http://www.suarapembaruan.com/index.php?modul=news&detail=true&id=22157

2010-07-31 
Bukti Bahtera Nuh?


Refleksi

Oleh : Andar Ismail

Harian SP tanggal 29 April 2010 memuat berita satu halaman penuh berjudul 
"Klaim Penemuan Bahtera Nuh". Klaim itu disampaikan dalam jumpa pers di Turki 
oleh tim gabungan 15 pakar dari Sekolah Geologi Universitas Kahranmanmara Turki 
dan Sekolah Geosains Universitas Hong Kong. Pemerintah Turki mendaftarkan situs 
(tempat penemuan benda purbakala) ini ke UNESCO agar PBB ikut menjaga 
kelestarian peninggalan sejarah yang kisahnya terdapat dalam kitab Kejadian 6-9.


Tim ekspedisi kedua universitas itu yang bekerja selama beberapa tahun 
menemukan artefak (benda purbakala buatan manusia) ini di puncak pegunungan 
Agri Dagi atau Ararat pada ketinggian sekitar 4.000 meter. Tempatnya di 
perbatasan Turki, Armenia dan Iran. "Kami mengumpulkan sekitar 500 artefak 
berupa fosil kayu tertimbun abu vulkanik dan salju yang menyerupai struktur 
bangunan bertingkat. Panjangnya sekitar 500 kaki, lebar 83 kaki dan tinggi 50 
kaki. Jarak dari satu tingkat ke tingkat lain sekitar 13 kaki. Sekitar ribuan 
sampai puluhan ribu balok kayu digunakan untuk membangunnya. Kami belum yakin 
100% bahwa ini benar bahtera Nuh, tetapi keyakinan kami sudah 99%. "Demikian 
ujar seorang anggota tim sebagaimana diberitahukan oleh harian National Turk".


Benarkah itu bukti bahtera Nuh? Benar atau tidaknya klaim tentang bahtera 
banjir Mesopotamia merupakan wewenang bidang sains, bukan bidang agama. Agama 
dan sains merupakan dua ranah otonom yang tidak saling mencampuri kebenaran 
klaim masing-masing. Beberapa ceritera dalam Kejadian 1-11 memang secara 
eksplisit menyebut konteks peradaban Mesopotamia (kini wilayah Kuwait, Irak dan 
Siria). Contohnya, cerita Adam dan Hawa menyebut sungai Efrat dan Tigris, 
cerita menara Babel menyebut Sinear dan cerita Abraham menyebut Ur-kasdim dan 
Haran. Semua tempat itu terletak di Mesopotamia.

Banjir Besar
Sejarah purba mencatat bahwa di wilayah Mesopotamia (Yun. Mesos Potamos, 
artinya: diapit oleh sungai-sungai) pada millennium ke-3 dan ke-4 SM terjadi 
beberapa banjir besar. Oleh sebab itu dalam budaya Mesopotamia terdapat 
beberapa epos tentang banjir besar. Salah satu versi cerita itu terdapat dalam 
Epos Gilgames dari abad ke-20 SM tentang Ut-napistim yang diberi tahu bahwa 
para dewa jengkel sebab umat manusia sering ribut sehingga bumi akan dihukum 
dengan banjir besar. Lalu Ut-napistim disuruh membuat bahtera untuk keluarganya 
dan segala jenis hewan. Ketika air bah datang seluruh isi bahtera selamat. 
Akhirnya bahtera itu kandas di puncak gunung. Ut-napistim melepaskan seekor 
burung merpati, kemudian burung layang-layang dan burung gagak untuk memastikan 
bahwa banjir telah surut. Setelah mendarat, Ut-napistim mempersembahkan korban 
kepada para dewa. 


Kerangka dan beberapa rincian cerita itu mirip dengan cerita tentang Nuh di 
Kej.6-8. Tetapi perbedaannya juga banyak.
Yang jelas berbeda adalah muatan teologinya. Simak apa yang ditulis tentang 
motivasi Allah menyelamatkan Nuh, yaitu "Nuh mendapat kasih karunia di mata 
Tuhan" (Kej.6:8). Juga simak sikap Allah kepada seluruh makhluk hidup yaitu, 
"..Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan. 
Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin 
dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam" (Kej.8:21-22).


Mengapa kedua cerita itu mirip? Ada kemungkinan bahwa cerita lisan Ut-napistim 
diambil dari cerita lisan Nuh, atau sebaliknya cerita Nuh diambil dari versi 
Ut-napistim. Namun, para pakar arkeologi Alkitab berpendapat bahwa para penulis 
cerita yang berbeda-beda itu mewarisi tradisi lisan kuno yang sama dan kemudian 
masing-masing mengembangkan dalam budayanya sendiri. David Baker, guru 
arkeologi Alkitab di STT Jakarta menulis dalam buku Mari Mengenal Arkeologi 
Alkitab sbb, "Pelbagai tradisi Mesopotamia tentang air bah serta cerita tentang 
Kejadian 6-8 memiliki latar belakang peristiwa historis yang 
sama.namun.mustahil untuk memastikan baik jangkauan maupun tahun terjadinya.".


Itulah salah satu sikap teologi sebagai sebuah ilmu. Teologi selalu terbuka 
terhadap penemuan-penemuan arkeologis, namun bersikap mengkaji secara 
berhati-hati. Ciri sebuah ilmu adalah tidak langsung menolak namun sebaliknya 
juga tidak langsung bersorak. Sebenarnya agak lucu jika tim peneliti mengacu ke 
ukuran bahtera dalam Kejadian 6 sebab angka-angka itu melambangkan ukuran 
volume simbolik kesempurnaan Ilahi menurut budaya Mesopotamia. Tulis Eerdmans 
Dictionary of The Bible, "Such dimensions are meant to signify an ideal 
construction of divine origin. To have literalized the figures is not only to 
misunderstand the nature and intent of the text, but also to generate futile 
discussion about the ark's capacity. It is clear that these numbers are 
symbolic." Klaim penemuan Universitas Turki dan Hong Kong itu mungkin benar dan 
mungkin juga keliru. Dunia sains lah yang berwenang menilainya. Teologi akan 
tetap bersikap kritis dan skeptis.


Jangan lupa bahwa dalam beberapa dasawarsa ini sudah ada sepuluh klaim yang 
mengaku telah menemukan artefak bahtera Nuh di Turki dan Afghanistan. Semua 
mengaku sebagai pihak yang paling benar. Yang terkenal adalah klaim penemuan 
arkeologi Ron Wyatt pada tahun 1987 dan kawasan penemuannya itu sudah dijadikan 
taman nasional oleh pemerintah Turki.
Orang memang mudah terjebak menjadi fanatik jika mendengar ada penemuan artefak 
yang menyangkut agama. Misalnya, pada abad yang lalu ada ratusan klaim yang 
mengaku telah menemukan sisa kayu salib Yesus di bukit-bukit sekitar Yerusalem. 
Lalu orang berbondong-bondong pergi ke sana untuk berziarah. Padahal 
kebenarannya sama sekali tidak terjamin. Coba pikir, jika semua artefak kayu 
salib Yesus itu dikumpulkan dan dirangkai menjadi salib, maka salib itu 
tingginya beberapa ratus meter. Ya, beberapa ratus meter! Wah, sejangkung 
itukah Yesus?

Penulis adalah pengarang buku-buku Renungan Seri Selamat BPK Gunung Mulia 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke