*Membangun Karakter Bangsa
Oleh: Aswandi*

DALAM karyanya "Bharatayudha", Empu Sedah dan Empu Panuluh, delapan ratus
lima puluh satu tahun yang lalu, tepatnya tahun 1157 telah mengingatkan kita
yang hidup sekarang ini dengan mengatakan, "Pulau Jawa adalah tanah yang
subur makmur, sangat indah tiada tara, tetapi negara ini sedang menderita
sedih, karena dirusak oleh orang-orang jahat, dan para raja yang memerintah
tidak mampu menjaganya" (Kompas, 17 Mei 2008). Peringatan dua pujangga
tersebut mengingatkan kita pada beberapa kisah dan informasi berikut ini.

Setelah menyelesaikan studi doktor di Amerika, sebelum kembali ke tanah
airnya; Indonesia, Nurcholish Madjid menyempatkan diri singgah/pergi ke
Timur Tengah guna melaksanakan Umrah. Dalam perjalanannya, beliau ditemani
bule perlente yang juga warga negara Amerika. Di tengah perjalanan, si bule
memaksa supir taxi berhenti, kemudian si bule pun turun, tentunya setelah
membayar ongkos perjalanannya. Sesampai di tempat tujuan, Cak Nur bertemu
kembali dengan si bule tadi, seraya bertanya, "kenapa tadi anda memaksa
untuk diturunkan di tengah jalan? Si bule menjawab, "karena saya ketahui
setelah berada dalam taksi ini, supirnya adalah orang Indonesia. Lalu
kenapa? Ada persoalan apa anda dengan orang Indonesia? Si bule kembali
menjawab dalam nada bertanya, bukankah orang Indonesia karakter suka menipu?


Anthony Giddens mengatakan pada umumnya orang Asia suka pesta dan bersolek.
Referensi lain; Ensiklopedia Britania, penulis temukan dan baca sebuah entry
tentang "Malay", disana disebutkan bahwa orang Melayu, salah satu suku
bangsa negeri ini (menurut Amien Rais, maksudnya orang Indonesia) adalah
pemalas, boros dan beberapa karakter negatif lainnya. Mochtar Lubis
menambahkan beberapa ciri atau karakter manusia Indonesia; "(1) hipokrit
atau munafik; lain di mulut dan lain di hati; (2) enggan bertanggung jawab;
(3) mental menerabas, ingin kaya tanpa usaha, ingin pintar tanpa belajar;
(4) feodalistik; (5) masih percaya tahyul; (6) artistik/penampilan/bergaya
(7) berwatak lemah sehingga dengan mudah dirubah keyakinannya demi
kelangsungan hidup. Dan karakter tambahan; (1) senang bernostalgia/efouria
masa lalu; (2) cepat marah; (3) tukang lego untuk ditukar dengan yang lain
asal dapat uang tunai."

Kita pun menjadi semakin bersedih, ketika membaca sebuah artikel yang
ditulis oleh MT. Zen berjudul "Jangan Biarkan Indonesia Jadi Negara Gagal".
Pada artikel tersebut dikemukakan beberapa kriteria atau ciri khas yang
disepakati di dunia ini mengenai sebuah negara gagal, sepertinya kriteria
tersebut sedang terjadi di negeri tercinta saat ini, yakni sebuah negara;
(1) terasa tidak ada lagi jaminan keamanan; (2) pemerintah seakan-akan tidak
lagi dapat menyediakan kebutuhan pokok; (3) korupsi merajalela dan justru
dilakukan oleh lembaga yang sebenarnya memiliki tugas pokok melindungi
rakyat, masyarakat dan negara terhadap gangguan korupsi; (4) bentrokan
horizontal diantara kelompok etnisitas yang sebenarnya tidak perlu terjadi;
(5) kehilangan kepercayaan yang merata dan menyeluruh dari masyarakat
(Kompas, 14 mei 2008).

Sudahlah, terlalu banyak untuk disebutkan bukti-bukti dekadensi moral dan
lemahnya karakter anak bangsa pada kolom opini terbatas ini. Lembaga
pendidikan dan pemberdayaan masyarakat sudah tidak terhitung jumlahnya yang
telah melakukan upaya ke arah perbaikan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM)
ini, namun hasilnya sebagaimana yang kita saksikan hari ini. Meskipun
demikian, janganlah berputus asa, sejelek apapun karakter bangsa ini. Ia
adalah tanah air, bangsa, dan negeri kita sendiri. Mungkin ada diantara
mereka anak kandung dan saudara/i kita sendiri. Kondisi tersebut di atas
membuat salah seorang pujangga, Taufik Ismail merasa "Malu Menjadi Orang
Indonesia". Mengapa harus malu? Mari kita hapus rasa malu ini dengan
memikirkan kembali pendidikan, yakni menjadikan pendidikan lebih bermakna
dan pendidikan berbasis karakter.

Mahatma Gandhi mengatakan, "kualitas karakter adalah satu-satunya faktor
penentu derajat seseorang dan bangsa". Dan membangun karakter (character
building) telah menjadi keinginan semua orang, terutama para pendiri bangsa
ini. Karakter yang baik lebih dari sekedar perkataan, melainkan sebuah
pilihan yang membawa kesuksesan. Ia bukan anugerah, melainkan dibangun
sedikit demi sedikit, dengan pikiran, perkataan, perbuatan, kebiasaan,
keberanian usaha keras, dan bahkan dibentuk dari kesulitan hidup", dikutip
dari Maxwell (2001) dalam bukunya "The 21 Indispensable Qualities of A
Leader".

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam sambutan peringatan Hari Pendidikan
Nasional di Universitas Airlangga, Senin 12 Mei 2008 yang lalu mengingatkan
bahwa, "ke depan bangsa ini harus meningkatkan kemandirian, daya saing dan
peradaban bangsa. Untuk itu pendidikan harus bertujuan mentransfer ilmu
pengetahuan dan teknologi, serta membentuk nilai dan karakter bangsa yang
unggul yang dicirikan antara lain; ulet, tangguh, sanggup menghadap
tantangan, saling menyayang dan menghormati, dan toleransi."

Usaha membentuk karakter yang baik bukan pekerjaan mudah, memerlukan
pendekatan komprehensif yang dilakukan secara eksplisit, sistematis, dan
berkesinambungan yang dimulai dari sejak kecil di lingkungan keluarga.
Sayangnya pendidikan dalam keluarga (informal) ini belum memperoleh
pencerahan yang baik, dibanding penyelenggaraan pendidikan pada jenjang
lainnya. Ada dua hal penting yang mesti diperhatikan ketika membangun
kakarter bangsa ini, yakni melalui; (1) pembiasaan; dan (2) contoh atau
tauladan. Stephen Covey mengatakan, "Karakter kita pada dasarnya disusun
dari kebiasaan-kebiasaan kita," dikutip dari Paul G. Stoltz (2003) dalam
bukunya "Adversity Quotient @ Work."

Demikian pula keteladanan, Abdullah Nashih Ulwan (1999) dalam bukunya
"Tarbiyatul Aulad fil Islam" mengatakan keteladanan dalam pendidikan
merupakan metode yang berpengaruh dan terbukti paling berhasil atau membekas
dalam mempersiapkan dan membentuk karakter, moral, spritual dan etos sosial
anak. Allah SWT mengingatkan dalam firmannya QS 2:44; "Mengapa kamu suruh
orang lain mengerjakan kebaikan, sedangkan kamu melupakan diri atas
kewajibanmu, padahal kamu membaca al-Kitab, maka tidakkah kamu berpikir?" **



-- 
Hendry Risjawan
Ka. Trainers Club Indonesia
website: www.trainersclub.or.id
milis: [EMAIL PROTECTED]


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke