SUARA PEMBARUAN DAILY 

________________________________

Berbekal Tekad dan Nekad, Penjual Koran Itu Kuliah di UI 
arilah ilmu sampai ke negeri Cina", mungkin pepatah inilah yang cocok 
menggambarkan perjuangan seorang Ais Rahim dalam menuntut ilmu. 
Jauh-jauh dari Provinsi Gorontalo dengan berbekal uang seadanya ia nekat dan 
bertekad ke Ibukota yang belum pernah dikunjunginya. 
Kuliah di Universitas Indonesia (UI), Jakarta tidak pernah terlintas dalam 
pikirannya, apalagi mempelajari Sastra Jawa. 
Atas upayanya, ia mendapatkan keringanan biaya yang luar biasa, hanya 
mengeluarkan biaya sebesar Rp 200.000 per semesternya. Ais adalah salah satu 
penerima bantuan dana pendidikan dari para aktivis Badan Eksekutif Mahasiswa 
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (BEM FEUI). 
Senin, (1/9) lalu adalah hari pertama Ais sebagai mahasiswa, ia memasuki 
ruangan kelasnya di UI dan belajar. Di sela kesehariannya berjualan koran dan 
minuman di kereta api Jabotabek, ia menuntut ilmu di universitas negeri ternama 
di Jakarta. 
"Ini adalah anugerah Tuhan. Saya bukan anak yang terlahir dari keluarga yang 
mampu membiayai pendidikan tinggi. Namun, saya bersyukur telah diberikan 
semangat untuk terus mengejar ilmu di tengah kemustahilan biaya," kata Ais. 
"Yang ada di pikiran saya tentang Jakarta adalah kehidupan yang keras, bahkan 
sempat terpikir bahwa tidak akan ada orang yang dapat dipercayai di sana," 
imbuhnya. 
Dengan optimistis, Ais memutuskan untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan 
terjadi jika ia benar-benar pergi ke Jakarta. 
Perjuangan 
Di kampung halamannya, di Desa Isimu Utara, Provinsi Gorontalo, keseharian Ais 
dijalani dengan sangat sederhana. Anak lelaki yang telah terbiasa berdagang 
sejak kecil itu mengatakan, sehari-hari dia hanya dapat menyantap makanan 
dengan apa adanya. 
Sejak di bangku sekolah dasar, Ais sudah berjualan permen di sekolahnya. Dia 
juga pernah dalam jangka waktu yang lama, berjualan kantong plastik di sebuah 
pasar ikan di Manado. 
Pemuda berusia 19 tahun itu tampak biasa saja, kesederhanaan dan kerendahan 
hati terpancar ketika wartawan menyapanya sore itu di tempat penampungan 
anak-anak jalanan di Terminal Depok. Ia mengajak SP duduk di sebuah ruangan 
kecil yang lumayan sempit dan hanya cukup menampung tiga orang. 
Di situlah Ais menceritakan perjuangannya mendapatkan kesempatan kuliah di 
Universitas Indonesia. 
Waktu itu, 27 Juli 2007, dengan berbekal uang sebanyak Rp 3 juta yang dipinjam 
dari beberapa kerabatnya, Ais anak ke-3 dari empat bersaudara, membeli tiket 
pesawat menuju Jakarta. 
Dari Gorontalo hanya ada dua pesawat yang melayani keberangkatan ke Jakarta. Ia 
harus transit dulu di Bandara Sam Ratulangi dan harus menginap semalam. Secara 
tidak sengaja ia bertemu dengan seorang pria paruh baya bernama Syaifuddin. 
"Pak Syaifuddin yang memperkenalkan saya kepada beberapa orang hingga akhirnya 
saya sampai kepada seorang pemuda bernama Kaje yang tinggal di kawasan Terminal 
Depok, Jawa Barat. Kak Kaje-lah yang mengantarkan saya ke Yayasan Bina Mandiri, 
tempat penampungan anak-anak jalanan, penjual koran, dan anak-anak perantauan," 
paparnya. 
Yayasan Bina Mandiri yang terletak di tengah Terminal Depok adalah tempat yang 
sering dikunjungi oleh para mahasiswa yang juga aktivis BEM FEUI. 
Para mahasiswa itu memiliki jadwal rutin dalam mengunjungi para penjual koran 
dana anak-anak jalanan yang kurang lebih berjumlah 15 orang di yayasan. 
Di sana mereka mengajar dan berkumpul bersama. Hingga suatu saat Ais ditawarkan 
untuk mendaftarkan dirinya mengikuti Ujian Saringan Masuk Mahasiswa Baru UI. 
Bersama dengan 15.000 mahasiswa yang datang untuk ujian hari itu, Ais mengadu 
nasibnya untuk dapat memperoleh kesempatan belajar di UI. 
Sastra Jawa 
Ia mengambil dua pilihan jurusan, yaitu Manajemen dan Sastra Jawa. Bobot yang 
telah ditentukan universitas untuk jurusan Sastra Jawa ternyata berhasil diraih 
Ais. 
Meskipun Manajemen terpaksa ditinggalkan karena bobot yang terlalu tinggi dan 
tidak mampu diraih Ais, ia sama sekali tidak kecewa. Ais memang mencintai seni, 
dan menurutnya, mempelajari kesusastraan Jawa adalah sesuatu yang menarik. 
"Saya menemukan banyak mahasiswa asing yang belajar Sastra Jawa di UI. Saya 
bangga bisa berkenalan dengan mereka yang berasal dari luar negeri serta 
bertukar informasi," kata Ais yang selalu berkeinginan dapat mengentaskan 
kemiskinan di desanya, di Gorontalo. 
Dengan bakat berjualan yang telah dimilikinya sejak kecil, Ais akan terus 
menyambung hidupnya dari hari ke hari di Jakarta. 
Ia tidak mau menyusahkan orangtuanya di Gorontalo, apalagi menggantungkan diri 
kepada ayahnya yang sedang sakit keras dalam beberapa tahun belakangan ini. 
Sebagai mahasiswa jurusan Sastra Jawa, tidak ada masalah baginya. Sebagai 
sarjana humaniora nantinya, Ais hanya ingin kembali ke kampung halaman dan 
membangun desanya dengan segala pengalaman berharga yang telah ia dapatkan 
selama di Jakarta. [WWH/R-8] 

________________________________

Last modified: 16/9/08 

http://www.suarapembaruan.com/News/2008/09/16/index.html
________________________________

Search. browse and book your hotels and flights through Yahoo! Travel


      Yahoo! Toolbar is now powered with Search Assist.Download it now!
http://sg.toolbar.yahoo.com/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke