Mengenal Sejarah Berdirinya Gerakan Pramuka MEMBICARAKAN Gerakan Pramuka, mau tak mau kita harus mulai dari lahirnya gerakan pendidikan kepanduan di dunia dan tentu harus mengetahui siapa penemunya. Ini sepertinya sepele, tapi tahun 1961- 1966 soal penemu ini sempat ditutup-tutupi. Karena, tahun-tahun itu, gerakan kepanduan makin santer dicap sebagai gerakan nekolim, antek imperialis, dsb. oleh golongan ateis, yang sadar bahwa gerakan pendidikan kepanduan nasional Indonesia membahayakan dan dianggap mengganggu rencana pengembangan mereka.
RATUSAN mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati mendengarkan ceramah dari Kakwarnas, Prof. Azrul Azwar mengenai sejarah dan perkembangan pramuka di Indonesia, Sabtu (2/9).* HUMINCA/"PR" Menurut Drs. H. Idik Sulaeman, A.T., penulis buku-buku kecil tentang kepramukaan, waktu itu menyebut nama Baden-Powell merupakan "tabu" dan terlarang. Sebab, golongan mereka pernah memasukkan gagasan sampai di ketetapan MPRS, yang berbunyi, "Kepanduan harus dibebaskan dari sisa-sisa Lord Baden Powellisme". Kini kita dapat berkata tanpa ragu-ragu bahwa Baden Powell, seorang Jenderal Militer Inggris, adalah penemu gerakan pendidikan kepanduan, lepas dari suka atau tidak kepadanya. Lord Robert Smyth Stephenson Baden-Powel of Gilwell, yang lahir tanggal 22 Februari 1857, bukan seorang ningrat sebab gelar Lord-nya justru diperoleh karena jasanya menemukan kepanduan. Sebenarnya ia tidak mimpi mendirikan gerakan pendidikan kepanduan yang begitu besar dan meliputi hampir seluruh negara-negara di dunia. Ia hanya seorang militer yang bermaksud mendidik para prajurit dan perwira pertama tentara Inggris menjadi orang yang (a) dapat dipercaya; (b) tangkas; (c) cerdas; (d) pandai membaca dan menulis; (e) sehat; (f) sedia mengerjakan apa-apa yang sukar; (g) menjadi penegar kuda; (h) bisa berenang; (i) dan mempunyai pancaindra yang tajam. Prajurit-prajurit Inggris saat itu bekerja seperti mesin, tanpa otak, tidak mempunyai kemauan, dan bodoh. Kebetulan sebagai militer Baden Powell sering ditempatkan di negara-negara (jajahan) di luar Inggris, seperti Kanada, India, dan Afrika Selatan, sehingga pengalaman yang didapatnya cukup banyak. Ia melihat kenyataan bahwa anak-anak yang biasa hidup di luar, lebih cakap dan cerdas dalam menjalankan kewajibannya sebagai pembantu tentara, dibandingkan dengan anak-anak kota. Setelah kembali ke London untuk mendidik para prajurit dan perwira pertama tentara Inggris, ia menulis buletin Aids to Scouting. Buletin-buletin ini akhirnya dibukukan dan dibaca oleh umum. Dalam satu bulan 60.000 buah buletin terjual habis. Tua muda gemar sekali membaca buku ini dan isinya dipraktikkan. Surat mengalir, terutama dari anak yang menginginkan sesuatu yang lebih konkret daripada hanya dapat ikut membaca buku itu. Keinginan anak-anak itu ditanggapi Baden-Powell dan berkumpullah anak-anak dari semua lapisan masyarakat dalam suatu perkemahan percobaan pertama, bulan Agustus 1907, di Brownsea Island, selama 14 hari dipimpin sendiri oleh Baden-Powell. Apa yang direncanakan dan dipraktikkan dalam perkemahan itu? (a) masak-memasak; (b) berenang; (c) menyelidik; (d) pengetahuan binatang; (e) merintis; (f) permainan; (g) mengembara; (h) latihan mempertajam pancaindra; (i) api unggun dan bercerita. Sesudah perkemahan percobaan ke-1 itu, setiap dua minggu diterbitkan sebuah majalah yang dinamakan, "A handbook for instructions in good citizenship through woodcraft". Isinya diambil dari buletin Aids to Scouting dan pengalaman-pengalaman dari perkemahan percobaan. Setelah enam kali terbit, majalah itu dijadikan sebuah buku yang dinamakan "Scouting fo Boys". Dengan terbitnya buku ini dapat dikatakan lahirlah organiasi kepanduan. Satu tahun kemudian, tahun 1908, diadakan perkemahan ke-2 yang juga dipimpin sendiri oleh Baden-Powell. Tahun itu Inggris mempunyai 1.500 pandu, dan dua tahun kemudian jumlah anggota naik menjadi 109.000. Kemudian diikuti pula oleh negara-negara lain, dan akhirnya menyebar hampir ke seluruh dunia. Marinir Belanda yang juga seorang pandu, ketika bertugas di Hindia Belanda (Indonesia) mendirikan perkumpulan kepanduan itu untuk anak- anak Belanda, sebagai cabang dari organisasi kepanduan di Belanda. Akhirnya, perkumpulan itu berkembang dan dibuka pula untuk orang- orang pribumi. Maka berdirilah NIPV (Perkumpulan Kepanduan Belanda). Tapi, karena cara penerimaan yang pilih kasih dan rasa nasional yang mendalam, timbul organisasi kepanduan nasional sebagai tandingan terhadap perkumpulan yang tidak adil NIPV. Tahun 1916 berdiri JPO (Perkumpulan Kepanduan Orang Jawa) sebagai organisasi kepanduan nasional yang pertama di Indonesia (Wakhudin/"PR

