http://www.antaranews.com/berita/1278849354/berapa-tersisa-harimau-di-dunia

Berapa Tersisa Harimau di Dunia?
Minggu, 11 Juli 2010 18:55 WIB | Warta Bumi | Konservasi/Pelestarian | 

(ANTARA/Yudhi Mahatma)

Denpasar (ANTARA News) - Keberadaan satwa harimau kini kritis, yakni di seluruh 
dunia hanya tersisa sekitar 3.200 ekor meliputi enam sub-spesies, yaitu Harimau 
Sumatera, Bengal, Amur, Indochina, China Selatan, dan Malaya.

Ancaman utama kepunahannya mencakup hilang dan terfragmentasinya habitat yang 
tidak terkendali, berkurangnya jumlah mangsa alami, perburuan dan perdagangan 
ilegal, serta konflik dengan masyarakat yang tinggal di sekitar habitat 
harimau, demikian laporan yang diterima ANTARA di Denpasar, Minggu.

Laporan itu disampaikan Kementerian Kehutanan RI menyambut penyelenggaraan 
pertemuan delegasi 13 negara yang memiliki harimau alam bertajuk "Pre Tiger 
Summit Partners Dialogue Meeting" di Ayodya Resort Bali, Nusa Dua, Senin (12/7).

Kegiatan yang dijadwalkan dibuka Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan tersebut, 
sebagai persiapan sebelum digelar konferensi internasional konservasi harimau 
tingkat kepala negara "World Tiger Summit" direncanakan dilaksanakan di 
Saint-Peterburg, Rusia pada 15 - 18 September 2010.

Menurut Ketua Forum HarimauKita Hariyo T Wibisono, dalam penjelasan bersama 
Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Dr Ir Harry Santoso, sub-spesies yang 
ada di Indonesia, Harimau Sumatera, kini populasinya sekitar 400 individu.

Populasi sebanyak itu, mewakili 12 persen dari total satwa langka itu di dunia. 
Hal tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara kunci dalam pelestarian 
harimau di dunia.

"Ironisnya, habitat Harimau Sumatera telah menyusut hampir 50 persen dalam 
kurun waktu 25 tahun terakhir. Sekitar 70 persen dari habitat tersisa tersebut 
berada di luar kawasan konservasi yang tersebar pada setidaknya 20 petak hutan 
yang terisolasi satu dengan lainnya," papar Hariyo.

Hal tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa sebagian besar populasi Harimau 
Sumatera yang tersisa tidak dalam perlindungan yang memadai.

"Oleh karena itu, menjadi penting bagi warga negara Indonesia untuk segera 
merapatkan barisan dan mengambil langkah konservasi yang konkret dan tepat, 
agar Harimau Sumatera tidak bernasib sama dengan kedua saudaranya yang lebih 
dahulu punah, yaitu Harimau Jawa dan Bali," ujarnya.

Direktur Eksekutif WWF-Indonesia Dr Efransjah menilai pentingnya langkah 
penyelamatan habitat yang tersisa, restorasi kawasan kritis, serta 
mengimplementasikan tata ruang yang mendukung pembangunan secara lestari, guna 
memberikan wilayah jelajah yang cukup bagi Harimau Sumatera.

"Masalah pentimgnya meminimalisir kemungkinan konflik dengan manusia, perlu 
menjadi agenda bersama dalam penyelamatan satwa dilindungi tersebut," katanya 
menegaskan.

Ia menambahkan bahwa penyelamatan hutan, penataan ruang secara lestari dan 
restorasi kawasan kritis habitat Harimau Sumatera juga sangat sejalan dengan 
komitmen pemerintah Indonesia kepada dunia dalam upaya mengurangi emisi karbon 
dari deforestasi dan degradasi hutan.(T007/C004

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke