Segera Terbit Majalah Arti, 22 Mei 2008 Dalam beberapa bulan terakhir ini, dunia seni, terutama seni lukis, berkembang secara akseleratif. Berbagai pameran, pertunjukan dan display seni berlangsung di banyak kota. Pasar lelang barang-barang seni pun sedang bergerak cepat, dan melahirkan fenomena baru, yang antara lain ditandai oleh menguatnya karya-karya perupa muda. Perkembangan ini memberi jalan pada majalah Arti untuk ikut merayakannya.
Majalah Arti memosisikan diri sebagai referensi para kolektor benda seni, kurator, seniman, mahasiswa seni, perguruan tinggi seni, galeri dan art space, serta kalangan lain yang berminat pada seni. Dalam setiap edisi, majalah Arti sedapat mungkin berusaha untuk memberi tafsir pada perkembangan yang sedang berlangsung, juga pelbagai diskursus tentang seni, selain pancaragam berita seni. Di luar aneka rupa menu seni, majalah Arti pun memberi tempat pada tema-tema sosial yang memiliki irisan persoalan dengan dunia seni. Tema-tema ini dituangkan dalam bentuk bonus lembaran features menarik di setiap edisinya. Majalah Arti terbit dwimingguan, dan beredar setiap Kamis minggu pertama dan minggu ketiga. Edisi perdana akan meluncur ke pasaran mulai tanggal 21 Mei 2008. Majalah Arti dicetak PT Gramedia di atas kertas Art Paper Matte, dengan jilid cukup tebal yang diberi Spot UV serta hamparan kertas dof. Teks dan visual dijalankan secara berimbang, seperti komitmen para pengelola untuk menghargai sekecil apapun karya jurnalisme dan grafis yang dimuat. Pada edisi pertama, majalah Arti menyajikan berbagai tulisan bermutu mulai analisa, resensi, esei seni hingga features. Agus Dermawan T., mengetengahkan analisa menarik sepanjang enam halaman tentang dunia koleksi seni melalui "Bung Karno Bapak Kebangkitan Kolektor Indonesia". Agus dermawan T. adalah salah satu kritikus dan esais seni terkuat di Indonesia, yang secara konsisten menulis kritik seni dan esei di banyak media sejak 1973, menulis 24 buku seni rupa, melakukan pengamatan seni di galeri dan museum di Amerika Serikat, Kanada, Spanyol, Itali, Inggris, Belanda, Jerman, Turki, Austria,Yunani, Mesir, Swiss, Australia, Jepang, Korea, Cina serta negara-negara Asia Tenggara. Ia juga dipercaya Sekretariat Negara untuk menyusun buku lukisan-lukisan Koleksi Istana Presiden dan Rumah Bangsa. Jim Supangkat, dengan panjang halaman yang sama, menyajikan esei menarik tentang cara pandang terhadap seni hingga menukik ke persoalan yang hendak dielaborasinya dalam pameran "Manifesto Seni" selama sebulan, sejak 21 Mei 2008 nanti. Jim Supangkat adalah salah satu kurator independen paling berpengaruh di Indonesia. Ia belajar melukis di Studio Seniman Bandung, kuliah di Universitas Parahyangan Bandung dan ITB, juga The Hague, Belanda. Banyak menulis esei dan kritik seni, dalam media nasional dan internasional, selain buku. Aktivitas kuratorialnya berlangsung di dalam dan luar negeri. Sebagai penggiat seni, ia mendapat banyak penghargaan di antaranya Prince Claus Award untuk upayanya dalam memajukan pengembangan budaya Dunia Ketiga. Kedua tulisan mereka mengisi rubrik "Selasar" yang ditujukan untuk memantau perkembangan seni di Indonesia secara proporsional. Dalam rubrik itu pula, tersaji laporan panjang Iwan Sams, redaktur majalah Arti, yang hendak mencoba memahami arti seratus tahun perkembangan seni lukis di Indonesia. Pembaca yang memiliki minat khusus terhadap features, dapat menemukan bonus sisipan 16 halaman yang memuat dua feature terpilih. Judul pertama, "Hari Kembang" ditulis Agus Sopian, yang menarasikan seorang pria berhati baja dari Ngawi, Jawa Timur, yang berusaha keluar dari kemelaratannya, dan berhasil. Agus Sopian banyak menulis esei dan laporan panjang. Sebagian karyanya terpajang pada majalah Pantau, Latitude dan Playboy. Judul kedua, ditulis Ahmad Nurhasim, peraih anugerah juara pertama lomba penulisan masalah anak yang digelar AJI dan Unicef pada 2007. Masih dengan gairah terhadap dunia anak dan remaja, Nurhasim melaporkan perihal candu iklan rokok yang diduga keras memiliki pengaruh signifikan terhadap kegiatan merokok anak dan remaja. Jangan lewatkan pula tulisan-tulisan seni lainnya, mulai karya sastrawan F. Dewi Ria Utari yang menuliskan obsesi Sardono W. Kusumo dan seniman Doddi Ahmad Fauji yang meresensi beberapa pameran dan pertunjukan seni. ---------------------------------------------- Untuk keterangan lebih lanjut hubungi Agus Sopian, Redaktur Pelaksana Majalah ARTi dengan alamat e-mail : [EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED] [Non-text portions of this message have been removed]

