for all my dearest friends,
selalu ingat untuk baik - baik menjaga diri,
karena cuma diri sendiri yg kenal baik dengan limit badan kita masing - masing
take care...
-----Original Message-----
From: Dwi W Julianto [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Monday, 18 February 2008 6:16 PM
To: Dwi W Julianto
Subject: Viral infection
seorang teman yang sedang berjuang untuk sembuhJan 26, '08 12:06 PM
for everyone
Manusia ketika dihadapkan kepada kenyataan pahit, baru bisa melihat dengan
jelas bahwa sebenarnya dirinya sangat beruntung dibandingkan orang lain.
Berhenti berkeluh kesah dan seharusnya mengambil tindakan. Namun, manusia juga
bisa disentuh hatinya dengan cinta dan kasih sayang, kemudian bisa menyadari
betapa ia sangat beruntung memiliki orang-orang yang peduli terhadap dirinya,
yang sebenarnya selalu ada di sisinya.
Hari ini, saya baru saja mengunjungi seorang teman yang sakit. Teman ini baru
saya kenal beberapa bulan yang lalu, bergabung dalam tim yang sama dengan saya.
Lucunya, di mana hampir semua orang di dalam tim saya berangan-angan pindah ke
tim lain, teman saya yang satu ini justru secara spesifik ingin bergabung dalam
tim saya ini, yang memang saat itu sedang hot-hotnya dengan proyek-proyek mega
masterplan, yang notabene memang bidang sang teman itu di masterplanning.
Singkatnya, rupa-rupanya sang teman mengalami saat-saat yang berat ketika
beradaptasi dengan ritme kerja tim saya (yang memang sangat amat tidak sehat),
penuh dengan tekanan fisik dan mental. Akhirnya teman saya ini sering kali
jatuh sakit, mulai dari diare, demam, dan berbagai macan sakit lainnya. Hingga
pada suatu saat, ia sebagai kordinator sebuah proyek kompetisi, mendapat tugas
sebagai penanggung jawab laporan. Adaptasi dengan Adobe inDesign, kordinasi
dengan klien, perspektifis, model maker, plus tekanan mental dari bos yang
super perfeksionis and moody, dan klien yang literally menunggu tepat di
belakang dia untuk menunggu softcopy laporan, membuat sang teman ini walaupun
sedang sakit flu dan sangat pucat, tetap berjuang menyelesaikan laporan tepat
pada waktunya. Hal yang saya sangat saya sesali di kemudian hari, ialah pada
hari itu, saya dan anggota tim lainnya, tidak begitu memperhatikan kondisi sang
teman, karena saat ini kami sedang
mengadakan workshop untuk proyek berikutnya. Hanya ada 1 orang teman lainnya
yang membantu dia.
Sampai detik ini dalam kepala saya terus teriang-ngiang, "Dini, rushing for
that workshop was just your excuse. You can always come back and help her with
the report! But instead of that, you choose to go home on time!". Suara dari
hati kecil saya.
Selang beberapa hari, setelah sang teman mengambil 1 hari izin sakit untuk
beristirahat, ia berkata pada saya, "Dini, something weird is happening? My
mouth cannot move perfectly. See this? This side is not smiling." dia lalu
menunjuk ke sisi kanan bibirnya yang tidak ikut tersenyum. (sekilas
mengingatkan saya pada Katie Holmes yang senyumnya miring.) saat itu, lagi-lagi
saya acuh tak acuh karena sedang konsentrasi mengerjakan sesuatu, "really?
maybe it's swollen coz of some allergic? sometimes it happens."
Ternyata percakapan itu berlanjut keesokan harinya, "Dini, see this? My left
eye is keep blinking, and my right eye can't close properly." saat itu baru
saya benar-benar menatap wajahnya dan merasa aneh. "Friend, I think you better
see the doctor."
Sejak percakapan saat itu, semua yang terjadi setelahnya benar-benar di luar
dugaan.
Viral infection. Stress of work and working for very long hours. Kata-kata yang
menohok semua teman di tim.
Dalam banyaknya percakapan yang terjadi, yang bisa saya simpulkan rupanya, pada
saat sang teman sakit flu dan tetap memaksakan kerja di bawah tekanan karena
mengerjar deadline, virus flu tersebut menyerang sarafnya, dan membuat infeksi
pada saraf di otaknya. Akibatnya ia mengalami parallel parasympatic.
Sang teman ini adalah teman yang sangat ekspresif, dan memiliki mata yang
sangat indah, tajam dengan bulu mata lentik, dan alis yang lebat. Hidung yang
mancung dan bibir yang menarik. Ekspresi selalu tergambar jelas di raut
mukanya. Namun saat melihat kondisi teman hari ini, setelah hampir 2 minggu
lebih saya terpana melihat wajahnya, hati saya sangat sedih dan terenyuh ketika
melihat ia tertawa lebar, namun separuh mukanya seolah-olah diam membeku. Tanpa
ekspresi.
Pertama kali yang saya lakukan ketika melihatnya langsung di rumah, saya
langsung memeluknya erat. Terenyuh. Walaupun sebelumnya sudah
berbincang-bincang lewat telepon, Ini pertama kalinya saya bertemu langsung
dengannya setelah percakapan di kantor pada hari itu. Saya sangat sedih.
Ia harus selalu meneteskan obat ke mata kanannya karena mata kanannya tidak
bisa berkedip secara otomatis, di mana hal ini bisa menyebabkan mata menjadi
kering dan mengalami kebutaan.
Sekedar catatan, teman saya ini adalah seorang teman yang sangat positif dalam
berpikir, dan saya berharap akan terus begitu. Ia selalu memberi semangat
setiap kali saya merasa lemah. Bahkan pada setiap percakapan di telepon ia
selalu mengatakan, "Yeah, I am feeling better now! How are you guys doing? You
guys always go home on time? How's the project going on?" saya bisa mendengar
nada ceria dalam suaranya, dan ia tetap memikirkan teman-teman lainnya di tim,
apakah mereka kesusahan karena kita kehilangan 1 orang dalam tim. Ia terus
berulang kali mengingat kami untuk menjaga kesehatan, dan tidak mengorbankan
segala-galanya demi kerja. Satu-satu hal yang bisa saya lakukan hanyalah
kembali menjawab dengan keceriaan yang sama, "Yes, my friend. No worries. We
are doing fine here. Everything is great. We always leave at 6.30 now. You
should take a good rest. We miss you here, friend. Get well soon!" Betapa saat
itu saya benar-benar naif dan percaya bahwa dia
sudah benar-benar tidak apa-apa. Seolah-olah besok saya sudah bisa bertemu
dengannya dalam kondisi sediakala.
Kejadian ini seolah-olah membukakan mata seluruh anggota tim, bahwa hanya diri
kita sendiri yang bertanggung jawab atas kesehatan badan kita. Ketika sang
teman jatuh sakit, bukan bos ataupun perusahaan yang bisa kita andalkan, mereka
yang terhubung atas dasar bisnis, akan tetap melihat dari kacamata bisnis.
Kesehatan bukanlah sesuatu yang dapat ditukar dengan pekerjaan. Ketika kalimat
seperti "jangan kerja terlalu larut malam ya, nanti bisa sakit." hanya
terdengar sepintas lalu dan dijawab dengan, "ya, ya, bentar lagi juga pulang
ko.", kini benar-benar didengarkan dengan seksama. Hanya diri kita sendiri yang
bisa menguatkan hati kita untuk tetap tegar. Lingkaran orang-orang terdekat
kita, keluarga, sahabat dan teman, akan terus memberikan supportnya kepada
kita, menyokong agar kita tidak terjatuh lebih sakit lagi.
Saat ini saya hanya bisa berdoa kalau proses penyembuhan teman saya bisa
berjalan dengan lancar, dan dia bisa tertawa lepas seperti dia layaknya.
____________________________________________________________________________________
Looking for last minute shopping deals?
Find them fast with Yahoo! Search.
http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping
[Non-text portions of this message have been removed]