Kenapa Saya Pilih SBY ?. Pertanyaan di atas tak hanya ditujukan buat saya, tapi buat semuanya yang sudah milih SBY jadi presiden untuk kedua kalinya.
Saya kembali mengingat alasan-alasan apa yang membuat saya mutusin milih SBY waktu pemilu kemarin. Keputusan itu tak ada paksaan, tak ada intimidasi, apalagi sogokan. Semua itu bermuara dari pikiran yang jernih dan rasional. Dan berharap dalam hati, apabila kepilih, semoga SBY bisa membawa negeri ini ke arah yang lebih baik, ketimbang periode pertama. Harapan itu sekaligus opitimisme dan doa. Tak hanya saya yang berpendapat demikian, Ibu dan Tante saya juga. Kata Ibu saya, “Pilihan lain tak ada yang lebih baik selain SBY”. Kalau Tante saya lain lagi, malah dia cenderung mempengaruhi saya. Kata Tante saya, “SBY dari keluarga jujur, belum terkontaminasi seperti yang lain, mertuanya juga, Pak Sarwo Edhie, dikenal sebagai tokoh yang tegas dan jujur, kasi kesempatan buat SBY sekali lagi”. Demikian Tante saya berkampanye di depan saya. Itu dikatakan Tante saya beberapa menit sebelum saya pergi mencoblos di TPS. Kalau alasan saya sih lain lagi, selain punya calon wapres yang cerdas dan bukan dari partai, SBY saya anggap sebagai orang yang santun, tidak emosional, dan tegas. Ini pendapat pribadi saya waktu itu, pasti pendapat ini bertolak belakang dengan yang lain, dan pastinya demikian. At last, akhirnya, dengan penuh keyakinan dan kemantapan, saya pun datang ke TPS, dan dengan sukses mencoblos SBY untuk menjadi presiden kedua kalinya. Hasil quick count saya pantau terus di beberapa stasiun televisi. Hasilnya, SBY keluar sebagai pemenang dengan jumlah pemilih yang lumayan banyak. Suka cita pasti, meski saya tak punya hubungan dekat dengan SBY, cuma kenal lewat media massasemata. Kini, sudah setahun lebih SBY jadi presiden. Ternyata, harapan yang saya gantungkan pada beliau setahun lalu seperti pungguk merindukan bulan, jauh panggang dari api. Kenyataan-kenyataan yang terjadi belakangan ini tak membuat negeri ini jadi lebih baik. Jangankan kesejahteraan rakyat yang meningkat, korupsi pun makin sulit diberantas. Kriminalisasi KPK, kasus Century, dan pemberian remisi pada koruptor merupakan indikator yang menunjukkan hal itu. Belum lagi masalah kemiskinan, pengangguran, penerapan hukum yang timpang, masalah kedaulatan, dan sebagainya. Barangkali terlalu dini untuk mengatakan kalau SBY itu gagal jadi penguasa, karena masih ada kesempatan empat tahun lagi untuk memperbaiki hal itu. Dan sebagai rakyat kecil, saya masih menyimpan harapan, meski harapan itu makin memudar tiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, dan tahun. Bless you. *** Kenapa Saya Pilih SBY? http://politik.kompasiana.com/2010/08/21/kenapa-saya-pilih-sby/ *** Dalam Demokrasi Ini, Haruskah Kita Bertanggung-Jawab Dengan Pilihan Itu ?. . . . Boleh jadi !. Tapi sejauh mana ?. . . . . Kerap kita disalahkan ketika pemimpin yang kita pilih ternyata tidak amanah dan melenceng dari kebaikan yang dia janjikan. Lalu siapa yang harus bertanggung jawab ?. Kita yang memilihnya atau dia yang minta dipilih dengan pesona tampilan dan manisnya janji-janji yang dia hamburkan selama kampanye. . . . . Sesungguhnya kita tidak memilih benda mati, sebuah polpen misalnya. Dari transparannya kita bahkan tahu ballpoint itu berisi penuh, sedikit atau tidak bertinta sama sekali; dan bisa langsung dicoba bagus tidak goresannya. . . . . Tapi dalam demokrasi langsung ini yang kita pilih adalah orang. Boleh jadi dia baik sebelum kita pilih, tidak korupsi misalnya hanya karena belum teruji dalam lahan(jabatan) yang korup. Juga dia kelihatan amanah dan kompeten selagi di luar, tapi berubah dan tidak mampu ketika sudah masuk dalam lingkaran sistem yang penuh dengan ujian dan tantangan, hak dan kewenangan, kesempatan yang tidak terkontrol, godaan kesenangan dan intrik yang mengancam. . . . . Terlebih kalau mereka yang kita pilih adalah serigala berbulu domba. Baik karena kita tidak punya kemampuan membedakan, maupun pilihan yang ada : yaa cuma serigala di antara serigala yang lain. Dan kita tidak punya pilihan, karena sekali pun kita tidak memilih tetap akan ada yang terpilih. . . . . Jadi, selamat bertanggung jawab, dan menanggung lara dengan pilihan yang tidak kita ambil !. *** Dalam Demokrasi Ini, Haruskah Kita Bertanggung-Jawab Dengan Pilihan Itu? http://politik.kompasiana.com/2010/08/21/41-dalam-demokrasi-ini-haruskah-kita-bertanggung-jawab-dengan-pilihan-itu/ *** Dengan meraih lebih dari 60% suara pemilih pada Pilpres 2009 yang lalu, terlihat bahwa sangat besar kepercayaan rakyat terhadap kepemimpinan presiden SBY. Dengan kepercayaan yang begitu besar seharusnya tidak ada keraguan SBY untuk memperjuangkan kesejahteraan rakyat Indonesiaini. Seharusnya tidak ada yang perlu ditakutkan SBY kepada pemilih yang 40 % nya lagi, yang terbagi kepada dua sosok lainnya. Yang perlu dilakukan SBY hanyalah menepati janji-janji yang pernah di ucapkannya dimasa kampanye dahulu. Tapi kenyataannya akhir-akhir ini kepercayaan rakyat itu semakin tergerus oleh gayakepemimpinan SBY yang tidak pro rakyat. Saya yakin SBY belum pikun untuk mengingat janji-janjinya di masa kampanye. Saya yakin SBY tidak tuli untuk mendengar keluhan dan aspirasi dari masyarakat Indonesiadi seluruh pelosok nusantara. Saya juga yakin SBY tidak bodoh dalam memilah mana yang aspirasi mana yang laporan asal bapak senang. Saya juga yakin SBY tidak buta melihat permasalahan yang dihadapi rakyatnya. Politik pencitraan menurut saya tidak perlu dilakukan, citra itu akan datang dengan sendirinya apabila janji-janji sudah dipenuhi, apabila rakyak semakin sejahtera, apabila rakyat merasakan langsung kebijakan-kebijakan pro rakyatnya. Bukan dengan mengeluarkan data-data yang semu. Bukan dengan pidato-pidato tentang kemajuan demokrasi di Indonesia, rakyat tidak makan demokrasi. Rakyat ini tidak bodoh untuk menilai mana yang pencitraan mana yang prestasi. Saya heran, apa sih yang ingin dikejar oleh pak SBY dengan kepemimpinannya ini !!!. Banyak permasalahan-permasalahn di Negara ini yang sebenarnya mudah untuk diatasi tapi di bikin susah oleh pemerintahan SBY yang tidak tegas. Misalkan kasus meledaknya tabung gas elpiji 3kg. Apa sih susahnya mengatasi hal seperti itu dengan kekuasaan seorang presiden yang begitu besar, tapi SBY membiarkan permasalahan itu bergulir semakin hari semakin parah sehingga menjadi semacam bencana nasional. Korupsi semakin hari semakin parah, bukannya berusaha untuk mengatasi masalah, malahan sibuk membentuk lembaga baru yang tugasnya saling tumpang tindih dengan lembaga yang sudah ada. Yang diperlukan itu bagaimana mengawasi dan membina lembaga yang sudah ada untuk dapat bekerja dengan baik bukan mengalihkan masalah dengan menimbulkan masalah baru. Tapi kalau masalah teroris kok cepat sekali reaksinya. Pertanyaannya ada apa dibalik kasus-kasus terorisme ini ?. Melihat semakin banyaknya masyarakat yang kecewa tehadap kepemimpinan SBY pada periode kedua ini, semakin jelaslah siapa presiden Indoesia yang sesungguhnya pada periode pertama. Rasanya tidak lah salah buya Syafi`I Ma`arif mengatakan ‘JK lah the Real Indoesian President’. Mungkin, sekali lagi ini hanya mungkin SBY sekarang sudah kembali lagi ke fitrahnya dari seorang kakek yang berubah menjadi seorang anak-anak. Yang selalu merasa di takuti-takuti oleh kritikan-kritikan dari berbagai pihak sehingga dia ingin meminta perlindungan kepada rakyat dengan cara curhat. Mungkin juga SBY lagi paranoid dalam hal terorisme yang katanya mengincarnya sehingga perlu mencurigai semua orang. Mungkin juga dalam pandangan SBY masyarakat ini sudah makmur dengan sesaknya Ibukota Negara dengan jumlah kendaraannya yang sudah tidak muat lagi di jalanan. Mungkin juga orang-orang disekeliling SBY ini sudah menjadi anjing penjilat yang hanya melaporkan semua permasalahan beres ditangani dan yang berkoar-koar itu hanyalah barisan sakit hati. Saya tidak tahu apakah politik pencitraan dan sifat paranoid ini akan bertahan sampai kapan. Yang saya yakin masyarakat semakin hari semakin tidak percaya dengan cara kepemimpinan seperti ini. Saya menyesalkan SBY telah menyianyiakan kepercayaan 60% rakyat Indonesiadengan hanya mensejahterakan segelintir orang seperti PNS, TNI, POLRI, anggota DPR, dan pegawai kementrian dan lembaga. Atau saya yang salah menilai dan berprasangka bahwa rakyat ini telah cerdas dalam memilih pemimpin. Yang sebenarnya rakyat yang 60 % memilih SBY itu ternyata suaranya dibeli, sehingga untuk mengembalikan modal tidak perlulah mereka diperhatikan toh mereka sudah dibeli. Biarkan saja rakyat ini berteriak. Salah sendiri kenapa mau dibeli dengan lembaran uang gambar soeharto. Wallahu`alam. *** SBY Sudah Tak Percaya Pada Rakyat http://politik.kompasiana.com/2010/08/21/sby-sudah-tak-percaya-pada-rakyat/ *** Menyimak perjalanan pemerintahan SBY periode ke-2 terasa berbeda dibandingkan periode pertama pemerintahannya. Walaupun telah dipoles sanasini dengan berbagai macam bentuk pencitraan tetap saja ada terasa kekurangannya periode sekarang ini dibandingkan dengan periode yang lalu. Kekurangannya tidak lain ketidaktegasan dan kelambanan SBY dalam menyikapi persoalan bangsa. Misalnya saja dalam menyikapi masalah bank Century, tabung gas 3 kg, masalah pengungkapan mafia kasus, dan yang terakhir penangkapan 3 orang petugas DKP oleh polis marin Malaysia. Menengok kembali ke belakang pada masa pemerintahan SBY periode pertama terasa sekali perbedaannya dengan sekarang. Walaupun banyak juga gejolak yang timbul, tapi dapat diredam oleh pemerintah dengan baik. Saya melihat ada satu tokoh yang berperan di balik kesuksesan pemerintahan SBY periode pertama. Siapa lagi kalau bukan Muhammad Jusuf Kalla yang dikenal dengan sebutan JK sebagai wakil presiden. Beliau ini sering pasang badan untuk menjaga citra pemerintahan SBY periode pertama. Setiap ada kebijakan pemerintah yang tidak populer seperti kenaikan harga BBM yang mengumumkan kepada masyarakat selalu JK. Giliran harga minyak turun baru SBY yang menyampaikan. Begitu juga kalau ada demo buruh, JK langsung menemui mereka untuk diajak berdialog. Beda dengan SBY yang kalau ada demo besar di istana selalu ke luar kota. Salah satu hal yang membuat saya kagum dengan JK ini yang saya baca dalam suatu media adalah ketika Amerika dilanda krisis 2 tahun yang lalu berliau pernah menawarkan bantuan kepada wakil presiden Amerika Serikat Joe Bidden, “Apa yang Indonesia bisa bantu bagi negara anda ?”. Kalimat ini sangat menyentuh rasa nasionalisme saya, JK telah menaikkan martabat bangsa Indonesiadi depan pemimpin negara adikuasa. Bandingkan dengan SBY, jangankan berhadapan dengan Amerika Serikat, menghadapi Malaysiasaja seperti kucing kena lidi. Sayangnya keberuntungan tidak berpihak kepada JK pada Pemilu 2009 yang, beliau kalah telak dari SBY yang dipilih oleh 60% lebih rakyat Indonesia. Walaupun yang 60% lebih itu akhirnya banyak juga yang mencak-mencak melihat kondisi sekarang, hendaklah terima apa adanya karena itulah resiko berdemokrasi. Ibarat membeli barang, maka lain kali telitilah sebelum membeli. Karena ketidak telitian dalam membeli maka konsumen dalam hal ini pemilih jadi kecewa. Bentuk fisik saja tidak cukup untuk menilai seseorang. Saya ibaratkan di sini jika rakyat disuruh memilih buah durian yang kulitnya berduri tapi isinya enak dengan buah kedondong yang kulitnya mulus tapi rasanya asem dan berduri. Eh, ternyata rakyat kita malah banyak yang memilih kedondong. Jadi benar kata pengamat politik pada waktu pemilu yang lalu bahwa “lanJutKan” tanpa JK akan jadi “lanutan”. Karena sekarang ini bukannya negara jadi lebih baik. Malah kacau balau mengutip pernyataan ketua umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Ketegasan dan kecepatan bertindak orang seperti JK ini sangat dibutuhkan sekarang ini dalam membangun karakter bangsa ini supaya kita tidak diremehkan oleh negara lain. Saat ini rakyat butuh kesejahteraan dan keadilan, bukan nyanyian seorang pemimpin yang peragu, lamban, suka mengeluh dan doyan curhat. Walaupun pak JK ini kalah ketika pilpres yang lalu, semangat pengabdiannya terhadap bangsa ini tetap tidak luntur. Malah sekarang beliau sekarang dipercaya menjadi ketua umum Palang Merah Indonesia, sebuah lembaga kemanusiaan yang memang tempat terbaik bagi beliau untuk mengabdikan diri. Membandingkan periode pemerintahan SBY sekarang dengan pemerintahan SBY periode 2004-2009, wajar saja dulu tokoh cendekiawan Buya Syafi`i Ma`arif mantan ketua PPMuhammadiyahmengatakan bahwa, “JK is the real presiden.” *** Ternyata Benar Apa yang Dikatakan Buya Syafi’i Ma’arif Dulu http://politik.kompasiana.com/2010/08/20/ternyata-benar-apa-yang-dikatakan-buya-syafii-maarif-dulu/ *** [Non-text portions of this message have been removed]

