*Kejujuran, Riwayatmu Dulu*

Sejak dulu kejujuran dipandang sebagai kualitas manusiawi dalam praktik-moral
sehari-hari. Di hadapan kepentingan sesaat, ia acap berperan
sebagai sikap protes.

Kejujuran dan kepentingan (apalagi politis) selalu bertubrukan dan
saling meniadakan.
Kemenangan salah satunya lebih ditentukan kadar idealisme individu. Makin
tipis, rapuh, dan pragmatis, pilihannya pasti jatuh pada kepentingan, vice
versa. Namun, faktanya, kejujuran sering dikalahkan oleh kepentingan.

Pada masa kini, tak mudah menemukan model kejujuran dalam arti penuh dan total.
Kecuali figur the chosen one dan diberkahi Tuhan. Manusia selalu dicederai
ketidakjujuran dalam hidupnya. Terlepas dari konteks metafisisnya,
ketidakjujuran
muncul sepanjang proses pengalaman, koeksistensi, dan interaksi
antarindividu.

Fenomena ini umumnya berbentuk reaksi (biasanya refleks) atas
stimulasi dan kondisi
yang melingkupi dan mengimpit. Sejenis mekanisme pertahanan diri dalam
bahasa psikologi.

Ketidakjujuran adalah sikap mengaburkan (atau kabur dari) kenyataan
demi mengelak
dari tekanan dan mengubur rasa cemas. Dalam bahasa Heideggerian, sikap ini
tergolong tidak otentik. M Scott Peck dalam People of the Lie menunjukkan
salah satu gejala ketidakjujuran, yakni menyerang dan mengorbankan lainnya
ketimbang menghadapi kekeliruan dan kegagalannya sendiri. Kecenderungan ini
muncul dari hasrat melindungi citra kesempurnaan dirinya.

Sementara kejujuran adalah eidos (spirit, esensi) yang menyembul, lalu
meresapi,
sekujur jiwa seseorang sebagai produk beragam faktor (pendidikan, lingkungan,
dan olah batin). Istilah Arabnya, malakah. Karena itu, dikotomi aksi-reaksi
tidak relevan dalam pemaknaan ini.

*Saat kejujuran dipasung
*
Secara filosofis, kejujuran merupakan nilai moral-transendental yang
selalu mendahului
sekaligus menyertai pengalaman. Di sini, ketidakjujuran dimaknai sebagai
absennya kejujuran. Saat kejujuran dipasung, saat itu pula ketidakjujuran
menggejala. Keduanya ibarat malam dan siang hari yang tak pernah bertemu di
satu titik cakrawala. Ketidakjujuran nihil, tak punya hakikat pada dirinya
(non-esensial) .

Kejujuran sebagai agathon-kalon (baik-luhur) adalah mekanisme rohani
yang spontan
berfungsi mengendalikan dan mencegah dilakukannya kekeliruan moral. Tindakan
amoral tak lain musuh abadi yang terus menggoda. Orang yang dikuasai
kejujuran akan antipati dan jijik terhadap polah amoral, serta tak pernah
sempat berfantasi tentangnya. Jadi, tanpa kejujuran, berperilaku sesuai
bisikan moral (maxim) hanya fantasmagoria.

Namun, kejujuran, seperti sikap moral lain, juga bisa "disalahgunakan"
, dimungkinkan
oleh agresi rasio yang mencerabut kejujuran dari
ketertanamannya dalam keseharian yang dihayati (lebenswelt) bersama.

Oleh rasio, kejujuran diabstraksi, diverbalisasi, dan diobyektivasi
habis-habisan
demi penjelasan dan pemahaman positivistik. Akibatnya,
kejujuran bukan lagi seni kehidupan yang praksis dan hangat, melainkan
sudah menjadi
bagian rezim teori dan wacana rasional. Immanuel Kant agaknya bisa disebut
pelopor proyek ini.

Oleh rasio, reproduksi kejujuran menciptakan alienasi. Ia berupa
formula saintifik
yang sistematis dan berjarak, bukan pengalaman pra-kognitif yang akrab dan
bersahaja. Sejenis saintisme kejujuran yang dibungkus rumus-rumus pikir.
Konsekuensi proses diskursif ini, individu berangsur-angsur terasing.

*Rasionalisasi kejujuran
*
Kejujuran versi pengetahuan (bukan primordial) ibarat sisi terang bola
Bumi yang
dibayangi sisi gelapnya. Pengetahuan yang punya kesiapan mengagumkan untuk
menjelajahi kerumitan dan detail objeknya, mampu menjelaskan apa yang dimaksud
dengan kejujuran.

Namun, penjelasan itu tak kurang menggiring kita dalam situasi
"keretakan" ontologis.
Pengetahuan memungkinkan kita mencerap makna dan logika kejujuran. Namun,
pada saat yang sama, kemampuan kita untuk mengalami dan menghayatinya kian
aus.

Dampak rasionalisasi kejujuran dalam kehidupan kolektif ternyata bukan
cuma bersifat
fenomenologis, tetapi juga teknologis. Bagi orang "pintar",
terlebih "berkuasa", fenomena ini memberi peluang untuk melegitimasi tindakan
melawan hukum atau kode moral.

Kejujuran yang berubah statusnya dari primordial, intensional, dan pra-kognitif
menjadi wicara dan kode pengetahuan- yang dikembangbiakkan di
ranah publik-rentan dijadikan "teknik" atau kedok ketidakjujuran.

Dalam konteks itu, perbedaan empiris antara ketidakjujuran dan
kejujuran menjadi
absurd, setidaknya tak bermakna. Tolok ukurnya hanya satu: keduanya bernilai
(pragmatis) sejauh melayani kepentingan (kuasa) sesaat.

Mulanya "apa itu kejujuran", lalu "apa dan bagi siapa makna, fungsi,
dan manfaatnya".
Kejujuran yang sudah didespontanisasi dan dikosongkan makna hayatinya
ujung-ujungnya sama belaka dengan ketidakjujuran.


-- 
Life for Success
Regards,
HENDRY RISJAWAN - YC0LKJ
Mind Motivator & Trainer


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke