17/08/2010 - 02:26

                                                
                                                           
                                                        
                                                
                                                
                                                
                                                                                
                Hendrawan Supratikno
                                                Paradigma Anggaran SBY Persis 
Pak Harto
                                                
                                                
                                                
                                                
                                                
                
                        
                        Hendrawan Supratikno
                
                
                                                         INILAH.COM,
Jakarta - Presiden SBY telah membacakan RAPBN 2011 teladengan anggaran
belanja lebih dari Rp1.200 triliun. Namun apa yang tertuang tak ubahnya
meniru gaya pemerintahan Pak Harto. 
Politikus PDI Perjuangan Hendrawan Supratikno mengibaratkan RAPBN
2011 tak ubahnya bayi yang akan berlari namun kakinya diikat. Menurut
Hendrawan, utang yang masih menjadi andalan pembiayaan RAPBN 2011 tak
ubahnya tali yang mengikat bangsa ini untuk maju. 
“Itu menunjukkan bahwa kapasitas perekonomian kita untuk maju dan
mandiri sudah tersedot utang. Kalau tidak ada beban utang maka
kapasitasnya untuk mandiri, bisa lebih dinamis,” ujarnya kepada pers
termasuk R Ferdian Andi R dari INILAH.COM di gedung DPR, Jakarta, seusai Sidang 
Paripurna DPR, Senin (16/8). Berikut wawancara lengkapnya: 


Apa komentar Anda atas pidato Presidne terkait dnegan RAPBN 2011 dan nota 
keuangan? 
Yang disampaikan itu kan masih garis besar, tapi ada peningkatan
pengeluaran pemerintah. Harapannya RAPBN ini lebih efktif untuk
menciptakan dorongan fiskal, agar pertumbuhan ekonomi dapat bergerak
cepat.

Bagaimana dengan utang sebagai salah satu sumber RAPBN 2011? 
Memang utang kita masih tetap, meskipun porsinya turun menjadi 1,7 %
dari PDB, tapi tetap kita tidak bisa lepas dari kecanduan dan
ketergantungan dari utang. 
Yang menarik untuk bunga utang itu sebesar Rp116 triliun, lebih
besar dari anggaran pendidikan, kesehatan dan pertahanan. Anggaran yang
diterima oleh ketiga kementrian ini, sama dengan cicilan bunga utang,
itu baru cicilan bunga, belum cicilan pokoknya.

Apa maknanya itu? 
Itu menunjukkan bahwa kapasitas perekonomian kita untuk maju dan
mandiri sudah tersedot oleh utang. Kalau tidak ada beban utang seperti
itu maka kapasitasnya untuk mandiri, bisa lebih dinamis.

Bukankah RAPBN 2011 ada peningkatan dibanding dengan APBN 2010?
Ada peningkatan karena pengeluaran belanja kita sudah di atas
Rp1.200 triliun. tapi kapasitas kita itu ibarat bayi yang mau berlari
namun kakinya dikasih tali, sehingga tidak bisa lari dengan benar
karena diikat oleh utang. Ini memprihatinkan dan menyakitkan sebagai
bangsa.

Bagaimana secara umum atas penilaian Pidato RAPBN 2011 oleh Presiden SBY?
Pemerintah masih pada pola lama, dalam Kabinet Indonesia Bersatu
(KIB) II ini sama dengan acara rutin yang dibuat Pak Harto. Perubahan
strategi mendasar itu tidak ada dalam enam tahun terakhir. 
Saya khawatir, kita sedang mengulangi ritual yang sama sampai dengan
24 tahun ke depan dengan krisis yang sama pula. RAPBN 2011 ini juga
tidak ada perubahan strategi kepada pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA).

Mestinya harus dikatakan bahwa tahun depan kita harus terapkan
domestik market obligasi untuk energi dan batubara, sehingga
industrialisasi kita menjadi kuat. Kita menggunakan strategi industri
hulu hilir sehingga mampu memenuhi kebutuhan.

Lalu apa yang menjadi titik kesamaan Pak Harto dan SBY? 
Ini adalah strategi yang sama yang dilakukan pak Harto, yang
sepotong demi sepotong, tapi begitu melewati gelombang yang besar, kita
akan habis. Jadi paradigmanya sama seperti yang lama. Kita hanya
mengulangi jebakan yang sama. [mdr]
                                                
                                                



 



  






      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke