Politik
var share_show =
['twitter', 'google', 'facebook'];
var share_icon_path =
'/images/icons/';
20/07/2010 - 07:29
Protes Hendra Coreng Wibawa Istana
Pak Presiden, Kesabaran Ada
Batasnya
MA Hailuki
(IST)
INILAH.COM, Jakarta -
Keberanian Hendra NS, warga Cibubur, penulis surat pembaca di harian Kompas
soal konvoi kendaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang
menyusahkan pengguna jalan di sekitar Cikeas dan Cibubur, Jakarta
Timur, patut diacungi jempol.
"Pak SBY yang kami hormati, mohon pindah ke Istana Negara sebagai
tempat kediaman resmi presiden. Betapa kami saban hari sengsara setiap
Anda dan keluarga keluar dari rumah di Cikeas. Cibubur hanya lancar
buat Presiden dan keluarga, tidak untuk kebanyakan warga."
Itulah bunyi alinea terakhir dari isi surat pembaca yang ditulis
oleh Hendra NS tak lama setelah dirinya menjadi 'korban' iring-iringan
kendaraan pengamanan RI-1.
Mengapa patut diacungi jempol? Karena selama ini tidak ada yang
berani mempersoalkan iring-iringan kendaraan dinas pejabat negara.
Jangankan RI-1, konvoi kendaraan dinas pejabat daerah sekelas wali kota
saja tidak ada yang berani mempermasalahkannya, apalagi sekelas
gubernur, menteri, RI-2 bahkan hingga RI-1.
Jangan-jangan, selama ini rakyat punya pengalaman dan perasaan yang
sama dengan Hendra, namun perasaan itu dipendam dalam hati saja atau
disuarakan hanya kepada orang dekat.
Memang, setiap orang punya cara pandang masih-masing dalam melihat
persoalan, barangkali di mata Hendra persoalan konvoi kendaraan
pengawal RI-1 sudah membuat rasa kesalnya naik ke ubun-ubun. Sebab
Hendra bukan sekali merasakan antrean macet di kawasan Cibubur-Cikeas
akibat iring-iringan kendaraan Presiden.
Tapi jika mau dikaji secara kritis sebenarnya dalam persoalan ini
yang salah itu siapa? Apakah salah SBY memilih tempat tinggal di Cikeas
yang kebetulan lintasan jalannya melalui Cibubur yang dikenal padat?
Apakah salah SBY yang kerap bolak-balik Istana-Cikeas?
Mungkin saat memutuskan memilih tempat tinggal di Cikeas, SBY tidak
menyangka saat ini akan mendapati kemacetan teramat dahsyat untuk
menuju rumahnya. Sebelum menjadi Presiden, saat masih menjadi petinggi
TNI dan Menteri di kabinet, SBY telah mendapatkan pelayanan pengawalan.
Selama itu pula tidak ada persoalan menyangkut pengawalan terhadap
dirinya.
Lalu mengapa ketika SBY telah menjadi orang nomor satu di Republik
ini, barulah persoalan ini muncul. Padahal pengawalan ketat,
perlindungan ekstra prima pelayanan kelas satu dari negara adalah
konsekuensi yang didapat seorang RI-1.
Sesungguhnya, bukan hanya persoalan kemacetan saja yang menyebabkan
Hendra berani bersuara lantang. Rakyat, selama ini telah mengalami
berbagai kesulitan dan himpitan hidup. Dari mulai kenaikan harga BBM,
tarif dasar listrik (TDL), harga sembako dan kenaikan biaya hidup
lainnya.
Tatkala berbagai beban hidup rakyat itu makin membumbung maka sumbu
emosi rakyat pun semakin pendek. Persoalan-persoalan yang sebelumnya
dianggap hal wajar bisa menjadi masalah. Contohnya ya pengawalan RI-1
tadi.
Selama ini rakyat memaklumi kalau pejabat negara mendapatkan
pengawalan ketat termasuk konvoi kendaraan pengamanan. Namun ketika
beban hidup makin berat, pemakluman rakyat itu pun menjadi hilang.
Rakyat membutuhkan pelampiasan atas kekesalan selama ini.
Nah, yang menjadi pelampiasan kekesalan rakyat dalam hal ini Hendra
adalah Presiden SBY. Sungguh sebenarnya ini adalah tamparan yang
memalukan. Kalau saja peristiwa ini terjadi di masa Orde Baru, sudah
pasti Hendra akan dikenakan pasal subversif dengan tuduhan menghina
kepala negara.
Tapi kondisinya sekarang sudah berbeda. SBY adalah presiden yang
dipilih langsung oleh 60 persen rakyat pemilih. Karena itu pula,
Presiden bisa ''dijewer'' oleh seorang rakyat pemilih seperti Hendra.
Apa yang dilakukan Hendra bukanlah semata-mata dikarenakan konvoi
kendaraan pengamanan RI-1 yang membuat macet lalu lintas, tapi
dikarenakan pemerintah tidak bisa memberikan kehidupan yang lebih baik
kepada rakyatnya.
Apabila rezim SBY bisa memberikan kesejahteraan kepada rakyat, pasti
rakyat tidak akan memprotes konvoi kendaraan Presiden yang membuat
macet jalan. Justru rakyat akan dengan senang hati melambai-lambaikan
tangan kepada seorang sang pemimpin yang melintas di hadapan mereka.
Jadi, yang harus diinstropeksi oleh SBY saat ini bukanlah persoalan
teknis seputar pengurangan kendaraan pengamanan atau mempercepat
keberangkatan dan kepulangan ke Cikeas. Yang harus diinstropeksi
adalah, sudahkah SBY memberikan kehidupan yang lebih baik kepada
rakyat?
Kalau SBY belum bisa memberikan kehidupan yang lebih baik kepada
rakyat, apapun yang dilakukannya selalu akan menjadi dijadikan
persoalan.
Sekarang SBY berencana menggunakan helikopter untuk bolak-balik
Cikeas-Istana untuk menjawab kritikan Hendra. Sekilas persoalan
kemacetan akan terselesaikan dan tidak akan ada rakyat yang dirugikan.
Nanti dulu Bung, bukankah suara helikopter sangat bising menggangu
ketentraman. Bisa jadi, nanti warga Cikeas akan ada yang mengirim surat
pembaca soal gangguan polusi suara akibat helikopter yang ditumpangi
SBY.
Ingat Pak Presiden, kesabaran rakyat ada batasnya. [mah]
[Non-text portions of this message have been removed]