http://www.equator-news.com/index.php?mib=berita.detail&id=21201
Selasa, 29 Juni 2010 , 07:11:00
Tangkal Isu SARA, Polres Ketapang Gelar Pertemuan
Pasukan Anti Huru Hara (PHH) latihan membentuk formasi kura-kura
bersenjata menghadapi kerusahan massa. (Repro)
KETAPANG. Selebaran berbau suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) yang
ditemukan di Ketapang menjelang Pemilukada putaran kedua, 5 Juli mendatang
ditanggapi jajaran kepolisian. Korps bhayangkara itu memfasilitasi pertemuan
berbagai elemen, hari ini, Selasa (29/6).
"Besok (hari ini, Red) pukul 09.00 WIB kita mengundang tokoh agama, tokoh
masyarakat dan berbagai kalangan lainnya untuk bertemua. Tujuannya
silaturrahim, sekaligus mengajak agar mereka dapat mengingatkan umat dan
warganya masing-masing agar menghindari isu SARA menjelang Pemilukada yang
tidak lama lagi," kata Kapolres Ketapang, AKBP Badya Wijaya SH, kemarin.
Mantan Kapolres Sambas ini menambahkan, jelang Pemilukada masyarakat
jangan dibuat cemas. Terlebih, membuat situasi yang kondusif saat ini menjadi
terganggu. Oleh karenanya, seluruh elemen masyarakat diserukannya untuk
bersama-sama menjaga agar keamanan dan ketertiban selalu terpelihara. "Saya
juga menyarankan agar kita semua bersama-sama mensukseskan jalannya Pemilukada
dengan panuh rasa damai. Hindari hal-hal yang dapat menimbulkan situasi
keamanan dan ketertiban terganggu," pintanya.
Terpisah, Ketua Pelaksana Harian Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten
Ketapang, Darius Ivo Elmoswat SH mengakui, isu SARA memang marak di wilayah
pedalaman Ketapang. Bahkan, ini sudah marak terjadi sejak menghadapi Pemilukada
putaran pertama pada 19 Mei lalu.
"Di pedalaman memang marak isu SARA, seperti menyebarkan selebaran yang
isunya mengarah pada SARA. Dan ini bukan baru ini karena menghadapi Pemilukada
5 Juli nanti, namun telah terjadi sejak menjelang Pemilukada 19 Mei lalu,"
jelas Ivo.
Mantan anggota DPRD Ketapang dari PDIP ini tak sungkan menyebut ada salah
satu pemuka agama yang bicara di atas mimbar menyerukan kepada umat untuk
memilih salah satu pemimpin. Hal ini, dikatakannya, pernah terjadi di wilayah
pedalaman jelang Pemilukada 19 Mei lalu.
"Hal ini sangat kita sesalkan, apalagi umat menjadi marah akibat
ucapannya kala itu. Mestinya, sebagai pemuka agama tidak terjun di politik
praktis dan harus mengajak umat lebih mendalami dan menghayati apa yang
terkandung dalam ajaran kitab suci. Pemuka agama harus membuat suasana hati
umatnya dingin bukan sebaliknya," terang Ivo lagi.
Bahkan, dikatakan Ivo, isu ini sengaja dikembangkan oleh orang yang latar
pendidikannya tidak rendah. "Isu seperti selebaran SARA ini bagi kalangan
masyarakat awam kurang paham, ini sengaja dihembuskan dari kalangan orang-orang
terdidik," tandasnya.
Menyikapi hal ini, Ivo mengajak kepada seluruh masyarakat terutama di
pedalaman tidak terpengaruh oleh selebaran yang berisi menjelek-jelekkan suku
dan agama tertentu. "Kita jangan terpancing dan terpengaruh dengan isi
selebaran yang tidak dapat dipertanggungjawabkan tersebut. Menjelekkan suku dan
agama tertentu adalah cara yang tidak baik, dan kita jangan mau memilih calon
pemimpin yang menjelekkan suku dan agama orang lain," serunya.
Selebaran berbau SARA juga ditanggapi Sekretaris Rumpun Masyarakat Arus
Bawah (RMAB) Kabupaten Ketapang, Eko Sumarno. Dia berharap, tidak mudah
terprovokasi oleh selebaran yang tidak bertanggung jawab. "Masyarakat sekarang
sudah cerdas, dan mungkin debat kandidat lebih realistis untuk mencari simpati
ketimbang dengan cara menghembuskan selebaran yang tidak bertanggungjawab,"
ucapnya.
Pemuka masyarakat Ketapang, Abu Samah juga menyesalkan sikap calon
pemimpin yang tampil menjual isu SARA guna mencari dukungan masyarakat. Dia
meminta masyarakat tetap tenang dan jangan terpancing dengan hal tersebut.
Diketahui, isu pedalaman dan pesisir kerap kali diangkat untuk
mendapatkan dukungan di daerah ini. Isu ini menurut sebagian kalangan cukup
beralasan, karena pedalaman diidentikan dengan simbol mayoritas etnis tertentu.
Begitu pula wilayah pesisir yang diidentikkan sebagai simbol mayoritas dari
etnis tertentu.
Jelang Pemilukada Ketapang putaran kedua pada 5 Juli mendatang, selebaran
berbau SARA mulai beredar. Belum diketahui siapa aktor di balik beredarnya
selebaran yang bisa menuai protes berbagai kalangan itu. Aparat diminta untuk
tetap mengusut pelaku dibalik beredarnya selebaran tersebut. (lud)
EKO Rabu, 30 Juni 2010 , 07:12:54
DAYAK MEMANG TERJAJAH MAKANYA MEREKA BEGITU BAGUS MEMANG KALAU KALIAN SADAR
DAERAH KALIAN DI JAJAH SUPAYA BANGKIT MELAWAN......
Putra Kalbar Rabu, 30 Juni 2010 , 07:12:54
selebaran SARA ada karena ulah FPI di Singkawang yang selalu memaksakan
keinginannya
keharmonisan semua suku di Kalbar sejak Dahulu kala terutama Dayak,Tionghoa dan
Melayu di Usik sama FPI,
semakin FPI Belagu semakin banyak dampak yang di timbulkan,
Putra Ketapang Rabu, 30 Juni 2010 , 07:12:54
menurut pandangan saya sebagai orang KTP tidak ada suatu diskriminatif antar
suku maupun agama apalagi merasa dijajah.....
masalah ini terjadi hanya bagian kecil orang yang ingin mencari permasalahan
dan kerusuhan.
harapan saya agas ditindak tegas siapa dalang dibalik semua ini.
trima kasih..........
[Non-text portions of this message have been removed]