lumayan buat menambah wawasan. dari milis kota-bogor.

---------- Forwarded message ----------

Dear all;
Soekarno -tokoh yang pernah di demo para pemuka masyarakat masa kini,
termasuk Bang
Buyung, Rahman Toleng, Yusup & Sofyan Wanandi, Rendra, dll- pernah
membangun pabrik
sepatu khusus untuk Pramuka di Jalan Raya Bogor Km 24 Cijantung yang
pada masanya
termasuk pabrik yang modern karena pabrik menggunakan ban berjalan,
mesin kanvas modern
dan menampung tidak kurang dari 400 orang buruh pabrik;

Kualitas sepatunya setara dengan keluaran Pabrik Sepatu Bata di
Kalibata yang saat itu
milik asing.  Alas kakinya lunak, tak mudah robek dan kain kanvasnya
bermutu tinggi serta
tidak luntur.  Buruhnya sebagian besar adalah penduduk setempat dan
dimandori oleh buruh
pendatang yang berpendidikan lebih tinggi.  Komposisi buruh seperti
ini menyababkan
masyarakat setempat merasa memiliki pabrik ini dan menjaga pabrik ini
dengan baik.  Buruh
pabrik ini meski hidup bersahaja namun sejahtera sedangkan para staf
dan pemimpin pabrik
ini tinggal di rumah susun Cempaka Putih.  Kompleks Perumahan Susun
modern yang pertama
dimiliki Indonesia dan dibangun atas kerjasama dengan rakyat
Jugoslavia.  Sampai kini,
lebih dari 40 tahun sebagian rumah masih bentuk aslinya.

Para pramuka bangga sekali dengan sepatu keluaran PT.  Sepatu Molino
Pramuka karena
selain kuat, modelnya juga gagah.  Setiap tahun dibelakang pabrik ini,
dihalaman seluas 4
hektar lebih, digelar Lomba Tingkat Nasional Tingkat IV (LT-IV,
Tingkat Mahir). Bumi
Perkemahan ini cukup indah, 'kontur'nya berteras-teras, rimbun dengan
pohon akasia,
drainagenya sangat baik, perturasan juga sangat terawat.

Musibah mulai saat meletus G30S, Sukarno didemo dimana-mana oleh
mahasiswa dan lainnya.
Demo itu butuh suplai logistik, butuh gudang penyimpanan jaket
mahasiswa dan pelajar.
Entah siapa pemasoknya.  Jika melihat waktunya, kemampuan perusahaan
konveksi (kini
garment) rasanya mustahil dalam waktu yang sangat singkat mahasiswa
mampu mengkoordinir
suplai logistik untuk demontrasi mahasiswa.  Sayang Jaksa Tinggi
Jakarta Sulaiman, Ali
Moertopo, Sudjono Hoemardhani sudah tiada....bang Buyung, Bung Yusup
Wanandi mungkin mau
berceritera bagaimana suplai logistik mahasiswa masa itu.

Usai demo mahasiswa kondisi pabrik sepatu pramuka makin terpuruk,
produktivitas buruh
menurun dan perilaku moralnya rusak.  Terbiasa dua tahunan hidup mewah
tanpa kontrol
keluar masuk suplai logistik demo mahasiswa tahun 66 sampai 67 itu
sebagian buruh menjadi
"pencoleng" pabrik.  Gemar memfitnah erkan sesama buruh.

Awal tahun 70an kondisi pabrik makin merana dan tidak mampu
memproduksi sepatu yang
dibanggakan dan akhirnya Ketua Umum Kwartir Nasional -HBVIII?-
menyerahkan, menyewakan
pabrik itu ke PT Asian Tobaco Ltd. Singapura yang memproduksi rokok
Gallaher dan Gold
Bond sedangkan pabriknya makin menciut dan pindah ke Semarang.  Satu
kontrakdiksi yang
sangat parah karena perusahaan yang nama lengkapny PT. Asian
Indonesian Tobaco Pramuka
itu memproduksi rokok sedangkan Pramuka dilarang merokok.  Sungguh ironis!!!!!!

Empat tahun pabrik itu bangkrut dan disewakan kepada satu industri ban
untuk sortir
ban-ban apkiran, karetnya dibakar dan diambil kembali kawat-kawat
struktur bannya untuk
diolah menjadi kawat ban kembali. Pabrik makin hancur-hancuran, polusi
terjadi diseluruh
kawasan pabrik dan lahan bekas Lomba Tingkat IV Nasional itu.

Kini entah menjadi apa pabrik sepatu Molino Pramuka itu yang
sesungguhnya asset negara
beserta lahan bekas LV-IV karena pertengahan 70an kami sekeluarga
meninggalkan Cijantung,
tempat pabrik itu berada.  Almarhum ayah penulis yang juga
Purnawirawan ABRI dan menjadi
menjadi guru militernya Pak Try Sutrisno di ATEKAD pernah berkata
"Pabrik itu yang
merusak jenderal-jenderal"

Saksi mata perjalanan pabrik itu yang saat itu menjabat Kepala Bagian
Keuangan dan
Akuntansi saat ini masih hidup bersahaja ditempat ia tinggal ketika
bekerja di in
memoriam PT. Molino Pramuka dan berhagia karena ia tidak terseret arus
penjarahan pabrik
dan anak-anaknya semua lulus dari perguruan tinggi negeri yang terkemuka.

Salam
Setiadjit Santosa, (dokter khewan, hobi maen bal dilapangan depan pabrik)

Kirim email ke