Tulisan ini juga disajikan dalam website http://umarsaid.free.fr

yang sampai sekarang sudah dikunjungi  lebih dari  634  610  kali



 = = = =   = = =   = = =



Republik Indonesia yang kacau-balau,

resah, dan kehilangan arah



Jalan revolusi rakyat adalah  satu-satunya cara

untuk mengadakan perubahan besar-besaran





Peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus sudah lewat beberapa hari.  Kiranya
selayaknyalah  kalau kita semua berusaha merenungkan bersama-sama tentang
berbagai hal yang berkaitan dengan Negara  dan Bangsa, baik di masa-masa
yang lalu, masa sekarang, maupun di masa-masa yang akan datang. Selanjutnya,
sesudah umur 65 tahun, apa jadinya Republik kita yang mempunyai penduduk
sebanyak lebih dari 238 juta ini ?



 Sungguh banyak betul hal-hal besar dan penting mengenai negara dan bangsa
yang perlu dan bisa kita renungkan bersama-sama atau kita telaah. Bahkan,
terlalu banyak, terlalu beragam, dan terlalu parah, juga terlalu ruwet,
sehingga sering sekali timbul kebingungan untuk memilih mana sajakah atau
apa sajakah  yang lebih urgen untuk ditelaah dan ditangani lebih dulu.



Kiranya, berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah -- dan sekarang
uga  --kita sudah bisa meramalkan bahwa situasi tidak akan banyak berubah di
masa dekat ini. Banyak soal besar dan parah akan tetap sami mawon, alias
masih akan tetap begitu-begitu juga. Kerusakan moral dan kebejatan akhlak
atau kebusukan iman akan tetap merajalela dan menjadi sumber segala macam
penyakit parah bangsa. Korupsi yang meluas di seluruh negeri akan tetap
sulit diberantas, dan penegakan hukum akan terus dilecehkan dan
diinjak-injak oleh banyak kalangan.



Negara  kita sekarang dalam keadaan kacau-balau



Pada macam-macam kesempatan banjak tokoh Indonesia sudah menyatakan dengan
berbagai cara, dan beragam nuansa (dan isi) tentang seriusnya keadaan bangsa
dan negara kita dewasa ini. Umpamanya, mantan Presiden Megawati mengecam
secara pedas sekali bahwa negara kita sekarang kacau balau.



Dalam memperingati Hari Kemerdekaan 17 Agustus sekarang ini perlulah kiranya
kita perhatikan apa yang ditulis oleh Kwik Kian Gie, seorang ekonom
Indonesia, yang pernah menjabat Menko Ekonomi dalam pemerintahan Presiden
Abdurrachaman Wahid, mantan Ketua Bappenas, dan Ketua Litbang PDI-P. Antara
lain ia menyatakan bahwa Indonesia dewasa ini sudah kembali menjadi JAJAHAN
ASING. Populernya sering disebut sebuah koloni baru kaum imperialis. Ia
memberikan analisis yang sangat tajam tentang sebab-musabab mengapa negeri
kita sampai jadi begini. Dipaparkannya dengan jelas tentang: Sejarah
Penguasaan Ekonomi Indonesia oleh Kekuatan Asing dan Kelompok Berkeley
Mafia.



Pengamat ekonomi Faisal Basri mengatakan bahwa majoritas bangsa Indonesia
masih belum menikmati kemerdekaan. Menurutnya, para petani dan buruh yang
jumlahnya sekitar 82 persen dari seluruh rakyat Indonesia, hidupnya masih
dipenuhi kecemasan.



Mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli menilai, setelah 65 tahun kemerdekaan,
bangsa Indonesia kini sedang berada di ujung tanduk, dipenuhi
ketidakpastian, dan ketidakmenentuan yang mengombang-ambingkan masa depan
seluruh bangsa Indonesia.  “Negeri Indonesia adalah negeri yang kaya raya,
negeri yang dipenuhi oleh segala macam sumber daya alam. Tapi kita masih
saja terpuruk bahkan akhir-akhir ini rakyat Indonesia yang berjumlah 230
juta jiwa ini hanya dijadikan pasar bagi produk-produk bangsa lain”
ungkapnya. «Sekarang ini kita memiliki pemimpin, tetapi tidak ada
kepemimpinannya,” Kata Rizal Ramli,



Solahudin Wahid mengungkapkan bahwa Indonesia adalah negara yang lemah,
terutama tatkala presiden Soekarno digulingkan oleh Soeharto. “Negara telah
banyak abai terhadap rakyat. Lumpur menyembur, pemerintah diam. Kekerasan
atas nama keyakinan terjadi, pemerintah diam. Pendidikan kita tertinggal,
pemerintah juga hanya diam saja,”



 Frans Magnis Suseno menyoroti banyaknya ketidakberesan dalam kebijakan
ekonomi dan politik yang diambil pemerintah. Hal ini tercermin dari fakta
masih banyaknya anggota masyarakat yang belum terlindungi dalam menjalankan
keyakinannya, serta munculnya banyak kasus korupsi yang muncul secara terus
menerus setiap hari. “Setiap orang belum memperoleh jaminan untuk
menjalankan keyakinannya bebas dari rasa takut,” ungkap Romo Magnis.



Koordinator Gerakan Indonesia Bersih (GIB), Adie Massardie, mengatakan
selain sekitar 82 persen rakyat masih cemas memikirkan kebutuhan
sehari-hari, kesejahteraan dan keadilan masih sangat jauh.



Negara kita sebenarnya belum merdeka sepenuhnya


Yang tersebut di atas itu adalah hanya baru sebagian kecil sekali saja dari
pendapat tokoh-tokoh dari berbagai kalangan dan golongan, tentang situasi
negara dan bangsa ketika kita semua merayakan Hari Kemerdekaan 17 Agustus
yang ke 65. Dapatlah kiranya dikatakan bahwa banyak sekali kalangan dalam
masyarakat  yang menganggap bahwa negara dan bangsa kita sebenarnya belum
merdeka sepenuhnya. Ada yang berpendapat bahwa tujuan proklamasi 17 Agustus
sudah diselewengkan atau dikhianati sejak digulingkannya presiden Sukarno
oleh Suharto dan konco-konconya dan didirikannya rejim militer Orde Baru.



 Peran, tanggungjawab, dan dosa Suharto bersama jenderal-jenderalnya, yang
sudah menjadikan negara kita menjadi jajahan tipe baru oleh imperialisme
atau neo-liberalisme (terutama AS) adalah maha besar dan maha berat.
Suharto-lah bersama konco-konconya dari kalangan militer, Golkar,
partai-partai reaksioner yang anti Bung Karno (terutama dari golongan Islam
waktu itu) telah membuka pintu lebar-lebar untuk mengundang modal asing
besar-besaran sejak tahun 1967. Akibatnya, adalah seperti yang sama-sama
kita saksikan dewasa ini di seluruh negeri..



Banyak sekali para pakar, cendekiawan, dan tokoh-tokoh yang mengatakan
bahwa hampir semua sumber daya alam dan aset bangsa dikuasai oleh asing.
Yang tersisa adalah kemiskinan dan kita jadi penonton di negeri sendiri.
Jelaslah sekali  bahwa keadaan negara dan bangsa yang seperti sekarang ini
sama sekali bukanlah yang dinginkan oleh Bung Karno dan bukan pula yang
dicita-citakan oleh proklamasi 17 Agustus 45.



Sosok Bung Karno sebagai pemimpin besar bangsa menonjol kembali


Yang layak untuk kita perhatikan bersama yalah bahwa dalam peringatan hari
kemerdekaan kali ini, sosok agung Bung Karno menjadi menonjol kembali
sebagai proklamator (bersama Bung Hatta) , dan sebagai pemimpin besar rakyat
Indonesia. Sebaliknya, nama atau sosok Suharto, yang selama 32 tahun pernah
disanjung-sanjung setinggi langit,  boleh dikatakan tidak terdengar sama
sekali pada kesempatan yang sepenting itu.



Dan perkembangan semacam itu bisalah dimengerti dan wajar pula. Sebab,
kelihatannya, sekarang makin banyak orang yang lebih mengenal perbedaan
antara Bung Karno Suharto, yang boleh digambarkan sebagai perbedaan antara
gunung Himalaya dengan secuwil kecil batu kerikil yang bernama Suharto. Atau
Bung Karno sebagai raksasa sedangkan Suharto sebagai makluk kerdil yang
kecil sekali.



Sekarang menjadi makin jelas juga bagi banyak orang bahwa Suharto adalah
pengkhianat besar terhadap Bung Karno, pengkhianat besar terhadap revolusi
rakyat yang dipimpin oleh Bung Karno, pengkhianat besar terhadap seluruh
kekuatan revolusioner Indonesia, pengkhianat besar terhadap  jiwa yang asli
Pancasila, pengkhianat besar  terhadap dasar-dasar Bhinneka Tunggal Ika (ma’
af, para pembaca, atas pemakaian kata « pengkhianat besar » yang
berkali-kali, namun begitu itulah hakekat yang sebenarnya !)



Kejahatan, kesalahan besar, dan dosa berat Suharto terhadap itu semuanya,
merupakan aib bangsa Indonesia, yang tidak bisa  - dan tidak boleh sama
sekali  -- dihilangkan dari sejarah bangsa, dan perlu diketahui dan
diingat-ingat terus-menerus oleh kita semua, termasuk anak-cucu kita di
kemudian hari.



Pengkhianatan Suharto terhadap Bung Karno melumpuhkan revolusi rakyat


Sebab, pengkhianatan Suharto (bersama-sama konco-konconya di dalam dan luar
negeri) telah merusak, melumpuhkan, atau membunuh jiwa perjuangan
revolusioner rakyat Indonesia yang telah dipupuk, dikobarkan dan dipimpin
oleh Bung Karno selama puluhan tahun. Pengkhianatan Suharto terhadap Bung
Karno telah menyebabkan lumpuhnya atau berhentinya (walaupun untuk
sementara) revolusi Rakyat Indonesia, sehingga keadaan negara dan bangsa
Indonesia menjadi serba semrawut, serba membusuk, dan serba rusak seperti
yang kita saksikan sekarang ini.



Jelaslah bagi kita semua bahwa keadaan yang begini menyusahkan atau
memprihatinkan sebagian terbesar rakyat kita ini tidak bisa dan tidak boleh
kita biarkan berlangsung terus-menerus. Sebab, sudah terlalu lama, sudah
lebih dari 45 tahun,  rakyat kita tetap hidup sengsara, sedangkan segolongan
kecil  sekali dari bangsa kita hidup mewah, dan bermandikan harta haram dari
berbagai macam kejahatan.



Usul untuk memperpanjang jabatan SBY sebagai presiden


Apalagi, (sekali lagi : apalagi ! ) sekarang ada seorang politikus DPR  dari
Partai Demokrat (Ruhut Sitompul) yang mengusulkan supaya masa jabatan SBY
sebagai presiden bisa diperpanjang sampai tiga masa jabatan. Kalau usul ini
diterima oleh lembaga-lembaga yang bersangkutan, maka itu berarti bahwa
kekuasaan SBY yang sekarang saja sudah mendapat kecaman-kecaman pedas dari
banyak fihak, akan terus mengangkangi kursi kepala negara selama 15 tahun
!!! Kalau begitu, maka harapan akan terjadinya perubahan-perubahan besar dan
mendasar akan amblas sama sekali. Nantinya, kita akan sama-sama menyaksikan
bahwa usul semacam ini akan berbuntut panjang dan menuai perlawanan yang
besar dari banyak fihak.



Di samping itu semua, pakar atau ahli atau tokoh yang mana sajakah yang
masih bisa diharapkan mengatasi kebobrokan yang sudah begitu meluas dan
menyembuhkan penyakit-penyakit yang begitu parah, yang sudah puluhan tahun
menyerang rakyat kita ? Pemerintah atau partai-partai manakah yang selama
ini sudah memerintah bertahun-tahun masih bisa terus diharapkan lagi akan
berbuat sesuatu untuk mengadakan perubahan besar-besaran dan fundamental ?
Program baru  apa sajakah atau rencana baru macam  apakah atau sistem
bagaimanakah  yang bisa diajukan oleh orang-orang yang  selama ini sudah
bekerja untuk berbagai pemerintahan sejak Orde Baru sampai sekarang ?



Tidak mungkin ada perubahan besar dan fundamental di negeri kita selama
sistem pemerintahan dan segala sistem yang berkaitan dengan sosial ekonomi
masih tetap berbau-bau sisa-sisa Orde Baru, dan dan masih tetap dikeloni
oleh kekuatan neo-liberalisme. Dan keadaan yang menyedihkan bagi kepentingan
rakyat itu bisa masih bisa berlangsung  terus-menerus, entah sampai kapan.
Segala macam jalan dan cara yang sudah ditempuh selama 45 tahun sejak masa
Orde Baru sampai sekarang sudah menunjukkan kegagalan besar.



Perlu ditempun jalan lain untuk merubah keadaan


Sekarang makin jelaslah kiranya bahwa untuk bisa mengadakan
perubahan-perubahan besar dan fundametal perlu ditempuh jalan lain, sebab
semua jalan lama sejak ORDE Baru adalah jalan buntu untuk mencapai tujuan
masyarakat adil dan  makmur yang dicita-citakan proklamasi 17 Agustus 45 .



Jalan lain itu adalah jalan revolusi rakyat, yang sudah pernah digerakkan
dan dikobarkan di bawah pimpinan Pemimpin Besar Revolusi (PBR) Bung Karno
dengan gemilang dan mendapat dukungan besar dari seluruh kekuatan
revolusioner di Indonesia pada waktu itu. Revolusi rakyat Indonesia yang
pernah menjadi kebanggaan rakyat Indonesia, dan rakyat-rakyat Asia-Afrika
serta rakyat progresif sedunia inilah yang telah dilumpuhkan oleh Suharto
beserta konco-konconya di dalam negeri dan luar negeri.



Jalan revolusi rakyat yang ditunjukkan Bung Karno adalah jalan untuk
menjebol secara besar-besaran segala hal yang tidak menguntungkan rakyat dan
menggantikanya dengan yang baru yang menguntungkan rakyat. Revolusi rakyat
menurut ajaran-ajaran revolusioner Bung Karno adalah serentetan destruksi
untuk digantikan dengan konstruksi, atau penjebolan dan diganti dengan
pembangunan, dalam segala hal yang berkaitan dengan bangsa dan negara.



Sekali lagi, dan unruk mengulangi kesekian kalinya, mengingat banyaknya
hal-hal yang perlu dijebol dan kemudian dibangun (destruksi dan konstruksi)
yang terdapat dalam situasi negara dan bangsa kita dewasa ini,  maka tidak
mungkin dipakai jalan lain kecuali jalan meneruskan revolusi rakyat yang
sudah pernah dilakukan oleh rakyat Indonesia di bawah pimpinan Bung Karno.



Untuk itu, seluruh kekuatan demokratik di Indonesia, atau seluruh kekuatan
progresif, yang menginginkan tercapainya masyarakat adil dan makmur, atau
semua kalangan dan golongan yang melihat adanya kebenaran-kebenaran dalam
ajaran-aajaran revolusioner Bung Karno, perlu bersama-sama mengusahakan
tergalangnya kekuatan untuk meneruskan revolusi rakyat.



Bermacam-macam kegiatan dan perjuangan perlu dilakukan dan berbagai cara dan
jalan perlu dicari untuk ditempuh guna menyusun atau membangun kekuatan
revolusi rakyat ini, yang bisa dilakukan oleh semua kalangan dan golongan
yang menginginkan adanya perubahan besar dan fundamental di negeri kita.



Membangun kekuatan rakyat untuk menggerakkan revolusi



Dari aksi-aksi atau kegiatan revolusioner yang bisa dilakukan oleh sebanyak
mungkin orang dari berbagai kalangan yang manapun, maka akan bisa didapat
berbagai pangalaman yang berharga, penting dan tepat untuk memilih pimpinan
gerakan masing-masing beserta para kader atau aktivis yang diperlukan.
Kegiatan atau perjuangan revolusioner  -- yang biasanya makan waktu lama dan
melalui proses yang tidak mudah juga -- adalah ibu yang akan melahirkan
pimpinan  serta para kader untuk revolusi rakyat, sesuai dengan
ajaran-ajaran revolusioner Bung Karno.



Mengingat besarnya pekerjaan penjebolan dan pembangunan terhadap apa-apa
yang lama yang sudah busuk dan penyakitan (antara lain sisa-sisa Orde Baru)
maka dalam penyusunan persiapan revolusi rakyat ini  perlu diutamakan tempat
bagi kalangan progresif dan revolusioner dari golongan generasi muda
(umpamanya mahasiswa, pemuda dan pemudi) , kaum buruh, kaum tani, kaum
wanita, dan golongan rakyat miskin lainnya pada umumnya.



Gerakan atau perjuangan penjebolan dan pembangunan (atau revolusi rakyat)
menurut ajaran-ajaran revolusioner Bung Karno   -- secara pelan-pelan dan
bertahap – akhirnya akan mendapat simpati dan dukungan dari berbagai
kalangan dan golongan  dalam masyarakat, seiring dengan makin naiknya
penghormatan terhadap kewibawaan integritas moral dan luhurnya gagasan
politik Bung Karno, seperti yang mulai kita saksikan bersama-sama dalam
memperingati Hari Kemerdekaan yang ke 65 baru-baru ini.



Itu semua menujukkan arah bahwa jalan revolusi rakyat, menurut ajaran-ajaran
Pemimpin Besar Revolusi (PBR) Bung Karno,  pada akhirnya akan ditemukan
kembali dan diteruskan oleh rakyat Indonesia,





Paris, 19 Agustus 2010



A. Umar Said



==========


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke