MARI KITA LANJUTKANNNNN.....


-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of
[email protected]
Sent: Senin, 06 April 2009 6:30
To: IA IP; Pramuka Net; Ponsen HTI; IA UP; AIPI Politik; Ridlo Eisy
Subject: [Pramuka] Re: [IA-IP-UNPAD] Golput ya Golput, tapi Jangan Golput

Mas ariel n mas sulis, jadi di era sekarang yang mau golput jadi pargolput
gt? krn golkar nya sdh jd partai golkar he2. Atau golput sdh masa lalu
tinggal kenangan, skr saatnya warga negara lebih aktif lagi buat mengisi
ruang2 politik publik yang terbuka lebar2 seaktif para elit lama sisa2 orba
kalau benar2 mau ikut memperbaiki keadaan, dan tdk hanya 5 thn sekali tetapi
yang terpenting dalam politik keseharian (day to day politic) di luar
pemilu, spt dlm proses pengambilan keputusan di politik lokal. Atau jangan2
warga negara kita msh terbungkam sisa2 orba atau trauma orba dlm hal
politik, hampir di semua kelompok wn, spt buruh, pemuda, perempuan,
cendikiawan, pemimpin agama, dll nya dlm memahami politik msh dlm bayang2
bahasa dan trauma orba. Memang spt dinyatakan peter b. haris 'kekacauan
berpolitik dimulai dr kekacauan berbaha sa, dan kekacauan berbahasa menunjuk
kan kekacauan berpikir'. Mudah2an kita bisa mulai menata bahasa dan pikiran
kita. Wallohualam.



Dmar 

Sent from my BlackBerryR smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung
Teruuusss...!



-----Original Message-----

From: Sulistiono Kertawacana <[email protected]>



Date: Mon, 06 Apr 2009 01:10:28 

To: undisclosed-recipients:;<Invalid address>

Subject: [IA-IP-UNPAD] Golput ya Golput, tapi Jangan Golput





Golput ya Golput, tapi Jangan Golput
 
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/04/06/KL/mbm.20090406.KL129
953.id.html
<http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/04/06/KL/mbm.20090406.KL12
9953.id.html> 
 
 Ariel Heryanto 
* Pengamat politik 
Agak mencengangkan, juga mengecewakan, jika hari begini orang masih bicara
tentang "Golput" dengan semangat kepahlawanan menggebu. Ja-ngan-jangan ini
merupakan salah satu bukti ma-cetnya kesadaran sejarah dan daya kreatif
berbahasa di kalangan mereka yang merasa bersikap kritis dan progresif. Niat
baik memperbaiki politik negeri ini butuh bahasa yang sepadan. 
Sebagai anak kandung Orde Baru, istilah Golput mengemban beban sejarah yang
sudah kelewat kedaluwarsa. Istilah itu masih bersaudara kandung dengan
istilah bermasalah ciptaan Orde Baru seperti "bersih lingkungan", "Orde
Lama", "gerakan pengacau keamanan", "G30S-PKI" atau "nonpribumi". 
Kesadaran kritis di kalangan masyarakat terhadap Pemilu 2009 layak dihargai.
Jika ada yang mau memboikot, itu sah-sah saja. Tapi alangkah eloknya jika
semangat seperti itu dinyatakan dengan istilah yang lebih pas dan teliti
ketimbang "Golput". Tampaknya sebagian tidak kecil dari mereka masih punya
ikatan batin dengan bahasa politik Orde Baru sebagai "bahasa ibu" mereka.
Ketika bergulat dalam realitas masa kini, lewat sepuluh tahun sesudah
bangkrutnya rezim militer itu, mereka terbata-bata dalam logat Orde Baru. 
Memang benar pada awal kebangkit-annya, hampir 40 tahun lalu, Golput
me-rupakan pembangkangan yang heroik terhadap Orde Baru. Namun setiap
pembangkangan merupakan anak kandung zamannya. Dan zaman itu dikuasai pihak
yang digugat, bukan saja secara politik, hukum, atau militer, melainkan juga
berbahasa. 
Ceritanya begini. Nama Golput jelas-jelas dipinjam dari istilah Golkar yang
waktu itu menjadi partai pe-nguasa. Jadi, walau ingin tampil sebagai lawan
Golkar, cara berpikir dan berbahasa kaum Golput masih tidak terlepas jika
bukannya bersaudara dengan Golkar dalam keluarga besar Orde Baru. Pertikaian
mereka ibarat Pandawa dan Kurawa dalam keluarga besar Bharata. 
Pada zaman Orde Baru, semua partai politik menjadi boneka yang baju dalamnya
diobok-obok penguasa. Bahkan dalam urusan gambar lambang, semua partai
dituntut menggunakan tanda gambar baku yang ditetapkan penguasa, yakni
lambang gambar bersegi lima. 
Waktu mendeklarasikan kelahirannya sendiri, Golput secara patuh menggunakan
tanda gambar yang sama: segi lima dengan warna sepenuhnya putih. Bukan cuma
itu. Golkar hanya merasa perlu berkampanye lima tahun sekali. Golput? Idem
ditto bin setali tiga uang. Golput hanya bangkit dan bersuara jika dan
setelah Golkar berteriak. Ada bedanya Golput dulu dan Golput sekarang? 
Sebagai sebuah pranata politik formal, Orde Baru secara resmi sudah mati.
Tapi rohnya gentayangan di mana-mana. Juga dalam cara berbahasa. Sepuluh
tahun lalu bendera dan berbagai lambang Golkar yang lain pernah dibakar
massa di jalanan bersamaan dengan runtuhnya Orde Baru. Tapi dengan gesit
para tokoh Golkar berganti baju. Dan dengan sedikit kosmetik, Golkar
menampilkan diri dengan identitas sedikit lain. Hasilnya lumayan. Golkar
bukan selamat dari ancaman pembantaian reformasi. Usia Golkar bahkan lebih
panjang ketimbang Orde Baru. Golkar malahan tetap menjadi salah satu
kekuatan politik terbesar pada masa pasca-Orde Baru. 
Para aktivis anti-Orde Baru? Mereka ngos-ngosan. Se-perti aktivis di era
1960, mereka yang pernah aktif di dekade 1990 sudah bergabung menjadi
penggembira kubu para politikus yang dulu pernah menculik dan menyiksanya
pada zaman Orde Baru. Sebagian aktivis lain yang tetap berada di luar
struktur politik partai formal masih berkutat pada pikiran dan berbahasa
pada tahun 1970-an: ber-Golput ria! 
Pada masa kelahirannya Golput tampil sebagai konfrontasi simbolik terhadap
Golkar yang menduduki tempat paling tinggi dalam kerucut politik Orde Baru.
Waktu itu, selama 30 tahun, setiap pemilihan umum selalu mutlak dimenangi
Golkar. Melawan Golkar berarti melawan jantung perpolitikan. Sekarang Golkar
sudah tidak lagi sehebat itu. Agak mubazir jika pembangkangan ter-hadap
politik masa kini, dan Pemilu 2009 khususnya, tetap dinyatakan dalam bahasa
70-an. 
Pranata politik kita masa ini-khususnya di sekitar legislatif-bukan tanpa
masalah. Pemilihan umum tetap diperlukan. Sayangnya, seandainya berjalan
serba lancar pun pemilu tahun ini tidak menjamin akan terciptanya legislatif
yang jauh lebih baik. Tapi masalah politik kita pada masa ini jelas berbeda
dari masalah politik sepuluh tahun lalu ketika Orde Baru ambruk. Apalagi
jika dibandingkan dengan kondisi 40 tahun lalu, ketika Golput dibangkitkan.
Obat yang dibutuhkan untuk mengobatinya jelas berbeda. 
Sebuah istilah yang lebih tepat selain Golput dibutuhkan untuk menyatakan
keresahan dan kekecewaan masyarakat terhadap hiruk-pikuk politik Indonesia
pada umumnya, dan Pemilu 2009 pada khususnya. Tapi kita terbata-bata dalam
bertutur politik. Sama halnya ketika demonstran di jalanan bernyanyi. Dari
zaman dulu masih saja tetap Halo-halo Bandung dan Maju Tak Gentar. 
Golput lahir dari sebuah masa ketika yang "putih" dianggap suci dan murni.
Apa yang "hitam" mengacu pada mereka yang dianggap kotor, bermasalah, korup,
dan buruk. Mungkin ini sebabnya bintang film kita masih bertampang
kebule-bulean. Dan krim pemutih kulit masih laris di toko-toko. -- Kind
regards, Sulistiono Kertawacana http://sulistionokertawacana.blogspot.com/
<http://sulistionokertawacana.blogspot.com/> 
 
 
 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

---------------------
Be Prepared
Sekali Pramuka tetap Pramuka
---------------------

Pramuka email addresses:
  Post message: [email protected]
  Subscribe:    [email protected]
  Unsubscribe:  [email protected]

---------------------Yahoo! Groups Links



Kirim email ke