Koran Tempo edisi Kamis (30/4), rubrik iptek, menulis soal rumput laut sebagai 
bahan bioetanol dan penyerap CO2. Narasumber tulisan itu adalah Prof.Dr. Jana T 
Anggadiredja dan Prof. Dr. Grevo Gerung.  Kak Jana yg kini jadi Deputi Kepala 
BPPT bidang Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam, adalah mantan Ketua DKD 
Jawa Barat periode awal 1980-an [ketua DKN-nya ketika itu Kak Susi Yuliati). 
Sementara Kak Grevo, yg kini dosen Unsrat, mantan anggota DKD Sulawesi Utara 
tahun awal 1990-an (ketua DKN-nya Iqbal).    

Alhamdulillah keduanya kini aktif lagi. Dalam kepengurusan Kwarnas 2008-20013 
yang baru (yg saat ini belum dilantik Presiden SBY), Kak Jana dipercaya 
menjabat Wakil Ketua Bidang Pendidikan, Penelitian dan Pengembangan. Meskipun 
belum dilantik, Kak Prof. Dr. Azrul Azwar  sudah beberapa kali melakukan rapat 
pimpinan. 

Kak Grevo duduk sebagai Andalan Daerah Kwarda Sulut. Kini beliau ikut mengurusi 
perkemahan T/D dalam rangka WOC di Manado.  

Kakak-kakak pimpinan Saka Bahari dan DKN/DKD dapat memanfaatkan beliau berdua. 
Harus dimulai dari sekarang Saka Bahari meluaskan pandangannya , tidak hanya 
merapat ke TNI AL. Laut yang selama ini ditinggalkan dalam pembangunan 
nasional, menyimpan banyak potensi.  Bukankah nenek moyang kita orang pelaut.   
       

Salam pramuka 
- uwd - 


--------------------------------------------------------->
http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/04/30/Ilmu_dan_Teknologi/krn.20090430.163957.id.html


Tanam Rumput Laut Panen Bioetanol

Pabrik pembuat bubur kertas dan bioetanol dari rumput laut siap beroperasi. 
Disepakati metode penghitungan CO2 sink dari algae.


Laporan penelitian itu bertajuk "The Economics of Climate Change in Southeast 
Asia: A Regional Review". Selasa lalu, studi ini diluncurkan ke publik 
menjelang Sidang Tahunan ke-42 ADB (Asian Development Bank) di Bali pada 2-5 
Mei 2009. Temuan studi yang dilakukan ADB cukup menyeramkan apabila dunia terus 
bersikap biasa (business as usual) dan tidak melakukan upaya bersama 
mengendalikan pemanasan global.

Indonesia, Filipina, Thailand, dan Vietnam menjadi negara-negara yang paling 
parah terkena dampak perubahan iklim, yang merupakan akibat dari pemanasan 
global. "Kerugian yang jika digabung setara dengan lebih dari 6 persen produk 
domestik bruto mereka setiap tahun pada akhir abad ini," demikian pernyataan 
dalam laporan itu. Angka ini melebihi kerugian akibat krisis keuangan global 
yang sedang terjadi saat ini.

Memang, ratusan pulau-pulau kecil di Indonesia terancam tenggelam karena 
naiknya paras muka laut setinggi 70 sentimeter. Akibatnya, studi ADB 
menyatakan, jutaan penghuninya dan warga yang tinggal di pesisir harus 
direlokasi. Mulai 2020, produksi beras merosot dan pada 2050, sebanyak 20 juta 
warga kekurangan air bersih. Banyak penduduk yang terkena penyakit malaria, 
demam berdarah, jantung, dan infeksi saluran pernapasan.

Untuk mengatasi perubahan iklim, di level internasional telah terbentuk United 
Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) dan Protokol Kyoto. 
Pemerintah Indonesia menerbitkan Rencana Aksi Nasional dalam Menghadapi 
Perubahan Iklim. Tahun lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membentuk Dewan 
Nasional Perubahan Iklim.

Sayangnya, pembicaraan dan upaya mengatasinya selama ini lebih terfokus pada 
isu kehutanan. Padahal, laut menyimpan potensi penyerap karbon dioksida (CO2 
sink) dan memiliki sejumlah sumber energi alternatif yang ramah lingkungan. 
Salah satu proyek yang sedang dikerjakan adalah memanfaatkan rumput laut atau 
algae.

"Selain menjadi bubur kertas, rumput laut ternyata juga dapat jadi bahan 
bioetanol," kata Grevo S. Gerung, dosen Universitas Sam Ratulangi, Manado, 
kepada Koran Tempo, Rabu pekan lalu. Sejak dua tahun lalu, Grevo bersama 
bersama Hack-Churl You, pemimpin Pegasus International Inc, mengadakan 
penelitian. Mereka menemukan spesies rumput laut dan teknologi pengolahnya 
untuk menjadi pulp atau bubur kertas.

Belakangan, riset itu berkembang karena rumput laut juga dapat menjadi 
bioetanol. Umumnya, etanol diturunkan dari fermentasi glukosa yang ada pada 
sejumlah tanaman. Brasil, misalnya, yang sejak 35 tahun lalu sukses 
mengembangkan bioetanol dari tebu sebagai bahan bakar pengganti minyak bumi. 
Sedangkan Amerika Serikat memanfaatkan 22 persen produksi jagungnya untuk 
bioetanol.

Dari hasil riset, rumput laut dapat menghasilkan etanol dari fermentasi 
galaktosa. Grevo Gerung dan Hack-Churl You dalam penelitiannya menggunakan red 
algae dengan empat spesies, yakni Gelidium amansii, Porphyroglossum sp, 
Pterocladia sp, dan Ptilophora sp. Kecuali Gelidium amansii yang berasal dari 
Korea, tiga spesies lainnya berasal dari perairan selatan Indonesia.

Setelah dibersihkan, red algae itu diekstrak menghasilkan agar. Kemudian, 
difermentasi sehingga menghasilkan gas metana atau etil alkohol yang menjadi 
bahan pembuatan bioetanol. Dalam proses produksi di pabrik, hasil ekstraksi 
akan digunakan memproduksi bioetanol dan limbahnya digunakan menghasilkan pulp. 
"Biayanya lebih murah ketimbang jagung ketika ditanam secara massal," kata 
Hack-Churl You. Dia berencana mengikutsertakan pabriknya dalam proyek Clean 
Development Mechanism (CDM) yang difasilitasi United Nations Framework 
Convention on Climate Change.

Memang riset terbaru para ahli di Minnesota, Amerika Serikat, menunjukkan bahwa 
untuk menghasilkan bioetanol ternyata butuh konsumsi air hingga tiga kali lipat 
dari dugaan sebelumnya. Studi sebelumnya menunjukkan satu galon bioetanol 
memerlukan 263-784 galon air untuk perkebunan jagung. Sangwon Suh dan 
rekan-rekannya, seperti ditulis di ScienceDaily edisi 13 April 2009, melakukan 
penelitian di 41 negara bagian Amerika Serikat. Mereka menemukan fakta bahwa 
untuk menghasilkan satu galon bioetanol dari tanaman jagung membutuhkan 2.100 
galon air.

Rumput laut jelas lebih ramah lingkungan dan tidak membutuhkan lahan di darat. 
Selain itu, hanya perlu waktu 45 hari untuk memanennya. Saat ini ada 35 negara 
yang melakukan budidaya rumput laut di sepanjang pantai. Pada 2003, industri 
rumput laut di dunia menghasilkan nilai US$ 6 miliar. Dengan bioteknologi 
rumput laut memiliki potensi untuk industri farmasi, biofuel, bioktif, dan 
pengelolaan lingkungan. Setiap tahun industri-industri itu membutuhkan 8 juta 
ton rumput laut.

Indonesia yang garis pantainya sepanjang 81 ribu kilometer memiliki ratusan 
spesies rumput laut. Sejak dulu, warga pesisir memanfaatkannya untuk bahan 
makanan dan obat-obatan. Diperkirakan potensi budidaya rumput laut setiap tahun 
ada 1,2 juta hektare. Pada 2001, terdapat 27.847 ton rumput laut Indonesia yang 
diekspor. Dua tahun lalu, angka itu melonjak jadi 102 ribu ton. Selama ini 
sentra budidaya rumput laut tersebar di perairan Nusa Tenggara Barat, Nusa 
Tenggara Timur, Bali, Jawa Timur, beberapa daerah di Sulawesi dan Sumatera. 
Diperkirakan potensi budidaya rumput laut setiap tahun ada 1,2 juta hektare.

Untuk merealisasi proyek rumput laut menjadi pulp dan bioetanol, Pegasus 
International menjalin kerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan 
Teknologi (BPPT), Departemen Kelautan dan Perikanan, dan Universitas Sam 
Ratulangi. "Kami menjadi focal point penelitian dan realisasi proyek ini di 
dalam negeri," ujar Jana T. Anggadiredja, Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi 
Pengembangan Sumber Daya Alam.

Pada Oktober nanti, dua mesin Pegasus di Seoul mulai beroperasi dengan 
memanfaatkan rumput laut dari perairan Lombok. Tahun depan mesin berkapasitas 
300 ton dioperasikan di Indonesia. "Mesinnya kecil supaya bisa ditempatkan di 
lokasi-lokasi budidaya rumput laut di Indonesia," kata Grevo, doktor taksonomi 
rumput laut dari Universitas Hokkaido, Jepang.

Jana Anggadiredja menjelaskan tiga kajian yang dilakukan lembaganya. Pertama, 
budidaya rumput laut untuk menemukan parameter, jenis, dan lokasi yang cocok. 
"Kami kaji secara ilmiah terlebih dulu sehingga tidak langsung dilakukan 
budidaya secara massal," ujar Jana yang mendapat gelar doktor di bidang rumput 
laut. Kedua, kajian dari sisi produksi. Ada dua jalur: pabrik rumput laut yang 
menghasilkan kertas dan agar-agar serta pabrik lain memproduksi kertas dan 
bioetanol.

Ketiga, kajian teknologi dikaitkan dengan skala ekonomi. Bahan baku rumput laut 
yang cocok harus tersedia dalam volume besar. Agar pabrik tidak sampai berhenti 
berproduksi. Tak hanya itu, kata Jana, mesin jangan terlalu besar dan 
disesuaikan dengan skala ekonomi lokasi budidaya di daerah pesisir.

Bersamaan dengan World Ocean Conference di Manado, 11-15 Mei 2009, berlangsung 
simposium ilmiah. Ratusan pembicara dalam dan luar negeri memaparkan riset 
mereka mengenai peran penting laut untuk mengurangi dampak perubahan iklim. 
Termasuk Jana dan Grevo yang berbicara tentang algae sebagai bahan pangan, 
obat-obatan, kertas, dan bahan bakar alternatif. [Untung Widyanto]



Penyerap Gas Rumah Kaca

Sejak tahun lalu Grevo S. Gerung menjalankan banyak peran. Dosen Universitas 
Sam Ratulangi ini menjadi koordinator sesi pemanfaatan rumput laut sebagai 
penyerap gas karbon dioksida dalam simposium internasional. Acara ilmiah ini 
menjadi bagian dari World Ocean Conference (WOC) pada 11-15 Mei 2009 di Manado. 
Sebagai pakar rumput laut, Grevo bakal menjadi pembicara dalam simposium yang 
mempresentasikan 600 pakar dalam dan luar negeri.

Tak hanya itu, Grevo juga menyiapkan perkemahan pramuka penegak dan pandega 
dari seluruh Indonesia di Manado. Para anggota pramuka usia 16-25 tahun dari 
Satuan Karya Bahari itu bakal mengikuti WOC dan melakukan pengabdian 
masyarakat. "Agar mereka mendapatkan informasi terkini soal isu kelautan dan 
menjaga kelestariannya," kata Grevo, pengurus gerakan pramuka yang ketika 
mahasiswa jadi anggota Dewan Kerja Pramuka Penegak dan Pandega Sulawesi Utara.

Grevo yang lulus program doktor dari Universitas Hokkaido, Jepang, juga aktif 
di fora internasional. Dia mewakili Indonesia dalam kelompok kerja Asian 
Network for Using as a CO2 Sink yang terdiri atas 12 pakar rumput laut di 
Asia-Pasifik. Kelompok kerja ini dibentuk Asia Pacific Phycological Association 
tempat Prof Jana T. Anggadiredja menjadi anggota dewan pengarah lembaga ini.

Sejak 2005, kelompok kerja melakukan penelitian dan lokakarya dalam rangka 
menempatkan peran rumput laut sebagai CO2 sink di perairan. Menurut Grevo, 
seperti tumbuhan daratan, rumput laut juga melakukan fotosintesis sehingga 
dapat dijadikan penyerap gas CO2 atau karbondioksida. Menurut Jana 
Anggadiredja, akhir Desember lalu, asosiasi ini bertemu di Selandia Baru. 
"Disepakati tiga metode perhitungan CO2 sink pada rumput laut," kata Jana yang 
juga menjadi pengurus gerakan pramuka. CO2 atau karbon dioksida merupakan salah 
satu gas rumah kaca yang menjadi penyebab pemanasan global.

Penelitian selanjutnya dilakukan untuk menghasilkan standar baku perhitungan. 
Hal ini sangat penting, kata Grevo, guna mendapatkan standar untuk mengkonversi 
hutan tropis dengan peran rumput laut. Jika tercapai, kelompok kerja ini akan 
masuk program Clean Development Mechanism yang menjadi bagian proyek global 
UNFCC (Badan PBB untuk Konvensi Perubahan Iklim). Grevo juga terlibat dalam 
penelitian dan pengembangan proyek rumput laut penghasil kertas (pulp) dan 
bioetanol.

Menurut Grevo, dengan rangkaian proyek itu akan tereliminasi usaha penebangan 
hutan sebagai bahan baku pulp atau bubur kertas. Pada satu sisi terjadi 
konservasi hutan dengan mengalihkan bahan baku pulp ke rumput laut. Selain itu, 
dengan budidaya rumput laut skala besar bagi kepentingan industri pulp, semakin 
luas area perairan yang ditanami rumput laut yang pada akhirnya semakin luas 
area CO2 sink di laut.[Untung Widyanto]


      Akses email lebih cepat. Yahoo! menyarankan Anda meng-upgrade browser ke 
Internet Explorer 8 baru yang dioptimalkan untuk Yahoo! Dapatkan di sini! 
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer

Kirim email ke