Dua moment persentuhan saya dengan Kak Mutahar.

Pertama, ketika beliau ke IKIP Bandung diundang Gudep Pramuka dan mendapat 
wejangan mengenai Kepenegakan. Banyak hal baru yang saya dapati khususnya 
bagaimana proses pembinaan seorang calon penegak. Saya ingat beliau datang 
sendiri, tidak mau dijemput dan menyatakan selama jadi Andalan nasional tidak 
pernah menerima apa-apa karena memang tidak berkenan. Pengabdian adalah 
pengabdian.

Kedua, di Raimuna Nasional 1992. Saat itu saya menjadi peserta Lokakarya Buku 
Pedoman Kepenegakan (?) yang sampai sekarang tidak jadi-jadi. Kembali 
disegarkan dengan ide-ide Kepanduan dari beliau.

Lagu Syukur merupaka satu-satunya lagu yang sampai hari ini membuat saya 
merinding .....

Hendro Prakoso

--- On Wed, 8/5/09, Hendry Risjawan <[email protected]> wrote:

From: Hendry Risjawan <[email protected]>
Subject: [Pramuka] H. Mutahar, Sang Pencipta Lagu Hari Merdeka
To: [email protected], [email protected]
Date: Wednesday, August 5, 2009, 2:20 PM






 




    
                  

H. Mutahar, Sang Pencipta Lagu Hari Merdeka



Mutahar kecilSetiap tahun apabila kita merayakan Hari Ulang Tahun

Kemerdekaan Republik Indonesia sudah bisa dipastikan bahwa kita akan sering

mendengar Lagu Hari Merdeka yang diciptakan oleh Bapak Husein Mutahar (Alm)

yang dinyanyikan baik itu oleh anak-anak, maupun orang dewasa. 



Sekilas cerita tentang terciptanya Lagu Hari Merdeka yang sering

diperdengarkan pada saat Aubade HUT Proklamasi Kemerdekaan RI, menurut

pengakuan beliau sendiri, diciptakan di dalam toilet Hotel Garuda

Yogyakarta. Ketika itu ia sekamar dengan Hugeng yang kemudian menjadi Kepala

Polri, dimana pada saat itu sedang bersama-sama mengawal Bung Karno. Hugeng

kebingungan mencarikan kertas dan pulpen karena Mutahar tergopoh-gopoh

hendak menuangkan gagasannya ke atas kertas. Selanjutnya, karya cipta

lainnya dari H. Mutahar yang cukup dikenal adalah lagu SYUKUR. Menurut

beliau, lagu Syukur ini diciptakan pada tahun 1944, adalah sebuah puji

syukur yang dipersiapkannya untuk menyambut Kemerdekaan RI yang ketika itu

diduganya sudah hampir tercapai.



Namun dibalik lagu itu, tahukah anda siapa tokoh pencipta lagu tersebut ?

Disini saya mencoba untuk menuliskan sedikit tentang beliau yang saya

ketahui selama saya mengenal beliau.



Hs. Mutahar saya kenal dari kak Idik Sulaeman. Hingga dalam perjalanan

mengenal beliau saya menjadi sangat dekat, terkadang kita begadang untuk

berdiskusi tentang segala hal. Saya yang tadinya tidak suka lagu Klasik

akhirnya menjadi sangat suka karena beliau. Kedekatan saya dengan kak Hs.

Mutahar hingga saya mengganggap beliau adalah eyang saya sendiri, makanya

saya selalu memanggil beliau dengan eyang. Banyak sekali yang saya dapatkan

mengenai kehidupan dan karakter kepribadian dari beliau dan itu sangat

menempel dalam diri saya.



Mungkin sebagian besar dari kita tidak banyak mengenal beliau, atau mengenal

sebatas ia adalah seorang pencipta lagu. Dibalik itu semua belai mempunyai

jasa yang besar untuk Republik Indonesia ini. Mari kita mengenal beliau

lebih dalam lagi.



Bapak Husein Mutahar lahir di Semarang, Jawa Tengah pada tanggal 5 Agustus

1916. Perjalanan pendidikan formalnya dimulai dari ELS (Europese Lagere

School atau sama dengan SD Eropa selama 7 tahun) , kemudian dilanjutkan ke

MULO (Meer Uitgebreid Lager Ondewwijs atau sama dengan SMP selama 3 tahun)

dan dilanjutkan ke AMS (Algemeen Midelbare School atau sama dengan SMA

selama 3 tahun) Jurusan Sastra Timur khususnya Bahasa Melayu, di Yogyakarta.

kemudian beliau melanjutkan ke Universitas Gajah Mada dengan mengambil

Jurusan Hukum dan Sastra Timur dengan khusus mempelajari Bahasa jawa Kuno

namun perkuliahan nya hanya 2 tahun karena selanjutnya drop out (DO) karena

harus ikut berjuang.



Kemudian tentang riwayat pekerjaan beliau antara lain adalah :



1.      Guru Bahasa Belanda di SD Islam swasta di Pekalongan,

2.      Wartawan berita kota dari Surat Kabar berbahasa Belanda "Het Noorden

" di Semarang tahun 1938,

3.      Klerk di Cosultatie Bureau der Afdeling Nijverheid voor Noord Midden

Java, Departement Ekonomische Zaken, 1939-1942

4.      Sekretaris Keizai Bucho (Kepala Bagian Ekonomi) Kantor Gubernur Jawa

Tengah, 1943.

5.      Pegawai Rikuyu Sokyoku (Jawatan Kereta Api Jawa Tengah Utara) di

Semarang, 1943-1948.

6.      Sekretaris Panglima Angkatan Laut Republik Indonesia, 1945-1946.

7.      Ajudan III, kemudian Ajudan II Presiden Republik Indonesia

1946-1948.

8.      Pegawai Departemen Luar Negeri Republik Indonesia, 1969 - 1979.

9.      Diperbantukan pada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan sebagai

Direktur Jenderal Urusan Pemuda dan Pramuka (Dirjen Udaka) Departemen P&K,

1966-1968.

10.     Diangkat menjadi Duta Besar Republik Indonesia pada Tahta Suci di

Vatikan, 1969-1973.

11.     Direktur Protokol Departemen Luar Negeri merangkap Protokol Negara,

1973-1974

12.     InspekturJenderal Departemen Luar Negeri dan selama 16 bulan,

merangkap Direktur Protokol dan Konsuler Departemen Luar Negeri, merangkap

Kepala Protokol Negara, 1974.

13.     Pensiun sebagai Pegawai Negeri Sipil, golongan IVe.



Dalam kehidupan ber-Organisasi pengalaman beliau adalah sbb :



1.      Pemimpin Pandu dan Pembina Pramuka, 1934-1969

2.      Anggota Partai Politik, 1938 - 1942

3.      Kepala Sekolah Musik di Semarang, sebagai tempat penanaman,

penyebaran, dan pengobaran semangat kebangsaan Indonesia, dan sebagai

gerakan penyebaran semangat melawan Jepang dan kamuflase gerakan subversi

melawan Jepang, 1942-1945

4.      Anggota AMKRI (Angkatan Muda Kereta Api Indonesia) di Semarang,

1945.

5.      Anggota BPRI (Badan Pemberontak Rakyat Indonesia) Jawa Tengah, 1945.

6.      Anggota redaksi majalah "Revolusi Pemuda", 1945-1946.

7.      Gerilya, 1948-1949

8.      Ikut mendirikan dan bergerak sebagai pemimpin Pandu serta kemudian

menjadi anggota Kwartir Besar Organisasi Persatuan dan Kesatuan Kepanduan

Nasional Indonesia "Pandu Rakyat Indonesia", 28-12-1945 s.d. 20-5-1961

9.      Ikut mendirikan dan bergerak sebagai Pembina Pramuka, duduk sebagai

anggota Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dan Andalan Nasional Urusan

Latihan, 1961-1969

10.     Sekretaris Jenderal Majelis Pembimbing Nasional Gerakan Pramuka,

1973 -1978, dan anggota biasa, 1978-2004.



Beberapa kisah perjuangan beliau yang jarang diketahui adalah:



Beberapa hari menjelang peringatan HUT Kemerdekaan RI yang pertama, Presiden

Soekarno memberi tugas kepada salah satu ajudannya, Mayor M. Husein Mutahar,

untuk mempersiapkan upacara peringatan Detik-detik Proklamasi 17 Agustus

1946, di halaman Istana Presiden Gedung Agung Yogyakarta.



Mutahar, yang dikenal punya rasa kebangsaan sangat kental (ditandai dengan

lagu-lagu ciptaannya seperti Hari Merdeka dan Syukur), segera memenuhi

permintaan Bung Karno. Acara pun disusun satu persatu, mulai dari pembacaan

naskah Proklamasi. Namun, tiba-tiba Mutahar teringat akan sesuatu. Menurut

dia, rasa cinta Tanah Air, persatuan dan kesatuan bangsa wajib dilestarikan

kepada generasi penerus. "Tapi, simbol-simbol apa yang bisa digunakan?"



Melalui materi yang akan dipakai pada upacara itu, Mutahar memilih

pengibaran bendera (pusaka). Dalam benaknya, pengibaran lambang negara itu

memang sebaiknya dilakukan oleh para pemuda Indonesia (seperti juga pada

tahun 1945).

Tanpa buang waktu, ditunjuknya lima pemuda (terdiri dari tiga putri dan dua

putra) untuk menjadi pelaksana pengibaran bendera. Lima orang itu, dalam

pikiran Mutahar adalah simbol dari Pancasila. Salah satu pengibar bendera

pusaka pada 17 Agustus 1946 itu adalah Titik Dewi, pelajar SMA asal Sumatera

Barat yang saat itu sedang menuntut ilmu dan tinggal di Yogyakarta.



Dari pengalaman pertama tahun 1946 itu, Mutahar menganggap apa yang

dilakukannya sudah tepat. Bung Karno pun tidak memprotes keputusan yang

diambil Mutahar untuk menyerahkan tugas pengibaran bendera pusaka kepada

para pemuda. Berturut-turut, pada tahun 1947 dan 1948, pengibaran bendera

oleh lima pemuda asal berbagai daerah itu terus dilestarikan.



Pada akhir tahun 1948 Bung Karno serta beberapa Pemimpin sempat ditangkap

Belanda dan diasingkan ke Parapat (Sumatera Utara), lalu dipindahkan ke

Muntok (Bangka). Saat itu, bendera pusaka sempat diselamatkan oleh Husein

Mutahar dari sitaan Belanda, bahkan dikirimkan ke Bangka dengan cara yang

rumit dan sulit.

Tanggal 6 Juli 1949, Bung Karno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta kembali ke

Yogyakarta dari Bangka dengan membawa serta bendera pusaka. Tanggal 17

Agustus 1949, bendera pusaka kembali dikibarkan di halaman Istana Presiden

Gedung Agung Yogyakarta.



Seusai penandatanganan naskah pengakuan kedaulatan lndonesia pada 27

Desember 1949 di Den Haag (Konferensi Meja Bundar), Ibukota Republik

Indonesia dikembalikan ke Jakarta. Pada 17 Agustus 1950, pengibaran bendera

pusaka dilaksanakan di halaman Istana Merdeka Jakarta. Husein Mutahar tidak

lagi terlibat, karena regu-regu pengibar bendera pusaka diatur oleh Rumah

Tangga Kepresidenan RI. Pada kurun waktu tersebut, pada pengibar kebanyakan

diambil dari unsur pelajar atau mahasiswa yang ada di Jakarta.



Tahun 1966, Kak Mutahar mendapat jabatan sebagai Direktur Jenderal Urusan

Pemuda dan Pramuka di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Saat itulah, ia

kembali ingat dengan gagasannya tahun 1946.



Dari sana Kak Mutahar dan Ditjen Udaka melakukan latihan dengan nama "

Latihan Pandu Ibu Indonesia Ber- Pancasila" yang sempat diujikan pada tahun

1966 dan 1967. kurikulum uji coba "Pasukan Penggerak Bendera Pusaka"

dimasukkan dalam latihan itu pada tahun 1967 dengan peserta dari Pramuka

Penegak yang berasal dari beberapa Gudep di Jakarta.



Kekhasan latihan itu adalah konsep pelatihan dengan menggunakan metode

"Keluarga Bahagia" dan diterapkan secara nyata dalam konsep " Desa Bahagia".

Di desa itu, para peserta latihan di ajak berperan serta dalam menghayati

kehidupan sehari- hari yang menggambarkan penghayatan dan pengamalan

Pancasila.



Tahun 1967, Husein Mutahar kembali dipanggil Presiden Soeharto untuk diminta

pendapat dan menangani masa-masa pengibaran bendera pusaka. Ajakan itu, bagi

Kak Mutahar, ibarat mendapat "durian runtuh" karena ia bisa melanjutkan

gagasannya membentuk pasukan pengibar bendera pusaka yang terdiri dari para

pemuda.



Kak Mutahar lalu kembali menyusun ulang dan mengembangkan formasi pengibaran

bendera pusaka. Formasi tersebut terdiri dari tiga kelompok yakni kelompok

17 (Pengiring/ Pemandu), kelompok 8 (Pembawa/ Inti), dan kelompok 45

(Pengawal). Formasi tersebut merupakan simbol dari hari kemerdekaan RI

(17-6-45).



Kak Mutahar berpikir keras dan mencoba mensimulasikan keberadaan pemuda

utusan daerah dalam gagasannya. Ketika itu, belum mungkin dihadapkan

pemuda-pemuda yang langsung berasal dari daerah. Kak Mutahar kemudian

mendatangkan pemuda- pemuda daerah yang ada di Jakarta. Sedangkan formasi 45

diisi oleh Pasukan Pengawal Presiden (sekarang Paspampres) setelah usaha

mendatangkan para taruna AKABRI mengalami kendala.



Tanggal 17 Agustus 1968 kemudian pasukan khusus terwujud dengan melibatkan

pemuda daerah yang sesungguhnya. Pemuda-pemuda tersebut adalah utusan dari

daerah langsung.



Selama kurun waktu dari tahun 1967 hingga tahun 1972, bendera pusaka

dikibarkan oleh para pemuda utusan daerah dengan sebutan "Pasukan Penggerak

Bendera". Tahun 1973, Idik Sulaeman yang menjabat Kepala Pengembangan dan

Latihan P&K dan membantu Kak Husein Mutahar dalam pembinaan latihan

melontarkan gagasan baru tentang nama pasukan pengibar bendera pusaka.



Kak Mutahar yang tak lain adalah mantan Pembina Penegak Idik Sulaeman di

Gerakan Pramuka Setuju. Maka, kemudian meluncurlah nama antik berbentuk

akronim yang agak sukar diucapkan bagi orang yang pertama kali menyebutkan:

PASKIBRAKA: singkatan dari Pasukan Pengibar Bendera Pusaka.



Kak Idik Sulaeman memang yang memberi nama Paskibraka. Tapi,hakekatnya, kak

Mutahar-lah yang menggagas Paskibraka sehingga beliau pantas dijuluki "Bapak

Paskibraka"



Kak Husein Mutahar kemudian meninggal dunia pada tanggal 9 Juni 2004 pada

usia 87 tahun. Walaupun beliau berhak dimakamkan di Makam Taman Pahlawan

Kalibata karena memiliki Tanda Kehormatan Negara Bintang Mahaputera atas

jasanya menyelamatkan Bendera Pusaka Merah Putih dan juga memiliki Bintang

Gerilya atas jasanya ikut berperang gerilya pada tahun 1948 - 1949 tetapi

Beliau tidak mau dan kemudian dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Jeruk

Purut, Jakarta Selatan.



Kematian beliau sangat memukul saya, begitu sedihnya saya saat itu. Sore itu

sekitar pukul 17.00 saya pulang kantor, Kak Idik menelpon saya, beliau

berkata, "Hen, Eyang sudah tidak ada tadi pukul 16.30", sontak langsung

lemas badan saya, saya lanjutkan perjalanan sampai kerumah karena sudah

tidak terlalu jauh dari rumah, sesampai dirumah sy hanya sempat ganti baju,

dan pamitan ke istri langsung berangkat ke rumah duka di Jln. Damai No.20

Cipete, Jakarta Selatan.



* Dipersembahkan untuk mengenang jasa-jasa Eyang, Kakak Hs. Mutahar oleh

adikmu Hendry Risjawan



Life For Success



Salam Trainer,



HENDRY RISJAWAN



www.trainersclub. or.id



[Non-text portions of this message have been removed]




 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke