From: Domu D. Ambarita <[email protected]> Date: Monday, July 26, 2010, 12:44 PM Turut derduka atas meninggalnya mas Ful. Atas kematian yang mencurigakan, kiranya semua pihak dapat menyelidiki secara tuntas. Wartawan Kompas Biro Kalimantan Tewas Mencurigakanhttp://www.tribunne ws.com/2010/ 07/26/wartawan- kompas-biro- kalimantan- tewas-mencurigak an Tribunnews.com - Senin, 26 Juli 2010 11:52 WIB Share + – dok pribadi Related News Sejak Sabtu Lalu Tak Ada KabarDipanggil dengan Sebutan Pak Haji Laporan Wartawan Tribun Kaltim, M Abduh TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wartawan Kompas Biro Kalimantan, Muhammad Syaifullah dilaporkan meninggal dunia di rumahnya di Komplek Balikpapan Baru Jalan Mediterania, Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (26/7/2010). Dari laporan Tribun Kaltim, jenazah ditemukan di depan televisi dengan mulut berbusa. Muntahan darah juga terlihat di sudut bibir jenazah. Istri Syaifullah yang berada di Banjarmasin mengaku tak bisa menghubugi Syaifullah yang berada di Balikpapan sejak Sabtu silam. Begitu pula dengan sejumlah rekan wartawan Syaifullah di Kalimantan yang beberapa hari terakhir tak melihat Syaifullah. "Sang istri kemudian menelepon rekan wartawan. "Tolong cek keberadaan suami saya, biasanya kalau tugas luar kota selalu memberi kabar"," ujar seorang wartawan menirukan permintaan istri. Karena curiga, sejumlah wartawan dan polisi kemudian datang mengecek. Mereka kemudian menemukan Syaifullah telah meningal dunia dengan posisi di depan televisi yang mati, bersarung, dengan tangan memegang remote televisi. Sejumlah obat sakit kepala berupa tablet dan sirup ditemukan di meja tak jauh dari jenazah ditemukan. Saat ini polisi tengah melakukan olah TKP dan memasang garis polisi. "Untuk otopsi, polisi masih menunggu persetujuan keluarga. Sang istri tengah menuju ke Balikpapan dari Banjarmasin, " lanjut kerabat wartawan Syaifullah. Saat ini jenazah telah dibawa ke RS Bhayangkara. Sejumlah kabar merebak di balik kematian misterius Muhammad Syaifullah. Ada dugaan ia keracunan. Kabar lain yang beredar menyebutkan, kematian Syaifullah terkait pemberitaannya soal kejanggalan dalam bisnis batu bara di Kalimantan. Syaifullah bergabung ke Kompas tahun 1999. Dia meninggalkan satu istri dan dua anak. Syaifullah atau FUL dikenal sebagai wartawan yang bersemangat, rajin, dan peduli pada lingkungan. Banyak tulisannya yang berisi keprihatinan tentang kerusakan alam di Kalimantan. Selama menjadi wartawan Kompas, Syaifullah banyak bertugas di wilayah Kalimantan, mulai dari Samarinda, kemudian ke Pontianak, Banjarmasin, lalu menjadi Kepala Biro wilayah Kalimantan dan tinggal di Balikpapan. Syaifullah merupakan kelahiran Hulu Sungai Selatan, Kalsel, itu merupakan lulusan Universitas Sebelas Maret (UNS). (*) * * * Domu D. Ambarita TRIBUN NETWORK "The National's Local Newspaper" a Group of Regional Newspaper KOMPAS Gramedia Telephone: +62-21 5483008, 5480888 Ext 7618 http://www.tribunne ws.com http://www.kompasia na.com/domuambar ita ---------------------------------------------------------- Sebuah posting di blog personal Dwiki Setiyawan's Sebuah bahtera yang berlabuh bertahun-tahun lamanya mungkin akan kembali berlayar, akan tetapi cinta dan kematian adalah perjalanan tanpa kembali.. .. (Hikmah Berserakan) Senin 26 Juli 2010 Pukul 11.15 WIB handphone saya bergetar, ada panggilan, rupanya dari saudara Khalim. Adik angkatan saya saat di Jurusan Komunikasi Fisip UNS Solo Jawa Tengah. Dia mengabarkan bahwa saudara Muhammad Syaifullah, wartawan sekaligus Kepala Biro harian Kompas Kalimantan meninggal. Hampir tak percaya, badan saya bergetar. Bertambah gemetar tatkala diberitahu bahwa Muhammad Syaifullah meninggal ditengarai lantaran diracun. Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un. Sesungguhnya segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali padanya. Diracun? Begitulah resiko yang musti dihadapi wartawan seidealis Muhammad Syaifullah. Iful (demikian panggilan akrabnya) ditemukan meninggal di depan TV di depan rumah dinasnya di Balikpapan. Tatkala ditemukan jenazahnya dalam keadaan lebam dan mengeluarkan busa. Dugaan almarhum diracun, berhembus santer di kalangan rekan-rekan wartawan sejawatnya. Ia dikenal acap menyuarakan kegelisan dan keprihatinan melalui reportase yang dibuatnya tentang carut marut bisnis pertambangan batu bara di Kalimantan –daerah asalnya. Tentang sosok idealisnya, Iful yang juga keponakan mantan Mensekneg Djohan Effendy ini, saya kenal sejak sama-sama kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi Fisip UNS Solo Angkatan Tahun 1988. Saat kuliah, ia pegiat Forum Diskusi Mahasiswa (Fodisma) dan Lembaga Kerohanian Islam (LKI) Fisip UNS. Seingat saya pernah pula ia menjabat sebagai anggota Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) Fisip UNS. Dalam diskusi-diskusi di Fodisma, LKI atau forum-forum sejenis, kerap mencuat pemikiran-pemikirannya yang jernih tentang hal-hal ideal dalam perikehidupan berbangsa dan bernegara. Ia juga pribadi menyenangkan dan disukai kawan-kawannya. Tempat indekostnya yang agak sempit dekat Taman Budaya Solo (TBS) Kentingan ramai dipenuhi beberapa teman karibnya. Kadang sebagai transit untuk menunggu jam perkuliahan selanjutnya. Kadang sebagai tempat rapat, namun tak jarang pula untuk diskusi terbatas. Bergabung di Kompas jelang akhir tahun 1990-an, ia mula-mula bertugas di Jakarta. Saya dengar saat itu, tulisannya acap muncul di halaman muka Kompas. Sosok wartawan pekerja keras, berdedikasi, jujur, amanah dan alim ini selanjutnya dipindahkan ke daerah asalnya Kalimantan. Ia berpindah-pindah penugasan di pelbagai pelosok pulau Borneo itu. Mulai dari Samarinda, lantas ke Pontianak, Banjarmasin, hingga terakhir menjadi Kepala Biro Kompas wilayah Kalimantan dan tinggal di Balikpapan. Lama tidak bertemu, namun reportase Iful di Kompas tetap saya cermati. Tahun lalu ia menunaikan ibadah haji sembari membuat laporan-laporan mendalam mengenai pelaksanaan ibadah haji di harian Kompas. Pernah saya komentari reportasenya yang apik itu, ia menjawab dengan merendah. Khas dia yang dulu saya kenal, dan tidak pernah berubah. Sembari menunggu tentang sebab musabab kematiannya yang cukup misterius itu, saya akhiri in memoriam ini dengan penggalan suatu goresan menawan dari Kahlil Gibran, seorang penyair dan seniman kelahiran Lebanon. Kata Gibran, “Mengapa engkau sedemikian takut dengan kematian? Bukankah engkau acapkali mendambakan tidur lelap?” Selamat jalan Ful. Tonggak-tonggak kenangan indah bersamamu saat bergaul di Solo dulu, masih terpatri di kalbu…. Terintuk istri almarhum Iful, mbak Is (Isnainijah Srirohmani) –sama-sama Angkatan 88 Fisip UNS– semoga tabah menerima cobaan berat ini. Sumber Gambar: Akun Facebook Muhammad Syaifullah. [Non-text portions of this message have been removed]

