Selamat Jalan Pungkas Tri Baruno 

*catatan terakhir dari Pelajaran  Exspedisi Tunas Mc.Kinley 2008

Jam saya menunjukan pukul 09.10 WIB 19/08/08 saat itu dalam perjalanan menuju 
tempat istri saya tinggal dan bekerja di sebuah Kabupaten di Provinsi Nanggroe 
Aceh Darussalam, tiba-tiba Hp saya bergetar menandakan pesan singkat masuk, 
ternyata senior Pramuka yang jauh diatas saya yang mungkin sudah lebih dari 
sepuluh tahun gak pernah ketemu dan kontak dan beliau saat ini bekerja di 
sebuah statiun televisi swasta di Jakarta, pesan singkatnya berbunyi “ 
Bagaimana tanggapan kakak dengan anggota pramuka “pungkas yang meninggal di 
gunung Es Mc Kinley Canada? Bila dilihat dari segi persiapannya ??”

Awalnya saya ragu menjawabnya, jangan-jangan dia mau pulikasikan sms singkat 
saya melalui siaran televisi dimana beliau bekerja, tiba-tiba masuk kembali sms 
ke dua menyusul;
“Kenapa tidak Try Out dulu di gunung gede, atau pangrango atau di puncak gunung 
Jaya Wijaya yang ada saljunya, malah pake pendamping lagi, maunya instan saja 
eh tiba-tiba mau dijadikan Pahlawan”. Sepertinya beliau forwad sms ini dari 
yang lain.
Akhirnya saya pun tertarik membalas pesan singkat tadi :
“Sepertinya persiapan tim expedisi ini tidak terpulikasikan kepada masyarakat 
umum khususnya lingkup Gerakan Pramuka, dan saya pun tidak jelas apakah ini 
kegiatan Kwarnas atau kegiatan Menpora atau juga kegiatan yang iseng-iseng 
berhadiah”.

Sms berikutnya saya kirimkan dengan bunyi “Robinhood saja disamping dianggap 
sebagai pengacau keamanan oleh yang saat itu berkuasa dia juga dianggap sebagai 
Pahlawan dimata koleganya”. 

Senior saya lebih lanjut menyesalkan kenapa Kwartir Nasioal saat penerimaan 
jenazah tidak berani mempertanggung jawabkan secara moril di hadapan umum 
padahal itu adalah anggotanya sendiri, tetapi malah Menpora yang mungkin tidak 
tahu apa-apa malah dengan gentlement nya bertanggung jawab atas musibah ini. 
Pungkas meninggal setelah berhasil menancapkan Bendera Merah Putih dan Bendera 
Pramuka di Puncak Gunung McKinley Alaska Amerika Utara.

Sampai hari ini masih banyak komentar-komentar lain yang memberi semangat 
bahkan mengusulkan agar Pungkas Mendapat Penghargaan terlebih lagi disebut 
Pahlawan namun tidak sedikit yang mencemoohkan musibah ini, tergantung kita 
memandangnya dari sisi mana. Jujur saja saya menyesalkan kurangnya pulikasi dan 
transparansi dan Kwartir Nasional sendiri terhadap agenda-agenda kegiatan dan 
besar seperti ini, sampai-sampai saya membaca dimilis ada salah seorang pembina 
pramuka di Jawa Barat baru mau packing berangkat ke cibubur untuk ikutan 
Raimuna Nasional IX 2008 sementara kegiatannya telah usai… (entah panitia yang 
kurang publikasi atau mungkin pembina ini baru turun Latihan Gabungan dari 
pertapaan) 

Bicara komentar sana komentar sini, salah seorang pimpinan dikantor yang juga 
seperjalanan menasehati saya, Pak Oman jangan banyak ikuti omongan orang, 
tetapi lakukan saja yang bapak anggap benar, dia mengisahkan kisah sahabat 
Rasul saat itu melakukan perjalan bersama anaknya menunggang keledai, berdua 
duduk diatas punggung keledai tersebut. Orang-orang disekeliling 
mencemoohkannya, 
”itu orang gak tau diri keledai segitu kecilnya dinaiki berdua” 
mendengar omongan itu orang tua sianak menyuruh anaknya saja yang duduk di 
punggung keledai tersebut dan si orang tua jalan kaki. 
Orang-orang disekelilingnya pun berkomentar:
”si anak gak tahu diri, masa orang tua jalan kaki dia malah diatas menunggang 
keledai”. 
Si anak akhirnya berkata kepada bapaknya dan menyuruh bapaknya yang menunggang 
keledai si anak jalan kaki. Orang-orang disekeliling berkomentar juga 
”orang tua gak tahu diri masa anaknya suruh jalan kaki dia enak-enak menunggang 
keledai”. 
Serba salah keduanya akhirnya memutuskan untuk jalan kaki dan keledainya di 
tuntun berduaan, orang-orang disekelilingnya tetep berkomentar, 
”Dasar bodoh orang tua dan anak itu, sudah ada keledai malah jalan kaki. Si 
orang tua dan anak tidak habis pikir dan tidak tahan mendengar berbagai macam 
komentar orang-orang disekelilingnya, akhirnya keduanya memutuskan untuk 
memikul keledai itu berdua, Orang-orang disekitarnya tetap saja berkomentar 
juga;
”Dasar Gila orang itu masa keledai dipikul, mereka malah Jalan kaki bukannya di 
tunggangi..
Pusing dengan omongan orang-orang disekitarnya akhirnya si orang tua dan anak 
tersebut mendatangi Rasulullah SAW dan menceritakan semua kejadian ini, dan 
rasul tersenyum dan berkata ”Lakukanlah apa yang menurutmu benar niscaya kamu 
akan selamat”.

Kisah perjalanan Exspedisi Tunas Mt. Mc Kinley merupakan kisah tekad bulat 
seorang Pungkas, Pramuka yang sejak dari persiapan sampai musibah mendapat 
banyak komentar dari kiri kekanan dan dari kakan ke kiri, mulai dari kendala 
pendanaan sampai pada pengunduran diri beberapa pelatih dan konsultannya.
setelah saya pikir, sekalipun Exspedisi ini tidak dibiayai Kwartir Nasional 
ataupun Menpora, perjalan mereka ke alaska telah di takdirkan oleh sang pencita 
pemilik alam jagat raya ini, alhamdulillah Pendakiannya kan berhasil dan sukses.

Masalah Pungkas Tri Baruno meninggal dipuncak Mt.Mc Kinley  itu adalah Rahasia 
Sang Pemilik alam semesta ini, Bayu Tresna, Hartman Nugroho dan Zulfa serta 
penununggu Mt. Mc Kinly yang tidak ada dalam skenario memang telah di tugaskan 
oleh Sang Maha Kuasa untuk menghantarkan Pungkas Tri Baruno ke tempat 
pengeksekusian yang sudah di tugaskan kepada Malaikat Pencabut nyawa pada 
tanggal 07/07/2008 pada jam, detik dan koordinat yang telah ditentukan, untuk 
dilaksanakan di ketinggian 17.200ft dibawah sedikit puncak Mt.Mc Kinley - 
Alaska. 

Konon Malaikat Ijrail pun dikirim ke Alaska langsung dari langit tidak bareng 
dengan Tim Expedisi karena menurut keterangan tidak mendapat visa dari kedutaan 
Amerika untuk ke Alaska melalui Indonesia. (red: silahkan datang tanyakan ke US 
Embassy tentang hal ini kalo belum percaya).

Setidaknya malaikat Ijrail patut merasa berhutang budi kepada Kang Bayu Tresna, 
Hartman Nugroho dan Zulfa yang dengan berbagai macam persiapannya harus 
berlatih berhari-hari naik gunung sana- naik gunung sini hanya untuk 
menghantarkan Pungkas Tri Baruno ke tempat yang lebih tenang dan penuh 
tantangan dan hanya merekalah dari Indonesia yang menjadi saksi dalam eksekusi 
mati ini.

Bayangkan jika expedisi ini gagal tentunya malaikat ijrail sampai saat ini 
masih duduk termenung di ketinggian 17.200ft Mt. Mc Kinley menahan dingin 
kurang dari -20ºC dengan terpaan angin dan badai dan Pungkas Tri Baruno bisa 
saja akhirnya menjadi orang yang putus asa akibat kegagalannya berangkat ke 
alaska dan berbuat yang di benci kita dan Tuhannya. 

Untung saja Pungkas lebih percaya pendapatnya ketimbang mengikuti saran para 
mantan pelatih, penasehat dan orang-orang disekitarnya.

Wallahu’alam.

Bravo Pungkas !!! 
Hidupmu adalah pengorbanan terbaik mu.
dan Tetap berkarya Kang Bayu, Hartman Nugroho juga Zulfa, Pengalaman ini hanya 
kalian yang dapat...


Oman Zaenurrohman
District Coordinator 
   
USAID-Local Governance Support Program 
District Calang - Aceh Jaya
Mobile Office 
Hp. +62 812 698 9486










      

Kirim email ke