Alangkah damainya dunia bila kita semua bisa berbagi seperti ini.
Tidak ribut masalah yang tidak perlu diributkan seperti selama ini
KAPAN GILIRAN ANDA  ???????
Doa Anita Buat Sang Dermawan...
 
TRIBUN KALTIM/KHOLIS
Ayah kandung Ny Anita tak kuasa menahan haru begitu melihat anaknya tiba-tiba 
pulang ke rumah diantar wartawan Tribun Kaltim.
/ 
Selasa, 17 Juni 2008 | 02:26 WIB
WAJAH Ny Anita yang semula sembab mendadak ceria. Ada senyum dari bibirnya nan 
mungil. Anita lalu bertanya kepada wanita yang mengasuh Muhammad khalif Akbar, 
"Sudah bisa ketawakah Bu?" Pengasuh itu mengangguk. Sembari menimang Khalif, 
Anita sedikit memberikan komentar. "Sudah gede betul ya!" Bahkan, dalam 
pertemuan mengharukan antara ibu dan sang buah hatinya, Anita sempat mengganti 
popok Khalif, bocah berusia tiga bulan.

Selang berapa lama, Abdul Manaf, ayah kandung Ny Anita, tiba-tiba masuk ke 
dalam rumah. Lelaki itu baru pulang dari kebunnya, tempat ia mengais rezeki. 
Melihat anaknya sudah berada di rumah, Manaf, tak kuasa menahan keharuan dan 
segera memeluk Anita. Semula ia tak percaya jika wanita yang ada di depannya 
itu adalah Anita. Seperti mimpi, katanya. Sejak mendengar kabar kedatangan 
anaknya, Manaf bergegas lari menuju ke rumahnya.
Air matanya tak bisa dibendung. "Anakku," teriak Manaf. Anita lalu 
berdiri, menyambut pelukan sang ayah. "Bapak...," teriak Anita. Keduanya larut 
dalam kegembiraan dengan air mata bercucuran. Sanak kerabat yang ikut 
menyaksikan pertemuan itu, juga tak henti-hentinya meneteskan air mata. Mereka 
tak kuasa menahan keharuan. Dengan isak yang masih serak, Manaf meminta maaf 
kepada Anita. "Maafkan Bapak, Nak... Bapak tak bisa membawamu pulang... Bapak 
tak punya uang Nak...Bapak hanya bisa berdoa kepada Allah... Setiap malam bapak 
selalu berdoa, sampai air mata bapak kering," tutur Manaf.

Kepada Anita, Manaf menceritakan bahwa uang yang hasil kerjanya yang ia 
kumpulkan tak cukup untuk membayar tagihan. "Bapak hanya bisa berdoa... dan 
berdoa dan berdoa. Saya bekerja di pembibitan Jarak, PT Japindo dengan upah Rp 
35..000 per hari. Uang itu tak cukup untuk membayar tagihan klinik. Kebutuhan 
keluarga di sini pun sulit terpenuhi," kata Manaf kepada Tribun. Ia pun 
menceritakan perjuangan suami Anita, Ardi. Menantunya itu sudah berusaha 
mencari biaya pengobatan istrinya hingga ke Makassar. "Setelah 10 hari bekerja, 
Ardi hanya bisa mengirimkan uang 1,4 juta. Namun uang itu habis untuk membeli 
susu Alif. Jadi tak sempat dikirimkan ke Balikpapan.".

Mengumpulkan uang sebesar Rp 25 juta bagi keluarga Manaf yang keadaan 
ekonominya cukup memprihatinkan adalah sebuah keajaiban. Untunglah ada dermawan 
itu. "Saya hanya bisa mendoakan agar yang membantu kami dipanjangkan umur dan 
dilapangkan rizqinya oleh Allah. Amin...," kata Manaf sambil menyeka air 
matanya. Mendengar doa sang ayah, Anita mengamininya. "Sama seperti Bapak, saya 
juga mengucapkan terima kasih. Semoga orang yang telah menolong saya dimudahkan 
rizqi dan selalu diberi kesehatan oleh Allah," ujar Anita sambil terisak. Doa 
ayah dan anak itu benar-benar keluar dari lubuk hati paling dalam....sebagai 
ucapan terimakasih kepada para dermawan. Hanya itulah yang mereka bisa berikan, 
ketulusan dan keikhlasan hati dalam memanjatkan doa.
***
JARUM jam menunjukkan pukul 09.00 Wita. Seorang pria tiba-tiba datang ke Klinik 
Al-Afiat, Jalan A Yani Balikpapan. Pria itu membawa sebuah amplop berwarna 
coklat berisi uang tunai Rp 5 juta. Sayangnya pria itu menolak menyebutkan 
identitasnya. Dia menyerahkan uang itu kepada Ambarwati, petugas kasir di 
klinik Al-Afiat. "Ini uang untuk melunasi biaya perawatan dan pengobatan 
Anita," kata Ambarwati menirukan ucapan hamba Allah. Itu berarti biaya 
perawatan dan pengobatan Anita di klinik lunas.

Ambarwati kemudian menerima uang pecahan Rp 100.000 itu dan memberikan selembar 
kuitansi. Semula Ambarwati hanya membuat kuitansi senilai sisa uang yang harus 
dilunasi Rp 3.334.100. Namun pria itu meminta agar semua uang itu diterima 
klinik. Alasannya, sisa uang sebanyak Rp 1.665.900 didepositkan untuk keperluan 
Anita jika suatu hari nanti memerlukan pengobatan atau perawatan dokter 
spesialis paru-paru di Klinik Al-Afiat. "Bapak itu meminta kami menyimpan uang 
senilai Rp 1.665.900 untuk kontrol ulang kesehatan Anita," ujar Ambarwati.

Total biaya perawatan dan pengobatan Anita, sejak 13 Maret hingga 15 Juni 2008 
sebesar Rp 37.604.100. Namun pihak klinik mendiskon hingga Rp 15.420.000. Jadi 
Anita hanya membayar Rp 22.184.100. Hingga Minggu (15/6) dana yang disetor 
Tribun Kaltim ---yang terhimpun dari para pembaca--- sebesar Rp 18.000.000. 
Bila ditotalkan dengan sumbangan dari warga lain senilai Rp 18.850.000 dan 
masih tersisa Rp 3.334.100. Namun Senin (16/6), semua pembiayaan dilunasi 
bahkan dideposit. (tribun kaltim/m22)
http://www.kompas.com/read/xml/2008/06/17/02260067/doa.anita.buat.sang.dermawan...



      Yahoo! Toolbar is now powered with Search Assist.Download it now!
http://sg.toolbar.yahoo.com/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke