--- On Tue, 2/3/09, Suwandi Basyir <[email protected]> wrote:

From: Suwandi Basyir <[email protected]>
Subject: [ketika_cinta_bertasbih] Sedekah Ngutang
To: "KCB Millis" <[email protected]>, "Gema Nusa" 
<[email protected]>, "Jemaah UJE" <[email protected]>
Date: Tuesday, February 3, 2009, 3:11 AM


 




SEDEKAH NGUTANG 



 

Artikel - Cahaya Langit 
Sebuah mushalla rencananya hendak dibangun di sebuah perumahan di daerah 
Cibinong, Bogor . Malam itu awal bulan Sya'ban beberapa tahun yang lalu para 
penghuni perumahan bertekad ingin menjalani shalat Tarawih bersama di mushalla 
yang akan mereka bikin. Semua warga dikomandani pak RT tengah bermusyawarah. 
Satu kata bulat, "Kita harus punya mushalla saat bulan puasa tahun ini 
menjelang!"
Itulah cita-cita mulia mereka semua. Dan masing-masing mereka berinfaq dan 
berwakaf di jalan Allah dengan harta terbaik yang mereka miliki.
Terdengar suara pak RT menanyakan satu per satu warga yang hadir, "Pak anu mau 
nyumbang berapa..., bapak fulan mau sedekah berapa....?" Lalu setiap warga yang 
hadir dengan antusias menjawab dengan harta yang hendak mereka sumbangkan.
Ada yang berinfak dalam ratusan ribu rupiah, juga ada yang berinfak dalam 
jutaan rupiah. Sebagian mereka ada juga yang memberikan dalam bentuk material 
bangunan.
Semua mereka seolah berlomba memberikan harta terbaik yang mereka miliki untuk 
membangun rumah Allah Swt.
Semua terlihat begitu antusias untuk membangun mushalla di lingkungan mereka 
dalam tempo kurang dari sebulan.
Malam itu juga ada seseorang yang bernama Arif yang berkomitmen untuk 
menyumbang seluruh lantai keramik yang diperlukan mushalla. Itulah yang ia 
janjikan kepada pak RT dan seluruh peserta rapat. Sengaja ia menyumbang lantai 
keramik, sebab ia beranggapan bahwa setiap orang akan menggunakannya untuk 
berdiri dan sujud oleh karena itu akan mendapat pahala yang lebih banyak dari 
material bangunan lainnya. Setidaknya itulah anggapannya!
"Saya insya Allah mau menyumbang semua lantai keramik yang diperlukan mushalla 
ini!" seru Arif. "Apakah semua lantai keramik atau sebagiannya saja, pak Arif?" 
tanya ketua RT menegaskan. "Semuanya insya Allah, pak!" tandas Arif.
Arif tidak khawatir untuk menutupi sumbangan seluruh lantai keramik mushalla. 
Di benaknya esok pagi ia akan meminta orang tuanya, neneknya, sepupu, paman, 
bibi dan seluruh saudaranya untuk turut menyumbang. "Insya Allah bila dijinjing 
ramai-ramai, tidak akan ada beban yang berat!" gumamnya.
Benar juga... begitu Arif menghubungi seluruh kerabatnya, mereka semua bersedia 
turut menyumbang pembelian lantai keramik mushalla. Hati Arif pun tenang. Ia 
senang telah bisa menyumbang dan lebih senangnya lagi ia dapat mengajak 
keluarganya untuk melakukan kebaikan di jalan agama ini.
***
Bulan Ramadhan 7 hari lagi akan menjelang. Bangunan mushalla atas izin Allah 
sudah rampung kurang lebih 65%. Namun untuk bisa dipakai shalat, setidaknya 
harus sudah berlantai hingga orang-orang akan merasa nyaman saat berdiri dan 
sujud. Maka malam itu adalah rapat kesekian kalinya digelar ketua RT bersama 
panitia pembangunan mushalla. Dalam rapat itu, Arif ditanya tentang kapan 
lantai bisa dikirimkan ke mushalla. Dengan tenang ia berujar, "Paling lambat 
lusa, saya akan kirim lantai tersebut!"
Namun apa yang terjadi saat ia menghubungi satu per satu keluarga yang sudah 
berjanji untuk menyumbang. Sungguh aneh, semua keluarga yang berjanji 
sepertinya amat kompak dalam satu alasan. Mereka semua BOKEK, alias lagi gak 
punya uang!
"Celaka...!" keluh Arif. Padahal ia sendiri pun sedang tidak punya duit. 
Bagaimana ia bisa memberi jawaban atas hal ini kepada warga lingkungannya. 
Padahal Ramadhan akan tiba sebentar lagi. Tidak ada uang yang bisa ia gunakan 
untuk membeli keramik, namun ada beberapa kartu kredit di dompetnya yang dapat 
ia gunakan. Saat hendak menggunakannya terbersit di benaknya wajah angker sang 
istri berkata mengancam, "Awas ya kalau kamu berani pakai kartu kredit lagi. 
Aku akan minta cerai!!!'
Ya, Arif meski bekerja di sebuah bank swasta namun ia adalah orang yang susah 
menjaga syahwat dalam penggunaan kartu kredit. Sering kali rumahnya disatroni 
debt-collector tak bermoral yang bicara kasar bahkan mengancam di rumahnya. 
Istri dan anak-anak Arif sudah tidak kuat dengan teror para debt-collector. 
Karena itu ia pernah diancam oleh sang istri dengan ultimatum tuntutan cerai.
Kini Arif berada di dua ujung tanduk. Antara membeli keramik mushalla dengan 
kartu kredit & ancaman cerai dari sang istri. Setelah menimbang sebaik mungkin, 
ia bulatkan tekad untuk membeli lantai keramik. "Urusan masalah kartu kredit, 
itu urusan nanti!" gumamnya. Lalu ia pun pergi ke kawasan Percetakan Negara, 
Jakarta untuk memilih lantai keramik yang cocok. Usai ia memilih lantai 
keramik, ia pun menggesek kartu kreditnya dengan total tagihan Rp. 2,8 juta. 
Tak lupa ia mengucap bismillah. Maka Arif kini bersedekah lantai keramik di 
jalan Allah meski dengan cara berutang lewat kartu kredit.
***
Jelang Ramadhan pun ada agenda keluarga yang sudah dirancang oleh Arif. Ia 
ingin tahun ini dapat mudik ke kampung halaman dengan berkendara mobil. Hari 
itu ia memberanikan diri datang ke manager SDM tempatnya bekerja sambil berkata 
dengan penuh semangat, "Pak boleh gak saya mengajukan permohonan kredit 
mobil?!" Sayangnya, Arif mengajukan permohonan itu pada momen yang tidak tepat. 
Awal Ramadhan itu di perusahaannya sedang ada rasionalisasi pegawai 
besar-besaran. Sebuah langkah yang amat pahit dialami oleh tim SDM, sebab dari 
atas mereka mendapat tekanan. Sedangkan dari para pegawai di bawah mereka 
mendapat kecaman. Dalam kondisi tim SDM sedang pusing, Arif malah mengajukan 
kredit mobil. Dengan sengit manajer SDM itu berkata, "Tidak ada fasilitas 
seperti itu saat ini. Anda tidak paham ya bahwa kami sedang
 amat sibuk?!"
Mendapat tanggapan seperti itu, maka Arif pun beringsut.
Namun mungkin ini adalah balasan Allah Swt setelah sedekah lantai keramik itu 
sudah digunakan oleh warga perumahan untuk lebih dari seminggu.
Siang itu usai shalat Zhuhur dan mendengarkan kuliah agama di mushalla kantor, 
Arif kembali masuk ke ruang kerja. Pesawat telpon di mejanya berdering. 
Ternyata di sana adalah suara manager SDM yang memintanya datang segera. 
Arif pun datang. Sesampainya di ruangan manager SDM ia disuruh menunggu di 
ruangan meeting. Sampai saat itu Arif belum tahu ada pasal apa manager SDM 
memanggilnya. Arif berprasangka buruk, "Mungkinkah aku termasuk karyawan yang 
akan dirumahkan?" lamunnya.
Lama ia menunggu hingga akhirnya sang manajer SDM datang ke ruang meeting. Di 
tangannya ada sebuah folder berisikan banyak berkas. Folder itu dibanting di 
atas meja, dan Arif terkejut mendengar folder itu dibanting.
Sang manajer SDM itu kini sudah duduk berseberangan dari Arif. Ia membuka 
berkas yang ada di dalam folder lalu ia dapatkan secarik kertas yang bentuknya 
seperti kertas cheque.
Dengan cara yang tidak sopan, selembar kertas kecil itu dilemparkan ke arah 
Arif dan ia pun menangkapnya. " Surat apa ini, Pak?!" tanya Arif. Dibenaknya ia 
masih menduga bahwa ia bakal di-PHK dan ini adalah surat pemberitahuannya.
"Baca saja dan jangan banyak tanya!" bentak manajer SDM.
Arif membaca selembar kertas itu yang ternyata adalah sebuah voucher pembelian 
sebuah mobil. Di dalamnya terdapat nama lengkap Arif, nomor induk 
kepegawaiannya dan sebuah nominal sebesar Rp 60 juta. Voucher pembelian mobil 
itu ditandatangani oleh Direktur Operasional.
Usai membaca barulah Arif mengerti bahwa kertas itu ada sebuah persetujuan 
direktur operasional atas fasilitas kredit mobil untuk dirinya. Namun hal yang 
tidak ia mengerti adalah mengapa sikap manajer SDM menjadi garang seperti ini?
"Saya paling tidak suka bila pak Arif main belakang seperti ini...!!! Saya khan 
sudah bilang kepada bapak bahwa perusahaan tidak menyediakan fasilitas mobil 
untuk karyawan dalam masa-masa seperti ini, lalu kenapa bapak bicara langsung 
kepada direktur operasional...? Itu sama saja mencoreng reputasi saya!!!"
Arif hanya terdiam mendengar celotehan sang manajer. Rasanya ia belum pernah 
menceritakan hal ini kepada siapapun selain kepada manajer SDM, apalagi sampai 
menghadap direktur. Namun ia gembira dalam hati sebab ia membayangkan bahwa 
lebaran ini ia dapat mudik ke kampung bersama keluarga dengan mobil baru. 
Terserah manajer SDM apakah dia mau marah atau tidak yang penting Arif sudah 
mendapatkan voucher pembelian mobil di tangannya.
***
Sore itu Arif pulang menuju rumahnya di Cibinong dengan hati penuh kegembiraan. 
Sesampainya di rumah kira-kira pukul setengah enam sore. Ia bernyanyi riang dan 
terus bernyanyi. Ia tidak masuk ke kamar untuk berganti pakaian namun bahkan ia 
duduk-duduk di ruang tamu. Ada gelagat yang tidak biasa sepertinya pada diri 
Arif, hingga istrinya pun menanyakan ada apa gerangan.
Arif masih terus bernyanyi gembira sambil mengeluarkan dari tas kerja secarik 
kertas voucher pembelian mobil itu lalu ia letakkan di atas meja. 
"Apa itu, Pa?" tanya sang istri. "Baca saja sendiri!" tukas Arif sambil terus 
bernyanyi. Istrinya pun membaca voucher itu. Namun tidak seperti dugaan Arif, 
sang istri tidak terlihat gembira membacanya. Bahkan sang istri pergi ke arah 
lemari dan mengambil secarik kertas.
Bila tadi Arif meletakkan secarik kertas di atas meja. Kini sang istri pun 
melatakkan secarik kertas pula di atas meja. "Apa itu, Ma?!" Arif balik 
bertanya. Sang istri menukas dengan ketus, "Baca saja sendiri!!!"
Ternyata itu adalah surat tagihan penggunaan kartu kredit. "Celaka!" gumam 
Arif. Akhirnya dia ketahuan oleh sang istri telah menggunakan kartu kredit 
untuk pembelian lantai mushalla. Ia amat takut sekali bila sang istri menuntut 
cerai.
"Ayo cepat buka...!" sang istri berkata dengan suara meninggi. Arif hanya diam 
tak berkutik, sungguh ia amat merasa takut. Tidak sedikit pun gurat kebahagiaan 
tersisa di wajahnya.
Dengan perlahan ia buka amplop tagihan kartu kredit itu dan kemudian ia baca 
seluruh isi surat . Namun anehnya, ia tidak mendapati tagihan senilai Rp2,8 
juta atas pembelian lantai keramik!!!
Seolah tidak percaya, ia ulangi membaca dan tetap saja ia tidak mendapatkan 
nilai tagihan atas lantai keramik!!!
"Subhanallah...., kok bisa gak ada ya?" Arif berteriak keheranan. Ia pun 
menelpon pihak bank dan lagi-lagi anehnya bank tidak membaca pada data mereka 
bahwa Arif melakukan transaksi sebesar Rp 2,8 juta.
***
Itulah kisah yang Arif sampaikan kepada saya bahwa ia telah menuai pertolongan 
Allah Swt untuk pembelian mobil, namun apa yang ia sumbangkan untuk rumah-Nya 
dengan cara berhutang rupanya tidak dianggap demikian oleh Allah Swt. 
Demikianlah sebuah kisah yang menakjubkan tentang pertolongan Allah Swt melalui 
sedekah. Tidakkah Anda meyakininya?
 
 
 

        Mencari semua teman di Yahoo! Messenger? 
Undang teman dari Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger dengan mudah sekarang!


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke