From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf
Of Gita Ang
Sent: Friday, October 03, 2008 1:55 AM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [PROFEC] Gerbong Itu Bernama Asia

 


Gerbong Itu Bernama Asia

Di belakang gerbong masinis, ada satu lokomotif berukuran besar. Gerbong itu
bernama Cina. Gerbong yang menarik perhatian banyak pihak dan disebut-sebut
salah satu gerbong kecilnya (kebanyakan menyebut Cina) akan menjadi calon
masinis kereta api ekonomi dunia yang baru.

Perekonomian dunia tengah bergerak menuju keseimbangan baru. AS melalui The
Fed yang selama ini menjadi satu-satunya penentu pergerakan ekonomi dunia,
mendapatkan penyeimbang. Asia dipimpin Jepang dan Cina telah menjadi
kekuatan utama penentu ekonomi dunia. Kini bahkan India pun ikut memotori
Asia dari wilayah barat.

The Fed selama ini mendominasi penentuan arah pergerakan tingkat suku bunga
global. The Fed memiliki peran penting, tapi tak lagi menjadi satu-satunya
penentu. Berbagai kekuatan ekonomi dunia lain telah turut menentukan
pergerakan tingkat suku bunga dunia.

Terutama Cina yang bergerak maju dengan cepat dan Jepang yang telah kembali
bangkit dari stagnasi. Keduanya bersama India, Korea Selatan, Thailand,
Taiwan, Mesir, dan Turki menjadikan Asia kekuatan besar yang memengaruhi
pergerakan tingkat suku bunga global.

Selama dua dekade, AS menjadi pusat gravitasi. Itu disebabkan konsumsinya
yang besar dan ekonomi terus tumbuh. Asia sebagai pemasok konsumsi AS,
terus-menerus manut dengan kemauan AS. Namun, sejak 2005 AS kehabisan
kemampuannya untuk menstimulasi ekonomi. 

Seperti dikutip Antara, Dekan Institut Managemen Asia (AIM), Gracia S Ugut,
berpendapat, kondisi perekonomian AS yang di ambang krisis saat ini
menunjukkan negara itu tak lagi menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi
dunia. "Motor penggerak pertumbuhan ekonomi dunia telah bergeser dari AS ke
kawasan Asia," ujarnya di Jakarta.

Ia menyarankan agar ASEAN meniru integrasi sistem ekonomi seperti yang
dilakukan Uni Eropa. Meski diakuinya, lebarnya perbedaan sistem dan kemajuan
ekonomi di masing-masing negara ASEAN mempersulit upaya mengintegrasikan
berbagai inisiatif. Contohnya, inisiatif untuk menurunkan bea masuk sering
berbenturan. Pasalnya masing-masing-masing negara berupaya memproteksi
kegiatan industrinya.

Managing Director Head of Wealth Management Strategy Chief Investment
Officer of GPC Research Merrill Lynch, Thomas J Sowanick, menyebut masa ini
sebagai periode sinkronisasi ekonomi global. Masa AS sudah usai. Menurut
Sowanick, bank sentral negara-negara Asia semakin erat mendekatkan diri.

Perubahan keseimbangan ekonomi dunia itu membuat elemen suku bunga semakin
normal. Karena itu, investor beralih dari pendekatan suku bunga di banyak
negara menjadi lebih tertarik kepada dividen yang dijanjikan pertumbuhan
ekonomi di pasar negara berkembang. Sekarang ini, tutur Sowanick, ekonomi
dunia cenderung berat ke Asia ketimbang bagian dunia lain.

Di Cina saja, misalnya, nilai investasi asing (foreign direct
investment/FDI) melonjak 75,2 persen selama Januari-Februari 2008. Menurut
Kamar Dagang Cina, negaranya menjadi tujuan investasi menarik bagi investor
karena pertumbuhan ekonominya tercepat di dunia.

Dalam pernyataan resminya, PM Cina, Wen Jiabao, mengungkapkan, selama
Januari investasi asing di Cina mencapai 11,2 juta dolar AS atau meningkat
109,8 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara, FDI di
bulan Februari mencapai 6,93 juta dolar AS atau naik 38,3 persen dari bulan
yang sama tahun lalu.

FDI di bulan Februari memang tidak setinggi Januari. Ini karena di bulan
tersebut Cina mengalami badai salju yang parah dan mematikan sebagian
kawasan.

FDI dan ekspor yang meningkat merupakan faktor utama cadangan devisa Cina
dan likuiditas sistem finansial. Cadangan devisa Cina nyaris merupakan yang
tertinggi di dunia. Pada 2007 mencapai 1,53 triliun dolar AS atau meningkat
40 persen dari tahun sebelumnya.

Ke Mana Gerbong Indonesia Mengarah?

Di dalam gerbong besar bernama Asia, negara kita masuk di dalamnya. Meski
bukan primadona, tapi tidak lepas dari lirikan banyak mata. Sumber daya alam
yang memang belum habis dikuras menjadi salah satu daya tariknya.

Selama ini Indonesia dicengkeram AS melalui IMF. Lebih dari 30 tahun IMF
menyetir arah ekonomi Indonesia dengan maksud menjadi bemper pertumbuhan
ekonomi AS. Akibatnya, Indonesia tidak tahu arah mana yang memang menjadi
kebutuhannya.

Hingga 1997 Indonesia kena batunya. Krisis ekonomi yang menimpa dengan cepat
menular ke sektor lain, sehingga memunculkan krisis multidimensi. Krisis
yang memayahkan Indonesia karena melumpuhkan ekonomi itu menjadi terburuk
ketimbang Perang Dunia II. Memulihkannya tidaklah mudah. Meski sudah lebih
dari 10 tahun berlalu, Indonesia boleh dikatakan belum sembuh-sembuh amat.
Masih ada luka yang tersisa.

"Indonesia tidak harus berkiblat pada siapa pun karena kita sudah keluar
dari IMF. Tapi memang hubungan internasional masih sangat dipentingkan. Kita
punya bargaining position saat ini," kata ekonom Indef, Aviliani, belum lama
ini.

Bagi Indonesia, kata Aviliani, bisa beralih menjadikan Timur Tengah dan
Singapura sebagai sasaran kerja sama investasi. Kedua wilayah itu merupakan
pemodal besar yang tidak habis memarkirkan dananya di negara tetangga,
termasuk Indonesia. Hal itulah yang semestinya bisa dimanfaatkan Indonesia.

Untuk Timur Tengah, menurut dia, akan sangat menarik jika RUU syariah segera
terbit. Ia menilai, jika dipercepat, aliran dana yang masuk dari Timur
Tengah akan jauh lebih besar. Itu akan mengimbangi aliran dari negara lain,
sehingga tumbuh persaingan ketat di Indonesia. "Kita yang diuntungkan dengan
itu," ujarnya.

Singapura, katanya, sudah melakukan langkah antisipasi sejak lama. Caranya
dengan mengundang mahasiswa Indonesia bersekolah di sana. Tujuannya agar
mereka bisa menjadi pembuat kebijakan di kampung halaman saat mereka lulus
kelak.

Pasalnya, Singapura memang membutuhkan kebijakan ekonomi di luar negeri yang
harmonis dengan kebijakannya. Dan memang selama ini, Indonesia merupakan
lahan berkegiatan ekonomi Singapura.

Inflasi Membuat Sebagian Anak-anak AS Hidup Miskin

Hidayatullah.com-Meningkatnya inflasi di AS, menyebabkan seperenam anak-anak
di negara ini hidup dalam kemiskinan. Kementerian Tenaga Kerja AS kemarin
mengungkapkan, tahun kemarin harga-harga barang di tingkat grosir AS
melonjak hingga 7 persen sementara inflasi meningkat 2,7 persen.

Laporan media-media AS selama ini memberitakan bahwa kenaikan harga dan
inflasi saat ini mencapai rekor terburuk sejak 33 tahun terakhir. Padahal
pendapatan warga AS tak juga bertambah.

Berita lainnya menyebutkan, biaya pengobatan di Negeri Paman Sam juga
mengalami kenaikan. Kian mahalnya biaya kesehatan di AS ini merupakan salah
satu biang terbesar krisis ekonomi di AS. 

Di sisi lain, melonjaknya harga minyak mentah dunia, menyebabkan harga
bensin di AS juga mengalami kenaikan. Sebagian besar warga AS lebih memilih
memenuhi kebutuhan mendasarnya ketimbang membayar mahalnya harga bensin.
[irb/www.hidayatullah.com]




 

 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke