Reframing Tiga rasa Takut Utama tentang Berbicara di Depan Umum

Ketakutan untuk berbicara di depan umum sebetulnya tidak berdasar, 
karena berbicara di depan umum tidak mengancam nyawa dan tubuh kita. 
Namun banyak orang yang merasa ngeri berbicara di depan orang banyak 
dan akan melakukan apa saja untuk menghindarinya.
Untuk itu, Judith E. Pearson, Ph.D., DTM, memberikan penjelasan 
tentang rasa takut berbicara di depan umum berdasarkan 20 tahun 
pengalamannya sebagai seorang Life Coach terapis berbasis Neuro-
Linguistic Programming dan hipnoterapi di Springfield, Virginia. 
Beliau juga adalah anggota dari Galloping Governors Toastmasters Club.
Judith menyimpulkan tiga bentuk utama rasa takut berbicara di depan 
umum:
1.      ¡§It¡¦s all about me¡¨; 
2.      Kegagalan parah di masa lalu; dan 
3.      Selalu berpikir akan melakukan kesalahan di muka umum.  
Langkah pertama yang diambil Judith sebagai terapis adalah membantu 
merubah cara pikir client-nya. Proses ini biasa disebut reframing. 
Menurutnya, bila sudah dapat membuat seseorang memandang ketakutan 
berbicara di depan umum dengan cara yang berbeda, maka akan mudah 
untuk merubah perilaku dan emosinya.
¡§It¡¦s All about Me¡¨
Banyak orang beranggapan bahwa ketika banyak mata mengarah padanya, 
mereka seperti sedang dihakimi. Mereka biasanya berkata, ¡§saya 
menjadi begitu gugup sehingga saya tidak bisa berhenti berpikir 
betapa gugupnya saya, dan betapa setiap orang sedang menatap saya, 
dan betapa bodohnya saya di mata mereka.¡¨ 
Judith selalu membenarkan adanya rasa takut itu kepada kliennya. Lalu 
beliau akan berkata:
¡§Bila anda berpikir bahwa semua ini adalah mengenai anda, maka anda 
memiliki pendekatan tentang berbicara di depan umum yang keliru. 
Semua ini bukan mengenai anda. Namun mengenai audiens dan pesan yang 
anda ingin sampaikan kepada mereka. Mereka di sana bukan untuk 
menghakimi anda. Mereka di sana ingin mendapatkan pesan yang akan 
disampaikan, dan mereka sebetulnya tidak perduli dengan orang yang 
menyampaikan pesan tersebut. Mereka hadir dengan tujuan mendapatkan 
informasi, pelajaran, inspirasi, dan hiburan. Berhenti berpikir 
tentang diri anda saja dan mulai berpikir tentang mereka. Berhentilah 
beranggapan seolah anda adalah terpidana mati di depan regu tembak, 
dan mulailah berpikir sebagai seseorang yang memiliki sesuatu yang 
berharga untuk disampaikan kepada mereka yang ingin mendengarkan. 
Ketika anda mulai fokus pada kebutuhan audiens, dan melepaskan 
pikiran dari diri anda sendiri, rasa gugup anda nantinya pasti akan 
hilang.¡¨
Kegagalan Parah di Masa Lalu
Banyak juga orang yang percaya bahwa mereka ditakutkan oleh 
pengalaman masa lalu yang memalukan ¡V peristiwa yang telah terjadi di 
depan orang banyak ¡V terkadang terjadi di masa kecil mereka. Bagi 
mereka, peristiwa tersebut menciptakan rasa takut berlebihan terhadap 
pemikiran menjadi pusat perhatian. 
Akui bahwa setiap hal yang memalukan adalah siksaan yang amat buruk. 
Kemudian, katakan pada mereka:
¡§Pertama, tidak seorang pun berencana untuk gagal, dan anda tidak 
selalu dapat mengendalikan setiap situasi. Kedua, anda telah melewati 
peristiwa itu sehingga anda memiliki kesempatan lain untuk menerima 
tantangan baru. Ketiga, peristiwa tersebut adalah di masa lalu dan 
memang sudah berlalu, sehingga tidak mungkin akan terjadi peristiwa 
yang persis sama. Maka selanjutnya adalah terserah anda. Bila anda 
tetap fokus pada peristiwa mengerikan di masa lalu, maka kesempatan 
untuk berhasil akan hilang. Ambillah pelajaran dari peristiwa itu dan 
gunakan untuk melakukan dengan lebih baik di masa datang. Kegagalan 
bukan menjadi alasan untuk berhenti. Setiap kegagalan yang kita 
jumpai memberikan informasi berharga untuk perbaikan di masa depan. 
Anda akan memiliki keberanian untuk menghadapi tantangan hanya bila 
anda focus pada kelebihan dan keberhasilan- keberhasilan anda.¡¨
Selalu Berpikir akan Melakukan Kesalahan di Muka Umum
Judith selalu mengatakan kepada kliennya bahwa rasa takut membuat 
kesalahan adalah seperti satu sisi dari uang logam. Sisi lainnya 
adalah rasa hasrat yang besar untuk berhasil dan memberikan kesan 
yang baik. Kemudian beliau menambahkan bahwa rasa gugup dan takut 
tidak akan memberikan kesan yang baik. Beliau melanjutkan:
¡¨Kunci utama untuk berbicara di muka umum adalah dengan berlatih. 
Berlatih akan memperkecil kesalahan. Kunci lainnya adalah mendapatkan 
umpan balik dari orang lain. Forum-forum semacam Toastmasters adalah 
tempat yang sangat tepat untuk berlatih karena evaluator anda akan 
selalu dapat menunjukan hal-hal yang dapat anda tingkatkan.
Agar bisa berdamai dengan rasa takut melakukan kesalahan, paling baik 
adalah dengan cara mengakui kenyataan bahwa kesalahan bisa saja 
terjadi, bahkan kepada pembicara yang paling terampil. Dan yang 
penting adalah apa yang anda lakukan terhadap kesalan tersebut. 
Semakin anda menunjukan ketidaknyamanan terhadap kesalahan yang 
terjadi, semakin besar pula kemungkinan audiens anda mengetahuinya.
Cara untuk memperbaiki kesalahan adalah dengan mempelajari kesalahan 
anda tenang tenang, ambil tindakan perbaikan yang diperlukan, kembali 
tenang, fokus pada apa yang akan anda ingin ucapkan selanjutnya, dan 
seterusnya. Lupakan kesalahan yang terjadi, dan lanjutkan dengan 
materi presentasi anda. Audiens akan melupakannya. Banyak pendengar 
akan mengagumi cara anda melanjutkan presentasi dengan tenang, dan 
mungkin mereka akan merasa lega mengetahui bahwa anda ternyata juga 
manusia yang dapat membuat kesalahan. Rahasia menjadi pembicara hebat 
adalah mampu memberi ruang terhadap kesalahan dan juga mampu 
memperbaikinya, secepatnya.¡¨
Setiap kali Judith melakuka reframing di atas terhadap kliennya, 
mereka menjadi takjub dan berkata, ¡§wah, saya gak pernah sampai 
berpikir seperti itu!¡¨.
Apabila kita dihadapi oleh tuntutan untuk berbicara di depan umum dan 
muncul rasa takut dan khawatir, coba dengan melakukan reframing 
seperti contoh-contoh di atas. Anda bisa saja melakukan modifikasi 
sehingga menemukan kalimat reframing yang paling dapat merubah cara 
pandang anda mengenai berbicara di muka umum. ļ
Disarikan dari Majalah Toastmaster ¡V Desember 2007

Tetuko Wahyu Antakusuma
(08175475685)
[EMAIL PROTECTED]


Hmmm...

mungkinkah sebuah kisah bisa tertransfer kepada orang lain 
secara 'utuh'?

Kalau kita belajar bahwa dalam proses berpikir manusia selalu ada 
proses penghapusan yang tidak perlu agar tidak overload, generalisasi 
agar bisa belajar dengan cepat, dan distorsi agar memudahkan kita 
mengingat sesuatu....bisakah sebuah pesan benar2 berpindah dari satu 
orang ke orang lain? Padahal ketika kita sudah benar2 mentransfer 
satu kalimat secara utuh tuh tuh...toh otak kita selalu berusaha yang 
terbaik dengan 'memilih' mana yang dianggap 'penting'...

Just share...

Salam,

Tetuko,



Sbuah cerita lama yang masih relevan sampai sekarang bro, saatnya 
kita mencari kembali harta karun yang hilang bahkan langka saat ini 
yaitu ART of LISTENING.
 
Salam Good to Great,
 


Kirim email ke