Milis dari tetangga sebelah

--- On Fri, 10/31/08, firdaus cahyadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: firdaus cahyadi <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [bencana] Jangan Hambat Kasus Lapindo
To: "milis koran Digital" <[EMAIL PROTECTED]>, "milis bencana" <[EMAIL 
PROTECTED]>, "milis sobat hutan" <[EMAIL PROTECTED]>, "milis Solidaritas Korban 
Lapindo" <[EMAIL PROTECTED]>, "milis sahabat" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Friday, October 31, 2008, 12:21 AM







Jangan Hambat Kasus Lapindo


Tempointeraktif (Jum'at, 31 Oktober 2008 | 00:19 WIB)
 
Bukan tanpa alasan jika khalayak menilai pemerintah tak serius menangani kasus 
lumpur Lapindo. Sudah dua tahun lebih kasus semburan lumpur di Sidoarjo ini 
diusut oleh penegak hukum, tapi hingga kini belum tuntas. Padahal masalah ini 
amat penting lantaran menyangkut hajat hidup orang banyak, dan negara pun 
terpaksa ikut menanggung akibatnya. 
 
Sikap penegak hukum di Jawa Timur amat janggal. Walau berkas kasus itu telah 
berkali-kali diperbaiki polisi, tetap saja dikembalikan lagi oleh jaksa. Berkas 
tersebut memuat hasil pemeriksaan 13 tersangka, termasuk petinggi PT Lapindo 
Brantas, perusahaan yang bertanggung jawab atas pengeboran yang memicu 
malapetaka bagi ribuan warga Sidoarjo. Mereka belum dibawa ke meja hijau 
lantaran jaksa selalu menilai hasil pemeriksaan belum lengkap. 
 
Polisi kukuh menyimpulkan bahwa semburan lumpur di Sidoarjo disebabkan oleh 
kelalaian dalam pengeboran. Pernyataan ini pernah disampaikan ke DPR oleh 
Kepala Badan Reserse dan Kriminal Komisaris Jenderal Bambang Hendarso Danuri, 
yang kini menjabat Kepala Kepolisian RI . Tapi, menurut Bambang, jaksa meminta 
tambahan saksi ahli yang menyatakan semburan itu sebagai bencana alam.
 
Itulah yang membuat berkas kasus lumpur Lapindo terombang-ambing. Polisi dan 
jaksa memiliki pandangan berbeda. Masalahnya, kompromi bukan pilihan terbaik 
karena hasilnya justru akan mengendurkan jerat hukum yang telah dipasang 
polisi. 
 
Kengototan jaksa sungguh aneh karena para ahli geologi dunia pun cenderung 
menyatakan semburan lumpur dipicu oleh pengeboran. Inilah pandangan yang 
dominan dalam konferensi American Association of Petroleum Geologists di Cape 
Town , Afrika Selatan, baru-baru ini. Hanya sedikit ahli yang sepakat bahwa 
semburan itu merupakan dampak gempa di Yogyakarta .
 
Pengeboran yang dilakukan Lapindo berbahaya karena tidak menggunakan casing 
secara penuh. Badan Pemeriksa Keuangan, yang pernah mengaudit kasus ini, juga 
mendapat keterangan penting dari Dinas Survei dan Pengeboran BP Migas. Intinya, 
proses pencabutan pipa dan mata bor dari kedalaman 7.415 kaki, sehari sebelum 
semburan terjadi pada 29 Mei 2006, menyebabkan "well kick" terlambat 
diantisipasi. Peralatan pengeboran pun sering rusak. Menurut auditor BPK, 
kontraktor yang ditunjuk Lapindo diduga menggunakan beberapa peralatan bekas 
atau tidak memenuhi standar kualitas. 
Jaksa mestinya berpegang pada fakta seperti itu. Mengarahkan kasus lumpur 
Lapindo ke perdebatan apakah semburan itu berkaitan dengan gempa atau tidak 
hanya akan mengaburkan persoalan. Sepanjang ditemukan bukti yang cukup adanya 
kelalaian dalam pengeboran, kasus ini layak dibawa ke pengadilan. 
 
Persoalan ini tak akan berlarut-larut andaikata Presiden Susilo Bambang 
Yudhoyono segera turun tangan. Perbedaan pendapat antara jaksa dan polisi 
seharusnya bisa diatasi karena kedua institusi ini di bawah kendali langsung 
Presiden. Jangan sampai khalayak menilai pemerintah sengaja membiarkan kasus 
ini menjadi terkesan rumit, sehingga akhirnya tak jelas siapa yang mesti 
bertanggung jawab atas penderitaan warga Sidoarjo.

sumber: http://www.tempo.co.id/hg/opiniKT/2008/10/31/krn.20081031.146608.id.html
  


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
THE TREKKERS (http://www.thetrekkers.com): Sedia peralatan 
emergency/bencana/gawat darurat, rescue, temporary shelter/tenda, dan peralatan 
kebencanaan. Kontak: Ferri Iskandar ([EMAIL PROTECTED], hp: +62-815-794-3358) 
----------------------------------------------- 
Hidup Bersama Risiko Bencana 
Website: http://bencana.net; Milis: [EMAIL PROTECTED] 
Mendaftar anggota milis: http://googlegroups.com/group/bencana/subscribe 
Keluar dari milis: [EMAIL PROTECTED] 
Kontak Moderator: [EMAIL PROTECTED]
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---




      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke