APAKAH KEJUJURAN SEKEDAR FORMALITAS? Kejujuran merupakan sebuah kosa kata
yang sering digunakan dalam banyak kesempatan,namun karena sering
dimanipulasi,maka kejujuran tidak lagi sesakral artinya, kosa kata tadi
dijadikan objek di dalam perilaku orang - orang tertentu saja,jumlahnyapun
mungkin sangat sedikit sekali. Dan untuk sebahagian orang kebanyakan,
kejujuran hanya menjadi pemanis bibir dan formalitas kehidupan.

Kalau dianalogikan maka kejujuran laksana sebatang pohon yang akar -akarnya
merupakan integritas dari kebenaran, batang dan rantingnya sebagai
kredibilitas dari perbuatan baik, daunnya sebagai sikap dari keteladanan,
bunga dan buahnya sebagai rasa kedamaian atas semua kenyamanan bathin.

Pada dasarnya semua orang sebetulnya ingin menjadi orang yang jujur dan bisa
bermanfaat untuk sesamanya. Tetapi situasi dan kondisi yang sangat beragam
dengan tantangan hidup yang berbeda telah menciptakan lingkungan -
lingkungan hidup yang bermacam - macam pola dan perilakunya.

Ada individu yang merasa cukup dengan jumlah materi dalam ukuran tingkat
kepuasan hidup,namun ada pula orang -orang yang tidak pernah merasa kenyang
dan merasa puas,justru akhirnya menjadi serakah.Sehingga tidak jarang mereka
yang mempunyai kedudukan dan kuasa menyalah gunakan kekuasaan atas jabatan
yang diembannya,sudah bukan menjadi rahasia umum lagi,bagaimana orang diberi
tanggung jawab menjaga keamanan masyarakat umum justru menjadi
pemeras,petugas imigrasi yang menggunakan kewenangannya dengan memelintir
peraturan demi mendapatkan rupiah dan masih banyak contoh lagi.

Sikap tidak merasa kenyang dan puas tersebut bila didorong oleh pikiran
negatif, maka sudah pasti kejujuran hanya akan menjadi formalis pemanis
pelakunya. Kejujuran memang tidak selalu jujur, kadang kejujuran juga suka
berbohong agar dia tetap dapat eksis di perjalanan hidupnya. Kejujuran yang
suka berbohong inilah yang disebut dengan istilah "kejujuran sebagai
formalitas".


Saat ini, ketika slogan, motto, misi, dan lain sebagainya telah di jadikan
sebagai alat propaganda untuk mengekspresikan kejujuran dalam makna
kejujuran formalitas sebagai komitmen untuk pelayanan kepada masyarakat.
Media masa dan teknologi canggih telah menjadi alat terefektif untuk
mensosialisasikan semua nilai - nilai dari kejujuran formalitas. Sehingga
pada akhirnya oleh kebanyakan orang berpikiran bahwa kejujuran formalitas
itulah kejujuran sesungguhnya. Hal ini telah membuat makna kejujuran
bergeser, yaitu kejujuran itu dimaknai sebagai berbohonglah agar Anda tetap
eksis dalam perjalanan hidup ini.

Apakah kejujuran sejati telah dikhianati oleh kejujuran formalitas?, atau
pengkhianatan itu hanya untuk kebaikan agar semua mimpi - mimpi kehidupan
setiap orang yang menjadikan kejujuran formalitas sebagai topeng kebaikan
hidup mampu mencapai keinginan - keinginannya secara sempurna. Apa pun itu
jawabannya, kita harus mengakui realitas hidup yang dikuasai oleh kejujuran
formalitas. Sedangkan kejujuran sejati sudah sangat langka dan hampir punah,
dan mungkin tidak ada orang yang ingin melestarikannya.

Kejujuran formalitas pada saat ini menjadi alat propaganda yang telah
melangkah ke dalam kehidupan mental, sosial, dan emosional dari orang-orang
yang masih berbicara tentang moralitas dari persepsi dirinya, akan tetapi
mereka merasa tidak bahagia dan tidak nyaman kepada kesaktian makna
kejujuran. Hal ini disebabkan, mereka tidak mampu lagi membedakan antara
kejujuran formalitas dengan kejujuran sejati. Ketika maknanya sudah tidak
bisa di mengerti lagi, maka kekosongan jiwa dan kekacauan pikiranlah yang
akan dihasilkan.

Jangan heran kalau banyak orang yang terlihat hebat dan mengagumkan dalam
kehidupan ekonomi,namun mereka ternyata hidup dalam kesunyian. Hal inilah
yang mendorong sebahagian dari mereka terjun ke dalam dunia spiritualitas
agar mampu mendapatkan kedamaian bathin. Tetapi mereka lupa, bahwa kedamaian
bathin yang sejati hanya mampu diberikan oleh kejujuran sejati.Apakah
manusia mampu hidup dalam kejujuran sejati?. Manusia sebenarnya bukanlah
simbol kesempurnaan, tetapi manusia tidak lebih dari sebuah kreatifitas
tanpa batas yang selalu hidup dalam ketidaksempurnaan.

Perjalanan hidup setiap orang di dunia ini secara pasti akan melalui
berbagai tikungan bahagia, dan berbagai tikungan penderitaan. Kedua tikungan
ini merupakan takdir dari sebuah perjalanan hidup yang tidak bisa dimaknai
dengan kejujuran formalitas. Bahagia dan penderitaan adalah sebuah kejujuran
sejati yang tidak mungkin bisa diingkari oleh siapapun. Oleh karena itu,
sudah saatnya setiap orang mulai memikirkan makna hidup sesungguhnya dalam
wujud kejujuran sejati.

Kejujuran formalitas hanya akan menjadi ladang subur bagi penderitaan
mental, emosi, dan kedamaian jiwa. Kejujuran formalitas telah mengkhianati
kejujuran sejati dalam semua aspek kehidupan. Dan Hal ini jelas akan
menciptakan dampak yang besar kepada pertumbuhan pikiran positif. Apabila
pikiran positif mulai melemah, maka pikiran negatif akan menguasai semua
aspek kehidupan dari seseorang, jelas ini akan menjadikan orang tersebut
hidup dalam ketidakstabilan jiwa dan raga.

Kejujuran sejati seharusnya dilestarikan dan dirawat oleh setiap orang dalam
pikiran dan perilakunya secara wajar dan baik, dan menyingkirkan kejujuran
formalitas dari semua lingkungan kehidupan setiap orang agar kehidupan ini
bisa memberi makna damai dan bahagia kepada setiap manusia.

Pertanyaannya adalah apakah manusia mampu hidup dalam kejujuran sejati dalam
lingkungan dunia yang penuh godaan hidup dalam kemewahan ini?

......Silakan Anda renungkan sendiri. Pastikan Anda adalah seorang pribadi
yang mampu melestarikan kejujuran sejati.

"Yang sedang prihatin akan nilai-nilai kejujuran & keikhlasan"
*HENDRY RISJAWAN*


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke