--- noe idris <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > teddy diansyah <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Assalamu'alaykum. .. > > Ini gua mau bagi2 cerita ama loe-loe pade, > Semoga bermanfaat,dibawah ini ada artikel bagus > untuk > direnungi (buat yang belum baca). InysaAllah lebih > bagus kalau bisa menerapkannya. > > >> Selamat beribadah > > >> Selamat berkarya > > Kerja itu cuma selingan, Untuk menunggu waktu > shalat..." > > Ketika Pak Heru, atasan saya, memerintahkan untuk > mencari klien yang bergerak di bidang interior, > seketika pikiran saya sampai kepada Pak Azis. > > Meskipun hati masih meraba-raba, apa mungkin Pak > Azis > mampu membuat kios internet, dalam bentuk serupa > dengan anjungan tunai mandiri dan dari kayu pula, > dengan segera saya menuju ke bengkel workshop Pak > Azis. > > Setelah beberapa kali keliru masuk jalan, akhirnya > saya menemukan bengkel Pak Azis, yang kini ternyata > sudah didampingi sebuah masjid. Pak Azispun tampak > awet muda, sama seperti dulu, hanya pakaiannya yang > sedikit berubah. Kali ini dia selalu memakai kopiah > putih. Rautnya cerah, fresh, memancarkan kesan > tenang > dan lebih santai. Beungeut wudhu-an ( wajah sering > wudhu), kata orang sunda. Selalu bercahaya. > > Hidayah Allah ternyata telah sampai sejak lama, > jauh > sebelum Pak Azis berkecimpung dalam berbagai > dinamika > kegiatan Islam. Hidayah itu bermula dari peristiwa > angin puting-beliung, yang tiba-tiba menyapu > seluruh > atap bengkel workshop-nya, pada suatu malam > kira-kira > lima tahun silam. "Atap rumah saya tertiup angin > sampai tak tersisa satupun. Terbuka semua." cerita > Pak > Azis."Padahal nggak ada hujan, ngga ada tanda-tanda > bakal ada angin besar. Angin berpusar itupun cuma > sebenta saja." > > Batin Pak Azis bergolak setelah peristiwa itu. > Walau > uang dan pekerjaan masih terus mengalir kepadanya, > Pak > Azis tetap merasa gelisah, stres & selalu tidak > tenang. "Seperti orang patah hati, Ndra. Makan > tidak > enak, tidur juga susah."cerita Pak Azis lagi. > > Lama-kelamaan Pak Azis menjadi tidak betah tinggal > di > rumah dan stres. Padahal, sebelum kejadian angin > puting-beliung yang anehnya hanya mengenai bengkel > workshop merangkap rumahnya saja, Pak Azis merasa > hidupnya sudah sempurna. Dari desainer grafis > hingga > jadi arsitek. Dengan keserbabisaannya itu, pak Azis > merasa puas dan bangga, karena punya penghasilan > tinggi. Tapi setelah peristiwa angin puting-beliung > itu, pak Azis kembali bangkrut, beliau bertanya > dalam > hati : "apa sih yang kurang" apa salahku " ? > > Akhirnya pak Azis menekuni ibadah secara mendalam > "Seperti musafir atau walisongo, saya mendatangi > masjid-masjid di malam hari. Semua masjid besar dan > beberapa masjid di pelosok Bandung ini, sudah > pernah > saya inapi." > > Setahun lebih cara tersebut ia jalani, sampai > kemudian > akhirnya saya bisa tidur normal, bisa menikmati > pekerjaan dan keseharian seperti sediakala. > > "Bahkan lebih tenang dan santai daripada > sebelumnya." > > "Lebih tenang ? Memang Pak Azis dapet hikmah apa > dari > tidur di masjid itu?" > > "Di masjid itu ' kan tidak sekedar tidur, Ndra. > Kalau > ada shalat malam, kita dibangunkan, lalu pergi > wudhu > dan tahajjud. Kare na terbiasa, tahajjud juga jadi > terasa enak. Malah nggak enak kalau tidak shalat > malam, dan shalat-shalat wajib yang lima itu jadi > kurang enaknya, kalau saya lalaikan. Begitu, Ndra." > > "Sekarang tidak pernah terlambat atau bolong > shalat-nya, Pak Azis ?" > > "Alhamdulillah. Sekarang ini saya menganggap bhw yg > utama itu adalah shalat. Jadi, saya dan temen-temen > menganggap kerja itu cuma sekedar selingan aja." > > "Selingan ?" > > "Ya, selingan yang berguna. Untuk menunggu > kewajiban > shalat, Ndra." > > Untuk beberapa lama saya terdiam, sampai kemudian > adzan ashar mengalun jelas dari masjid samping > rumah > Pak Azis. Pak Azis mengajak saya untuk segera pergi > mengambil air wudhu, dan saya lihat para > pekerjanyapun > sudah pada pergi ke samping rumah, menuju masjid. > Bengkel workshop itu menjadi lengang seketika. > Sambil > memandang seluruh ruangan bengkel, sambil berjalan > menuju masjid di samping workshop, terus > terngiang-ngiang di benak saya "Kerja itu cuma > selingan, Ndra. Untuk menunggu waktu shalat..." > > Sepulangnya dari tempat workshop, sambil memandang > sibuknya lalu lintas di jalan raya, saya merenungi > apa > yang tadi dikatakan oleh Pak Azis. Sungguh trenyuh > saya, bahwa setelah perenungan itu, saya merasa > sebagai orang yang sering berlaku sebaliknya. Ya, > saya > lebih sering menganggap shalat sebagai waktu rehat, > cuma selingan, malah saya cenderung lebih > mementingkan > pekerjaan kantor. Padahal sholat yang akan bantu > kita > nantinya...( sungguh saya orang yang merugi..) > > Kadang-kadang waktu shalat dilalaikan sebab > pekerjaan > belum selesai, atau rapat dengan klien dirasakan > tanggung untuk diakhiri. > > Itulah penyebab dari kegersangan hidup saya selama > ini. Saya lebih semangat dan habis-habisan berjuang > meraih dunia, daripada mempersiapkan bekal terbaik > untuk kehidupan kekal di akhirat nanti. > > padahal dunia ini akan saya tinggalkan.. juga > .kenapa > saya begitu bodoh.. Saya lupa, bahwa shalat adalah > yang utama. > > kirimkan email ini pada temen2 yg anda sayangi, > mungkin bermanfaat bagi mereka. > > Thanks > > Assalamu Alaikum WR,WB > > Teddy Diansyah > > __________________________________________________ > Do You Yahoo!? > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam > protection around > http://mail.yahoo.com > > > > > Send instant messages to your online friends > http://uk.messenger.yahoo.com > > [Non-text portions of this message have been > removed] > >
____________________________________________________________________________________ 8:00? 8:25? 8:40? Find a flick in no time with the Yahoo! Search movie showtime shortcut. http://tools.search.yahoo.com/shortcuts/#news

