Dear All

 

Artikel dari Milis tetangga ini sangat menarik dan menurut saya patut
dijadikan bahan renungan J. 

 

Regards

 

Dedi Wibowo

 

From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
On Behalf Of Moderator [EMAIL PROTECTED]
Sent: Monday, September 22, 2008 1:58 PM
To: Kajian Ekonomi Islami
Subject: [EMAIL PROTECTED] FW: Benarkah Rakyat Indonesia Miskin?

 


 


Benarkah Rakyat Indonesia Miskin?
Oleh : Rosyadi Aziz Rahmat


KabarIndonesia - Pada kenyataannya bangsa Indonesia tidak terlalu miskin
untuk tetap bertahan sebagai sebuah negara. Hasil bumi tetap melimpah ruah,
jumlah penduduk semakin bertambah. Tidak banyak dijumpai masyarakat yang
benar-benar miskin, hanya malas berpikir atau malas berusaha atau malas
belajar atau malas bersyukur kepada Tuhan. Intinya "malas".  

Saya setengah setuju bila dikatakan sebagian besar rakyat Indonesia
benar-benar tergolong miskin. Mungkin dari segi sandang-pangan-papan bisa
dikatakan seperti itu, tapi dari segi mental saya sangat membenarkan.
Istilah yang paling tepat adalah kemiskinan mental. Kemiskinan mental ini
tidak hanya terjadi pada masyarakat dengan perekonomian pas-pasan, namun
juga melanda orang-orang yang kaya secara materi. Hal ini bisa saya buktikan
dengan beberapa contoh, pertama, kebiasaan merokok. Saya yakin sebagian
besar masyarakat di Indonesia adalah perokok, mungkin salah satunya Anda.
Pernahkah terpikir oleh kita bahwa rokok itu benar-benar sedikit manfaatnya
bila tidak mau dikatakan tidak ada dibandingkan kerugian.   

Rakyat Indonesia kerap mempermasalahkan pelanggaran hak asasi manusia (HAM),
namun tidak mengerti apa itu HAM, apa saja yang termasuk HAM, dan apa
konsekuensi pelanggaran HAM. Sadarkah kita bahwa hidup layak dengan
menghirup udara segar tanpa tercemar asap rokok juga termasuk HAM?
Seharusnya orang yang merokok juga diadili karena telah mengurangi HAM orang
lain dan mereka pantas mendapatkan hukuman layaknya pelanggaran HAM lainnya.
Benar?   

Dari segi kesehatan, ribuan penelitian menyebutkan setiap sentimeter kubik
asap rokok mengandung jutaan macam racun dan zat berbahaya bagi kesehatan.
Tapi apa kaum perokok pernah menyadari hal itu? Tidak, justru mereka
mencari-cari pembenaran dengan berbagai olokan yang seolah-olah masuk akal. 

Hal yang lebih memberatkan, kenyataannya sebagian besar perokok adalah
masyarakat yang miskin. Padahal harga rokok tergolong mahal bila
dibandingkan dengan makanan bergizi. Misalnya, satu bungkus rokok rata-rata
berharga Rp 6000,00 atau lebih, sementara Anda dapat membeli sesisir buah
pisang dengan harga tersebut. Jadi amat mengherankan bila sampai terjadi
anak meninggal karena kurang gizi, sementara orangtuanya mampu membeli
rokok. Siapa yang salah? Tidak bisa dipungkiri bahwa pajak bagi negara yang
dihasilkan dari rokok sangatlah besar. Namun satu hal yang kita lupa bahwa
rokok juga telah "membunuh" rakyat Indonesia pelan-pelan tapi pasti. 

Berbagai macam penyakit yang berhubungan dengan rokok telah menyebabkan
kematian, namun tidak membuat orang jera untuk merokok. Kenyataan ini
menggambarkan rakyat Indonesia malas berpikir untuk mencari alternatif cara
lain meningkatkan pendapatan negara selain dari rokok. Apakah negara kita
tetap akan bertahan hidup dengan membunuh rakyat sendiri? Atau rakyat yang
merokok tidak pernah menyadari bahwa mereka menjadi "tumbal" pembangunan
dengan diberikan sedikit kenikmatan sesaat (baca: rokok). Terkadang kaum
perokok bangga dengan kekonyolan bunuh diri ini. Mereka merasa jantan bila
telah menghisap rokok, padahal kaum waria (banci/bencong) juga merokok. Oleh
karena itu, hanya orang yang tidak menghargai hidup yang mau merokok. Mereka
tidak bersyukur kepada Tuhan atas hidup yang diberikan kepadanya. 

Bagaimana mereka akan mempertanggungjawabkan hidupnya kepada Tuhan? 

 

Kedua, masyarakat belum mampu memilah dan memilih kebutuhan sesuai dengan
prioritasnya. Sebagian masyarakat masih menghabiskan uang yang mereka miliki
untuk membeli yang belum menjadi prioritas kebutuhannya, misalnya masyarakat
miskin yang membeli rokok, kosmetik, bahkan barang elektronik, misalnya
televisi, lemari es, atau bahkan handphone (HP). Sampai-sampai saat ini
tukang becak pun sudah menggunakan HP karena harganya semakin murah. 

Saya tidak tahu apakah rokok, kosmetik, dan barang elektronik tersebut lebih
penting bagi orang miskin daripada makanan dan pendidikan anaknya.
Bagaimanapun murahnya harga HP, tetap saja harga makanan bergizi jauh lebih
murah. Seharusnya masyarakat lebih memprioritaskan masalah kesehatan dan
pendidikan karena ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, namun juga
tanggung jawab masyarakat itu sendiri.   

Sebenarnya menjaga kesehatan jauh lebih mudah daripada mengobati penyakit,
malah terkadang tidak membutuhkan biaya. Misalnya berhenti merokok dan
berlari-lari kecil di sekitar rumah setiap pagi, tidak perlu ke tempat
olahraga khusus dan mengganti rokok dengan buah-buahan segar, tidak mesti
mahal. Buah yang paling tinggi kandungan vitamin C adalah buah jambu batu,
bukan buah anggur. Buah pepaya dapat melancarkan buang air besar. Buah
pisang membantu mengontrol tekanan darah dan sebagai obat mencret.   

Ketiga, masyarakat sulit beradaptasi dengan masalah hidup dan kehidupan yang
terjadi. Misalnya harga minyak goreng naik, kita tetap dapat memasak telur
dan sayur dengan merebusnya, tidak mesti memaksakan menggunakan minyak
goreng. Ikan bisa digulai atau dipindang. Bila kita tidak mampu membeli ikan
dan daging, kita bisa menggantinya dengan tahu dan tempe yang proteinnya
setara dengan daging, atau memvariasikannya dengan telur. Selain itu,
masalah lapangan pekerjaan juga sering menjadi kebingungan masyarakat.
Sebagian besar masyarakat sangat tergantung dengan mata pencahariannya saat
ini. Sehingga bila terjadi sesuatu yang menghalangi pekerjaannya atau
kehilangan mata pencahariannya, mereka putus asa dan tidak tahu harus
bagaimana mencari solusinya.   

Perlu kita sadari, hanya manusia yang ulet dan kreatif yang mampu bertahan
dengan masalah seperti itu. Kita tidak jarang melihat orang yang berhasil
secara ekomoni adalah orang ulet dan kreatif yang menyicil usahanya dari
hal-hal kecil yang dianggap sepele oleh orang lain, meskipun mereka berasal
dari orang yang berada. Mereka mau mencari peluang usaha lain bila menemukan
jalan buntu, tidak menyerah pada nasib.   

Keempat, sebagian besar masyarakat masih malas belajar. Belajar tidaklah
harus di bangku sekolah. Kita dapat belajar di mana saja dan kapan saja.
Kita dapat belajar dari kesalahan sendiri, pengalaman orang lain, dan
belajar kepada alam. Pemerintah telah berusaha menaikkan anggaran pendidikan
dan memberikan bantuan pendidikan. Seharusnya ini juga mendapat perhatian
dari masyarakat untuk dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya. Uang yang digunakan
untuk membeli rokok, kosmetik, dan barang elektronik ditabung untuk membeli
buku pelajaran anak-anak.   

Satu kekeliruan yang tetap dipertahankan dan diwariskan turun temurun adalah
pemahaman bahwa belajar di sekolah untuk mendapatkan pekerjaan dan menjadi
orang kaya. Hal ini telah sangat menjatuhkan harkat dan martabat sekolah dan
lembaga pendidikan sehingga menjadi kehilangan identitas yang benar.
Lembaga pendidikan seharusnya mendidik dan mencetak manusia berkualitas yang
mampu mengabdi pada masyarakat. Jadi segala kemampuan dan keahlian yang
didapat melalui lembaga pendidikan ditujukan untuk kesejahteraan masyarakat,
bukan hanya untuk kepentingan pribadi. Misalnya seorang insinyur yang
menciptakan mesin pembangkit listrik sederhana menggunakan aliran sungai
yang kecil atau menciptakan biogas dari kotoran ternak. 

Selain bermanfaat bagi masyarakat, tentu ini dapat membuka lapangan
pekerjaan. Apakah kita tidak bangga dengan Pak Habibie yang bersekolah
tinggi jauh-jauh ke luar negeri mampu menciptakan lapangan pekerjaan dengan
mendirikan pabrik pesawat? Bukankah ini yang dikatakan mampu mengabdi pada
masyarakat?   

Kelima, tidak jujur. Kejujuran merupakan hal sederhana yang sulit dilakukan
pada saat hal itu diuji. Misalnya, ketika ada kesempatan mengambil barang
yang bukan miliknya, sebagian orang cenderung untuk mengambil. Istilah
mereka "mumpung ada kesempatan". Beginikah mental kita?   
Contoh lain, ada sebagian masyarakat yang terdaftar sebagai peserta
Askeskin, sementara pada kenyataannya tidak benar-benar miskin. Mereka bukan
tidak mampu, hanya pelit dan takut benar-benar miskin bila berobat.   

Keenam, malu atas bangsa sendiri. Tidak sedikit rakyat Indonesia yang tidak
bangga dengan bangsanya. Kita merasa lebih bangga bila menggunakan produk
luar negeri, berobat ke luar negeri, atau identitas dan budaya yang "luar
negeri". Bangsa Indonesia hampir kehilangan identitasnya karena rakyat
Indonesia lebih mencintai luar negeri.   

Ketujuh, korupsi dan suap menyuap. Meskipun kebiasaan turun temurun ini
telah mendapat perhatian serius dari pemerintah, sepertinya sebagian orang
tidak merasa takut untuk tetap melakukannya. Semakin banyak kasus yang
terungkap, semakin banyak pula dilakukan oleh orang-orang yang tidak
bertanggung jawab. Alangkah memalukannya bila kita sampai memakan yang bukan
menjadi hak kita. Dana operasional pendidikan yang disunat atau dana proyek
pembangunan yang dipangkas. Semuanya diatasnamakan sebagai "uang lelah" atau
"uang terima kasih".   

Di samping itu, sebagian dari kita masih menghitung "jasa" yang kita berikan
dengan uang. Padahal setiap bantuan yang diberikan tidaklah dapat diukur
dengan uang karena selain terlalu kecil, juga tidak sebanding. Misalnya
ketika menemukan dompet di jalan. Saya yakin sebagian masyarakat -atau
mungkin kita- akan berharap diberikan imbalan karena telah menemukan dan
mengembalikan dompet tersebut kepada pemiliknya.   

Ketujuh hal di atas hanya sebagian dari contoh kemiskinan mental rakyat
Indonesia. Kemiskinan mental ini telah menjangkiti sebagian besar rakyat
Indonesia secara turun temurun. Kenyataan ini telah menjadi sesuatu yang
melekat erat dan menjadi identitas tersendiri bagi sebagian dari rakyat
Indonesia. 
Tidak ada cara lain selain memperbaiki mental rakyat Indonesia. Perbaikan
ini mesti disertai keinginan kuat untuk berubah dan melepas identitas buruk
tersebut, serta dukungan seluruh rakyat Indonesia.

DATA PRIBADI   NAMA        :    ROSYADI AZIZ RAHMAT TEMPAT/TGL. LAHIR
:    BATAM, 2 MARET 1984 PENDIDIKAN                      :    1. SDN 022
BATAM (TAMAT TAHUN 1996) 2. SLTPN 6 BATAM (TAMAT TAHUN 1999) 3. SMUN PLUS
PROV. RIAU PEKANBARU (TAMAT TAHUN 2002) 4. FAKULTAS KEDOKTERAN USU (TAMAT
TAHUN 2008)


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com


Mohon partisipasi Bapak/Ibu untuk mengisi Polling Pemanfaatan Bank Syariah 
Silahkan klik
http://asia.groups.yahoo.com/group/ekonomi-islami/surveys?id=2366675 
Semoga partispasi Bapak/Ibu bermanfaat dalam kajian sosial ekonomi islami di
Indonesia


 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke