http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=61255:suka-duka-nonton-sikulit-bundar&catid=78:umum&Itemid=131
Suka Duka Nonton Sikulit Bundar
Oleh : Naurat Silalahi
Mata pria, wanita, tua atau muda bahkan anak anak sekalipun jika gemar
nonton bola pastilah tertuju ke Afrika lewat tayangan tivi pada jam yang sudah
ditetapkan itu. Tanpa kecuali. Anda mau tahu reaksi mereka para penonton itu.
Jika tidak teriak-teriak, ngakak, tertawa puas,
memuji, mengatur dan menuduh pemain bodoh, serta tak jarang juga memaki.
Sampai di sini mungkin masih biasa tetapi Anda pernah dengar atau tidak,
saat bola terus digiring dan digiring dekat ke tiang gawang tetapi belum juga
ditendang ke gawang, seorang penonton tak sadar menendangkan kakinya kuat-kuat.
Tak tahunya di depannya duduk menonton mertuanya. Atau kalau tidak lihat
karikatur Kompas 25 Juni 2010 halaman 50. Dua nara sumber yang lagi
diwawancarai sebuah stasiun televisi saking fanatiknya terhadap tim yang
diunggulkannya tapi selalu didebat tidak becus bermain, akhirnya baku hantam
dan jotos-jotosan. Itu semua dampak bola, bola yang dimainkan, ditendang ke
sana dan kemari.
Belum lagi perilaku di tengah-tengah sebuah keluarga. Lihat Pak Tuntung
yang dimuat Harian Analisa, 25 Juni 2010 halaman 5. Sampai dinihari nonton
terus dengan temannya, saking lelahnya selesai menonton langsung tertidur pulas
di sofa tempat menonton itu juga. Tak tahunya sudah pukul 8.30 pagi tetapi
masih tertidur pulas, sementara waktu kerja sudah tiba. Akhirnya isteri yang
sudah muak setiap hari begitu marah marah dan membentak suami. Ada lagi yang
merana menjadi miskin bahkan melarat sehingga jadi pengemis karena
bertaru/judi. Sementara bandar yang tenang-tenang menjadi kaya raya. (Analisa,
24 Juni 2010 halaman 5)
Satu lagi paling unik, menarik dan geli pada karikatur Pak Tuntung, kalau
nonton bola ada waktu, tetapi kalau tidur bareng isteri tidak ada waktu, ha ha
ha. Isteri yang agresif dan cintanya yang sudah menggebu-gebu ini pun berontak
dan marah-marah. (Analisa, 14 Juni 2010 halaman 5). Ini memang terjadi sama Pak
Tuntung, tetapi penulis pun berpikir tidak tertutup kemungkinan hal demikian
terjadi pada penonton lainnya. Siapa? Harap mencari sendiri atau jawab sendiri
dalam hati.
Demikian juga akibat nonton bola pada dini hari itu masuk kantor
terlambat/sudah kesiangan. Begitu sampai di kantor bukannya kerja tetapi
tertidur pulas sementara komputer on line terus. Tak ayal kena "pentung" sama
bos untuk segera terbangun.
Dampaknya dalam pekerjaan itu, produksi menjadi menurun dan tidak
maksimal lagi. (Analisa, 23 Juni 2010). Itulah bola, dia menggelinding terus
tetapi dia tidak pernah perduli apakah penontonnya sudah terantuk ke dinding
atau tidak. Dia tidak perduli kalau pengagumnya saking kebanyakan nonton tak
tidur normal lagi menjadi pening! Yang pasti dia, si bola kini lagi booming!!
Di Tingkat Nasional dan Internasional, Bagaimana Pula?
Perbuatan tercela dan tidak menyenangkan sering terjadi akibat dan saking
fanatiknya terhadap bola. Ingat dan Anda pasti tahu apa yang dilakonkan anak
anak Surabaya jika pertandingan bola diadakan di Jakarta. Ya, mereka tidak
jarang membuat keributan, dalam perjalanan terutama kalau mereka naik kreta
api. Dan mereka pun mendapat julukan yang serem, yaitu bonek singkatan dari
bondo nekat, tepatnya anak anak nekat.
Kenapa dibilang nekat? Karena memang tanpa mengantongi sesen pun uang
berani berangkat ke Jakarta hanya dan untuk menonton pertandingan bola itu. Di
dalam perjalanan, kalau lapar ya makan apa yang ada dijual di kereta api itu.
Bayar? Darimana mau bayar sedangkan uang tidak ada.
Karcis naik kereta api? Tidak ada karena mereka memang bukan masuk ke
kelas tetapi naik ke gerbong dan di atas bak kereta api itu sendiri. Tiket
nonton? Apalagi, mereka datang dan minta masuk secara bergerombol atau kalau
bisa memanjat!
Sekarang lagi hangat-hangatnya bola? Betul betul surprise. Harian Analisa
sendiri memberi hadiah satu juta rupiah setiap hari kepada pembaca yang
berhasil menebak score pertandingan yang akan dilangsungkan petang atau
malamnya. Jika kena tanpa bersusah payah langsung dapat 200 ribu rupiah. Itu
hadiah harian. Hadiah penebak juara Piala Dunia, hmmm paling mantap lagi.
Banyak pembaca sudah lama mengidam-idamkan memiliki mobil Kijang Inova
tetapi belum juga bisa karena ketiadaan anggaran untuk membelinya saat ini.
Tetapi nanti pertengahan Juli, bakal ada penonton bola atau Piala Dunia yang
akan mendapat rejeki atau kaya mendadak hanya karena bola, yakni mendapatkan
sebuah mobil Kijang Innova tahun terakhir pula. Sukur sukur warnanya grey mica
kesayangan penulis pula.
Itu hadiah utama karena mampu menebak siapa juara Piala Dunia 2010. Yang
lain, mungkin tidak perlu diuraikan di sini. Boleh baca dan lihat sendiri.
Tetapi itulah hikmat atau dampak dari bola yang bulat menggelinding tak peduli
penontonnya resah, gembira, bahagia, kesenangan setengah mampus, kecewa sampai
lemas dan lain-lain. Kantong bokek karena terus duduk di cafe nonton bareng dan
lain-lain.
Seperti kata Ona Sutra yang membuat nama gadis yang dikaguminya dalam
syair lagunya itu bernama"... bola..." mengatakan... gayamu mempesona.. laksana
sang primadona.. Bola ...., kau tak luput dari kejaran.." Ya, kejaran banyak
pihak.
Lihatlah di kota Medan ini. Di mana mana, cafe, restoran,
perusahaan/kantor, perkumpulan mengadakan nonton bareng bola. Di rumah sendiri
tak usah cerita. Di sekolah, di kantor apalagi. Semua cerita bola. Pagi pagi
baru ketemu sudah mengulas bola. Ada yang puas, ada yang melampiaskan
kejengkelannya terhadap tim kesayangannya tetapi tampil tidak memuaskan. Ada
yang sangat puas karena tim kesayangannya berhasil membantai tim yang selama
ini dianggapnya sok jago dan sok hebat!
Di tanah air sendiri, tidak sedikit bahkan banyak kasus bola terjadi.
Mulai dari pemain (bertumbuk) sampai kepada keputusan wasit yang timpang,
berpihak, berat sebelah, tidak adil sampai kepada perjudian, taruhan!
Sepak bola tidak lagi menjadi sebuah olah raga yang menyenangkan dan
menjunjung tinggi sportifitas. Dampaknya tidak sedikit.
Masih segar dalam ingatan tragedi besar di stadion Heysell, Brussels,
Belgia saat pertandingan final Piala Eropa antara Liverpool dan Juventus, 29
Mei 1985. Tak kurang dari 39 orang harus kehilangan nyawa, dan ratusan orang
lainnya terluka karena prilaku para hooligans Liverpool, yang membalas serangan
publik Italia pada final di tahun sebelumnya (Kompas, 22 Juni 2010 halaman 6).
Itulah dia. Bola. Bola yang membikin banyak "masalah", tetapi juga bola
yang membuat banyak orang "terpesona", terhadap kejituan para pemain, demikian
juga terhadap ketangguhan sebuah tim. Dia akan bergelinding terus, tak peduli
orang menjadi kurus, karena tidur tak terurus, sebab menonton semalaman terus
menerus.
Mari nikmati bola sesuai kebutuhan dan jangan mau menjadi turut dalam
masalah. Selamat menonton Piala Dunia dan jagoan yang diunggulkan keluar
sebagai juara!***
Penulis adalah pemerhati sosial kemasyarakatan berdomisili di Sunggal.
[Non-text portions of this message have been removed]