From: Dharma Hutauruk <[email protected]>
Date: Tuesday, August 3, 2010, 1:17 PM







 



  


    
      
      
      Sayang sekali saya tidak menonton tayangan tv yang menampilkan Gubernur 
Baru Bank Indonesia.
Kalau ini benar, berapa yang akan diberikan kepada para pengamen? 
Lalu uang coin kita mau kita kemanakan kemudian????


dharma

---------- Forwarded message ----------
From: HMT Oppusunggu <humtia...@hotmail. com>

Date: 2010/8/3










Dalam tayangan TV kemarin malam -2 Juli 2010- kita 
dikejutkan oleh Darmin Nasution, yang berencana bahwa semua uang yang sudah 
dikeluarkan BI akan 'dipotong 1000': uang Rp 100 000 akan menjadi Rp 
100 saja, dll. ... tapi uang recekan diapain? Ini suatu 
tindakan gila dan membabi buta 
belaka.
 Sewaktu di zaman Soekarno, Gubernur BI Syafrudin 
Prawiranegara memotong uang Rp 100 000 menjadi Rp 100, hanyalah karena run 
away inflation naik sesukanya 600-800%, sebagai akibat dari belanja 
negara yang dilakukan dengan pencetakan uang  saja hingga menaikkan 
harga semaunya. Bedanya antara Syafrudin dan Darmin, hanyalah karena Syafrudin 
memang ahli-moneter walaupun latar belakangnya pendidikan SH, sedang Darmin 
sama 
sekali buta-huruf saja mengenai teori moneter dan ke-Bank Sentral-an, walaupun 
ijazahnya dari Sorbonne, Paris.

 
Pada zaman Syafrudin, begitu cepatnya peredaran uang, 
hingga timbul kecenderungan kuat untuk tidak memegang 
cash, tapi lari ke barang hingga harga barang membubung terus. 
Sekarang pada zaman Darmin, tidak ada inflasi dan tidak ada kecenderungan lari 
ke barang dan atau  kecenderungan untuk tidak memegang cash. Walaupun 
rakyat kecil semakin tidak mampu memegang cash tapi itu timbul karena 
pendapatan mereka semakin kecil; tapi orang kaya bangsa sendiri (anggota KADIN, 
BUMN, Pertamina dan BI serta perbankan Pemerintah) dan asing semakin lebih 
kaya lagi dan mampu memperoleh cash banyak -khusus sebagai akibat penerimaan 
cash yang berlebih-lebihan, tapi disimpan di luar negeri atau dibelanjakan di 
dalam negeri. Export-lah sumber peredaran uang terbanyak disusul belanja 
pengeluaran birokrasi raksasa pemerintahan Kabinet SBY. Rakyat kecil semakin 
tersudut dan terpisah dari ekonomi modern. Kepincangan antara si kaya dan 
rakyat 
si miskin  semakin melebar. Kepincangan ini dan kepincangan struktur  
dan pertumbuhan perekonomian kita sudah lama berlangsung dengan timbulnya 
high cost economy dan high-'valas'-export-revenues dari sejak 
krisis-valas 1998 hingga detik ini. Kepincangan tsb akan 
lebih dipercepat dan diperburuk lagi oleh Darmin Nasution. Adakah rasa malu dan 
jujur-ilmiah dari Darmin?
 
Darmin, sama sekali tidak mempedulikan penjualan SBI 
yang merugikan BI -dan negara sendiri- lebih dari Rp 20 triliun setiap tahun, 
dll yang sudah sering kami kemukakan selama ini. Ya, Darmin buta total tentang 
berlakunya Undang-Undang palsu BI No. 23, 1999.
Darmin juga 
pendukung 1 000 000% dari Sri Mulyani yang dengan KEBIJAKAN-MONETERNY A 
melanggar 
prinsip-prinsip dan dalil ilmu moneter membail out Bank Century dan 
mencaploknya 
kemudian menjadi Bank Mutiara MILIK PEMERINTAH.

Tentu saja Pres. SBY 
mensyahkan Darmin sebagai Gubernur BI yang baru dan sekaligus pemotongan uang 
dengan 1000, KARENA DPR 100% PENDUKUNG PRES. SBY TERLEPAS DARI PEMAKZULAN SBY 
SEHUBUNGAN DENGAN KRIMINILATAS MONETER PARA GUBERNUR BI termasuk BOEDIONO DAN 
DARMIN NASUTION SERTA MENTERI KEUANGAN,SRI 
MULYANI.

3-8-2010.                                                                
hmt 
oppusunggu
                                                                                
website: www.hmtoppusunggu. wordpress. com/
   



 



  






      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke