Rabu, 10 Juni 2009 - 11:12 wib


LIBURAN, saat yang tepat untuk meluangkan waktu dan mengisinya bersama buah 
hati tercinta. Buatlah kegiatan yang membuat Anda lebih dekat dengan si kecil.

"Libur telah tiba. Libur telah tiba. Hatiku gembira". Nukilan lagu yang 
dibawakan Tasya itu menggambarkan betapa libur adalah masa yang menyenangkan 
bagi anak-anak. Lihat saja tingkah Boris Luhung. Bocah berusia enam tahun ini 
selalu melingkari hari libur pada semua kalender di rumahnya. "Kalau 
kalendernya udah aku lingkarin, berarti aku bisa main seharian. Jadi ga usah 
tanya mamah lagi kapan aku masuk sekolah, kapan aku libur," ucap Boris yang 
senang bermain seharian selama liburan.

Libur hari Minggu saja sudah ditunggu-tunggu si kecil, apalagi liburan panjang 
kenaikan kelas. Wah, buah hati Anda pasti sudah lama menantinya. Sebagai 
orangtua, tentu Anda tak ingin menyianyiakannya kan? Banyak cara untuk mengisi 
hari yang penuh warna tersebut. Anda bisa mengajak si kecil berlibur ke luar 
kota, atau mungkin sekadar jalan-jalan di mal, atau menantangnya dalam 
permainan outbound.

Agar tidak mengecewakan, sebaiknya rencanakan liburan dengan matang. Shelomita 
Sulistiani, aktris sekaligus pemilik lembaga home schooling "Langkahku Child & 
Family Educare", mengatakan selalu merencanakan liburan jauh-jauh hari. "Ketiga 
anakku memiliki tempat tujuan berlibur yang berbeda. Ada yang mau ke Eropa, 
tapi yang cowok maunya ke Jepang karena mendengar cerita saudaranya. Banyak 
maunya, deh," ucap Shelomita yang mengaku dirinya lebih senang berlibur ke 
pantai.

Shelomita mengatakan, sebenarnya tujuan berlibur ini intinya selain 
menyenangkan anak, juga dijadikan ajang berkumpul bersama keluarga secara 
penuh; tempat hanya sebagai penunjangnya.

Psikolog dari I Love My Psychologist Dra Psi Heryanti Satyadi MSi mengatakan 
bahwa anakanak memang selalu menantikan liburan, karena yang dinantikan dengan 
mereka itu biasanya berhubungan dengan pendidikan. Misalnya, dia terbebas dari 
kegiatan sehari-hari yang mereka lakukan di sekolah. "Anak-anak pasti akan 
senang jika liburan tiba. Tetapi disarankan bagi orangtua, untuk menjadikan 
liburan ini sebagai waktu untuk berkumpul bersama. Tidak hanya dengan 
temannya," ucap psikolog lulusan Universitas Indonesia ini.

Selain itu yang perlu diingat, ungkap Heryanti, adalah bahwa liburan juga harus 
memperhatikan kemampuan orangtua serta kesiapan yang matang. Kemampuan di sini 
bukan harus soal materi saja, melainkan juga kemampuan dalam mengenal 
tempat-tempat yang bagus untuk liburan, atau kemampuan untuk menentukan tema 
yang tepat untuk kegiatan liburan. Dengan begitu, anak-anak bisa mendapatkan 
manfaat liburan antara lain untuk menambah pengetahuan, terutama di tempat baru 
yang belum pernah mereka singgahi.

"Tema bisa dipilih orangtua dan ditawarkan pada anak-anak," ujar psikolog yang 
sedang mengambil gelar doktor ini. Tentang masalah persiapan dana, apabila anak 
ingin berlibur di tempat yang cukup jauh dan berbenturan dengan dana sehingga 
dana tidak mencukupi, itu bukan suatu masalah. Namun, orangtua harus segera 
mencari alternatifnya.

"Liburan juga bisa dilakukan di rumah dan diisi dengan kegiatan yang 
menyenangkan, misalnya mengajarkan anak memasak kue dengan bentuk yang lucu," 
ucap psikolog yang berpraktik di Jalan Paku Buwono VI No 84, Kebayoran Baru 
ini. Sementara menurut pakar emotional intelligence dari Radani Edutainment, 
Hanny Muchtar Darta, Certified EI, PSYCH-K, SET, berlibur merupakan waktu yang 
tepat untuk mengisi waktu bersama dengan keluarga dan bisa dilakukan di mana 
saja. Dengan begitu, orangtua dan anak bekerja sama dalam memilih tempat 
liburan, direncanakan dengan baik, dan diceritakan manfaat apa yang bisa 
diperoleh anak yang disampaikan dengan cara yang sederhana sesuai dengan 
perkembangan anak.

Langkah sederhana ini jika dilakukan akan membuat anak memiliki terhadap acara 
liburan tersebut, sehingga sudah pasti hal ini merupakan tindakan pencegahan 
untuk menghindari anak bosan. "Jika anak sudah bosan, tanyakan apa yang 
diinginkan dan bernegosiasi dengan anak," ujar wanita yang juga menyelesaikan 
pendidikan Braingym di Singapura pada 2008.

Di samping itu, ajak anak ke tempat yang banyak permainan atau banyak hal yang 
bisa dilakukan sehingga anak tidak bosan. Sebab, anak merasa bosan merupakan 
salah satu indikasi dari dia ingin melakukan hal lain yang baru.
(Koran SI/Koran SI/tty)

Kirim email ke