat melihat, betapa ajaran sosial islam itu sudah membentuk
tanggung jawab sosial dalam dirinya meski tidak tuntas.



Ajaran Islam, tanggung jawab sosial mula-mula harus diterapkan kepada
keluarga terdekat, kemudian tetangga paling dekat dan seterusnya.
Urut-urutan prioritas demikian tampak pada Kiai Hamid. Kepada tetangga
terdekat yang tidak mampu, konon ia juga memberikan bantuannya secara rutin,
terutama bila mereka sedang mempunyai hajat, apakah itu untuk mengawinkan
atau mengkhitan anaknya.



H. Misykat yang mengabdi padanya hingga ia meninggal, bercerita bahwa bila
ada tetangga yang sedang punya hajat, Kiai Hamid memberi uang RP. 10.000
plus 10 kg. beras. Islam mengajarkan, hari raya merupakan hari di mana umat
Islam dianjurkan bergembira sebagai rasa syukur setelah menunaikan lbadah
puasa sebulan penuh. Menjelang hari raya, sebagai layaknya seorang ulama,
Kiai Hamid tidak menerima hadiah dan zakat fitri.



Tetapi, ia juga sibuk membaginya kembali kepada handai tolan dan tetangga
terdekat. Menurut H. Misykat, jumlah hadiah – berupa beras dan sarung –
untuk tetangga dekat setiap tahun tergantung yang dipunyainya dari pemberian
orang lain. Tapi yang pasti, jumlahnya tak pernah kurang dari 313 buah. Ini
adalah jumlah para pengikut perang Badr (pecah di bulan Ramadhan antara Nabi
dan orang Kafir). Penelusuran lebih jauh akan menyimpulkan, perhatian
terhadap orang lain merupakan ciri dari sikap sosialnya yang kuat.



Bahwa semua tindakannya itu tumbuh dari sikap penuh perhatian yang tinggi
terhadap orang lain. Sehingga, kata H. M. Hadi, bekas santri dan adik
iparnya, “Semua orang merasa paling disayang oleh Kiai Hamid.” Setiap pagi,
mulai pukul 03.00, ia suka berjalan kaki berkeliling ke Mushalla-mushalla
hingga sejauh 1-2 km. untuk membangunkan orang-orang – biasanya anak-anak
muda – yang tidur di tempat-tempat ibadah itu. Di samping itu, beberapa
rumah tak luput dari perhatiannya sehingga membuat tuan rumah tergopoh-gopoh
demi mengetahui bahwa orang yang mengetuk pintu menjelang subuh itu adalah
Kiai Hamid yang sangat diseganinya. Sikapnya yang kebapakan itulah yang
membuat semua orang mengenalnya secara dekat merasa kehilangan ketika ia
wafat.



Ia selalu dengan penuh perhatian mendengarkan keluhan dan masalah orang
lain, dan terkadang melalui perlambang-perlambang, memberi pemecahan
terhadapnya. Tak cuma itu. Ia sering memaksa orang untuk bercerita mengenai
yang menjadi masalahnya. “Ceritakan kepada saya apa yang membuatmu gundah,”
desaknya kepada H. A. Shobih Ubaid, meski telah berkali-kali mengatakan
tidak ada apa-apa. Dan, akhirnya setelah dibimbing ke kamar di rumahnya,
Shobih dengan menangis menceritakan masalah keluarga yang selama ini
mengganjal di hatinya.



Di saat lain, orang lain terpaksa bercerita bahwa ia masih kekurangan uang
menghadapi perkawinan anaknya, setelah didesak oleh Kiai Hamid. Kiai Hamid
lalu memberinya uang Rp 200.000. Pemberian uang untuk maksud-maksud baik ini
memang sudah bukan rahasia lagi. Selain sering dihajikan orang lain, sudah
puluhan pula orang yang telah naik haji atas biayanya, baik penuh maupun
sebagiannya saja.



Lebih dari itu, tak kurang 300 masjid yang telah berdiri atau direnovasi
atas prakarsa serta topangan biayanya. Menurut H. Misykat, kegiatan seperti
ini kian menggebu menjelang ia wafat. Ia memprakarsai renovasi terhadap
beberapa mushalla di dekat rumahnya yang selama ini tak pernah terjamah
perbaikan. Untuk itu, di samping mengeluarkan uang dari kantongnya sendiri,
ia memberi wewenang kepada masing-masing panitia untuk mempergunakan namanya
dalam mencari sumbangan.



Kepeloporan, kebapakan dan sikap sosialnya yang dicirikan dengan komitmen
Idkhalus surur dan kepedulian sosial dalam bentuknva yang sederhana dengan
corak religius yang kuat merupakan watak kepemimpinannya. Tapi, lebih dari
itu, kepemimpinan yang tidak menonjolkan diri, dan dalam banyak hal, bahkan
berusaha menyembunyikan diri, ternyata cukup efektif dalam kasus Kiai Hamid.
Kiai Hamid yang suaranya begitu lirih itu tidak pernah berpidato di depan
umum: Tapi di situlah, khususnya untuk masyarakat Pasuruan dan sebagian
besar Jawa Timur yang sudah terlanjur mengaguminya itu, terletak kekuatan
Kiai Hamid.



Konon, kepemimpinan Kiai Hamid sudah mulai tampak selama menuntut ilmu di
Pesantren Termas. Ia sudah berganti nama sebanyak dua kali. Ia lahir dengan
nama Mu’thi, lalu berganti dengan nama Abdul Hamid setelah haji yang
pertama. Kemudian, tanpa sengaja, mertuanya, KH Ahmad Qusyairi, memanggilnya
dengan Hamid saja. “Nama saya memang Hamid saja, Bah (Ayah),” katanya,
seperti tidak ingin mengecewakan mertuanya itu. Diantara karyanya, antara
lain, Nadzam Sulam Taufiq, yaitu menyairkan kitab terkenal di pondok
pesantren, Sulam Taufiq. Sebuah kitab yang berisi akidah, syari’ah, akhlaq
dan tasawuf. Sedangkan Thariqah beliau adalah Syadziliyah. Menurut beberapa
sumber ada yang mengatakan mengambil thariqah dari KH. Mustaqiem Husein, ada
sumber lain menyebutkan dari Syeikh Abdurrazaq Termas.



*Orang Alim***



Biasanya orang yang terkenal dengan kewaliannya hanya dipandang dari
kenyentrikannya saja. Tapi tidak demikian dengan Kiai Hamid, beliau
dipandang orang bukan hanya dari kenylenehannya, tapi dari segi keilmuannya,
beliau juga sangat dikagumi banyak kiai. Karena, memang sejak dari pesantren
beliau sudah terkenal menguasai berbagai disiplin ilmu, mulai dari ilmu
kanoragan, ketabiban, fiqih, sampai ilmu Arudl beliau sangat menguasai.
Terbukti beliau juga menyusun syi’iran.



Karena kedalaman ilmunya itu, masyarakat meminta beliau menyediakan waktu
untuk mengaji. Akhirnya beliau menyediakan waktu Ahad pagi selepas subuh.
Adapun kitab yang dibaca kitab-kitab tasawwuf, mulai dari yang kecil seperti
kitab Bidayatul Hidayah, Salalimul Fudlala’ dan kemudian dilanjutkan kitab
Ihya’.



Didalam mendidik atau mengajar, Kiai Hamid mempunyai falsafah yang beranjak
dari keyakinan tentang sunnatullah, hukum alam. Ketika ada seorang guru
mengadu bahwa banyak murid-muridnya yang nilainya merah. Beliau lalu memberi
nasehat dengan falsafah pohon kelapa. “Bunga Kelapa (manggar) kalau jadi
kelapa semua yang tak kuat pohonnya atau buahnya jadi kecil-kecil” katanya
menasehati sang guru. “Sudah menjadi sunnatullah,” katanya, bahwa pohon
kelapa berbunga (manggar), kena angin rontok, tetapi tetap ada yang berbuah
jadi cengkir. Kemudian rontok lagi. Yang tidak rontok jadi degan. Kemudian
jadi kelapa. Kadang-kadang sudah jadi kelapa masih dimakan tupai.



*Ijazah-ijazah***



Seperti kebanyakan para kiai, Kiai Hamid banyak memberi ijazah (wirid)
kepada siapa saja. Biasanya ijazah diberikan secaara langsung tapi juga
pernah memberi ijazah melalui orang lain. Diantara ijazah beliau adalah:



1.     Membaca Surat Al-Fatihah 100 kali tiap hari. Menurutnya, orang yang
membaca ini bakal mendapatkan keajaiban-keajaiban yang terduga. Bacaan ini
bisa dicicil setelah sholat Shubuh 30 kali, selepas shalat Dhuhur 25 kali,
setelah Ashar 20 kali, setelah Maghrib 15 kali dan setelah Isya’ 10 kali.

2.     Membaca Hasbunallah wa ni’mal wakil sebanyak 450 kali sehari semalam.

3.     Membaca sholawat 1000 kali. Tetapi yang sering diamalkan Kiai Hamid
adalah shalawat Nariyah dan Munjiyat.

4.     Membaca kitab Dala’ilul Khairat. Kitab ini berisi kumpulan shalawat.



Dari berbagai sumber


-- 
"...menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama..."


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [email protected]
5. No-email/web only: [email protected]
6. kembali menerima email: [email protected]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke