http://www.suarapembaruan.com/index.php?modul=news&detail=true&id=22660
2010-08-07 Tanggul Penahan Lumpur Lapindo di Jatirejo Jebol [SURABAYA] Tanggul penahan lumpur Lapindo di titik 21 sisi barat Desa Jatirejo, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur, Jumat (6/8) pukul 17.00 jebol. Lumpur terus mengalir dan tinggal lima meter lagi akan menggenangi rel kereta api (KA) dan delapan meter ke arah Jalan Raya Porong. "Jebolnya tanggul akibat over topping, antara lumpur dan bibir tanggul tidak ada elevasi," kata Juru Bicara Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS), Achmad Zulkarnaen, kepada SP, di Surabaya, Sabtu (7/8) pagi. Menurut Zulkarnaen, volume cukup besar sehingga tanggul penahan lumpur tidak mampu menampung semburan dan luberan lumpur. Penyebabnya adalah pengaliran lumpur ke Kali Porong tidak maksimal karena pada musim kemarau lumpur cepat memadat. Dari kali tersebut, lumpur akan mengalir ke Selat Madura. Berdasarkan pengamatan SP, aliran air di Kali Porong, yang merupakan anak Sungai Brantas mengecil. Akibatnya, lumpur yang dialirkan ke Kali Porong juga mengeras, disebabkan tidak bisa terbawa air kali menuju Selat Madura. Tahun lalu, ketika musim kemarau, buangan lumpur di kali tersebut mengeras sampai menyumbat tiga perempat lebar kali. Dikatakan, untuk mengatasi agar tidak jebolnya tanggul, pekerja BPLS melakukan penyumbatan menggunakan kantong berisi pasir. Penempatan kantong di lokasi yang jebol menggunakan alat berat. Lumpur di titik tersebut masih cair, karena berdekatan dengan lokasi semburan utama lumpur. Semburan lumpur mencapai rata-rata 70.000 meter kubik per hari. "Kami melakukan penyumbatan, untuk melindungi agar luberan lumpur tidak menggenangi rel KA dan Raya Porong. Semoga upaya kami berhasil," kata Zulkarnaen. Seperti diberitakan, lumpur panas bercampur gas pertama kali menyembur pada 29 Mei 2006. Selama kurun waktu empat tahun, lokasi penampungan lumpur mencapai 700 hektare. Lahan seluas itu semula milik 13.000 warga yang saat ini sudah tenggelam lumpur. Ganti Rugi Sementara itu, puluhan warga korban lumpur asal Desa Renokenongo, Porong, melakukan aksi unjuk rasa di halaman Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sidoarjo. Mereka membawa serta anak di bawah usia lima tahun. Karena kedatangan warga terlalu siang pukul 14.15 WIB, maka tidak bisa ditemui anggota dewan. Juru bicara warga, Zainul Arifin kepada wartawan mengatakan, korban lumpur kecewa karena proses ganti rugi sampai sekarang belum tuntas. Sebanyak 300 pemilik lahan dan bangunan belum menerima ganti rugi 80 persen yang dilakukan dengan cara angsuran. "Selama empat bulan terakhir, kami belum menerima angsuran ganti rugi 80 persen, yang dibayar Rp 15 juta per bulan," kata Zainul. Menurut Zainul, banyak warga korban lumpur Lapindo asal Renokenongo, yang sebagian besar hidup dengan cara bertani, sekarang menganggur. Beberapa di antara mereka menjual teh, kopi yang dibungkus plastik, tahu goreng, kacang goreng dan, beragam jenis penganan lainnya, untuk menyambung hidup. Sebagian lagi membeli lahan untuk permukiman. Tetapi, karena kebiasaan mereka hidup dengan cara bercocok tanam, maka di tempat permukiman yang baru mereka umumnya menganggur. [080] [Non-text portions of this message have been removed]

