KESEJAHTERAAN yang datang dari KEMERDEKAAN sebagai hasil dari KEKUASAAN yang harus dibeli dengan UANG hasil dari JUAL DIRI.
Mungkinkah "sejahtera" kalau kita sudah tidak lagi punya "harga-diri"? M. Salim ________________________________ From: khairuddin siregar <[email protected]> To: [email protected] Sent: Sun, August 15, 2010 3:25:45 AM Subject: Re: [ppiindia] Kemerdekaan Hanya Milik Politisi RENUNGAN BAGI KITA MENGHADAPI HUT KEMERDEKAAN YANG SUDAH KE 65 ....65......65.....65..........65 --- On Sat, 14/8/10, sunny <[email protected]> wrote: From: sunny <[email protected]> Subject: [ppiindia] Kemerdekaan Hanya Milik Politisi To: [email protected] Date: Saturday, 14 August, 2010, 11:56 PM Refleksi : Kalau kemerdekaan hanya milik politisi, maka kesejahteraan pun milik mereka. http://www.jpnn.com/index.php?mib=berita.detail&id=70164 Sabtu, 14 Agustus 2010 , 17:17:00 Kemerdekaan Hanya Milik Politisi JAKARTA -- Pengamat ekonomi Faisal Basri berpendapat, mayoritas bangsa ini belum menikmati kemerdekaan. Dikatakan, para petani dan buruh yang jumlahnya sekitar 82 persen dari seluruh rakyat Indonesia, hidupnya masih dipenuhi kecemasan. Dia memberi contoh, dalam dua tahun belakangan kecemasan mendera para petani karena gagal panen. "Ketika gagal panen, petani tak ada asuransi, habis sudah modalnya. Sedang buruh tak punya job security. Hari ini kerja besok bisa dipecat. Bagaimana mereka bisa merdeka bila hanya untuk memikirkan besok saja, dadanya berdegup," ujar Faisal Basri dalam diskusi bertema" Merdeka Tapi Cemas" di Warung Daun, Cikini, Jakarta, Sabtu (14/7). Menurut Faisal, kemerdekaan hanya dinikmati dua kelompok saja, yakni politisi dan orang-orang Orde Baru. Politisi punya kebebasan untuk bersuara dan memperebutkan jabatan-jabatan politik. Dan orang-orang Orde Baru, lanjutnya, karena masih kuat logistiknya, mereka bisa memenangkan perebutan jabatan-jabatan politik. "Dulu mereka menguras uang negara, sekarang berpesta untuk merebutkan jabatan-jabatan politik," kata Faisal. Koordinator Gerakan Indonesia Bersih (GIB), Adie Massardie, menambahkan, selain sekitar 82 persen rakyat masih cemas memikirkan kebutuhan sehari-hari, "Yang di dapur pun bisa mati kena ledakan (gas elpiji, red). Kesejahteraan dan keadilan, masih sangat jauh." (sam/jpnn) [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed]

