Cerita Fantastis "Terorisme", terlalu Banyak Klaim Meragukanby Farid Gaban on
Thursday, August 12, 2010 at 12:24am
Penggerebegan
tersangka teroris di Cibiru, Bandung, pada 7 Agustus 2010, menjadi
perhatian luas media massa, tak hanya media dalam negeri melainkan juga
internasional. Penggerebegan itu dilakukan hampir bersamaan dengan
pernyataan Presiden Yudhoyono bahwa nyawanya terancam teroris, serta
penangkapan Abu Bakar Baasyir, ulama yang pernah diadili dengan tuduhan
mendalangi aksi terorisme Jemaah Islamiyah, yang tak terbukti di
pengadilan. Polisi, untuk kesekian kalinya, menyebut Baasyir sebagai
pemimpin Al Qaidah Asia Tenggara. Polisi memiliki cerita yang fantastis. Dalam
penggerebegan di Bandung, menurut Humas Mabes Polri Edward Aritonang,
polisi menemukan bukti bahwa teroris Jemaah Islamiyah sedang
merencanakan kejahatan besar berskala luas: membunuh presiden;
meledakkan Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia di Jalan
Trunojoyo, Jakarta; menghancurkan Markas Brimob di Kelapa Dua, Depok;
meledakkan sejumlah kedutaan besar (Amerika, Australia dan Inggris);
serta meledakkan sejumlah hotel internasional. Cerita fantastis. Jika klaim
polisi itu benar. Polisi
mendukung cerita fantastis itu dengan beberapa klaim tambahan.
Sepertinya sejumlah klaim itu sangat meyakinkan. Tapi, nanti dulu.... KLAIM
1:Polisi
mengatakan rumah kontrakan di Cibiru, Bandung, itu merupakan
laboratorium pembuatan bom yang akan dipakai untuk aksi berbagai macam
kejahatan tadi. MASALAHPolisi sempat meledakkan
bom milik tersangka teroris di rumah kontrakan yang digerebeg sebelum
menunjukkan bekas ledakan kepada para wartawan. Sejauh yang kita baca
dari berita-berita media massa tentang ini, dampak ledakan sangat
rendah. Ini juga berlawanan dengan KLAM 2. Jika bom itu benar demikian
dahsyat, yang katanya bisa menghancurkan gedung berlantai dua,
bijaksanakah polisi meledakkannya di tengah permukiman banyak penduduk? KLAIM
2:Polisi
mengatakan menemukan sejumlah bahan kimia, terutama NATRIUM KHLORIT,
yang dikatakannya bisa dibuat bom yang memiliki daya ledak lebih
dahsyat dari "bom plastik" C-4, atau yang dikenal juga sebagai RDX, bom
yang biasa digunakan militer. MASALAHNatrium
khlorit, atau sodium chlorite (NaClO2), tidak dikenal sebagai bahan
pembuat bom. Dia dikenal dalam industri tekstil dan bubur kertas
sebagai pemutih. Atau dalam industri makanan dan obat sebagai bahan
pembuat makanan suplemen. Jika bahan kimia ini bisa dibuat bom dengan
daya ledak lebih dahsyat dari C-4, banyak angkatan bersenjata dunia,
termasuk TNI, sudah lama beralih dari menggunakan C-4 yang mahal dan
harus diimpor. KLAIM 3:Polisi mengatakan telah
menyita mobil Mitsubishi Galant yang akan dipakai sebagai pembawa bom,
"bom mobil" untuk meledakkan sasaran operasi. MASALAHJika
mobil Mitsubishi Galant itu merupakan barang bukti kejahatan yang
penting, mengapa sampai 11 Agustus, empat hari setelah penggerebegan,
mobil itu masih teronggok di tempatnya semula di Cibiru,
Bandung? KESIMPULANPolisi
telah membuat cerita yang kedengaran "too good to be true" tentang
terorisme. Cara polisi melebih-lebihkan drama penggerebegan dan
melebih-lebihkan ancaman terorisme justru memunculkan kecurigaan ketika
polisi sendiri nampak tak peduli pada barang bukti yang katanya penting. Polisi
memiliki cerita besar, tapi tidak teliti dalam detil, misalnya tentang
natrium khlorit itu, yang membuat klaim polisi layak diragukan. PERAN
MEDIAPolisi
senantiasa percaya diri membuat klaim yang meragukan, bahkan berbohong,
karena mereka tahu wartawan/media takkan bertanya. Media disibukkan
oleh klaim polisi dari hari ke hari, yang mereka lahap hampir tanpa
pertanyaan, termasuk kejanggalan-kejanggalan kecil seperti yang sudah
disebut di atas. Wartawan dan media tenggelam dalam timbunan klaim
polisi, tanpa pernah peduli untuk mengurainya.
[Non-text portions of this message have been removed]