Sekedar untuk refleksi soal mengubah sistem dari dalam, dari luar, atau 
menawarkan sistem baru. Atau gejala belum clear nya hubungan negara dengan 
agama (khususnya islam) di NKRI kita, simak dlm tulisan ini:
-dmar-

ISLAM PASKA PEMILU 2009, FENOMENA PKS
Oleh : Y. Herman Ibrahim


Teman-teman yang berjuang untuk Islam lewat partai politik sangat percaya 
dengan demokrasi. Konon salah satu inti dari ajaran demokrasi adalah kebebasan. 
Dan salah satu elemen dari kebebasan itu adalah kritik. Saya akan mengikuti 
cara berfikir demokratis dengan melontarkan kritik. Saya berharap teman-teman 
muslim tidak anti kritik dan tidak perlu menuduh kelompok kritis sebagai 
khawarij. Saya berfikir cita-cita dan tujuan kaum muslimin adalah sama, yakni 
tegaknya syari’at Islam dalam kehidupan dan  memperoleh ridlo Allah SWT. 
Memperjuangkan tegaknya syari’at Islam hukumnya wajib. Salah satunya adalah 
lewat kekuasaan karena diyakini tanpa kekuasaan syari’at Islam tidak akan 
tegak. 
Upaya kearah itu sudah dimulai jauh sebelum Indonesia berdiri. Para mujahid 
seperti Imam Bonjol dan Pangeran Diponegoro tidak berjuang tentang sebuah 
republik sekuler melainkan sebuah sistim kekuasaan berdasarkan prinsip dan 
azas-azas Islam. Mereka dikalahkan oleh penguasa lokal atas dukungan kaum adat 
dan kolonial Belanda. Di awal kemerdekaan perjuangan Islampun kandas oleh 
berbagai penghianatan. Tragisnya syari’at Islam justru ditolak dan dihapus oleh 
tokoh-tokoh nasional yang juga mengaku beragama Islam. Namun perjuangan itu tak 
pernah surut. Selama orde baru para pejuang syariah disebut ekstrim kanan dan 
sekarang diseluruh dunia disebut teroris. Kelompok ekstrim kanan dan teroris 
itu berjuang di luar sistim. Untuk menghindari tuduhan semacam itu dan atas 
dasar fatwa Syekh Yusuf Qorodhowi ikhwal fiqih dharuroh, beberapa kelompok 
usroh dan jama’ah tarbiyah sepakat masuk ke dalam sistim  membentuk partai 
politik. 
Pola perjuangan lewat partai politik tidaklah salah. Strateginya tentu saja 
adalah berbagai aneka propaganda dengan menggunakan simbol-simbol agama. Namun 
demikian dalam perkembangannya terjadi perubahan karena umat Islam Indonesia 
tidak suka agama dijadikan komoditas politik. Berbeda dengan kemenangan Masyumi 
di masa lalu, saat itu umat Islam percaya tidak ada pemisahan antara 
simbol-simbol agama yang dijajakan dengan ideologi yang dianut. Sekarang di 
tengah suasana pragmatisme dan deideologisasi partai politik, isu-isu Islam 
tidak lagi laku bahkan dicurigai sebagai upaya memperjual belikan agama untuk 
tujuan politik. Maka partai Islampun berlomba menjadi partai terbuka. Walaupun  
dalam anggaran dasarnya berazaskan Islam, namun dalam implementasinya lebih 
banyak menawarkan program yang sama sekali tidak terkait dengan penegakan 
syari’at Islam. 


Fenomena PKS

Partai Keadilan Sejahtera memang fenomenal. Dia terlahir dari suasana yang 
mencengangkan tatkala sebuah sistim politik otoritarian tumbang oleh kekuatan 
reformasi. PKS yang dulu bernama Partai Keadilan (PK) dianggap sebagai 
kelanjutan Haroki ideologis ikhwanul muslimin yang di Indonesia di cover dalam 
sebutan jamaah tarbiyah. Para pengurusnya anak-anak muda yang bergaya modern, 
moderat, terdidik, santun tetapi memiliki idealisme Islam yang kuat. Citra 
pengurus PKS sangat bagus. Ucapan salam, jabat tangan, baju koko yang rapih, 
hem lengan panjang yang bersih, tidak merokok, kaum hawanya mengenakan jilbab 
terkesan anggun, penyayang, adil dan bersih. Banyak orang mulai tertarik 
sehingga di Pemilu 99 meskipun tidak memperoleh electoral treshold mereka 
mendapatkan kursi di parlemen. Citra PKS sangat positif sehingga pada pemilu 
2004 berhasil  melipat gandakan raihan suaranya lebih dari tiga kali lipat. 
Disinilah mulai terjadi bias asumsi ikhwal lonjakan prestasi PKS yang bisa 
dilipat gandakan lagi jika PKS merebut suara-suara dari kalangan nasionalis 
sekuler dan menjadi partai terbuka. Maka  PKS mentargetkan raihan suara minimal 
20% pada pemilu 2009.
Asumsi berikutnya adalah PKS harus menggalang koalisi lintas parpol. Koalisi 
itu bukanlah antar parpol Islam karena ideologi Islam dianggap tidak relevan 
dan hanya merupakan romantisme masa lalu belaka. Bagi pengurus PKS lebih nyaman 
bergaul dengan kalangan nasionalis sekuler, karena kelompok Islam terutama 
mereka yang diluar sistim memiliki citra buruk akibat terorisme. PKS juga 
beranggapan bahwa masyarakat bawah kebanyakan belum tersentuh oleh da’wah. Maka 
mendekati mereka secara terbuka harus diawali dengan tawaran kebaikan 
sosiologis dan bukan dengan simbol-simbol agama. Diberbagai pilkada PKS banyak 
berhasil dengan berkoalisi dengan partai-partai non-Islam. Dalam kampanyepun 
PKS membiarkan atraksi dangdut, jogetan dan perempuan yang tampil 
sensual.Memang benar cara-cara pragmatis seperti itu bisa menarik masa dan ada 
manfaat di dalamnya. Ini ibarat minum khamr. Ada manfaat tetapi mudharatnya 
jauh lebih besar sehingga diharamkan. 
Dibalik ambisi dan kebesaran PKS muncul sinisme di kalangan internal terhadap 
kritik dan kekhawatiran berbagai kalangan. Beberapa teman di kalangan 
Muhamadiyah menilai kegiatan remaja masjid yang dilakukan PKS sebagai 
pengkavlingan masjid dengan baju politik. Kalangan NU mencurigai PKS membawa 
misi wahabi karena menolak qunut, tahlilan dan peringatan maulid. Dalam 
kampanye 2009, PKS tidak segan-segan mengatakan tidak menolak bahkan 
mempraktekan peringatan Maulid Nabi, ikut tahlilan dan membaca doa qunut di 
kala sholat Shubuh. Tetapi di atas itu semua yang paling menuai kritik tajam 
terhadap PKS adalah iklan politiknya di saat menyambut hari pahlawan. Mungkin 
di latar belakangi ingin membangun rekonsiliasi antara kelompok Islam dan kaum 
Nasionalis. PKS menyandingkan Soeharto bersama tokoh-tokoh sejarah seperti 
Ahmad Dahlan, Hasyim Asyari, Soekarno-Hatta, Bung Tomo dan M. Natsir sebagai 
pahlawan nasional dan guru bangsa. Akibatnya kita saksikan raihan suara PKS 
pada pemilu 2009 hanya sekitar 7%, jauh panggang dari api dengan target 20%.


Masa Depan Islam

Para pejuang syari’ah Islam dengan semangat tinggi tampil di era reformasi. 
Mereka bangkit dan muncul dari persembunyiannya untuk mengatakan ”ana Muslim”. 
Mediapun bertebaran menyuarakan suara Islam dan pada tingkat tertentu sampai 
saat inipun masih diberi ruang untuk tampil. Ustadz Abu Bakar Ba’asyir kembali 
dari ”hijrahnya” dan mendirikan Majelis Mujahidin/MMI (Ustadz Abu memanfaatkan 
demokrasi sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW yang memanfaatkan tradisi 
perlindungan kabilah di jaman Jahiliyah). Hizbut Tahrir (Partai Pembebasan) 
yang berskala global cepat berkembang di seluruh wilayah RI. Front Pembela 
Islam bergerak di hilir dengan isu-isu membasmi berbagai bentuk kemaksiatan. 
Badan Intelijen Negara (BIN) terus mengikuti perkembangan dan menyusupkan 
orang-orangnya ke dalam organisasi-organisasi tersebut. Abdullah Haris, seorang 
kolonel TNI-AU yang fasih berbahasa Arab disusupkan kedalam tubuh MMI sebagai 
bagian dari qiyadah yang mendorong agar MMI membangun sayap militer. Di sisi 
lain dia berhasil menjebak Al Farouk yang konon dituduh sebagai anggota 
jaringan Al Qaida dan menyerahkannya kepada Amerika Serikat. Kegiatan intelijen 
ini terutama dilakukan menyusul peristiwa bom Bali, 10 Oktober 2002. 
Berbeda dengan Turki, keadaan di Indonesia menggambarkan arus balik yang 
berlawanan. Demokrasi memberi ruang yang cukup kepada muslim Turki untuk 
kemenangan partai AKP (Partai Keadilan) pimpinan Recep Erdogan. Meski partai 
ini menerima prinsip-prinsip demokrasi dan sekularisme tetapi kecenderungannya 
sebagai partai Islam tetap dipertahankan. Konflik dengan kalangan militer tidak 
membuat partai ini kehilangan konstituennya. Bahkan partai sekuler CHP pimpinan 
Deniz Baykal berupaya merebut konstituen Islam dengan cara mengijinkan 
anggotanya untuk mengenakan jilbab serta menawarkan posisi pengurus kepada 
aktivis Islam. Di Indonesia terjadi hal yang sebaliknya tatkala secara 
telanjang partai Islam seperti PKS berupaya merebut hati kaum nasionalis 
sekuler dengan menjadikan dirinya sebagai partai terbuka. Banyak di kalangan 
kader dan simpatisannya menilai PKS mulai melenceng dari khittah pendiriannya 
sebagai partai da’wah.
Sesungguhnya hal ini terjadi di kalangan partai-partai Islam lainnya juga 
seperti PPP, PBB, PAN dan PKB. Partai-partai ini meski berbasis Islam tetapi 
menolak formalisasi syari’at Islam. Syari’at Islam lantas direduksi menjadi 
urusan pribadi yang hanya terkait dengan ibadah mahdhoh, urusan nikah dan haji. 
Ini semua mencerminkan perkembangan yang tidak menggembirakan bagi Islam. 
Mereka yang  menolak syari’at Islam dan konon hanya menerima substansinya 
ibarat orang yang bepergian dengan menaiki pesawat imitasi (Lih. Risalah 
Mujahidin edisi 25). Dengan demikian partai-partai Islam yang berjuang di dalam 
sistem telah menyajikan hidangan haram di meja makan umatnya dengan membuka 
lebar faham dan pemikiran sekuler yang bertolak belakang dengan misi awalnya. 
Islam yang dibawa dan diajarkan Rasulullah SAW, tidak pernah memisahkan agama 
dengan politik seperti yang dikehendaki oleh kaum sekuler.
Mereka menjadi partai tanpa jenis kelamin, Islam bukan sekulerpun tidak. Mereka 
membaca ayat kursi, yang setelah kursinya diambil ayatnya dibuang. Elitnya 
berperilaku sama dengan elit-elit partai sekuler bergelimang harta dan 
kekayaan. Sementara teman-teman yang berjuang di luar sistem selain hidup dalam 
keadaan miskin dan serba kekurangan terus menghindar dari ancaman intelijen 
yang menguntitnya. Islam paska pemilu 2009 memasuki ruang pengap, gelap dan 
kehadirannya hanya ada di arena istigoshah,  majelis dzikir, majelis ta’lim, 
pesta kawin, khitanan masal dan tahlilan. Logika demokrasi kemenangan diukur 
dengan suara terbanyak. Logika Jihadi kemenangan justru diperoleh oleh jumlah 
manusia yang sedikit namun tetap lurus dalam aqidah. Semoga di negeri ini lahir 
Thoifah Mansuroh yang dalam langkah perjuangannya selalu dalam perlindungan dan 
pertolongan Allah Azzaa Wajala. Wallahu ’alam bishshowab. 

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

------------------------------------

---------------------
Be Prepared
Sekali Pramuka tetap Pramuka
---------------------

Pramuka email addresses:
  Post message: [email protected]
  Subscribe:    [email protected]
  Unsubscribe:  [email protected]

---------------------Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/pramuka/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/pramuka/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke