http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2010080201324215

 
      Senin, 2 Agustus 2010 
     

      BURAS 
     
     
     

Hikayat Negeri 'Kethek Ogleng'!


       
      "ALKISAH dalam pelestarian seni budaya asli rakyat topeng monyet yang 
sejatinya bernama kethek ogleng, disajikan hikayat anak negeri paling populer 
Sarimin pergi ke sawah!" Gendon berlatih suluk pembuka cerita gaya opera van 
televisi sambil memalu genderang gedombrengan.

      "Ayo mulai!" entaknya pada monyet yang dia latih, ternyata belum bisa 
beraksi seperti diinginkan. "Capilnya dipakai begini, ambil pacul kau panggul 
begini, lalu jalan megal-megol keliling lingkaran!"

      "Melatih monyet harus sabar!" sela Temon yang asyik melihat usaha Gendon 
menata masa depan. "Dituntut lebih sabar lagi ketika dianggap sudah jadi, 
karena hasilnya jauh dari memadai! Berbeda dengan lazimnya karya seni, hasil 
usaha maksimal mewujudkan keindahan--refleksi kesempurnaan! Gerak monyet dan 
bunyi genderang ogleng tak didasari nilai estetis, orientasinya cuma cari duit!"

      "Memang, untuk asal bisa saja sulit sekali!" keluh Gendon. "Padahal, 
makanannya sudah kuberi istimewa, berlebih-lebih!"

      "Huahaha...!" Temon terbahak. "Monyet kau beri remunerasi, manusia saja 
tak dijamin melakukan tugas sesuai diinginkan! Gayus contohnya!"

      "Masak mengelola negara seperti kethek ogleng?" timpal Gendon. "Asal 
gedombrengan, asal megal-megol, permainannya cuma seolah-olah--Sarimin ke 
sawah, Sarimin ke pasar!"

      "Memang begitu! Banyak masalah ditangani cuma seolah-olah! Dikerjakan 
asal-asalan, tak sesuai ketentuan atau logika semestinya!" tegas Temon. 
"Contohnya pembagian tabung gas 3 kg! Sembilan juta tabung tak layak pakai, 
membahayakan jiwa pemakainya, bisa lolos terbagi! Baru diperiksa dan ditarik 
kembali setelah tabung gas dan perantinya meledak di mana-mana, merenggut 
banyak jiwa dan harta rakyat jelata!"

      "Begitulah efek budaya kethek ogleng!" timpal Gendon. "Dalam kasus Gayus, 
ada uang suap Rp28 miliar tambah 74 miliar ditemukan polisi di kotak simpanan, 
tapi berkas perkaranya dilimpahkan tanpa seorang pun tersangka 
penyuapnya--meski Gayus mengakui menerima dari siapa saja. Malah menjabarkan 
secara rinci kapan dan bagaimana! (Kompas, [31-7]) Sebaliknya dalam kasus 
Anggodo, penyuap disidang tanpa ada bukti uang dan tersangka penerima suapnya!"

      "Lebih dahsyat lagi efrk budaya kethek ogleng itu pada deklarasi bebas 
byarpet nasional!" tukas Temon. "Ternyata bebas byarpet nasional juga cuma 
seolah-olah! Usai deklarasi, byarpet lagi!"

      "Demikianlah hikayat negeri kethek ogleng!" seru Gendon menutup acara. 
"Negeri tempat orang suka kerja asal-asalan! Janji dan harapan masa depan 
dipenuhi dengan keseolah-olahan belaka!"

      H. Bambang Eka Wijaya
     


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke