Tulisan ini juga disajikan dalam website http://umarsaid.free.fr
yang sampai sekarang sudah dikunjungi  lebih dari  626 600   kali



 = = = =   = = =   = = =







Bangsa Indonesia  perlu
meneruskan revolusi !!!





Barangkali,  ada orang-orang yang terperanjat ketika membaca judul tulisan
kali ini, dan mungkin ada pula yang menganggapnya sembarangan saja. Kalau
ada pembaca yang bersikap demikian, maka itu adalah wajar-wajar saja, dan
bisalah dimengerti. Sebab, sepintas lalu judul di atas itu memang bisa
menimbulkan kesan atau pengertian yang bermacam-macam. Termasuk yang serba
menyeramkan dan  mengerikan  atau menakutkan, dan juga yang bukan-bukan..



Padahal, kata-kata revolusi ini sebenarnya mencakup pengertian yang amat
luas sekali, seperti yang sudah dikemukakan dalam literatur dunia, yang
berkaitan dengan sejarah di bidang politik, ekonomi, sosial, baik di
abad-abad yang lalu, maupun abad sekarang.ini. Sejarah dunia menunjukkan
dengan jelas bahwa kemajuan ummat manusia telah dicapai berkat adanya
berbagai macam revolusi di banyak bidang. Revolusi merupakan faktor
perubahan dan kemajuan rakyat di berbagai negeri di dunia.



(Sekadar sebagai bahan pertimbangan atau tambahan bacaan :  kalau dibuka
Google di Internet dan diketik kata Revolusi (dalam bahasa Indonesia) ada
tersedia macam-macam bahan  campur-aduk sebanyak lebih dari 71 juta,
sedangkan kalau dalam bahasa Inggris  (Revolution) sebanyak lebih dari 118
juta. Kalau diketik Bung Karno-revolusi (bahasa Indonesia) maka akan
tersedia  580 000 bahan)



Di Indonesia pun, kata-kata revolusi pernah menjadi sesuatu yang dibanggakan
dan dijunjung tinggi-tinggi oleh rakyat Indonesia. Revolusi yang dilancarkan
oleh rakyat antara tahun 1945 sampai 1949 dalam rangka perjuangan untuk
kemerdekaan , dan kemudian diteruskan di bawah pimpinan Bung Karno, sampai
ia digulingkan secara khianat oleh Suharto bersama jenderal-jenderalnya.
Kita semua tahu bahwa Bung Karno-lah merupakan satu-satunya pemimpin
Indonesia yang paling banyak,  paling sering,  paling gigih, dan paling
konsekwen  menganjurkan rakyat Indonesia menjalankan revolusi terus-menerus



Revolusi untuk nation and character building dan persatuan bangsa


Dalam sejarah bangsa kita sudah terbukti bahwa kata-kata revolusi yang
sering sekali dilontarkan oleh Bung Karno telah menjadi penggerak mobilisasi
rakyat dalam pemupukan persatuan bangsa. Idee atau jiwa yang terkandung
dalam kata-kata revolusi oleh Bung Karno  merupakan  unsur penting dalam
nation and character building. Revolusi yang dianjurkan Bung Karno menjadi
penggugah kesedaran politik yang amat besar bagi bangsa Indonesia.  Revolusi
yang dipimpin oleh Bung Karno telah mengangkat derajat rakyat Indonesia di
mata rakyat-rakyat Asia-Afrika dan dunia



Kalau kita teliti isi karya-karya Bung Karno, maka kelihatanlah bahwa inti
atau sari pati arti “Revolusi” menurutnya  adalah perjuangan untuk
mengadakan perubahan yang terus-menerus, perjuangan untuk menjebol segala
yang lama dan tidak menguntungkan rakyat dan menggantikannya  dengan yang
baru, perjuangan melawan ketidakadilan dan segala macam penghisapan dan
penindasan, baik yang dilakukan oleh bangsa sendiri maupun bangsa asing,
perjuangan untuk kepentingan rakyat (terutama rakyat miskin, “wong cilik”,
kaum marhaen dan proletar).



Seperti kita ketahui bersama, sejak pengkhianatan besar-besaran oleh
pimpinan Angkatan Darat  (waktu itu) yang terjadi akhir 1965, maka negara
dikuasai oleh golongan militer beserta sekutu-sekutunya yang terdiri dari
berbagai golongan reaksioner, yang pada umumnya anti Bung Karno dan
anti-kiri (terutama PKI). Sejak itulah, maka kata-kata revolusi menjadi
taboo  dan dilarang untuk dipakai dalam masyarakat, dan dibikin sebagai
“momok” oleh rejim militer untuk melakukan terror . Itulah sebabnya,
sekarang ini terdapat banyak orang dari berbagai kalangan yang takut, benci,
tidak menyukai, (atau tidak mengerti bahkan salah mengerti !!!)  kata-kata
revolusi.



Revolusi untuk menciptakan masyarakat adil dan makmur



Padahal, revolusi yang dianjurkan atau dipelopori oleh Bung Karno adalah
gagasan besar atau ajaran-ajaran luhur bagi rakyat Indonesia dalam
perjuangannya untuk menciptakan masyarakat adil dan makmur, dengan melawan
habis-habisan segala yang meyengsarakan rakyat banyak. Memang, bagi golongan
reaksioner dalam negeri dan luar negeri, revolusi menurut ajaran-ajaran Bung
Karno tidaklah menguntungkan mereka sama sekali. Sebab, justru mereka-mereka
itulah yang menjadi sasaran revolusi.



Mengingat situasi di negara kita dewasa ini, yang terbukti sehari-hari
dengan jelas makin rusak atau makin busuk atau brengsek di hampir seluruh
bidang, maka perlulah kiranya diangkat kembali setinggi-tingginya segala
ajaran revolusioner Bung Karno. Revolusi yang pernah  menjadi pedoman moral
yang besar bagi bangsa dan juga menjadi ciri rakyat yang bisa dibanggakan ,
serta  menjadi faktor pemersatu,  perlu dikobarkan lagi bersama-sama untuk
diteruskan, dalam menghadapi kemerosotan atau dekadensi besar-besaran yang
merajalela dewasa ini.



Revolusi yang telah dikhianati, disekaratkan, dicekek, atau dibungkam oleh
pimpinan Angkatan Darat (waktu itu) perlu digerakkan dan dikobarkan kembali
bersama-sama secara besar-besaran oleh semua kalangan dan golongan yang
menginginkan adanya perubahan-perubahan fundamental demi kepentingan rakyat
banyak



Menarik pelajaran dari pengalaman negatif selama 40 tahun.



Sebab, dengan menarik pelajaran dari pengalaman selama lebih dari 40 tahun,
sejak rejim militer Orde Baru sampai pemerintahan yang sekarang,  terbukti
bahwa segala macam politik atau sistem pemerintahan yang sudah digunakan
berganti-ganti, nyatanya  tidak dapat memecahkan berbagai persoalan besar
dan parah yang dihadapi rakyat.



Di bidang politik, ekonomi dan sosial, bermacam-macam  kesalahan atau
kejahatan yang banyak dilakukan  (seringkali dengan cara-cara yang haram dan
tidak beradab ) oleh rejim militer Suharto selama 32 tahun masih banyak yang
diteruskan oleh berbagai pemerintahan yang menggantikannya, sampai sekarang.



Kerusakan moral, lunturnya patriotisme, melemahnya nasionalisme,
merajalelanya penyalahgunaan kekuasaan, mengganasnya korupsi secara luas dan
besar-besaran,  yang tiap hari kita saksikan bersama dewasa ini adalah
sebagian dari akibat pengkhianatan terhadap revolusi, yang dimanifestasikan
dengan penggulingan kekuasaan Bung Karno dan penghancuran kekuatan kiri yang
mendukungnya, oleh Suharto beserta berbagai kekuatan reaksioner  dalam
negeri dan luar negeri.



Rakyat Indonesia sejak lama sudah dan sekarang sedang, dan di masa depan
akan tetap menghadapi persoalan-persoalan besar dan parah selama  negara
masih terus  dikuasai oleh segala macam bedebah-bedebah reaksioner, yang
korup, yang dekaden,  semacam yang bisa sama-sama kita saksikan sekarang
ini.



Bedebah-bedebah atau penjahat-penjahat besar ini terdapat dalam kalangan
mafia kekuasaan eksekutif, mafia kekuasaan legislatif, mafia judikatif, yang
mencakup di dalamnya segala macam mafia politik dan kepartaian, mafia dalam
DPR dan DPRD, mafia peradilan dan kehakiman, mafia hukum, mafia keuangan dan
pajak, mafia perbankan, dan segala macam mafia lainnya, yang banyak terdapat
di Indonesia sejak pemerintahan Orde Baru sampai sekarang.



Bukan situasi negara semacam sekarang ini yang diinginkan


Jelaslah kiranya bagi kita semua bahwa situasi negara dan bangsa seperti
yang kita saksikan selama ini   - sejak  rejim Orde Baru sampai sekarang -
sama sekali bukanlah yang diinginkan para perintis kemerdekaan. Para pejuang
untuk kemerdekaan bangsa dalam pembrontakan tahun 1926 akan menangis dalam
kuburan mereka kalau melihat apa yag terjadi di tanah air kita sekarang ini.
Dan para pejuang revolusi Agustus 45 akan mengutuk sekeras-kerasnya segala
pengkhianatan terhadap tujuan revolusi yang dilakukan oleh seluruh kekuatan
reaksioner yang sudah mengggulingkan Bung Karno dan menghancurkan kekuatan
kiri



Sebab, dengan digulingkannya Bung Karno dan dihancurkannya kekuatan kiri,
maka revolusi yang pernah dikobarkan dengan gegap gempita oleh Bung Karno
dan mendapat dukungan besar dan partisipasi luas dari rakyat yang
mendambakan masyarakat adil dan makmur, maka kemudian menjadi terhenti atau
terhambat untuk jangka waktu yang cukup lama.



Terhentinya revolusi oleh pengkhianatan  Suharto bersama para jenderalnya
inilah merupakan faktor utama mengapa situasi negara dan bangsa Indonesia
kemudian menjadi serba busuk karena berbagai penyakit parah seperti yang
kita saksikan selama ini. Di antara berbagai kerusakan serius atau penyakit
yang paling parah yang disandang bangsa kita adalah kerusakan di bidang
moral  Kerusakan moral yang parah dan menyeluruh secara besar-besaran ini
tercermin dalam banyak bidang kehidupan bangsa.



Kebejatan moral adalah sebab dari banyak persoalan bangsa


Sekali lagi, perlulah kiranya diulangi berkali-kali bahwa di antara banyak
dosa yang berat dan berbagai  macam kesalahan (atau kejahatan) yang paling
besar oleh rejim militer Suharto (bersama-sama Golkar) adalah justru
kerusakan atau pembusukan di bidang moral.  Singkat padatnya, rejim militer
Suharto-lah yang menjadi pelopor perusakan moral bangsa, yang akibatnya
masih bisa kita saksikan bersama  dewasa ini di banyak bidang. Kerusakan
moral ini jugalah yang memungkinkan dibunuhnya jutaan orang-orang kiri dan
pendukung politik Bung Karno, dan tetap terus tersengsaranya puluhan juta
keluarga korban Orde Baru. sampai lebih dari 40 tahun.



Kita bisa sama-sama mengamati, dan juga merenungkan dalam-dalam, bahwa
sebagai akibat kebusukan moral atau kebejatan akhlak yang menyebabkan
meluasnya korupsi dengan ganas dan besar-besaran, dan timbulnya segala macam
mafia  yang merajalela di banyak bidang (di Pusat maupun di daerah-daerah),
maka tidak dapat diatasi atau diselesaikan dengan mudah, apalagi oleh
orang-orang reaksioner atau sistem yang lama, yang sudah terbukti tidak
mengutamakan kepentingan rakyat banyak.



Karena itu, walaupun banyak segala macam perundang-undangan dan peraturan
telah dan akan diadakan, dan meskipun berbagai ragam komisi, panitia,
satgas, dibentuk untuk menanggulangi berbagai persoalan yang parah dan besar
itu, maka hasilnya juga akan tetap seperti selama ini. Kegagalan usaha-usaha
semacam itu pada pokoknya disebabkan karena hebatnya kerusakan moral yang
sudah menjalar luas kemana-mana;



Sebagian kecil contohnya adalah terkatung-katungnya penyelesaian kasus Bank
Century yang menyangkut dana Rp 2,7 triliun, kasus KPK yang ambur adul,
kasus rekening gendut jenderal-jenderal polisi yang tak jelas juntrungnya,
kasus urusan pajak perusahaan Aburizal Bakri yang tetap kusut, kasus Gayus
Tambunan yang tetap rumit, kasus Yusril yang makin mbulet. Semua persoalan
itu pada pokoknya bersumber dari kerusakan moral, atau kebejatan akhlak,
atau kelemahan jjiwa, atau kesesatan iman.



Situasi akan tetap memburuk kalau “mereka” terus berkuasa


Mengingat parahnya kerusakan moral di kalangan “elite” yang sudah menular
kemana-mana sejak lama ini, maka tidak bisa diharapkan adanya kemungkinan
untuk bisa memperbaikinya dengan mudah. Artinya, walaupun ada
pergantian-pergantian (di bidang eksekutif, legislatif, dan judikatif) yang
dihasilkan oleh Pemilu 2014 nanti, atau juga oleh Pemilu 2019, namun toh
tidak akan terjadi perubahan-perubahan besar, dan situasi tidak akan lebih
baik, bahkan mungkin akan makin lebih memburuk.



Sebab, kita semua dapat meramalkan – berdasarkan pengalaman yang
sudah-sudah --  bahwa pemilu-pemilu yang akan datang, akan tetap
menghasilkan terpilihnya orang-orang yang pada umumnya memiliki kualitas,
integritas, kapasitas, dan moral (!!!) yang sejenis yang dipunyai
wakil-wakil rakyat  (dan pejabat-pejabat) yang sudah selama ini mengelola
negara kita.



Artinya, kalau  (atau seandainya) negara kita akan tetap dikuasai oleh
kalangan yang reaksioner, yang anti-revolusi, yang anti-ajaran-ajaran
revolusioner Bung Karno, maka juga akan tetap mengalami pembusukan atau
dekadensi seperti yang kita alami dewasa ini. Dan keadaan yang menyedihkan
begitu itu akan bisa berlangsung sepuluh atau, bahkan, dua tiga puluh tahun
lagi. Lebih-lebih lagi, , keadaan mungkin akan lebih dekaden dari pada
sekarang, dengan makin rusaknya  moral para tokoh-tokohnya.



Keadaan yang begitu menyedihkan bagi rakyat banyak itulah yang akan terus
dihadapi negara dan bangsa kita, ketika banyak negara lain di dunia sudah
mengalami perubahan dan meraih kemajuan besar  bagi kesejahteraan rakyatnya
masing-masing, seperti (antara lain)  China, India, Rusia, Vietnam, Kuba,
Venezuela, Bolivia, Ekuador, Brasilia.



Revolusi untuk menyetop proses pembusukan lebih lanjut



Mengingat itu semua, maka makin jelaslah kiranya, bahwa untuk menyetop
pembusukan moral, untuk menghentikan penyengsaraan rakyat, untuk
menggantikan sistem pemerintahan, untuk memperbarui dan memperbaiki
kekuasaan politik, diperlukan adanya usaha bersama secara besar-besaran dan
radikal . Usaha bersama secara besar-besaran dan radikal ini bisa dinamakan
revolusi, sesuai dengan ajaran Bung Karno.



Revolusi menurut ajaran-ajaran revolusioner Bung Karno adalah satu-satunya
jalan  (!!!) yang perlu  (dan bisa) ditempuh rakyat Indonesia untuk
menghentikan proses demoralisasi, proses degenerasi, proses desintegrasi,
singkatnya proses pengrusakan dan pembusukan kehidupan bangsa, yang sudah
lama berlangsung sejak berkuasanya rejim militer Orde Baru.



Jadi, kalau kita baca dengan teliti karya-karya Bung Karno akan nyatalah
dengan jelas bahwa revolusi menurut ajaran-ajaran revolusionernya adalah
ajakan luhur kepada seluruh bangsa untuk bersama-sama berjuang melawan
segala hal yang tidak menguntungkan kepentingan rakyat, terutama rakyat
kecil. Revolusi menurut ajaran-ajaran Bung Karno adalah perjuangan  di
bidang politik atau kekuasaan, untuk menjebol yang lama dan tidak
menguntungkan rakyat dan kemudian menggantikannya dengan yang baru.



Bisalah kita katakan bahwa Revolusi menurut ajaran Bung Karno adalah
pemersatu bangsa dalam mobilisasi seluruh rakyat  -- dari semua kalangan dan
golongan, termasuk golongan Islam yang merupakan majoritas  --  ke arah
cita-cita bersama, yaitu masyarakat adil dan makmur, dan melawan segala
penindasan oleh bangsa sendiri maupun bangsa asing. Tidak ada pemimpin
Indonesia lainnya yang bersikap begitu jelas dan begitu luhur seperti  Bung
Karno mengenai revolusi yang perlu terus dikobarkan oleh seluruh bangsa.



Revolusi untuk memupuk patriotisme dan nasionalisme kerakyatan



Revolusi yang sudah dikobarkan di bawah pimpinan Bung Karno adalah untuk
memperkuat patriotisme kerakyatan,  untuk memupuk nasionalisme yang tidak
sempit, untuk menyuburkan semangat pengabdian kepada rakyat, untuk
menggelorakan kesediaan berkorban bagi nusa dan bangsa. Begitu luhur dan
tinggilah tujuan revolusi yang dicita-citakan Bung Karno bagi bangsa
Indonesia



Karena itu, perlulah kiranya semua golongan dan kalangan yang menginginkan
adanya perubahan fundamental atau perbaikan radikal di negara kita untuk
berusaha bersama-sama dengan segala jalan dan cara, dan melalui berbagai
sarana dan bentuk, untuk meneruskan berkobarnya revolusi seperti di jaman
pimpinan Bung Karno, yang pernah terhenti cukup lama akibat pengkhianatan
rejim militer Orde Baru.



Jalan revolusi yang ditunjukkan Bung Karno adalah satu-satunya jalan untuk
ditempuh bangsa Indonesia, guna mencapai masyarakat adil dan makmur, atau
untuk membangun Sosialisme Indonesia di bumi kita bersama. Tidak ada jalan
lain !!



Paris,    25 Juli 2010



A. Umar Said



. =====



Catatan tambahan : Berhubung pentingnya  arti revolusi  menurut
ajaran-ajaran revolusioner Bung Karno bagi kita semua, maka akan diusahakan
penyajian tulisan-tulisan  lainnya yang mencoba melihat masalah ini dari
berbagai segi sebagai bahan kajian bersama.






























[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke