Andalan Kwarda ( Wakil Sekretaris Kwartir Daerah Jabar) berbicara Pramuka ,
kok sepertinya pejabat Kanwil Pendidikan
Ingat Kang, Kwarda ngurus Pramuka,
Saya belum tahu apa yang dimaksud " KURIKULUM PRAMUKA "
dan POLA PEMBINAAN YANG MONOTON (
Saya sependapat dengan KMD
Dan kita harus mulai merubah pengertian kemajuan Pramuka bukan seorang jadi
lima orang angota, tapi seorang anak setelah menjadi anggota Pramuka, jadi
Kreatif, Sehat rohani & jasmaninya, menjadi anggota masyarakat yang aktif. (
lihat Try Satya & Dasa dharma Pramuka )
Salam
Tata
Pola Pembinaan Pramuka Monoton
CIKUTRA, (GM).-
Sinyalemen mundurnya minat siswa terhadap Pramuka, disebabkan adanya pola
pembinaan yang monoton. Idealnya, pembina Pramuka adalah orang yang minimal
lulus kursus pembina mahir dasar (KMD). Saat ini, jumlah pembina Pramuka di
sekolah-sekolah yang pernah mengikuti KMD hanya sekitar 20%.
"Pembina Pramuka yang pernah mengikuti pelatihan KMD, minimal mengetahui
kurikulum Pramuka dan menerapkan sistem pengajaran yang tepat guna," ujar
Wakil
Sekertaris Kwartir Daerah ( Kwarda) Gerakan Pramuka Jawa Barat, Drs. H. Bana
Subarna kepada "GM" di ruang kerjanya, Jln. Cikutra, Senin (21/1).
Jika pembina tidak pernah mengikuti KMD, menurutnya mungkin saja pola
pembinaan yang diterapkan tidak sesuai dengan kurikulum Pramuka. Sehingga,
materi
yang disampaikan sangat monoton dan membosankan. "Kondisi itu berimbas pada
menurunnya minat siswa untuk mengikuti kegiatan ini," ujarnya.
Menurut Bana, untuk menciptakan kecintaan siswa terhadap kegiatan Pramuka,
setiap sekolah harus memiliki pembina dari golongan KMD. Pasalnya, lulusan KMD
mampu mengajarkan materi yang inovatif dan variatif dalam kegiatan Pramuka.
"Kenyataan yang ada saat ini menunjukkan, di beberapa sekolah, kegiatan
Pramuka dibina oleh guru-guru yang tidak tahu persis kurikulum Pramuka.
Sehingga
pola pengajaran Pramuka kurang variatif," katanya.
Kurang serius
Menurut Bana, fenomena yang menyebutkan Pramuka kurang diminati siswa tidak
sepenuhnya benar. Munculnya sinyalemen itu disebabkan kurang seriusnya
pembinaan Pramuka di sekolah-sekolah.
"Bagaimana bisa berkembang, jika sekolah tidak serius dalam menangani
Pramuka," katanya. Dikatakannya, untuk meningkatkan pembinaan Pramuka, antara
Kwarda Pramuka dengan pihak sekolah harus ada kerja sama. Kedua pihak,
katanya,
harus sejalan.
"Jika pihak sekolah ingin meningkatkan pembinaan, namun dari kwarda tidak
menyuplai pembina, maka proses pembinaan Pramuka tidak akan jalan. Begitu juga
sebaliknya, jika kwarda memotivasi pembinaan, namun pihak sekolah tidak punya
perhatian terhadap Pramuka, juga sama saja," paparnya.
Ia mengungkapkan, selain perhatian dari pihak sekolah, peningkatan kecintaan
pada Pramuka juga sangat dipengaruhi peran dan fungsi pemerintah.
Dicontohkannya, pada zaman dulu, pemerintah menetapkan kebijakan, setiap
siswa yang ingin menjadi anggota pasukan pengibar bendera (paskibra), terlebih
dahulu harus bergabung dalam kegiatan Pramuka. Namun, saat ini hal itu sudah
tidak diperhatikan lagi. Siapa pun bisa menjadi anggota paskibra," tuturnya.
Bana menambahkan, Kwarda Pramuka Jabar terus berupaya mendorong peningkatan
jumlah peminat Pramuka. Cara yang ditempuh kwarda, katanya, yaitu dengan
menginstruksikan kwartir cabang (kwarcab) untuk melakukan pelatihan pada
pembina-pembina Pramuka.
"Jika dibandingkan dengan provinsi lain yang ada di Indonesia, kondisi
Pramuka di Jabar lebih baik. Pada Musyarwarah Nasional (Munas) Gerakan Pramuka
2003, Jabar merupakan provinsi dengan kwarda tergiat dalam penyelenggaraan
Pramuka. Pada Munas 2008, Kwarda Jabar berusaha mempertahankan predikat ini,"
tuturnya.
[Non-text portions of this message have been removed]