KEDISIPLINAN bisa diajarkan dan dibiasakan pada anak sejak dini, tapi juga 
membutuhkan kesadaran yang datang dari diri sendiri. Dengan berdisiplin, anak 
juga belajar bertanggung jawab.

Dr Marvin Marshall, seorang konsultan dan penulis di sebuah surat kabar 
elektronik di Amerika, mengemukakan bahwa saat liburan tiba (terutama liburan 
Natal dan tahun baru), orang tua sering kali sibuk memikirkan tentang hadiah 
apa yang akan diberikan kepada putra-putrinya.

"Padahal ada hadiah yang tak ternilai harganya dan akan berguna hingga akhir 
hayat anak-anak kita, yaitu tanggung jawab," kata Marshall seperti dikutip 
dalam presentasi bertajuk How to Promote Responsibility.

Menurut Marshall, ada beberapa cara untuk menanamkan tanggung jawab dan 
disiplin tanpa membuat anak stres, tanpa hukuman, serta tanpa perlu pemberian 
hadiah.

1. Pertama, usahakan untuk selalu mengatakan dengan bahasa yang positif. 
Misalkan: "Kalau kamu bisa menyelesaikan PR-mu dengan cepat, maka kamu bisa 
segera pergi". Ini akan lebih efektif ketimbang mengatakan: "Kalau kamu tidak 
mengerjakan PR-mu, maka kamu tidak boleh pergi". Jadi setiap perkataan dan 
tindakan hendaknya dilandasi dengan kebijakan. Bagaimanapun, kebijakan lebih 
baik daripada konsekuensi yang sering diartikan sebagai hukuman.

2. Kedua, tawarkan pilihan. Pilihan memang bisa dibatasi, tapi dengan sering 
melatih anak untuk memilih, maka dia juga akan semakin bertanggung jawab, 
terutama terhadap pilihannya itu. Jika dia tidak kunjung memenuhi tugas dan 
tanggung jawabnya, coba tingkatkan pilihan sehingga dia mempunyai lebih banyak 
pilihan.

"Dalam hubungan pertemanan, 'tidak kalah' itu lebih penting ketimbang menang. 
Selama seseorang itu punya pilihan, dia tidak akan kalah. Maka, cobalah 
tawarkan pilihan-pilihan yang masuk akal pada anak-anak," saran Marshall dalam 
www.momstoday. com.

Pilihan itu bisa disadari atau tidak disadari. Setiap orang selalu punya 
kemungkinan untuk memilih, jangan ajarkan anak untuk berpikir sebagai "korban" 
atas hal tidak menyenangkan yang menimpanya. Misalkan,"Dia membuatku melakukan 
hal ini", "Aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri", atau "Aku tidak punya 
pilihan lain".

3. Ketiga, berhati-hatilah dengan pertanyaan "mengapa?". Dalam pertanyaan 
tersebut terkandung makna "mengemukakan alasan", menjadi korban, atau 
menghindari tanggung jawab.

Ketika anak merasa terdesak, dia bisa mengemukakan alasan yang tidak benar 
(berbohong) untuk melindungi di-rinya dari rasa bersalah atau kemungkinan 
hukuman dari orang tuanya. Selain itu, batasi kebiasaan "menceramahi" anak. 
Kendati mungkin orang tua bermaksud baik untuk menasihati, tapi anak-anak bisa 
salah menilainya sebagai kritikan, atau mungkin mereka akan berpikir: "Ih, mama 
bawel amat sih!".

4. Keempat, jadilah pendengar yang baik. Orang tua juga hendaknya mencoba untuk 
mengerti dan mendengarkan cerita dan keluhan anak tanpa menginterupsi dengan 
pendapatnya. Ketimbang menghakimi, lebih baik tunjukkan ketertarikan dan rasa 
ingin tahu yang tinggi.

Mengelola kebiasaan mendengarkan untuk memahami akan kian mempererat hubungan 
orang tua dan anak. Orang tua yang memiliki kebiasaan mendengarkan yang buruk 
biasanya cenderung selalu menginterupsi. "Mengunci mulut" saat anak bercerita 
mungkin agak berat, tapi ini adalah salah satu jalan yang tepat untuk 
meningkatkan komunikasi. Bagaimanapun anak-anak butuh untuk curhat, maka 
jadilah pendengar yang baik sehingga mereka bisa mencontohnya.

5. Kelima, kemukakan keinginan Anda sebagai orang tua. Beri kesempatan pada 
anak untuk menolong Anda karena anak-anak tumbuh dengan memberi. Nyatakan lebih 
dari sekadar pujian, misalkan "Mama lihat kamu merapikan tempat tidurmu". 
Kalimat tersebut lebih menunjukkan kompetensi diri dan mengembangkan tanggung 
jawab anak ketimbang mengatakan, "Mama sangat bangga melihatmu merapikan tempat 
tidurmu," yang hanya menunjukkan sesuatu yang membanggakan orang tua.

6. Keenam, pemberian hadiah tidak akan memotivasi anak untuk bertanggung jawab. 
Jika anak mengetahui adanya reward, maka kemungkinan mereka akan mengalihkan 
pikiran untuk bertindak menjadi pikiran untuk menyuap atau mengambil hati orang 
tuanya. Padahal tujuan utamanya adalah meningkatkan tanggung jawab anak, bukan 
menghukum atau memberinya hadiah kan? (Koran SI/Koran SI/nsa)


Kirim email ke