Salam Pramuka,

Di Rapat Kerja Daerah Jawa Barat, Kakwarnas hadir di malam pembukaan 
tanggal 9 November 2007.

Menarik betapa beliau mengharapkan revitalisasi bisa "bunyi" di 
kwarcab-kwatcab sebagai ujung tombak organisasi dan tentunya nanti 
di satuan terdepan, gugus depan.

Yang menarik adalah pernyataan beliau, " Kita tahu bahwa banyak 
permasalahan di gugusdepan di sekolah. Kita perlu untuk menggalakkan 
gudep teritorial."

Mungkin belum terbakar semangat karena kemarin (kemarin Jawa) baru 
meresmikan gudep teritorial di perumahan AD.

Tapi tahukah Kakwarnas persoalan mendasarnya ? 

Bagaimana gudep teritorial bisa dibangun dan tumbuh bila pewajiban 
siswa jadi Pramuka masih terus jadi kebijakan yang dilakukan di 
kebanyakan sekolah terkecuali di kota-kota besar ? Deklarasi 
Propinsi Pramuka, Kota Pramuka, bahkan kecamatan Pramuka segera 
diikuti dengan gerakan pemakaian seragam Pramuka, yang TIDAK DIIKUTI 
dengan kegiatan latihan dan pembinaan yang sungguh-sungguh di 
sekolah-sekolah tempat gudep-gudep itu berpangkalan.

Kalau siswa dipaksa pakai seragam Pramuka, dipaksa latihan, maka 
gudep teritorial tidak akan pernah punya anggota untuk dibina 
padahal gudep teritorial selama puluhan tahun justru punya sejarah 
keberhasilan membina anggotanya, sebelum dipaksa gulung tikar.

Saya heran kapan kita bisa sadar dan berhenti bergerak dengan angka-
angka dan masalisasi yang tidak pernah berhasil menanamkan nilai-
nilai kepanduan/kepramukaan di generasi muda kita.

Gerakan kita harus tumbuh dan berakar. Kita buang semua benalu yang 
membuatnya tidak bisa bertumbuh besar.Kita harus berhenti buat dia 
jadi tanaman cangkokan yang begitu di atas berhenti peduli maka ia 
mati.

Yang pertama dilakukan adalah membebaskan siswa jadi Pramuka. Ia 
boleh Pramuka di gugus depan manapun yang ia mau.

Yang kedua, daripada memaksa siswa jadi Pramuka dengan 
menginstruksikan kewajiban itu di sekolah, maka Dinas-dinas 
Pendidikan lebih baik mendukung dan memberi peluang agar kegiatan-
kegiatan Pramuka terdanai kegiatannya sehingga makin banyak pula 
yang mau jadi Pramuka karena tertarik dengan kegiatannnya bukan 
karena dipaksa.

Harus dipahami juga bahwa tidak setiap guru bisa, mau dan mampu jadi 
Pembina Pramuka. Gagalnya gugus depan di sekolah adalah refleksi 
kenyataan ini. Sudah dipaksa, tapi tak ada yang mengelolanya.

Semoga kita bisa ber-pramuka dengan benar.

Hendro Prakoso 



Kirim email ke