Biaya kuliah di inggris, jadi perdebatan terbuka sebelum ditetapkan jadi sebuah regulasi baru. Bagaimana di kita? Tampaknya masih dg entengnya ditentukan masing2 PT dg akuntabilitas publik yg rendah. Ini dari situs atdikbud di london: www. sihbudi.com, petikannya:
Himbauan Menghapuskan Pembatasan Uang Kuliah · Sebuah kelompok think tank mengusulkan reformasi di bidang pembayaran uang kuliah, yaitu dengan menerapkan sistem ‘free market’ terhadap penarikan uang kuliah, serta memberlakukan sistem ‘flat rate voucher’ untuk membayar uang kuliah. · Dengan sistem free market tersebut universitas dan perguruan tinggi di Inggris akan dapat mengenakan biaya uang kuliah lebih besar dari yang berlaku saat ini, yaitu £3000.- per tahun (untuk warga Inggris). · Sistem tersebut akan memperluas consumer choice bagi para mahasiswa. · Usul ini diajukan oleh juru bicara bidang pendidikan tinggi Partai Konservatif, David Willets di London. Namun demikian pihak Partai Konsevatif tidak mengeluarkan pernyataan resmi mendukung usul tersebut. Juru bicara Partai Konservatif lain menyatakan bahwa usul tersebut bukan mencerminkan kebijakan Partai Konservatif. · Isu biaya uang kuliah tampaknya akan menjadi topik utama dalam perdebatan politik pada pemilu Inggris yang akan datang. · Pihak universitas menginginkan dilakukannya kenaikan biaya uang kuliah. Namun hal tersebut akan mengakibatkan meningkatnya student loans, yang akan cukup memberatkan. · Presiden Serikat Mahasiswa, National Union of Students, Wes Streeting mengritik usul sistem free market uang kuliah tersebut, karena justru akan merugikan para mahasiswa kurang mampu. · Sebaliknya, usul tersebut mendapat sambutan di kalangan universitas-universitas terkemuka yang tergabung dalam “Russell Group” · Alternatif lain mengusulkan agar dilaksanakan sistem “employer-led qualification”, yaitu pendidikan vocational yang didukung oleh pihak employers. Usul ini diajukan oleh Laurie Thraves agar tercapai keseimbangan supaya mahasiswa kurang mampu akan berkesempatan mendapat pendidikan tinggi yang lebih baik. Kritiknya mengatakan bahwa sistem yang berlaku sekarang telah menciptakan ketidak seimbangan, dimana tingkat pendidikan mahasiswa kurang mampu hanya akan memberikan lapangan kerja dengan gaji kecil. Biaya Kuliah Tidak Akan Berubah Sampai 2009 · Menteri Pendidikan Tinggi, Innovation, Universities and Skills (DIUS), John Denham, mengatakan di depan kelompok “Fabian review”, bahwa biaya uang kuliah sebesar £3000 setahun (untuk warga Inggris) yang berlaku saat ini tidak akan mengalami perubahan sampai tahun 2009. · Dikatakan sebelum mengadakan perubahan biaya uang kuliah, terlebih dulu akan diadakan pembahasan secara komprehensif terhadap masalah ini. · Para pimpinan universitas telah mengusulkan agar biaya uang kuliah dinaikkan menjadi £6000 per tahun untuk menutupi biaya universitas. · Utang mahasiswa merupakan salah satu faktor yang mengakibatkan meningkatnya jumlah mahasiswa yang drop out. · Tanggapan dari Institute of Fiscal Studies menekankan bahwa dana uang kuliah sebaiknya digunakan untuk membiayai peningkatan mutu sekolah (raising school standards), sehingga dengan demikian akan membantu pelajar-pelajar kurang mampu untuk mendapat kesempatan lebih luas untuk memasuki perguruan tinggi. Pandangan The National Union of Students (NUS) · NUS yang mewakili 7 juta mahasiswa Inggris, yang sejak lama mendukung sistem free education, telah mengeluarkan pernyataan yang mendukung sistem pembiyaan uang kuliah yang lebih pragmatis. Dengan demikian NUS telah merubah pandangannya yang menolak dikenakan biaya uang kuliah per mahasiswa sebesar £3000 per tahun. Perubahan pandangan ini diungkapkan pada waktu diadakan konferensi tahunan NUS minggu ini. · Selama ini NUS berpandangan menolak dikenakannya biaya uang kuliah, yaitu £3000 per tahun yang berlaku saat ini. Jurubicara NUS telah menyatakan NUS tidak lagi menuntut dihapuskannya biaya uang kuliah tersebut, dan mengatakan bahwa NUS akan bekerja sama dengan para pakar ekonomi dalam hal penentuan jumlah biaya uang kuliah. · Presiden NUS Wes Streeting mengatakan perlunya ditemukan suatu cara pendekatan yang pragmatis dalam penentuan biaya uang kuliah. · Namun demikian, NUS tetap menolak dilakukannya sistem marketisasi terhadap sistem pendidikan di Inggris, dan juga menolak dilakukannya penarikan uang kuliah yang berbeda antara satu universitas dengan universitas lain. · Pemerintah Inggris saat ini dihadapkan pada tuntutan universitas agar dihapuskannya peraturan ’fees limit’ yaitu ditentukannya biaya uang kuliah per mahasiswa tidak lebih dari £3000 per tahun. Beberapa universitas telah mengusulan agar biaya uang kuliah rata-rata tersebut dinaikkan menjadi £8000 per tahun. Membayar Ribuan Poundsterlings Untuk Kuliah Beberapa Jam Per Minggu. · Kementerian Pendidikan Tinggi Inggris telah membentuk sebuah kelompok dewan juri mahasiswa (student jury) untuk melakukan survei terhadap kehidupan kemahasiswaan Inggris. Survei dilakukan di beberapa daerah, yaitu Manchester, London, Bristol dan Sheffield . · Dalam survei tersebut kelompok mahasiswa bidang Arts menuntut biaya uang kuliah yang lebih kecil, karena mereka hanya memerlukan waktu kuliah yang lebih sedikit dibandingkan dengan mahasiswa di bidang Science. · Diungkapkan pula adanya kecemasan di kalangan mahasiswa dalam hal pelunasan student loans nantinya. Pada waktu menyelesaikan kuliah. Saat ini mahasiswa Inggris secara rata-rata dibebani dengan jumlah utang (student loans) sebesar £12000.- · Pandangan lain mengatakan bahwa dengan sistem pembiayaan uang kuliah yang berlaku, pendidikan tinggi di Inggris telah berubah dari ”service” menjadi ”product” dan mahasiswa menjadi ”customers”. · Survei tersebut memperlihatkan tuntutan mahasiswa terhadap ”value for money”, yaitu dengan uang kuliah yang dibebankan, mahasiswa menunut diberlakukannya suatu sistem yang lebih transparan dalam pembayaran uang kuliah, mutu pengajaran yang lebih baik, bahkan jaminan terhadap levels of service yang diberikan kepada mahasiswa. · Survei terhadap mahasiswa London memperlihatkan bahwa service pendidikan tinggi yang mereka terima tidak sebaik yang mereka harapkan dibandingkan dengan biaya uang kuliah yang cukup tinggi. Pihak universitas diminta untuk menanda-tangani kontrak mengenai ”service level agreement”. Mahasiswa dari Manchester juga mengeluh terhadap teaching quality yang mereka terima selama ini. · Menteri Muda Urusan Kemahasiswaan, Baroness Delyth Morgan, mengatakan bahwa survei yang dilakukan oleh kelompok dewan juri mahasiswa tersebut telah menghasilkan suatu ”vital student perspective”. · Hasil survei kelompok dewan juri mahasiswa tersebut akan menjadi bahan masukan berguna bagi pembahasan kebijakan kementerian pendidikan tinggi Inggris. Hasil survei ini juga akan diajukan ke ”National Student Forum” yang akan dibentuk bulan Januari mendatang. Dengan adanya ”National Student Forum” tersebut, suara mahasiwa juga akan disertakan langsung dalam penentuan kebijakan pemerintah. Kartu Tanda Pengenal (ID Card) Untuk Mahasiswa Asing. · Pemerintah Inggris melakukan langkah awal pengetatan visa student terhadap mahasiswa asing di Inggris yang jumlahnya mencapai kira-kira 300 ribu mahasiswa per tahun. Pengetatan sistem visa student ini dilakukan untuk menghindari penyalahgunaan student visa. · Pihak universitas mengikuti perkembangan ini secara detail, mengingat bahwa hasil pemasukan universitas dari mahasiswa asing yang cukup besar. Tahun lalu terdapat 313 ribu mahasiswa asing yang mengajukan student visa, dan hanya 217 ribu yang berhasil diterima. · Mulai Maret tahun 2009, mahasiswa asing harus disponsori oleh perguruan tinggi yang mempunyai ijin dari the UK Border Agency. Peraturan lebih ketat akan dilaksanakan di musim gugur mendatang, yaitu, perguruan tinggi Inggris akan menggunakan sebuah ”sponsor management system” yang akan melaporkan the UK Border Agency mengenai keberadaan mahasiswa. · Berbagai komentar yang diterima akibat penerapan sistem Kartu Tanda Pengenal Biometric tersebut antara lain mengemukakan : · Mahasiswa dari USA mengatakan Sistem ID card biometric tersebut melanggar privacy, dengan uang kuliah yang cukup tinggi, yaitu tiga kali lipat dari home students, mahasiswa asing non EU telah diperlakukan sebagai kriminal di Inggris. Tanggapan atas komentar tersebut mengatakan bahwa Pemerintah AS juga mengenakan sistem yang cukup ketat terhadap mahasiswa asing di AS. Yang lain menanggapi perlunya pemerintah Inggris mengambil langkah untuk menghindari penyalah gunaaan visa student di Inggris. · Komentar yang lebih keras datang dari Dundee, Scotland, mengatakan bahwa peraturan tersebut merupakan suatu pesan nyata kepada mahasiswa asing yang ingin belajar ke Inggris, yaitu : ”Jangan datang ke Inggris, karena kami akan memperlakukan anda sebagai seorang kriminal”. · Mahasiswa asing lain menginginkan bahwa dengan biaya uang kuliah yang cukup tinggi di Inggris bagi mahasiswa asing, pemerintah Inggris harus memperlakukan mahasiswa asing secara lebih manusiawi, yaitu menyelesaikan masalah pendaftaran di kampus saja tanpa harus ke kantor polisi. · Pejabat Administrasi Universitas Loughborough dan Aberystwyth menyambut baik rencana pengetatan tersebut. Dikatakan peraturan tersebut akan menghindari penyalahgunaan student visa untuk mendapatkan ijin tinggal permanen di Inggris. · Seorang mahasiswa AS yang sebelumnya belajar di Inggris dan sekarang telah kembali ke AS, mengatakan bahwa penagmbilan sidik jari mahasiswa asing melanggar civil liberties, dan dengan sinis menyarakan kartu ID tersebut dinamakan ”Patriot cards”. · George Taylor dari Edinburgh mengatakan bahwa ID cards biometric merupakan langkah awal Pemerintah Inggris untuk menjalankan kebijakan pengenaan ID cards biometric bagi seluruh warga negara Inggris, karena Pemerintah Inggris telah kehilangan segala cara dalam melakukan pengontrolan terhadap masyarakat. · Owen Blacker dari London mengomentari bahwa pengenaan sistem ID cards biometric tidak pada tempatnya. Biaya untuk pembuatan ID cards tersebut sebaiknya digunakan untuk hal lain yang lebih berguna, seperti untuk rumah sakit, sekolah dan sistem keamanan. [ diolah dari berbagai sumber ] Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...! ------------------------------------ --------------------- Be Prepared Sekali Pramuka tetap Pramuka --------------------- Pramuka email addresses: Post message: [email protected] Subscribe: [email protected] Unsubscribe: [email protected] ---------------------Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/pramuka/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/pramuka/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[email protected] mailto:[email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

