http://www.sinarharapan.co.id/cetak/berita/read/quo-vadis-pdip/

Selasa, 03 Agustus 2010 12:52 
"Quo Vadis" PDIP?
OLEH: TJIPTA LESMANA



Terpilihnya Darmin Nasution sebagai gubernur Bank Indonesia pekan lalu membuat 
banyak pihak geleng-geleng kepala. 

     
Petinggi pemerintah yang banyak disebut namanya dalam rapat-rapat Pansus Bank 
Century tempo hari, kemudian resmi disebut juga namanya pada keputusan akhir 
Dewan Perwakilan Rakyat, ternyata bisa lolos? Bukankah ini menunjukkan sikap 
inkonsisten sebagian besar wakil rakyat kita di Senayan? Namun, sebagian orang 
bersikap cuek saja. Artinya, jangan terkejut jika Darmin akhirnya lolos dengan 
mulus pada uji kelayakan dan kepatutan yang digelar Komisi XI DPR.


Pertama, penanganan skandal Bank Century sudah hampir mencapai tahap "tidur". 
Jangankan DPR, para inisiator kasus ini pun terkesan sudah malas berbicara 
lagi, entah apa sebabnya. Kedua, jauh hari sebelum nama Darmin disodorkan oleh 
Presiden Yudhoyono kepada DPR, Satuan Gabungan Koalisi Partai Pendukung 
SBY-Boediono sudah me­nyatakan dukungannya kepada calon tunggal yang diajukan 
SBY. Bukankah para pengamat sudah mengatakan kalau Setgab ini seperti "kabinet 
bayangan"? Masalah apa pun kalau sudah dirapatkan dan disepakati oleh Setgab 
hampir dipastikan akan mulus-mulus saja. Jangan lupa, lebih dari 70 persen 
suara DPR di bawah "kekuasaan" Setgab.Ya, inilah keunikan sistem presidensial 
di Republik Indonesia yang mustahil Anda dapatkan dalam buku teks ilmu politik 
di seluruh dunia!


Ketika berita berseliweran bahwa Presiden bakal menyodorkan satu nama saja 
untuk calon gubernur Bank Indonesia, kita sudah tahu bahwa calon itu 99 persen 
pasti diterima DPR. Presiden tentu sebelumnya sudah membuat kalkulasi politik 
yang matang sebelum mengajukan calon tunggal.


Namun, segera setelah Darmin terpilih, isu money politics santer sekali 
bertebaran. Kawan saya, Adi Masardi, bahkan yakin sekali kalau kemenangan 
Darmin tidak lepas dari politik uang. Tentu, tidak mudah membuktikan tudingan 
ini, sebab tindakan suap-kata seorang mantan anggota Dewan bebe­rapa tahun 
lalu-sama dengan orang "buang gas." Baunya terasa sekali, siapa yang "ngegas", 
sulit dibuktikan. Bagaimana bisa dibuktikan kalau pantat manusia yang kentut 
itu pun sudah tidak bau lagi, setelah berhari-hari berlalu? Lain kalau 
kejahatan ini terjadi di negara barat, Amerika misalnya. Di sana dengan cepat 
bisa dibentuk sebuah investigator independen yang diberikan kewena­ngan penuh 
untuk membongkar kasus kejahatan yang melibatkan kejahatan kebohongan publik.


Para anggota Fraksi PDIP di Senayan, tampaknya sadar kalau mereka menjadi 
target kecaman publik karena ikut-ikutan meloloskan Darmin. Untuk itu, pekan 
lalu mereka serempak melancarkan aksi walk-out dalam rapat dengar pendapat 
Komisi XI dengan Gubernur Bank Indonesia. Sayang, tindakan itu dinilai sudah 
terlambat. Sejumlah anggota Fraksi PDIP masih memendam perasaan kesal, jengkel, 
dan malu.

Tawaran Uang
Syahdan, Prof Gayus Lumbuun, Ketua Badan Kehormatan (BK) DPR-RI pun akhirnya 
"menyanyi". Dalam wawancaranya dengan sebuah harian di Jakarta, Gayus 
mengemukakan masalah penetapan Darmin sebagai gubernur Bank Indonesia membawa 
masalah internal sendiri dalam Fraksi PDIP. Beberapa kawannya masih 
mempertanyakan mengapa sikap fraksi berubah terhadap Darmin. Gayus pun 
terang-terangan mengaku ada pihak yang mendekatinya sebelum pemilihan Darmin, 
dan menawarkan sejumlah uang. Namun, dengan tegas ia menolak tawaran tersebut.


Kalau memang demikian, benar ada money politics, kan? Setelah Gayus, giliran 
Eva Sundari yang cuap-cuap. Wakil rakyat yang satu ini, bersama Prof Gayus 
Lumbuun, termasuk yang kritis dalam rapat-rapat Pansus Bank Century. Dia dan 
kawan-kawan semula sudah siap menolak Darmin Nasution. Tetapi, "Saya tidak bisa 
ngapa-ngapain lagi, karena Pak Emir bilang untuk pilih Darmin dan itu adalah 
perintah dari DPP PDIP. Saya langsung diam, begitu Pak Emir bilang seperti 
itu!" kata Eva.
Pengakuan Eva Sundari, tampaknya bukan asbun alias asal bunyi. Lain Eva, lain 
pula Maurara Sirait. Putra Sabam Sirait yang tempo hari paling ngotot untuk 
membongkar skandal Bank Century bisa memahami sikap fraksinya yang menerima 
Darmin. 

Menurut Ara Sirait, PDIP menempuh sikap kompromistis, karena mengakui 
ke­piawaian Darmin dalam masalah perbankan. Ia merasa puas karena penerimaan 
Darmin disertai "catatan", antara lain kesediaannya me­ngundurkan diri manakala 
terbukti bersalah dalam skandal Bank Century. Lagi-lagi, Gayus Lumbuun tidak 
bisa menyembunyikan kekesalan dan kekecewaannya. Menurut Gayus, catatan yang 
diberikan DPR sigfatnya hanya basa-basi!


Siapa Emir Moeis yang disebut-sebut Eva Sundari? Anggota DPR dari Fraksi PDIP 
ini memang kerap "masuk headline" koran-koran nasional. Ketika skandal Bank 
Century meledak pun, Emir disebut-sebut menerima aliran sejumlah dana dalam 
bentuk dolar. Berita itu dengan cepat ditepis Emir. Ia mengaku punya bisnis 
yang menggunakan jasa Bank Century. Dalam kasus travel cheque terkait pemilihan 
Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia, Miranda Goeltom, nama Emir Moeis pun 
disebut-sebut.


Mengapa Emir Moeis memerintahkan seluruh anggota Fraksi PDIP untuk mendukung 
Darmin Nasution? Benarkah perintah itu berdasarkan perintah Megawati 
Soekarnoputri, Ketua Umum PDIP? Kalau memang begitu, Ibu Mega harus memberikan 
keterangan sejelasnya kepada rakyat Indonesia, bukan sekadar kader-kader PDIP. 
Mengapa PDIP ikut-ikutan menerima Darmin, padahal Darmin termasuk salah satu 
pejabat tinggi Bank Indonesia yang dicecar Pansus Bank Century tempo hari?   
Sebagai partai politik yang mengklaim sebagai pembela wong cilik (perhatikan 
tatkala Ibu Mega berpidato dengan berapi-api), masyarakat berharap supaya PDIP 
benar-benar konsisten membela kepentingan rakyat kecil. Jangan pernah goyah 
dengan visi dan misi partai. Atau PDIP selama lima tahun terakhir diam-diam 
memang sudah bergeser haluan, setidak-tidaknya menjadi partai oportunis yang 
menyandarkan gerak-geriknya pada "haluan angin"?

Penulis adalah seorang kolumnis.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke