http://www.cenderawasihpos.com/detail.php?ses=&id=1003

  
09 Juli 2010 10:04:32



Tuntut Referendum, Ribuan Massa Nginap di DPRP


--------------------------------------------------------------------------------




JAYAPURA-Sesuai rencana sebelumnya, ribuan massa dari berbagai elemen 
masyarakat sipil Papua Kamis (8/7) kemarin melakukan aksi demonstrasi ke Kantor 
Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP).
Mereka kembali melakukan demonstrasi untuk menagih janji DPRP atas tuntutan 
mereka saat melakukan aksi penolakan Otsus dan tuntutan referendum pada 18 Juni 
lalu.


Ribuan massa ini awalnya berkumpul di Waena dan Abepura. Massa dari Waena long 
march ke arah Abepura, bergabung dengan massa yang sudah lebih dulu berkumpul 
disana. Setelah bergabung seluruh massa pendemo yang datang dari berbagai 
elemen masyarakat, massa dengan pengawalan aparat kepolisial, sekitar pukul 
11.00 WIT mulai melakukan long march kearah Kota Jayapura.


Dalam aksinya, massa pendemo beberapa bendera, diantaranya bendera PBB, 
beberapa spanduk dan sejumlah pamflet. Diantar sejumlah spanduk, ada sebuah 
spanduk besar yang bercorak bendera bntang kejora. Setelah menempuh jalan kaki 
sejauh 15 km, sekitar pukul 14.00 WIT, ribuan massa tersebut tiba di kantor 
DPRP di Pusat Kota Jayapura.


Di Jayapura kota sediri, terutama di emperan toko sepanjang Jalan Irian, sejak 
pukul 09.00 sWIT sudah ada konsentrasi massa. Kurang lebih 300 an orang sudah 
menunggu para pendemo yang datang dari Abepura.  Akibat aksi tersebut, arus 
lalulintas mengalami kemacetan, bahkan pertokoan di sepanjang jalan juga 
memilih tutup. Sebab dalam aksi long march ini, massa tidak memberikan 
kesempatan kepada pengguna jalan lainnya, sehingga para pengguna jalan lain 
memilih berhenti, bahkan menghindar ke pinggir jalan.


Situasi Kota Jayapura siang kemarin, cukup lenggang. Banyak kendaraan dan 
angkutan kota memilih memarkir kendaraanya karena takut.
Para Pegawai negeri dan swasta banyak juga yang memilih tidak kantor atau 
bahkan pulang lebih awal karena khawatir terjadi keributan akibat demo 
besar-besaran tersebut.Setelah tiba di halaman kantor DPRP, massa yang 
berjumlah sekitar 3 ribu hingga 5 ribu orang itu langsung berlari-lari 
mengelilingi halaman DPRP sambil meneriakkan kata-kata merdeka.


Koordinator Forum Demokrasi Papua Bersatu (FDPB) Salmon Yumame mengatakan, 
Papua harus bersatu, karena dengan bersatu aspirasi dapat didengar, dan 
penyaluran aspirasi tanpa melakukan kekerasan. " Kami datang karena janji 
DPRP," teriaknya.


Dikatakan, jika tidak ada kata sepakat untuk digelar rapat paripurna oleh DPRP, 
maka massa akan menginap hingga ada hasil yang akan disampaikan oleh DPRP. 
"Kita akan tidur di sini (kantor DPRP, red) hingga ada jawaban yang akan kami 
dengar," ujarnya. Massa meminta agar DPRP harus melakukan kerjasama dengan 
internasional untuk berbicara langsung dengan Presiden Amerika Barak Obama agar 
menegakkan keadilan dan berbicara soal referendum Papua Barat .


Sedangkan salah seorang pentolan pendemo, Mako Tabuni, dalam orasinya 
mengatakan, referendum bukan tujuan, penindasan, Otsus gagal, dikriminasi 
semunya bukan tujuan dari demo ini, namun tujuan ini adalah harga diri. "Ini 
adalah harga diri kami, sehingga harus diselesaikan dengan melibatkan 
internasional," ungkapnya. Orasi-orasi tersebut berlangsung sekitar 5 jam dan 
massa akhirnya ditemui oleh anggota dewan dari berbagai komisi yang ada, sebab 
Ketua DPRP dan Wakil I DPRP, juga Ketua Komisi A tidak ada di tempat .


Massa sempat mengamuk karena kekecewaan mereka atas tidak adanya Ketua DPRP 
Drs.Jhon Ibo,MM sehingga sempat terjadi adu mulut antara massa dengan 
perwakilan anggota dewan yang hadir saat itu.


Wakil Ketua Komisi A Weynand Watori mengatakan, DPRP dipilih oleh rakyat, namun 
DPRP juga memiliki partai politik, sehinga dalam menindak lanjuti aspirasi, 
harus dibicarakan dulu ke pimpinan partai-partai politik. Ha itu baru akan 
berlangsung pada tanggal 30 Juli nanti. Setelah itu, aspirasi yang disampikan 
akan dibawa ke pemerintah pusat. "Ada mekanisme tertentu yang harus dilalui," 
katanya.


Hal ini membuat massa semakin marah dan meneriaki para wakil rakyat itu, bahkan 
massa hendak melakukan kekerasan, namun dihalangi dan didinginkan oleh massa 
lainnya, sehingga para anggota dewan kembali masuk ke Ruangan Badan Anggaran 
(Banggar) untuk mencari solusi. Sebagian pendemo sempat tidak menerima dan ada 
yang hendak ikut masuk, namun dihadang oleh massa pendemo yang lain.
Hingga pukul 18.00 WIT, massa tidak mendapat hasil kesepakatan dari para wakil 
rakyat itu dan akhirnya massa memilih tidur di halaman kantor DPRP.


Koordinator demo Salmon Yumame mengatakan, massa akan tidur di kantor DPRP ini 
hingga ada hasil. "Kita tunggu saja besok (hari ini,red), apa yang akan 
disampaikan anggota dewan yang terhormat itu," ungkapnya.
Dari pantauaan Cenderawasih Pos hingga pukul 20.00 WIT tadi malam massa masih 
tetap bertahan di DPRP.
Demo pengembalian Otsus dan menuntut referendum yang diisukan akan berlangsung 
anarkis, membuat pertokoan di wilayah Waena-Abepura yang biasa dilalui massa 
tersebut memilih untuk menutup tempat usahanya masing-masing. 


Dari pantauan Cenderawasih Pos kemarin pagi di wilayah Abepura, massa dari Expo 
Waena dan Perumnas III Waena mulai melakukan long march menuju ke Abepura 
menyebabkan sebagian para pemilik toko, supermarket dan tempat usaha lainnya 
memilih untuk menutup usaha mereka. 


Meski demikian, ada beberapa pertokoan yang ada di sepanjang jalan 
Waena-Abepura-Kotaraja yang masih tetap buka. Hanya saja, tidak membuka penuh 
pintu toko mereka. " Ya, isunya ada demo besar-besaran. Makanya kami memilih 
tutup saja," kata salah seorang pemilik ruko di Abepura yang enggan disebutkan 
namanya kepada Cenderawasih Pos. 


Ia mengakui ada kekhawatiran tersendiri saat massa yang melakukan aksi unjuk 
rasa tersebut, melakukan perbuatan anarkis, sehingga ia memilih tidak mengambil 
resiko dengan tetap membuka usahanya tersebut. 


Sejumlah pertokoan di depan Kantor Pos Abepura juga banyak yang tutup setelah 
massa mulai berkumpul di depan pertokoan tersebut. Apalagi, saat massa dari 
Expo Waena lewat ke Abepura. 
SAGA Mall Abepura juga menutup pintu masuk ke mall tersebut, begitu juga Mega 
Abepura, Regina bahkan hingga Abepura Mall memilih untuk menutup pagar mereka 
sebagai antisipasi hal-hal yang tidak diinginkan dalam demo menuntut 
pengembalian Otsus dan referendum tersebut. 
Hanya saja, dari pantauan Cenderawasih Pos, setelah massa yang melakukan long 
march tersebut lewat ke arah skyland, sebagian besar pertokoan dan mall 
tersebut kembali beroperasi seperti biasa. "Hanya kami khawatir saja, jika 
terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, apalagi isunya begitu," ujar salah 
seorang pemilik ruko di Abepura yang juga enggan disebutkan namanya.
Sebaliknya, ketika ribuan massa tiba di Entrop dan longmarch kearah jantung 
kota Jayapura, toko-toko di sekitat Entrop dan Jayapura yang memilih tutup.
(ado/bat)

503 Aparat Kepolisian Kawal Aksi Demo
JAYAPURA - Sebanyak 503 personel aparat kepolisian dari Polresta Jayapura yang 
di back up anggota dari satuan Brimob Kotaraja kemudian Samapta Polda Papua 
terpaksa diturunkan untuk mengamankan jalannya aksi demo damai besar-besaran 
yang dilakukan masyarakat Papua dari berbagai elemen perjuangan sipil di Papua 
baik dari dewan adat, presidium dewan Papua, Dewan adat Papua dan organisasi 
sipil lainnya di DPRP, Kamis (8/7) kemarin. 



Ketika dikonfirmasi wartawan, Kapolresta Jayapura, AKBP. H. Imam Setiawan, SIK 
menegaskan, dalam aksi demo damai yang dilakukan ribuan masyarakat Papua itu, 
pihaknya telah mengerahkan sekitar 350 anggota dari Polresta Jayapura, kemudian 
juga diback up 103 anggota Samapta Polda Papua dan 50 anggota Brimob Polda 
Papua ditambah beberapa unit mobil water canon. 


"Kita sifatnya hanya mengawal proses aksi demo damai yang dilakukan masyarakat 
Papua dengan mengerahkan 503 anggota polisi,"tukasnya.


Ditegaskannya, pihaknya tetap konsisten terhadap siapa saja dari pendemo yang 
melakukan aksi anarkis, merusak fasilitas umum atau lainnya dengan menindak 
tegas tanpa pandang bulu. "Meskipun sudah ada izin tapi tetap kita tindak tegas 
apabila bertindak anarkis,"tandasnya.
Sementara itu, dilaporkan disaat aksi demo damai berlangsung di Jalan Percetaan 
Jayapura, seorang warga negara asing (WNA) yang diketahui berkewarganegaraan 
Perancis bernama Eduardo (34) terpaksa diamankan oleh aparat keamanan karena 
diduga telah menyalahi aturan dan mengganggung jalannya aksi demo. Kapolresta 
Jayapura, AKBP. H. Imam Setiawan, SIK ketika dikonfirmasi Cenderawasih Pos 
terkiat penangkapan 1 orang WNA asal Perancis diamankan. 


Diakuinya, pihaknya mencurigai seorang WNA asal negara Perancis yang saat demo 
berlangsung sedang mengambil foto-foto kemudian langsung diamankan oleh aparat 
keamanan untuk dimintai keterangan.  WNA itu, lanjut Kapolresta, setelah 
menjalani pemeriksaan di Polresta Jayapura ternyata memiliki visa wisata 
kemudian yang bersangkutan kebetulan baru tiba di Jayapura dengan tujuan 
berwisata. "Sebenarnya tidak ada masalah dan WNA itu lengkap dengan visanya 
namun memang harus dimintai keterangan kemudian kami telah menyerahkan kepada 
pihak keimigrasian untuk proses selanjutnya,"ungkapnya. (nal) (scorpions)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke