From: Aria Indrawati <[email protected]>
Date: Monday, July 26, 2010, 3:28 PM







 



  


    
      
      
      



Siaran 
Pers. 
   
   
Kampus Yang Ramah Pada Tunanetra, Masih 
Impian; 
Renungan  Memasuki  Tahun Ajaran Baru 
2010-2011. 
   
   
Rabu 28/7, Mitra Netra, melalui kerja sama 
dengan Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni), International Council of 
Education for People with Visual Impairment (ICEVI), The Nippon Foundation 
(TNF) 
dan Universitas Indonesia (UI), menyelenggarakan seminar bertempat di 
Auditorium  AJB Gedung  F lantai 2  Kampus FISIP UI Depok,  untuk mempromosikan 
idiologi pendidikan 
inklusi di perguruan tinggi. Hadir Mendiknas Muhammad Nuh menyampaikan  
sambutan sekaligus membuka secara resmi, 
 pada seminar yang dihadiri oleh 
kurang lebih 150 orang, yang terdiri dari unsure wakil dari otoritas perguruan 
tinggi, wakil kementerian pendidikan Nasional, mahasiswa,     serta para 
pemerhati 
pendidikan tinggi dan pegiat gerakan bagi penyandang disabilitas. 

   
Meski  
keberadaan  mahasiswa 
tunanetra di perguruan tinggi telah  
terjadi lebih dari empat puluh tahun lalu, namun,  eksistensi mereka  belum 
sepenuhnya diakui. Hal ini 
terbukti dengan masih langkanya fasilitas khusus untuk mahasiswa tunanetra di 
universitas. Sebagai mahasiswa, tunanetra juga membayar  semua kebutuhan untuk 
menempuh studi di 
perguruan tinggi; sebagai warga Negara, tunanetra pun membayar pajak. Namun, 
hingga kini, pemenuhan fasilitas untuk pendidikan mereka, khususnya di jenjang 
pendidikan tinggi  masih harus 
diperjuangkan sendiri.
   
Dari survey yang dilakukan Pertuni di tahun 
2005, tercatat hanya ada 250 orang tunanetra  di Indonesia yang berhasil 
menyelesaikan 
study di perguruan tinggi. Sementara,data Kementerian Kesehatan mengungkapkan 
angka kebutaan di Indonesia adalah satu setengah persen dari jumlah penduduk, 
yang berarti, ada lebih dari tiga juta tunanetra di Indonesia ; 
dengan demikian, 250 orang bukan angka yang 
menggembirakan.
   
Rendahnya jumlah tunanetra yang berhasil meraih 
pendidikan tinggi disebabkan oleh masalah-masalah yang sangat mendasar, yang 
bahkan di abad ke 21 ini pun masih sangat dirasakan 
yaitu:

  Akses tunanetra ke pendidikan tingkat dasar 
  dan menengah pun masih rendah; dari data Kementerian Pendidikan Nasional 
tahun 
  2000, jumlah anak tunanetra usia sekolah yang bersekolah tidak lebih dari 
  lima persen, 
  dan hingga kini belum ada upaya sistematis yang dilakukan pemerintah untuk 
  membawa lebih banyak anak tunanetra bersekolah;
  Akses tunanetra ke referensi masih sangat 
  terbatas; hal ini berdampak sangat signifikan bagi tunanetra yang 
berkeinginan 
  menempuh pendidikan tinggi. Berkuliah menjadi sangat “menekan atau 
stressful”, 
  karena tunanetra harus bergantung pada orang lain yang mau meluangkan waktu 
  membacakan buku untuk mereka,tsehingga tunanetra tidak dapat belajar secara 
  mandiri;
  Masih ada penolakan dari perguruan tinggi 
  menerima mahasiswa tunanetra, yang sering kali dianggap “tidak sehat 
  jasmani”;
  Tunanetra yang berhasil mengatasi situasi ini 
  adalah mereka yang memiliki dukungan  
  yang sangat baik dari  
  keluarga, atau mereka yang memiliki daya juang luar biasa; jika tidak, 
  mereka akan berhenti di tengah jalan.
   
Prihatin dengan situasi ini, sejak tahun 2006, 
Mitra Netra, melalui dukungan Pertuni, ICEVI dan TNF, mendapatkan kesempatan 
untuk membangun pusat layanan bagi mahasiswa tunanetra, dengan menggunakan dua 
pendekatan yaitu:

  Resource center based; layanan khusus untuk 
  mahasiswa   disediakan   di pusat sumber Mitra 
  Netra
  University based; layanan untuk mahasiswa 
  tunanetra ditempatkan di perguruan tinggi yang menerima mahasiswa tunanetra; 
  dank kala itu perguruan tinggi yang dipilih  adalah Universitas Negeri 
Jakarta 
  (UNJ).
   
Melalui dua pendekatan tersebut, layanan 
mendasar yang disediakan adalah “layanan alat Bantu teknologi” berupa 
penyediaan 
computer yang dilengkapi dengan perangkat lunak pembaca layer (screen reader) – 
yang biasa disebut computer bicara,  serta scanner yang dilengkapi dengan 
software Optic Character  
Recognation (OCR) yang paling accessible untuk tunanetra. Dengan bantuan 
alat-alat tersebut, tunanetra terbukti dapat mengakses referensi dengan lebih 
mandiri, yaitu dengan cara “scanning atau memindai” buku-buku referensi yang 
harus dibaca, kemudian membaca soft file hasil scanning atau pemindaian 
tersebut 
dengan menggunakan computer bicara. Di samping itu, tugas-tugas kuliah pun 
dapat 
mereka kerjakan dengan lebih mandiri dan tepat waktu.
   
Belajar dari keberhasilan rintisan layanan 
khusus  untuk mahasiswa tunanetra di 
UNJ, Mitra Netra memimpikan agar layanan tersebut dapat dilanjutkan dan 
dikembangkan oleh UNJ; tidak hanya itu, layanan semacam itu seharusnya juga 
disediakan oleh perguruan tinggi di seluruh Indonesia . 
   
Di samping UNJ, Universitas Indonesia (UI), 
melalui dorongan dari komunitas penyandang disabilitas lainnya, saat ini juga 
telah merintis pusat layanan bagi mahasiswa penyandang 
disabilitas.
   
Ketersediaan alat Bantu teknologi  adalah  salah satu aspek yang harus dipenuhi 
untuk membangun “kampus yang ramah bagi tunanetra”. Di samping itu,  masih ada 
aspek-aspek lain yang juga 
harus  tersedia  dan menjadi bagian yang integral dari 
system layanan di perguruan tinggi. Ketersediaan fasilitas aksessibilitas fisik 
yang memungkinkan tunanetra dan penyandang disabilitas lain dapat melakukan 
mobilitas di kampus secara lebih mandiri, misalnya guiding block/guiding rail 
untuk tunanetra serta  ram untuk 
tunadaksa;  system layanan 
administrasi akademik yang aksessibel; dan yang tak kalah pentingnya adalah 
lingkungan social kampus yang juga ramah bagi tunanetra; dosen, mahasiswa, 
serta 
staf administrasi  yang memahami 
keberadaan mahasiswa tunanetra di kampus mereka serta memenuhi  kebutuhan 
khusus yang 
diperlukan.
   
 Memasuki tahun ajaran baru 2010-2011, 
Mitra Netra kembali mendapatkan dukungan dari Pertuni, ICEVI dan TNF untuk  
mempromosikan  ketersediaan pusat layanan khusus   bagi  mahasiswa tunanetra di 
perguruan tinggi, 
sebagai tahapan penting membangun system pendidikan inklusi di universitas. 
Promosi ini dilakukan dalam bentuk seminar, yang menampilkan  empat  pembicara 
mewakili tiga stake holder 
penting. dirjen pendidikan tinggi Prof. DR. Joko Santoso  sebagai pembuat 
kebijakan yang diharapkan 
kemudian  memformulasikan dalam 
kebijakan  segala pengalaman Mitra 
Netra dan Pertuni dalam   
mendukung agar tunanetra memiliki akses yang lebih baik ke pendidikan 
tinggi, Direktur Eksekutif Mitra Netra Bambang Basuki yang berbagi pengalaman 
bagaimana Mitra Netra telah melahirkan sarjana-sarjana tunanetra, serta  DR 
Asep Supena Pembantu Dekan III FIP 
UNJ yang telah menjadi partner Mitra Netra merintis pusatr layanan untuk 
tunanetra di universitas tersebut, dan Prof Bambang Shergi Laksmono Dekan FISIP 
UI mewakili unsur perguruan tinggi.
   
Di samping penyelenggaraan seminar, promosi 
pendidikan inklusi di perguruan tinggi juga diselenggarakan dalam bentuk “lomba 
menulis.  tema yang ditawarkan 
kepada peserta lomba adalah Strategi Mewujudkan Kampus yang Ramah dan 
Non-diskriminatif bagi Penyandang 
disabilitas. 
   
Lomba yang berlangsung kurang lebih dua bulan ini 
 diikuti oleh  27  peserta, yaitu mahasiswa aktif di wilayah 
jabodetabek. Mengapa mahasiswa? Ya, karena  
mereka adalah calon pemimpin masa depan, termasuk “pemimpin di perguruan 
tinggi”. Kepada calon pemimpin ini Mitra Netra mengharapkan mereka juga 
memiliki 
pemahaman tentang pentingnya membangun perguruan tinggi menjadi “kampus yang 
ramah bagi para penyandang 
disabilitas”. 
   
Dua 
orang juri berkompeten dipilih untuk menyeleksi karya-karya yang masuk, Jodhi 
Yudono wartawan senior dari Kompas.com dan Prof. Bambang Shergi Laksmono Dekan 
FISIP UI.  Keluar sebagai pemenang 
adalah sebagai berikut: 
   

  
  
    
      Pemenang 
      
    
      Nama
    
      Asal 
      Perguruan Tinggi
    
      Judul 
      Tulisan
  
    
      I
    
      Kamal 
      Fuadi
    
      Universitas 
      Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Fakultas Ilmu Tarbiyah 
dan 
      Keguruan, Jurusan Kependidikan Islam, Program Studi Manajemen 
      Pendidikan
    
      Membangun 
      Kampus Inklusif, Menuju Kampus Ramah dan Nondiskriminatif bagi Penyandang 
      Disabilitas
  
    
      II
    
      Ethenia 
      Novianty Windaningrum
    
      Universitas 
      Indonesia (UI), Fakultas 
      Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), 
      Jurusan Ilmu 
    Komunikasi
    
      Perguruan Tinggi, Dunia 
      Kaum Intelek; Akankah Menjadi Milik Penyandang 
      Cacat?
  
    
      III
    
      Pradizza 
      Septiana Putri
    
      Universitas 
      Indonesia (UI), Fakultas Psikologi, Jurusan 
      Psikologi
    
      Three-in-One: Mengoptimalkan 
      Realisasi Konsep Kampus yang Ramah bagi 
      Difabel
   
  
Pendidikan dasar memang penting, sedangkan 
pendidikan tinggi adalah jalan strategis menuju perubahan.  Selama ini dorongan 
agar tunanetra 
memiliki akses ke pendidikan dasar dan menengah memang telah dilakukan. Namun, 
itu saja belum cukup. Dengan memiliki akses ke pendidikan tinggi yang 
berkualitas, tunanetra akan memiliki lebih banyak pilihan dalam bekerja, 
bahkan, 
tidak menutup kemungkinan untuk menciptakan lapangan pekerjaan 
sendiri. 
   
“membangun kampus menjadi lingkungan yang ramah 
pada tunanetra” seharusnya tidak lagi hanya “impian”, di saat perguruan tinggi 
berlomba-lomba menjadikan dirinya lembaga pendidikan tinggi berstandar 
internasional, karena salah satu kriteria yang harus dipenuhi jika sebuah 
universitas berstandar internasional adalah ketersediaan layanan khusus bagi 
mahasiswa penyandang disabilitas. 
   
   
                                                            
Untuk informasi lebih lanjut 
                                                            
Silakan hubungi Yayasan Mitra 
Netra 
 Riyanti Ekowati, atau Aria 
Indrawati 
                                          
(021) 7651386. 
   
   
  
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
  
   
   
  
   
  


    
     

    
    


 



  






      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke